![]() |
| Source: Tumblr |
Pagi
menjelang siang. Mentari menarik kopernya. Ia telah sampai di depan kamar
sebuah hotel tempatnya menjalani sebuah training selama tiga hari kedepan. Pelan-pelan
membuka pintu lalu bergegas menuju kamar mandi yang di dalamnya menggantung
sebuah cermin. Mentari mencuci wajahnya. Dilihatnya wajahnya pada pantulan
cermin itu.
Ia
menghela nafas.
Wajah ini. Wajah yang mengundang banyak
dosa. Wajah yang dengannya mungkin seseorang bisa saja berdosa. Mengagumi tanpa
menyebut nama-Nya. Ampuni saya, yaa Rabb. Batin Mentari.
Dibilasnya
sabun yang memenuhi wajahnya. Terbayang kejadian malam itu. Sehabis pentas
teater, masih menggunakan gaun putih sebagai kostum, tiba-tiba Candra
menujunya. Tahu apa kalimat pertama yang dilontarkannya?
"Kamu
cantik banget malam ini."
Seperti
keceplosan atau bagaimana, tapi Mentari berusaha tidak peduli.
"Apasih."
Tangkasnya. Candra salah tingkah. Dan sepanjang malam itu lagu Beautiful in
White diputar Candra dari balik headset-nya.
Atau
suatu kejadian, ketika Mentari tempo hari belanja bulanan ke supermarket dekat tempat
tinggalnya, seorang pria melihat ke arahnya terus-menerus. Mentari pura-pura
tidak peduli walau ngeri dalam hati. Begitu berpapasan, laki-laki itu berseru,
"Ih, cantik!" Mentari terkejut, sementara laki-laki itu masih
menatapnya. Ngeri.
Ia selalu
teringat firman-Nya dalam Al-Qur’an tentang laki-laki dan pandangannya, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman:
"Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang
demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
apa yang mereka perbuat”. (QS. An-Nur : 30)
Ada lagi yang lebih mengerikan, saat seorang lelaki tua gila menerobos masuk ke rumah KKN-nya. Semua perempuan di dapur saat itu, tetapi lelaki itu hanya menatap fokus pada dirinya sambil menunjuk-nunjuknya dan berkata ingin mempersuntingnya. Mengerikan, bukan? Saat seorang perempuan dengan wajah baru bangun tidur hendak memasak sarapan pagi, lalu harus menjadi korban kegilaan seseorang dengan menerima perkataan yang membuatnya bergidik ngeri.
Sekali
lagi, ditatapnya wajahnya di dalam cermin, dibasuhnya berkali-kali hingga
memori ngeri itu perlahan sirna.
***
Mentari
menyapa Mentari. Silau. Bergegas ia sarapan di restoran hotel. Berkenalanlah ia
di sana dengan seorang ibu tua. Entah bagaimana, tiba-tiba pada akhir percakapan
mereka, sang ibu dengan penuh semangat berkata, “Neng, semoga dapat jodoh orang
yang sholeh, ya!”
Mentari
terkejut mendapat doa baik dari orang yang baru saja dikenalnya. Dengan
perasaan terharu dalam hati, Mentari tersenyum seraya mengaminkan.
Dalam perjalanan pulang ke kamar, ia hampir
menangis. Jodoh yang sholeh? Apa iya? Memang saya sesholehah apa sampai bisa
bersanding dengan laki-laki sholeh? Emang saya pantas?
Mentari
menahan air matanya. Bukan saatnya merenungi hal itu, sebab hari ini ia harus
bersiap diri menerima materi pelatihan. Self-talk
terbaik akan ia lakukan di malam hari nanti.
Terima kasih banyak doanya, Ibu. Sangat
berarti untukku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar