Saya punya teman-teman dekat, yang
semuanya itu cantik-cantik, karena semuanya perempuan. Waktu itu saya khawatir
dan bergegas menuju kosan si A, sampai di sana saya menunggunya dulu untuk
shalat Zuhur. Usai shalat, masih dengan mukenanya, ia menangis karena laki-laki
yang dicintainya itu keras kepala. Saya coba peluk dia. Ada hal-hal yang tidak
dimengerti oleh laki-lakinya itu. Di lain waktu, saya memanggil sahabat saya si
B melalui video call WhatsApp, rupanya masih pagi dan matanya sembab karena
sedang menangis. Sejak semalam, ada kesalahpahaman yang dibuat oleh laki-laki yang
katanya mencintainya itu. Di lain tempat lagi, hari itu, si C datang ke kosan
saya, ia menceritakan laki-laki yang disukainya. Tanpa sadar, ia mulai
menangis. Saya tahu, ini pertama kalinya dia sesuka ini pada seorang laki-laki.
Dia yang biasanya menyimpan raapat ceritanya, tiba-tiba untuk kisah yang satu
ini ia ceritakan terus menerus, hampir setiap hari, setiap ada waktu, dan dia
memang sudah terlanjur sesuka itu pada laki-laki yang tidak bisa memberinya
kepastian. Dia meminta maaf pada saya karena sudah menangis, saya bilang bahwa
it’s okay, tidak apa-apa jika dia menangis.
Okay. Di sini saya akan menyisipkan
kicauan-kicauan dari twitter teman saya yang bernama Dean. Sebab saya juga
tidak tahu apa yang harus saya lakukan pada teman-teman saya yang dibuat
menangis oleh orang yang katanya mencintai mereka. Semoga apa yang dikicaukan
oleh Dean melalui akun twitternya dapat mencerahkan para pembaca. Meskipun di
sini ada sedikit perbedaan, jika teman-teman saya berada dalam situasi bertahan
dengan orang yang menurut mereka, mereka saling mecintai, tetapi di kicauan Dean
merujuk kepada mereka yang memilih bertahan pada orang yang tidak mencintai
mereka. Persamaannya adalah seseorang ini sama-sama saja berhasil membuat tangis.
“Kamu sayang nggak sama diri kamu sendiri?”
“Maksudnya?”
“You choose to stay there with someone who doesn’t love you while you
wishing a supportive partner to share your whole life, yet he’s not changing at
all. He’s not going to change if he doesn’t want to. You can’t change people,
you only support people to change.”
“…”
“Let’s give yourself a better home. She deserves a better home.”
Menurut mereka, yang mereka jadikan
pikiran ketika melepaskan adalah mereka sulit merelakan perubahan keseharian
yang terjadi, alias sudah nyaman dengan “kebiasaan” yang sudah terjalin.
Menurut saya, disitulah tantangan “melupakan”. Bagaimana kamu belajar untuk
survive dengan diri kamu sendiri dibanding sewaktu kamu masih bersamanya, masih
bisa pergi ditemani dengannya dan meminta tolong padanya.
Maaf, jika saya cuma bisa datang
untuk mendengarkan dan memeluk, karena mungkin patah hati yang kita rasakan
beda sebab dan beda arah. Untuk sebab yang sama, saya lupa kapan terakhir kali
merasakannya, mungkin saat masih berbalut seragam putih abu-abu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar