09/05/21

#6 Wajah Seorang Perempuan

 

Source: Tumblr

Pagi menjelang siang. Mentari menarik kopernya. Ia telah sampai di depan kamar sebuah hotel tempatnya menjalani sebuah training selama tiga hari kedepan. Pelan-pelan membuka pintu lalu bergegas menuju kamar mandi yang di dalamnya menggantung sebuah cermin. Mentari mencuci wajahnya. Dilihatnya wajahnya pada pantulan cermin itu.

Ia menghela nafas.

Wajah ini. Wajah yang mengundang banyak dosa. Wajah yang dengannya mungkin seseorang bisa saja berdosa. Mengagumi tanpa menyebut nama-Nya. Ampuni saya, yaa Rabb. Batin Mentari.

Dibilasnya sabun yang memenuhi wajahnya. Terbayang kejadian malam itu. Sehabis pentas teater, masih menggunakan gaun putih sebagai kostum, tiba-tiba Candra menujunya. Tahu apa kalimat pertama yang dilontarkannya?

"Kamu cantik banget malam ini."

Seperti keceplosan atau bagaimana, tapi Mentari berusaha tidak peduli.

"Apasih." Tangkasnya. Candra salah tingkah. Dan sepanjang malam itu lagu Beautiful in White diputar Candra dari balik headset-nya.

Atau suatu kejadian, ketika Mentari tempo hari belanja bulanan ke supermarket dekat tempat tinggalnya, seorang pria melihat ke arahnya terus-menerus. Mentari pura-pura tidak peduli walau ngeri dalam hati. Begitu berpapasan, laki-laki itu berseru, "Ih, cantik!" Mentari terkejut, sementara laki-laki itu masih menatapnya. Ngeri.

Ia selalu teringat firman-Nya dalam Al-Qur’an tentang laki-laki dan pandangannya, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (QS. An-Nur : 30)

Ada lagi yang lebih mengerikan, saat seorang lelaki tua gila menerobos masuk ke rumah KKN-nya. Semua perempuan di dapur saat itu, tetapi lelaki itu hanya menatap fokus pada dirinya sambil menunjuk-nunjuknya dan berkata ingin mempersuntingnya. Mengerikan, bukan? Saat seorang perempuan dengan wajah baru bangun tidur hendak memasak sarapan pagi, lalu harus menjadi korban kegilaan seseorang dengan menerima perkataan yang membuatnya bergidik ngeri.

Sekali lagi, ditatapnya wajahnya di dalam cermin, dibasuhnya berkali-kali hingga memori ngeri itu perlahan sirna.

 

***

Mentari menyapa Mentari. Silau. Bergegas ia sarapan di restoran hotel. Berkenalanlah ia di sana dengan seorang ibu tua. Entah bagaimana, tiba-tiba pada akhir percakapan mereka, sang ibu dengan penuh semangat berkata, “Neng, semoga dapat jodoh orang yang sholeh, ya!”

Mentari terkejut mendapat doa baik dari orang yang baru saja dikenalnya. Dengan perasaan terharu dalam hati, Mentari tersenyum seraya mengaminkan.

Dalam perjalanan pulang ke kamar, ia hampir menangis. Jodoh yang sholeh? Apa iya? Memang saya sesholehah apa sampai bisa bersanding dengan laki-laki sholeh? Emang saya pantas?

Mentari menahan air matanya. Bukan saatnya merenungi hal itu, sebab hari ini ia harus bersiap diri menerima materi pelatihan. Self-talk terbaik akan ia lakukan di malam hari nanti.

Terima kasih banyak doanya, Ibu. Sangat berarti untukku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar