19/07/19

Melihat Versi Terbaik Dalam Diri Seseorang


Seseorang yang saya kenal bercerita tentang dirinya yang dikatai sombong, jutek, sok tahu, tukang ngatur, bossy, dan lain sebagainya. Di sini saya berpikir, dia tidaklah demikian. Banyak membaca soal kepribadian diri mengantarkan saya pada opini bahwa dia ini bisa jadi merupakan perwujudan dari jiwa leadership. Dia mengatur dengan alasan untuk menjadikan kelompoknya menjadi kelompok terbaik. Di sisi lain, ada tipe manusia yang justru senang memiliki teman seperti dia ini. Sok ngatur dan sekaligus yang mengurus semua urusan kelompok, sehingga teman yang lain tidak susah-susah mengerjakan karena adanya tipe yang sok ngatur dan sok memgurus segalanya itu. Tiba-tiba saja urusan sudah kelar dan diam-diam anggota kelompok lainnnya senang.

Ada lagi seseorang lainnya, yang dimana dia prefer untuk membeli barang yang mahal tetapi awet bertahun-tahun bukan karena dia sombong atau orang tajir, dia orang biasa. Selain itu, dia juga tidak mau jajan di pinggir jalan bukan karena dia sok suci atau sok higenis atau sok berkelas, tetapi justru karena dia lebih memilih untuk hidup sehat tanpa jajan di pinggir jalan yang tidak jelas kebersihannya. Bayangkan jika sakit karena makan makanan tidak sehat, maka berapa banyak lah uang yang dikeluarkan untuk berobat.

Teman lainnya, seorang laki-laki yang sering menyalahkan orang lain, ngedumel tidak jelas, dan pandai ngibul. Ketika orang lain memilih melihatnya dari sisi buruknya, saya ingin melihatnya dari versi terbaik dalam dirinya yang ingin ditunjukkannya, maka dari itu saya berusaha menguraikan apa saja versi terbaik dalam dirinya yang selain humoris dan sangat loyal, dia juga sangat suka anak-anak, mengajak anak-anak kampung keliling kota dan makan di salah satu tempat makan semacam yg menjual fried chicken, senang bukan main anak-anak itu. Bukan hanya itu, saya juga senang mendengar suaranya ketika ia mengajar mengaji anak-anak dengan lantang dan mahorijul hurufnya yang pandai.

Agak sedikit bergeser tetapi masih perihal memandang orang lain dalam konteks berbeda, sering kali saya menemukan hal lucu yang menggelikan batin saya sendiri, orang lain mungkin tidak merasa demikian. Sebut saja namanya Mika. Teman saya yang satu ini memiliki tubuh bak model, sering kali memang dia ikut lomba model, gaya berpakaiannya modis tentu saja, cantik tak perlu lagi ditanya, akan tetapi ia juga dikenal dengan wajahnya yang jutek dan sombong. Di balik itu semua, ketika saya mengobrol dari hati ke hati karena saat itu saya terlibat bermain teater dengannya yang mengharuskan saya setiap hari bertemu dengannya untuk latihan dan menunggu scene by scene bersama dengannya maka dari itu kami sering terlibat obrolan yang dari obrolan tersebut membuat saya sedikit ternganga karena banyak hal yang tak terduga dari dirinya.

“Kamu pulang dari latihan biasanya mandi nggak?” tanya dia. Biasalah perempuan selalu membicarakan hal random yang tidak penting tapi menyenangkan saja untuk mengisi waktu dengan mengobrol dan dari hal-hal sederhana seperti inilah dapat membuat kita mengetahui seseorang lebih dalam lagi, meskipun hanya hal kecil.

“Yaiyalah. Kalau kamu?” kata saya, sebab selarut apapun saya memang selalu mandi bila sehabis pergi.

“Aku enggak, keademan. Bisa masuk angin aku.” Saat itu saya ngakak mendengar jawabannya.

Seorang Mika, di dalam pikiran saya, dia adalah anak hitz yang sering jalan-jalan, hunting foto, tidak takut angin, dan lain sebagainya. Ternyata saya salah. Mika adalah anak rumahan, tidak kuat udara dingin. Dia tipe yang kalau malam selalu tidur cepat, bukan tipe anak begadang. Maka dari itu wajahnya selalu tampak kelelahan karena kita latihan teater hingga pukul sepuluh bahkan sebelas malam. Bayangkan betapa berat mata anak rumahan seperti Mika itu.

Pun dengan Soviana, seorang teman yang dilihat dari sosmed merupakan anak hitz. Begitu bertemu dan mengobrol, dia tidak se-cool yang ditampilkannya dalam feed instagram. Dia cenderung lucu dan kekanak-kanakan. Sementara itu, apa yang ditampilkannya dalam feed instagram menunjukkan sosoknya yang dewasa atau itu menurut saya saja. Waktu itu saya memboncengnya, selama perjalanan berkali-kali dia memeluk saya dari belakang dan itu cukup membuat saya terkejut, ‘anak ini kenapa’ batin saya yang saat itu belum terlalu mengenalnya. Begitu sampai tujuan, dia mengaku kalau sepanjang jalan dia sempat tertidur. ‘Pantas saja’, batin saya. Saya geleng-geleng kepala. Dia juga tipe yang jika merasa rem mendadak akan otomatis memeluk pengendara motornya, semoga itu hanya terjadi jika yang bawa motornya teman perempuan. Selain itu, soviana adalah seorang k-popers. Dia bisa tiba-tiba menggoyangkan jarinya, menyanyi lagu Korea, atau bahkan merespon lawan bicara dengan bahasa Korea yang membuat orang di sekitarnya menjadi terkejut, terheran-heran, bahkan terpingkal-pingkal. Paling sering adalah dia sering merespon dengan mengatakan “Shirooo” yang artinya kalau tidak salah adalah “tidak mau” oleh karena itu kami mulai memanggilnya dengan sebutan “Mbak Shirooo” lalu kubilang saja “Btw, Shirooo kan nama anjing peliharaannya Shincan.” Kemudian dia memasang muka ngambek. 

Masih banyak cerita menarik lainnya, fakta unik dan lucu di balik penilaian manusia terhadap manusia lainnya. Supaya kita tidak salah paham, kapan-kapan berbicang, yuk? Siapa tahu dapat meleburkan jarak antara kita atau justru melukis takdir yang lebih dari apa yang kita pikir. Mulai dari sekarang, berusaha sebisa mungkin untuk melihat seseorang dalam versi terbaik yang ingin ditunjukkannya. Untuk apa? Untuk menghilangkan segala pikiran buruk tentangnya. Sebab kita pun, inginnya dikenang tentang hal-hal baik dari diri kita, bukan?

2 komentar:

  1. Dibalik tabiat yang jelek, jiwa yang buruk, serta kekurangan-kekurangan dalam diri manusia, tersimpan permata didalamnya -Jalaludin Rumi

    BalasHapus