![]() |
Source: Tumblr |
Perempuan itu memegang kepalanya yang sebenarnya tidak sakit di ruang tunggu kereta. Memikirkan nasib surat-surat yang ia pajang di blog pribadinya, juga nasib rasa malu yang kian mengakar. ‘’Ah..’’ racaunya, tidak jelas.
Perempuan
itu merasa malu dengan surat-surat yang dibuatnya, surat cinta katanya,
surat-surat yang entah untuk siapa. Sesiapa
sajalah, batinnya. Terdengar putus asa, tapi sebenarnya tidak juga. Ia yakin
di suatu tempat, surat-suratnya itu mendapatkan balasan, tetapi balasan yang
tidak pernah sampai kembali padanya.
Jika
saja tak diterimanya kabar bahwa neneknya sudah dua hari tidak kunjung bangun
dari tidurnya, mungkin sekarang ia sedang bersiap “kencan” dengan teman perempuannya
di rumah makan seafood yang tersembunyi di daerah Jalan Sudirman, belakang
circle-K lampu merah.
“Ah..” lagi-lagi. Masih dengan tertunduk
sembari memegang kepala.
Malu kembali menyeringai. Menceritakan kriteria pasangan dan dibaca orang-orang yang tidak bisa ia tebak isi kepalanya adalah perkara nyaris bunuh diri. Bagaimana jika ada laki-laki yang mungkin membuatnya tertarik, lantas mundur teratur karena tulisannya. Bukan cerdas yang seperti itu yang ia maksud. Maksudnya adalah, cerdas karena mau berpikir, mau belajar, mau duduk bersama-sama untuk diskusi. Sebenarnya ini perkara soal; ia merasa bukan perempuan yang pintar, sering salah menangkap maksud, terlalu polos kalau kata orang, memberi perintah padanya harus detail karena kalau tidak, otaknya tidak mampu mencerna, loading istilahnya. Maka, bermimpi bisa hidup bersama laki-laki yang cerdas menjadi pengharapannya. Tanpa agar supaya. Selain, melengkapi kekurangannya.
Lima
menit kemudian mencoba mengalihkan perhatian pikiran pada layar smartphone dalam genggamannya. Dibacanya
kembali pesan dari ibunya. Nada panik. Ibunya selalu seperti itu, sedikit saja
ada yang janggal dengan konsisi sang nenek, satu grup keluarga dibuat panik dan
harus datang ke rumah saat itu juga. Alhasil, perempuan itu membayangkan betapa
ramai rumahnya besok. Keluarga besar dari berbagai penjuru Indonesia akan
berdatangan.
Sebagai
seseorang yang bermimpi hidup di tengah hutan bak si pelukis dalam film Kiki’s
Delivery Service, rumah ramai adalah suatu kondisi yang tidak diperkenankannya,
tapi kembali pada kutipan bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga. Ia mencoba
melupakan perasaan egoisnya. Membiarkan kamarnya nanti bak kapal pecah. Mungkin.
“Ah..” lagi-lagi. Tak sanggup ia
membayangkan bingkai-bingkai dalam kamarnya nanti berpindah tempat, atau para
pensil warna yang berceceran tak bisa jalan sendiri kembali ke tempatnya, juga
boneka-boneka yang tangannya mungkin akan miring ditarik ke sana-sini. Walau tak
ada yang benar-benar dibelinya, ia mencoba menghargai pemberian dari orang-orang
yang katanya menyayanginya itu dengan meletakkan hadiah-hadiah dari mereka
dengan baik.
Bebrapa
menit pikirannya akhirnya beralih juga bersamaan dengan kereta Malabar yang
tiba pada pukul 11.15 WIB, siap menjemput penumpang yang letih menunggu di
stasiun Tugu Yogyakarta. Perempuan itu bergegas menarik kopernya sambil
memperbaiki letak ransel di punggungnya. Ia sudah tidak peduli bagaimana bentuk
jilbabnya kala itu. Sempat salah gerbong hingga akhirnya berhasil menemukan
kursi yang tepat, sesuai yang tertera pada tiket keretanya.
“Ah..” lagi-lagi. Kali ini karena
menghadapi kenyataan bahwa ia akan duduk berseberangan dengan dua orang
laki-laki muda yang kurang lebih sebaya dengannya atau sedikit lebih senior. Sedangkan,
penumpang di sebelahnya sendiri belum tiba.
Kedua
laki-laki itu memandanginya sekilas, lalu kembali tenggelam dengan smartphone mereka. Perempuan itu sedikit
menghela nafas. Sudah biasa,
batinnya. Maksudnya, sudah biasa mengangkat koper sendiri ke bagasi atas
kereta. Berhasil. Selalu. Tapi kali ini agak berbeda. Berhasil diiringi dengan
nada, “Aw..”
Perempuan
itu melihat punggung tangan kanannya. Kulitnya terkelupas. Berdarah. Mungkin terlalu
gagah mengangat kopernya. Kedua laki-laki itu belum peduli, mungkin nanti.
Ia
lalu duduk. Segala hal yang terjadi beberapa hari belakangan ini berkecamuk di
kepalanya. Kali ini tentang tangannya. Tangannya menggosong sebagai bentuk
perjuangannya mewujudkan impian anehnya. Bersepeda di tengah sawah daerah
Bantul. Ada-ada saja orang seperti dia ini. Jauh-jauh ke Yogyakarta dari
Bandung untuk menghabiskan weekend dengan
bersepeda di persawahan Bantul. Ah, tapi hatinya bahagia! Tentu! Memori bersepeda
di padang hijau itu menari-nari di pikirannya, membentuk perahu di bibirnya. Bertahan!
Belum
selesai dengan perkara gosong, tangannya juga dipenuhi luka perjuangan di medan
tempur perempuan; dapur! Tangan-tangan perempuan selalu menjadi tempat favorit mendarat
bagi minyak panas. Juga luka kenangan pasca kecelakaan dan alergi yang tidak
jelas, menambah daftar deretan luka di tangannya, di antara jemari-jemarinya.
Teringat
ia pada celoteh ayahnya, perempuan itu
tidak boleh sampai lecet, tergores, terluka. Mungkin Ayahnya mau mengatakan, perempuan itu harus dijaga, dilindungi. Tapi,
menurut perempuan itu, di satu sisi justru bekas luka-luka itu malah jadi tanda
perjuangan si perempuan itu sendiri. Dapur yang menjadi tempat terfavorit bagi
banyak perempuan, barangkali menjadi tempat yang paling sering melukai si
perempuan itu sendiri. Pada hari-hari kedepan, bukan hanya dapur, tapi kasur rumah
sakit juga akan menjadi saksi luka-luka pada tubuh perempuan ketika ia
melahirkan, dan masih banyak perkara lainnya soal luka di tubuh perempuan.
Perempuan
itu menghela nafas panjang, berusaha menyudahi pikiran tak karuan soal
tangannya. Bagaimana mungkin banyak
mengeluh, sementara tanganku lengkap, jari-jariku juga tumbuh sehat.
Kembali
beralih pada keberadaan surat-suratnya yang bertengger di laman blognya. Keberadaan surat-surat saya adalah bukti
curangnya kamu. Kamu bisa membaca banyak hal tentang saya, tapi tidak dengan
saya pada kamu. Curang! Untung suatu hari nanti bakal sayang, batinnya
asal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar