04/06/23

Menjaga Perempuan

Manusia diciptakan dengan sangat unik; penampilan fisik, suara, gerak-gerik bahkan karakter begitu berbeda-beda.

Setelah menikah, setiap laki-laki dengan karakter yang melekat pada dirinya memiliki caranya masing-masing dalam menjaga pasangan mereka.

Hari ini laki-laki yang menikahiku mengirimkan sebuah pesan, "Fii amanillah ya kemanapun kamu pergi.." 

Caranya menjagaku adalah dengan tak sekadar menemani kemanapun tempat yang kutuju—tetapi juga mempercayaiku ketika aku pergi seorang diri, mengizinkanku melangkah kemanapun, dan menungguku pulang kembali, serta mendengar seluruh cerita di perjalananku.

Dalam perjalanan, aku bertemu seorang kawan lama, kini ia telah menikah. Ia bercerita bahwa sejak menikah ada banyak hal yang berubah dalam hidupnya, seperti; suaminya tak membolehkannya naik ojol (ojek online) lagi karena kebanyakan ojol itu laki-laki, bukan mahrom, hingga bahkan ia tak diizinkan melepas jilbabnya saat kami menginap bersama meski dalam satu rumah semuanya perempuan.

"Suamiku memperlakukan aku seperti itu, tapi aku nyaman," ucapnya dengan mata berbinar bahagia.

Ya, kawanku ini sebelumnya pernah menikah tetapi kemudian berpisah. Kini akhirnya dipertemukan lagi dengan laki-laki lain yang membuat ia merasa sangat dihargai dan dijaga sampai sebegitunya.

Lagi-lagi kita tak pernah tahu tentang hidup orang lain. Orang yang kadang kita kasihani karena perlakuan pasangannya terhadap dirinya, nyatanya ia bahagia dan nyaman dengan cara pasangannya itu menjaganya.

Menurutku, perempuan itu tak perlu terlalu digenggam hingga ia kesulitan bergerak, tetapi jangan terlalu dibiarkan sebab khawatir ia lupa dengan batasan. Ya.. sedang-sedang saja.

Setiap laki-laki memiliki cara masing-masing dalam menjaga perempuannya, tetapi cara terbaik adalah dengan apa yang Allah sukai serta tak mengundang murka-Nya.


Jatinangor, 30 Mei 2023 

Sebuah Evaluasi Pernikahan

Tentang kendali diri. Mungkin bagi yang telah menikah, di suatu hari pernah ada momen-momen dimana diri menjadi hilang kendali, bingung hadapi situasi, diduga masih terus berlangsungnya proses adaptasi, ya memang tanpa henti.


Apa yang membuat kita hilang kendali?

Sebelum pernikahan terjadi, di dalam pikiran—kita punya konsep ideal tentang sebuah pernikahan. Kemudian ada suatu hal yg tak sesuai ekspektasi kita. Wajar kecewa. Ada sebab-akibat.


Apa yang dilakukan ketika mulai hilang kendali? 

Cobalah untuk tidak merespon emosi secara langsung. Berhitung dulu, tidak langsung reaktif.

Lakukan deeptalk dengan pasangan. Tanyakan hal apa yang bikin kamu tak nyaman soal aku? Dan sebaliknya. Jangan pernah bosan lakukan obrolan ini, kasih tahu lagi, kasih tahu terus, bahas berulang-ulang karena memang seperti itu, perlu diingatkan.

Selain itu, buat satu aktivitas bersama di luar aktivitas harian yang menjenuhkan. Kembalikan memorinya untuk mengingat tentang kita, bukan tentang tugas-tugas keseharian.


Apa yang penting untuk disadari?

STANDAR PENTING antara kita dan pasangan boleh jadi berbeda. Tak penting bagiku, bisa penting baginya, juga sebaliknya.

Kemudian, hadirkan sikap toleran pada pasangan. Ya kali mau mengubah satu orang dalam waktu singkat, sementara dia sudah seperempat abad hidup dengan orang tuanya yang memiliki pola asuh berbeda dengan orang tua kita. Hasilnya tentu ada perbedaan dalam keseharian dan hal-hal kecil lainnya yang memang cukup mengganggu.

Batasan Mengenal Diri

Antara tahu dan sadar

“Mengapa ya ada orang yang melakukan kesalahan, dia tahu yang dilakukannya salah, tetapi tidak kunjung berubah?”

Karena berbeda antara “tahu dan sadar”. Tahu hanya sekedar tahu, tetapi jika sadar akan menghasilkan suatu tindakan atau dengan kata lain ada aksi untuk berubah, untuk memperbaiki.

Kadang, kita tahu bahwa diri kita bermasalah, tetapi kita bingung harus bagaimana. Suatu saat ketika kita telah “sadar” mungkin kita tidak akan kebingungan lagi dengan cara melihat masalah yang ada dalam diri kita dengan kacamata yang berbeda, dengan kacamatanya Allah.

“Jadi, apakah perasaan dalam diriku itu salah? Apakah aku tidak boleh marah, kesal, sedih, menangis, kecewa?”

Benar bahwa perasaan-perasaan yang hadir dalam diri kita baik untuk divalidasi. Namun, tidak berhenti di situ saja. Ingat kata-kata ini; perasaan divalidasi, pikiran dievaluasi.

“Kenapa ya saya sedih dan kecewa?” Oke, mari validasi perasaan diri sendiri. Kemudian pikirkan asal mula kesedihan ini, apakah karena ekspektasi kita yang terlalu tinggi terhadap sesuatu? Apakah kita kecewa dengan takdir yang tak sesuai keinginan kita? Apakah ada bagian dari hati kita yang sulit menerima?

Menyadari bahwa ada hati yang kurang bersyukur adalah hal baik karena telah “sadar”. Nantinya ketika rasa bersyukur telah melanda hati, maka akan lahir hal-hal positif dari perasaan tersebut.

Ya memang, harus berani mengakui bahwa ada kurangnya rasa syukur itu yang menjelma jadi pikiran-pikiran buruk dalam diri, serta melahirkan rasa sedih berkepanjangan. Kita disakiti oleh pikiran kita sendiri.

Dari perasaan-perasaan kita ini saja kita mampu belajar bahwa bersyukur adalah hal mewah.  Efek dari bersyukur adalah membuat hati merasa tenang.

Bukankah ini impian setiap orang? Orang-orang menginginkan hidup yang tenang, tetapi lupa bahwa kadang ketenangan dalam hidup diperoleh dari tenangnya hati.


Ada rahasia di balik perasaan iri

“Kenapa ya dia yang kayak gitu bisa dapat banyak rejeki? Sementara, saya tidak.”

30/12/22

08:11

Ia telah berpamitan sejak tadi, meninggalkan sisa sedikit teh hangat di gelasnya, juga pekat kecap di piringnya, juga basah kecup ungkapan terima kasih, juga pelukan yang bisa bersuara 'hati-hati di rumah'.

Tinggal perempuan itu, menata piring-piring kotor sisa sarapan, mendengar bunyi-bunyian mesin ajaib penyulap baju kembali bersih, bisingnya mesin air juga menghuni, belum lagi suara angin sepoi-sepoi yang muncul dari celah-celah mesin ajaib lainnya, tak ada suara manusia, tapi ada suara tangan-tangan yang bekerja.

Di atas ranjang kusut setiap pada pukul delapan pagi lebih sedikit, di sana ia kumpulkan matahari. Ia butuh panas menyala untuk membuat setiap anggota tubuh berdaya, 'nafas yang Tuhan beri tak boleh jadi sia-sia'

Jadi, hendak merapikan mulai dari mana?

 

Bogor, 21 Des '22 | 08.28

Menjaga Perasaan (Orang Lain)

 Aku melayangkan sebuah tanya bertubi-tubi kepada seorang kawan dekat via whatsApp,

"Oh gtu hahaha eeeeh kok bs pindah gtu siih? Nyari2 lg sendiri atau emang ditransfer sama kantor yg lamaa? Kamu tipenyaa yg gak suka update kerjaan gak siihhh? Asliii lhooo kalo liat story kmuu kyk gak pernah stres krn kerjaan? Apa iya betul kerjaan kamu ga bikin stres? Kalo iyaaa berarti itu berkah dan salah satu rejeki dalam hidup kamu yaaa❤️😃 banyak orang yg aku kenal tuh pada tertekan sm pekerjaan mereka😂 atau nggak, banyak yg gak dpt2 kerjaaa.."

Lalu, apa jawabnya?

 "Aku berusaha untuk keep semuanya karena banyak yg belum dapet kerja plus ada yg kerjaannya banyak problem kayak yg kamu bilang tadi."

Aaaaa iya, menjaga perasaan orang lain! :')

Kalau yang tadi tentang menjaga perasaan orang lain dari hal-hal yang belum berhasil mereka miliki, di sisi lain di hari yang sama aku juga membaca kalimat yang menyentuh dari media quora. Ini tentang penerimaan terhadap diri kita. Ini tentang bagaimana menyikapi takdir yang belum tiba.

"Kalau kita sudah 100% menerima kondisi kita, tidak ada yang bisa membuat kita kesal atau tersinggung :)"

Rezeki

Hari ini dipertemukan dengan dua kalimat keren dari story-nya Prajurit Bumi yang tengah merayakan usia ke-23 dan lulus LPDP.

"Rezeki nggak kemana. Kalau rezeki, pasti nanti sampai juga!"

"Rezeki nggak kemana. Kita yang kemana-mana untuk jemput rezeki!"

Tegas, namun menenangkan. ❤️

 

Bdg, 12 Nov '22 | 11.55

Bukan Kebetulan

 Barusan tidak sengaja menonton cuplikan kajian Ustadz Harry Santosa,

"Anak itu bukan sebuah kebetulan, begitu juga dengan pernikahan. Orang-orang mengatakan saya KB tapi gagal, atau saya dulu nikahnya dijodoh-jodohkan dan lain sebagainya.

Kita mungkin tidak sedang merencanakan punya anak, atau tidak berencana untuk menikah, tapi ternyata semua itu terjadi. Kita tidak merencanakan, tapi Allah tidak pernah tidak merencanakan kelahiran seorang anak."

Jadi, sambutlah dan temukan hikmah di baliknya..

Selamat menerima dan memetik hikmah! :')

 

Yk, 26 Okt '22 | 21.43

Ketika Telah Menggenap

Ternyata ketika sudah punya pasangan jadi berasa normal banget sebagai perempuan pada umumnya yang pengen dikabarin, pengen didengerin, pengen dibantuin.

Dulu, apa-apa dikerjakan sendiri seringnya. Ngeliat orang-orang yang bergantung pada pasangannya rasanya aneh banget, kenapa nuntut untuk selalu dikabarin, nuntut perhatian, dan lain-lain. Ternyata, oh, wajar ya.. (ketawa dalam hati)

Sudah gitu biasanya barengan terus, tiba-tiba ldr jadi kayak adfghjklm aneh banget. Keluar naik motor sendirian aja bisa bikin melow. Super aneh. Padahal dulu naik motor keluar kota sendirian juga biasa ajaaaa.

Hampir seharian nggak dikabarin masa ngerasanya kayak dilupain hahahahaha aneh banget. Itulah bun sebagai manusia harus punya kesibukan biar nggak suka meratapi nasib.

Tapi di balik perasaan-perasaan seperti ini, ada rasa syukur yang begitu besar karena bisa merasakan hal ini, perasaan ini; perasaan ingin bertemu yang berkecamuk, perasaan resah karena tak kunjung dikabari, perasaan sepi seperti menghadapi dunia hanya seorang diri. Sekaligus tersisipi sebuah pelajaran bagaimana menghargai kebersamaan, memahami keadaan bahwa dalam hidup kadang ada jarak-jarak yang tercipta demi kebaikan bersama, memahami bahwa pentingnya memahami keadaan satu sama lain, saling pengertian, saling berlomba memberi perhatian di tengah kesibukan.

Catatan Kesepian

Aku membaca narasi kesepian dimana-mana; tumblr, twitter, story instagram close friend, status whatsapp dan lain-lain.

Hingga aku menyadari; kesepian adalah sebuah fase yang mungkin akan menghampiri setiap orang.

Narasi-narasi itu menjelma jadi keriuhan di media-media dunia maya. Anehnya nadanya berbeda-beda. Ada yang bersyukur dan tertawa di atas kesepian dirinya sendiri, ada yang meratapi, ada yang berusaha menerima dan menganggap masa-masa kesepian akan segera berlalu, tetapi ada juga yang terus saja terjebak seolah mereka terpaku di ruang yang sama; ruang kesepian yang memenjarakan mereka.

Cara menghadapinya juga berbeda-beda. Ada yang memilih sibuk bekerja dan menabung, ada yang rutin menuliskannya di dinding-dinding dunia maya sebagai upaya journaling, ada yang setengah mati melawannya dan menyangkal bahwa ia tidak sedang kesepian, namun ada juga yang berusaha keras memendamnya dan menghadapi dunia dengan ceria seperti biasanya.

Tidak apa-apa kalau kita merasa kesepian. Dalam hidup, ada kalanya hati merasa demikian. Menyaksikan ramainya kehidupan orang lain, sementara hidup kita sendiri begitu sepi, sunyi. Entah sedang merindukan suasana seperti apa, mungkin suasana keramaian yang pernah ada dulu. Namun, kita sendiri lupa seperti apa hari-hari ramai yang menyenangkan itu.

Orang yang Shalat, Tetap Bisa Kena Santet?

Nonton cerita mantan dukun di youtube, dia bilang, "Orang-orang suka mempertanyakan kenapa orang yang shalat tetap bisa kena santet? Lo pikir dulu aja, shalat lo gimana? Ketika shalat, pikiran lo isinya duniawi, gampang bagi kita buat nyantet lo. Makanya kalau mau shalat, dilepas dulu pikiran-pikiran duniawinya."

Dia juga ngasih contoh pikiran duniawinya yang relate huhu, "lo shalat tapi pikiran lo abis ini mau make up, mau pake baju apa ya.. itu gampang bagi kita buat nyantet."

Apa kabarnya ibu-ibu yang kalau shalat kepikiran anak, masakan, jemuran baju, dan lain-lain. Huhu. Semoga doa minta kekhusyuan dalam shalat nggak pernah lepas ya dari doa-doa kita.


Yk, 2 Agsts 2022 | 21.26

Eyang Uti dan Hal-hal yang Terkenang

Pagi itu aku kembali menyusun banyak rencana untuk hari-hari liburanku ke depan di Bandung dengan setengah rencana telah terlaksana. Namun, mendengar kabar nafas Uti tertatih-tatih, kami segera berkemas dan pagi itu juga pulang ke rumah Magelang.

Uti masuk rumah sakit dan kami bergiliran menjaganya. Esok siangnya, aku tengah makan lotek di lorong rumah sakit. Kala itu, kuamanahkan pada Kak Satriya dan Haikal—sepupuku yang baru berusia sembilan tahun, untuk menjaga Uti.

Lotekku hampir habis bersamaan dengan Kak Satriya yang berlari keluar memberitahu kami bahwa saturasi Uti yang tadinya hampir meraih normal, tiba-tiba turun drastis ke angka 60. Kami semua masuk ke kamar dan saturasi telah berada di angka nol. Haikal menjadi saksi grafik di layar monitor berubah menjadi garis lurus panjang seperti di film-film yang ia tonton, katanya.

Perawat berdatangan, pacu jantung dilakukan, dan kami saling bertangisan dalam ruangan.

Jenazah telah dimandikan, dishalatkan, dikuburkan, sebagaimana kewajiban kami mengantarkannya. Satu-persatu urusan diselesaikan.

Benar kata Bu Cinta, "..tapi, kenapa harus dikeluarkan namanya dari daftar KK?" Ya sudah kalau memang begitu ketentuannya, tapi kenapa harus begitu? :(

Pesan Terakhir

"Jangan lama-lama lho ya di Bandungnya, kamu sudah ada suami.." begitu bunyi pesan terakhir Uti kepadaku yang terus terngiang di benakku.

Rupanya bukan perihal semata karena kehadiran pasangan dalam hidupku, tetapi karena Uti juga akan pergi jauh. Nyatanya aku pulang dari Bandung menyelesaikan liburanku dengan begitu cepat.

"Iya Uti, ini aku sudah pulang tapi Uti juga telah berpulang." Bisikku di samping jenazahnya dengan berlinang air mata.

Uti, minggu ini juga usai Uti tidak ada, Kak Satriya pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan dan Cici—sahabat baikku akan segera pindah ke Makassar hari Selasa besok. Aku sampai bingung harus menangisi yang mana dulu. Semua terjadi dalam satu waktu dan begitu singkat. Apa yang kata Allah terjadi, maka terjadi.

Seperti ketegaran yang selalu Uti ajarkan pada kami, "Eyang Kakung sudah tenang, sudah tidak sakit.." ujar Uti dengan senyuman, pun kini kami akan belajar ikhlas menerima apa yang telah ditakdirkan.

Hanya saja.. ah, tidak ada lagi perempuan tua yang duduk di ruang tengah menantiku pulang ke rumah. 🥀

 

Ditulis di Yogyakarta, 9 Oktober 2022

Catatan Untuk Diri

Untuk agenda-agenda kebaikan bagi diri, jangan menunggu waktu luang, tetapi mulailah meluangkan waktu.

Untuk mencapai apa-apa yang diniatkan dalam hati, dengan penuh tekad diri, jangan menunggu sampai habis waktu, tetapi mulailah membuat target-target dari target kecil terlebih dahulu.

Untuk menuju sesuatu yang besar, mulailah perhatikan hal-hal kecil. Pelan-pelan mempelajari, mungkin dengan membaca, mendengarkan, atau mengambil pelajaran dari sesuatu yang terjadi.

Semoga Allah mudahkan setiap langkah kita di bumi yang fana ini. Aamiin.

Selamat menyambut pagi!✨

 

Yk, 12 Juli '22 | 05.59

Amor Fati

"Tiada satupun tak terencana, daun yang jatuh dan hujan yang turun.. Setiap musibah dan kematian telah dituliskan.." begitu bunyi salah satu lirik lagu Opick.

Ternyata semenenangkan ini mencintai takdirMu. Amor fati. Apapun yang telah terjadi, qodarullah. Ternyata semenenangkan ini, hati yang menerima. Ternyata sebersyukur ini di kala ada hal yang membuat kecewa, Allah tetap beri kita hidayah untuk menujuNya.

 

Yk, 16 Jun '22 | 10.58

Berpulang

Benar kata Bu Cinta, kapan waktu kematian seseorang sudah ditentukan sejak ia dalam kandungan, sehingga tidak ada alasan untuk tidak rela. Dan ketika waktu itu tiba, maka kita ucapkan, innaalillahi wa innaailaihi raaji'uun..

Selamat jalan Eril. Sudah tenang ya di sana, tidak terhimpit urusan-urusan dunia lagi seperti kami-kami ini yang masih terus berjuang dalam kehidupan yang fana ini.

Ril, katanya seseorang yang wafat lebih dulu itu berarti bekal akhiratnya mungkin telah cukup. Sehingga kami-kami ini yang masih bernafas di dunia, kemungkinan masih sangat sedikit amalnya.

Ril, sampai berjumpa lagi dengan keluargamu nanti di JannahNya.

Banyak yang mendoakanmu, Ril.

Ah, rasanya baru kali ini aku iri, namun bahagia. Sebab, bukan perkara dunia yang membuatku iri.

 

Dari aku, yang bukan siapa-siapanya Eril

Yk, 13 Jun '22 | 11.04 | Pagi ini Eril dimakamkan 🥀

Es Krim di Hari Tua

Beberapa hari yang lalu aku memasuki sebuah minimarket dekat tempat tinggalku. Menyusuri rak demi rak. Mencari apa yang kubutuhkan. Di sana aku berpapasan dengan seorang nenek. Tangannya sibuk memilih-milih es krim dalam lemari pendingin.

"Hmm nenek yang baik hati. Pasti hendak membelikan es krim sebagai oleh-oleh untuk cucunya di rumah!" Seruku dalam hati.

Aku masih mengelilingi satu-persatu rak. Sementara, nenek tersebut sudah tak terlihat lagi. Usai menemukan barang yang kucari, aku lekas membawanya ke kasir.

Langkahku baru saja tiba di hadapan suamiku yang menungguku di halaman minimarket, sepersekian detik aku terkesima. Bukan karena melihat suamiku, ececeh.. tapi ada sebuah pemandangan yang teramat manis disaksikan oleh kedua mataku.

"Kak, nengok belakang deh!" Suruhku padanya.

"Apa?" Suamiku menengok ke belakang.

Rupanya dugaanku tadi keliru. Es krim itu bukan untuk cucunya! Melainkan untuk diri nenek itu sendiri dan suaminya, seorang kakek yang telah menunggunya di dalam mobil jeep mereka.

Di halaman minimarket itu, tepatnya di dalam sebuah mobil jeep, di bawah gerimis siang hari, sepasang kakek dan nenek yang terlihat sudah sangat tua namun masih kuat tersebut tengah bersama menyantap es krim di tangan mereka. Hanya berdua saja. Aaaaaah manis sekali!!

Aku beralih memandangi suamiku seraya membatin, "Apakah usia kita bisa sama-sama akan sepanjang usia mereka? Lalu di hari tua nanti menikmati es krim di dalam mobil di bawah gerimis kota?"

Akan selalu ada banyak semoga yang kupinta pada-Nya untuk kita, Kak.

 

Yk, 11 Jun '22 | 19.02

Menyambut Takdir Terbaik

Pernikahan adalah sebuah momen yang amat sakral—menjadi salah satu dari tiga perjanjian dahsyat yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Mengapa demikian? Karena pernikahan merupakan perjanjian Allah dengan manusia. Dengan demikian, sepatutnya kita tidak menyepelekan pernikahan ini.

Banyak dari kita, termasuk mungkin saya sendiri, yang seringkali terpukau dengan apa-apa yang ditampilkan dalam pernak-pernik pernikahan seseorang. Khususnya era kini, postingan momen-momen tersebut sangat mudah ditemukan di laman sosmed kita.

Di balik penilaian kita soal pernak-pernik acara pernikahan seseorang, pernahkah kita memaknai lebih dalam, melihat dari sisi lain, tentang perjuangan di belakangnya?

Barangkali bagi sebagian pasangan, dekorasi dan segala tetek-bengeknya tidak begitu penting karena bagi mereka perjuangan hingga bisa memperoleh restu orang tua adalah yang terpenting. Juga, perjuangan-perjuangan lainnya seperti menyangkut materi, kemapanan, dan lain-lain.

Boleh jadi mereka memiliki wedding dream sendiri, tetapi saat waktunya tiba ada ujian-ujian tertentu yang membuat mereka melupakan hal itu dan hanya fokus pada bagaimana caranya agar mereka "sah".

Boleh jadi kita tidak tahu bahwa di balik sebuah akad yang khidmat, ada perjuangan yang begitu berat.

SAMAR

 "Iya, mba.. saya hanya menerima penghuni yang pasangan suami istri sah saja. Kalau pun nikah siri, silahkan perlihatkan bukti suratnya. Pernah ada yang mau ngontrak di sini, katanya tunangan. Saya bilang nggak bisa, harus pasangan yang sudah sah. Saya takut ikut menanggung dosanya kalo nerima penghuni kontrakan yang belum menjadi pasangan resmi.."

Entah, selalu kagum pada mereka yang melek dengan dosa-dosa yang terlihat samar, yang senantiasa berhati-hati dengan setiap langkah dalam hidupnya, yang takut pada Tuhannya. Semoga kita menjadi salah satunya.

 

Yk, 6 Juni '22 | 13.27 | Cerita bulan lalu

Bicara Kehidupan

 

Source: Doc. pribadi

Semakin menjalani hari demi hari, sepahamnya kita amat mengetahui bahwa dalam hidup ini lelah adalah sesuatu yang pasti. Masalah demi masalah berhasil kita jalani dengan solusi yang kita ketahui, tetapi bukan berarti ia berhenti. Masalah hanya berganti.

Seseorang pernah menulis dalam blognya, "Saya punya seni tersendiri dalam menikmatinya. Ketika sebuah masalah datang, entah bagaimana saya selalu membandingkan masalah hari itu dengan masalah hari kemarin atau sebelumnya.

Jika hari ini masalah yang saya dapat saya rasa lebih ringan dari hari kemarin, maka harusnya hari ini saya mampu menghadapi, memecahkan dan melewatinya.

Namun, andaikan masalah yang hari ini saya rasa yang paling berat daripada masalah-masalah kemarin, maka saya menganggap hari itu 'level kemampuan menghadapi masalah saya' naik."

Di sisi lain juga, saya sering mengafirmasi pada diri sendiri, "Aku punya Allah yang menciptakanku, kalau nanti aku lelah maka Allah juga yg akan menguatkanku.."

Memaafkan Diri

Source: Tumblr


Setelah beberapa bulan berjalan dalam rumah baru, rumah yang awalnya begitu asing, rumah yang tidak terpikirkan sekalipun, yang pada akhirnya menjadi tempat pulang untuk waktu-waktu sekarang ini.

Ada banyak hal yang terjadi. Ada banyak percakapan yang tercipta. Ada berbagai keresahan yang menenangkan, sebab tahu bahwa semuanya akan dipikirkan bersama-sama.

Satu pelajaran yang telah kupetik dari perjalanan rumah tangga yang baru sangat sebentar ini ialah; betapa pentingnya memaafkan diri sendiri, berdamai dengan diri sendiri, sebelum suatu hari nanti hidup bersama dengan seseorang yang dimana membuat kita terus berupaya merawat perasaan padanya, memaafkan setiap kesalahannya, menerima apa-apa yang masih berproses menuju baik dalam dirinya.

Dahulu, seringkali membaca catatan yang nadanya selalu berulang; "Sembuhkanlah terlebih dahulu lukamu, sebelum kau membersamai seseorang baru yang datang ke dalam hidupmu.." Kini, sedikit memahami bahwa luka mungkin tidak selalu berarti disebabkan orang lain, tetapi juga luka-luka akibat kebodohan diri sendiri.

Maafkanlah diri kita dengan maaf yang baik. Maaf yang membawa diri pada kebaikan yang bertumbuh, bukan maaf yang mewajarkan dan membiasakan setiap salah.

Maafkanlah diri kita sebelum bertemu seseorang yang nantinya dengannya kita juga perlu berupaya untuk memaafkan salahnya. Bagaimana mungkin akan mudah memaafkan yang lain, jika kita sendiri masih bersusah payah untuk memaafkan diri sendiri? Bagaimana mungkin ingin bersama dalam merajut sakinah, namun kita sendiri masih sering mengorek luka-luka lama tanpa berusaha sedikitpun menyembuhkannya?

Untuk setiap hati yang baik, di sana hidup upaya untuk merawat kata maaf; untuk merawat cinta dalam rumah dimana tempat kita seharusnya pulang. ❤️


Yogyakarta, 21 Mei 2022 | 13.51