23/04/21

#1 Dalam Perjalanan Pulang

Source: Tumblr

Perempuan itu memegang kepalanya yang sebenarnya tidak sakit di ruang tunggu kereta. Memikirkan nasib surat-surat yang ia pajang di blog pribadinya, juga nasib rasa malu yang kian mengakar. ‘’Ah..’’ racaunya, tidak jelas.

Perempuan itu merasa malu dengan surat-surat yang dibuatnya, surat cinta katanya, surat-surat yang entah untuk siapa. Sesiapa sajalah, batinnya. Terdengar putus asa, tapi sebenarnya tidak juga. Ia yakin di suatu tempat, surat-suratnya itu mendapatkan balasan, tetapi balasan yang tidak pernah sampai kembali padanya.

Jika saja tak diterimanya kabar bahwa neneknya sudah dua hari tidak kunjung bangun dari tidurnya, mungkin sekarang ia sedang bersiap “kencan” dengan teman perempuannya di rumah makan seafood yang tersembunyi di daerah Jalan Sudirman, belakang circle-K lampu merah.

“Ah..” lagi-lagi. Masih dengan tertunduk sembari memegang kepala.

Malu kembali menyeringai. Menceritakan kriteria pasangan dan dibaca orang-orang yang tidak bisa ia tebak isi kepalanya adalah perkara nyaris bunuh diri. Bagaimana jika ada laki-laki yang mungkin membuatnya tertarik, lantas mundur teratur karena tulisannya. Bukan cerdas yang seperti itu yang ia maksud. Maksudnya adalah, cerdas karena mau berpikir, mau belajar, mau duduk bersama-sama untuk diskusi. Sebenarnya ini perkara soal; ia merasa bukan perempuan yang pintar, sering salah menangkap maksud, terlalu polos kalau kata orang, memberi perintah padanya harus detail karena kalau tidak, otaknya tidak mampu mencerna, loading istilahnya. Maka, bermimpi bisa hidup bersama laki-laki yang cerdas menjadi pengharapannya. Tanpa agar supaya. Selain, melengkapi kekurangannya.

Lima menit kemudian mencoba mengalihkan perhatian pikiran pada layar smartphone dalam genggamannya. Dibacanya kembali pesan dari ibunya. Nada panik. Ibunya selalu seperti itu, sedikit saja ada yang janggal dengan konsisi sang nenek, satu grup keluarga dibuat panik dan harus datang ke rumah saat itu juga. Alhasil, perempuan itu membayangkan betapa ramai rumahnya besok. Keluarga besar dari berbagai penjuru Indonesia akan berdatangan.

Sebagai seseorang yang bermimpi hidup di tengah hutan bak si pelukis dalam film Kiki’s Delivery Service, rumah ramai adalah suatu kondisi yang tidak diperkenankannya, tapi kembali pada kutipan bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga. Ia mencoba melupakan perasaan egoisnya. Membiarkan kamarnya nanti bak kapal pecah. Mungkin.

“Ah..” lagi-lagi. Tak sanggup ia membayangkan bingkai-bingkai dalam kamarnya nanti berpindah tempat, atau para pensil warna yang berceceran tak bisa jalan sendiri kembali ke tempatnya, juga boneka-boneka yang tangannya mungkin akan miring ditarik ke sana-sini. Walau tak ada yang benar-benar dibelinya, ia mencoba menghargai pemberian dari orang-orang yang katanya menyayanginya itu dengan meletakkan hadiah-hadiah dari mereka dengan baik.

Bebrapa menit pikirannya akhirnya beralih juga bersamaan dengan kereta Malabar yang tiba pada pukul 11.15 WIB, siap menjemput penumpang yang letih menunggu di stasiun Tugu Yogyakarta. Perempuan itu bergegas menarik kopernya sambil memperbaiki letak ransel di punggungnya. Ia sudah tidak peduli bagaimana bentuk jilbabnya kala itu. Sempat salah gerbong hingga akhirnya berhasil menemukan kursi yang tepat, sesuai yang tertera pada tiket keretanya.

“Ah..” lagi-lagi. Kali ini karena menghadapi kenyataan bahwa ia akan duduk berseberangan dengan dua orang laki-laki muda yang kurang lebih sebaya dengannya atau sedikit lebih senior. Sedangkan, penumpang di sebelahnya sendiri belum tiba.

Kedua laki-laki itu memandanginya sekilas, lalu kembali tenggelam dengan smartphone mereka. Perempuan itu sedikit menghela nafas. Sudah biasa, batinnya. Maksudnya, sudah biasa mengangkat koper sendiri ke bagasi atas kereta. Berhasil. Selalu. Tapi kali ini agak berbeda. Berhasil diiringi dengan nada, “Aw..”

Perempuan itu melihat punggung tangan kanannya. Kulitnya terkelupas. Berdarah. Mungkin terlalu gagah mengangat kopernya. Kedua laki-laki itu belum peduli, mungkin nanti.

Ia lalu duduk. Segala hal yang terjadi beberapa hari belakangan ini berkecamuk di kepalanya. Kali ini tentang tangannya. Tangannya menggosong sebagai bentuk perjuangannya mewujudkan impian anehnya. Bersepeda di tengah sawah daerah Bantul. Ada-ada saja orang seperti dia ini. Jauh-jauh ke Yogyakarta dari Bandung untuk menghabiskan weekend dengan bersepeda di persawahan Bantul. Ah, tapi hatinya bahagia! Tentu! Memori bersepeda di padang hijau itu menari-nari di pikirannya, membentuk perahu di bibirnya. Bertahan!

Belum selesai dengan perkara gosong, tangannya juga dipenuhi luka perjuangan di medan tempur perempuan; dapur! Tangan-tangan perempuan selalu menjadi tempat favorit mendarat bagi minyak panas. Juga luka kenangan pasca kecelakaan dan alergi yang tidak jelas, menambah daftar deretan luka di tangannya, di antara jemari-jemarinya.

Teringat ia pada celoteh ayahnya, perempuan itu tidak boleh sampai lecet, tergores, terluka.  Mungkin Ayahnya mau mengatakan, perempuan itu harus dijaga, dilindungi. Tapi, menurut perempuan itu, di satu sisi justru bekas luka-luka itu malah jadi tanda perjuangan si perempuan itu sendiri. Dapur yang menjadi tempat terfavorit bagi banyak perempuan, barangkali menjadi tempat yang paling sering melukai si perempuan itu sendiri. Pada hari-hari kedepan, bukan hanya dapur, tapi kasur rumah sakit juga akan menjadi saksi luka-luka pada tubuh perempuan ketika ia melahirkan, dan masih banyak perkara lainnya soal luka di tubuh perempuan.

Perempuan itu menghela nafas panjang, berusaha menyudahi pikiran tak karuan soal tangannya. Bagaimana mungkin banyak mengeluh, sementara tanganku lengkap, jari-jariku juga tumbuh sehat.

Kembali beralih pada keberadaan surat-suratnya yang bertengger di laman blognya. Keberadaan surat-surat saya adalah bukti curangnya kamu. Kamu bisa membaca banyak hal tentang saya, tapi tidak dengan saya pada kamu. Curang! Untung suatu hari nanti bakal sayang, batinnya asal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar