28/04/21

#3 Kata Mas Anon

 

Source: Tumblr


Langit sedang ramah. Sore cerah.

"Kena minyak panas lagi?" Bima tiba-tiba datang.

Mentari menatap nanar punggung tangan kanannya.

"Oh, nggak. Kegesrek waktu ngangkat koper." Mentari jujur.

"Sok kuat, sih." Canda Bima.

"Emang udah biasa, kok." Mentari jujur lagi.

"Giliran ada Bang Harun mendadak nggak biasa." Canda Bima lagi.

"Heh! Waktu itu emang berat, tau! Satu kardus besar isinya buku semua." Lagi-lagi Mentari memang jujur.

Mentari dan Bima sedang menunggu teman lainnya. Teman-teman komunitas. Hari itu mereka hendak melangsungkan rapat. Mentari selayaknya matahari, selalu muncul terlebih dahulu.

Tapi baginya, tidak apa-apa. Menunggu berarti menjadi kesempatan untuknya. Kesempatan membaca tulisan-tulisan lelaki anonim di sebuah blog yang teduh.

"Mas Anon itu lagi." Bima lagi-lagi ikut campur. Mentari memang pernah menceritakan padanya, perihal tulisan-tulisan lelaki itu, lelaki yang dipanggilnya Mas Anon, a.k.a Anonim.

"Iya, nih."

"Ada tulisan terbaru?"

"Iya."

Mentari masih menatap layar laptopnya, layar yang menampilkan tulisan lelaki itu.

 

“Perempuan baik itu, namanya tidak berkeliaran di tongkrongan anak laki-laki,

Karena perempuan baik itu namanya tidak sembarangan diucapkan oleh anak laki-laki.”

 

            Mentari mengernyitkan dahi. Ah, apa iya begitu?

 

***

 

Malamnya Mentari menatap langit-langit kamarnya. Berniat untuk segera tidur, tetapi tiba-tiba pesan yang masuk ke WhatsApp-nya membuatnya berpikir lama sekali setelah ia membalasnya.

Rafly. Deg. Pesan dari Rafly. Orang yang pernah membangkitkan mimpi-mimpi buruknya.

"Mentari, gue abis ngumpul sama anak-anak. Si Marco cerita tentang lo. Blablabla.."

Tuh, kan. Anak ini memang senang membangkitkan mimpi-mimpi buruknya. Males, batin Mentari.

Mentari membalas pesan itu dengan sebuah kalimat skakmat yang membuat Rafly hingga bertahun-tahun setelahnya tidak pernah lagi menghubungi Mentari. Hahaha.

Rafly, seorang teman yang ingin dilupakan oleh Mentari, tetapi Mentari ingat kata Teh Mutia, "lupa itu wajar, kalau melupakan, itu jahat!"

Jahat kepada Rafly mungkin adalah sebuah pengecualian.

Dan malam itu, kembali terngiang tulisan Mas Anon.

 

“Perempuan baik itu, namanya tidak berkeliaran di tongkrongan anak laki-laki,

Karena perempuan baik itu namanya tidak sembarangan diucapkan oleh anak laki-laki.”

 

Aku bukan perempuan baik?

Di mata Mas Anon, mungkin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar