Seseorang yang saya kenal bercerita
tentang dirinya yang dikatai sombong, jutek, sok tahu, tukang ngatur, bossy, dan lain sebagainya. Di sini saya
berpikir, dia tidaklah demikian. Banyak membaca soal kepribadian diri
mengantarkan saya pada opini bahwa dia ini bisa jadi merupakan perwujudan dari
jiwa leadership. Dia mengatur dengan
alasan untuk menjadikan kelompoknya menjadi kelompok terbaik. Di sisi lain, ada
tipe manusia yang justru senang memiliki teman seperti dia ini. Sok ngatur dan
sekaligus yang mengurus semua urusan kelompok, sehingga teman yang lain tidak
susah-susah mengerjakan karena adanya tipe yang sok ngatur dan sok memgurus segalanya
itu. Tiba-tiba saja urusan sudah kelar dan diam-diam anggota kelompok lainnnya
senang.
Ada lagi seseorang lainnya, yang
dimana dia prefer untuk membeli barang yang mahal tetapi awet bertahun-tahun
bukan karena dia sombong atau orang tajir, dia orang biasa. Selain itu, dia juga
tidak mau jajan di pinggir jalan bukan karena dia sok suci atau sok higenis atau
sok berkelas, tetapi justru karena dia lebih memilih untuk hidup sehat tanpa
jajan di pinggir jalan yang tidak jelas kebersihannya. Bayangkan jika sakit
karena makan makanan tidak sehat, maka berapa banyak lah uang yang dikeluarkan
untuk berobat.
Teman lainnya, seorang laki-laki
yang sering menyalahkan orang lain, ngedumel tidak jelas, dan pandai ngibul. Ketika
orang lain memilih melihatnya dari sisi buruknya, saya ingin melihatnya dari
versi terbaik dalam dirinya yang ingin ditunjukkannya, maka dari itu saya berusaha
menguraikan apa saja versi terbaik dalam dirinya yang selain humoris dan sangat
loyal, dia juga sangat suka anak-anak, mengajak anak-anak kampung keliling kota
dan makan di salah satu tempat makan semacam yg menjual fried chicken, senang bukan main anak-anak itu. Bukan hanya itu,
saya juga senang mendengar suaranya ketika ia mengajar mengaji anak-anak dengan
lantang dan mahorijul hurufnya yang pandai.
Agak sedikit bergeser tetapi masih
perihal memandang orang lain dalam konteks berbeda, sering kali saya menemukan
hal lucu yang menggelikan batin saya sendiri, orang lain mungkin tidak merasa
demikian. Sebut saja namanya Mika. Teman saya yang satu ini memiliki tubuh bak
model, sering kali memang dia ikut lomba model, gaya berpakaiannya modis tentu
saja, cantik tak perlu lagi ditanya, akan tetapi ia juga dikenal dengan
wajahnya yang jutek dan sombong. Di balik itu semua, ketika saya mengobrol dari
hati ke hati karena saat itu saya terlibat bermain teater dengannya yang mengharuskan
saya setiap hari bertemu dengannya untuk latihan dan menunggu scene by scene
bersama dengannya maka dari itu kami sering terlibat obrolan yang dari obrolan
tersebut membuat saya sedikit ternganga karena banyak hal yang tak terduga dari
dirinya.
“Kamu pulang dari latihan biasanya mandi
nggak?” tanya dia. Biasalah perempuan selalu membicarakan hal random yang tidak
penting tapi menyenangkan saja untuk mengisi waktu dengan mengobrol dan dari
hal-hal sederhana seperti inilah dapat membuat kita mengetahui seseorang lebih
dalam lagi, meskipun hanya hal kecil.
“Yaiyalah. Kalau kamu?” kata saya,
sebab selarut apapun saya memang selalu mandi bila sehabis pergi.
“Aku enggak, keademan. Bisa masuk
angin aku.” Saat itu saya ngakak mendengar jawabannya.
Seorang Mika, di dalam pikiran saya,
dia adalah anak hitz yang sering jalan-jalan, hunting foto, tidak takut angin,
dan lain sebagainya. Ternyata saya salah. Mika adalah anak rumahan, tidak kuat
udara dingin. Dia tipe yang kalau malam selalu tidur cepat, bukan tipe anak
begadang. Maka dari itu wajahnya selalu tampak kelelahan karena kita latihan
teater hingga pukul sepuluh bahkan sebelas malam. Bayangkan betapa berat mata
anak rumahan seperti Mika itu.
Pun dengan Soviana, seorang teman
yang dilihat dari sosmed merupakan anak hitz. Begitu bertemu dan mengobrol, dia
tidak se-cool yang ditampilkannya
dalam feed instagram. Dia cenderung
lucu dan kekanak-kanakan. Sementara itu, apa yang ditampilkannya dalam feed instagram menunjukkan sosoknya yang
dewasa atau itu menurut saya saja. Waktu itu saya memboncengnya, selama
perjalanan berkali-kali dia memeluk saya dari belakang dan itu cukup membuat
saya terkejut, ‘anak ini kenapa’
batin saya yang saat itu belum terlalu mengenalnya. Begitu sampai tujuan, dia
mengaku kalau sepanjang jalan dia sempat tertidur. ‘Pantas saja’, batin saya. Saya geleng-geleng kepala. Dia juga tipe
yang jika merasa rem mendadak akan otomatis memeluk pengendara motornya, semoga
itu hanya terjadi jika yang bawa motornya teman perempuan. Selain itu, soviana
adalah seorang k-popers. Dia bisa tiba-tiba menggoyangkan jarinya, menyanyi
lagu Korea, atau bahkan merespon lawan bicara dengan bahasa Korea yang membuat
orang di sekitarnya menjadi terkejut, terheran-heran, bahkan
terpingkal-pingkal. Paling sering adalah dia sering merespon dengan mengatakan
“Shirooo” yang artinya kalau tidak salah adalah “tidak mau” oleh karena itu
kami mulai memanggilnya dengan sebutan “Mbak Shirooo” lalu kubilang saja “Btw,
Shirooo kan nama anjing peliharaannya Shincan.” Kemudian dia memasang muka
ngambek.
Masih banyak cerita menarik lainnya,
fakta unik dan lucu di balik penilaian manusia terhadap manusia lainnya. Supaya
kita tidak salah paham, kapan-kapan berbicang, yuk? Siapa tahu dapat meleburkan
jarak antara kita atau justru melukis takdir yang lebih dari apa yang kita
pikir. Mulai dari sekarang, berusaha sebisa mungkin untuk melihat seseorang
dalam versi terbaik yang ingin ditunjukkannya. Untuk apa? Untuk menghilangkan
segala pikiran buruk tentangnya. Sebab kita pun, inginnya dikenang tentang
hal-hal baik dari diri kita, bukan?
Dibalik tabiat yang jelek, jiwa yang buruk, serta kekurangan-kekurangan dalam diri manusia, tersimpan permata didalamnya -Jalaludin Rumi
BalasHapus:)
Hapus