"Jangan lama-lama lho ya di Bandungnya, kamu sudah ada suami.." begitu bunyi pesan terakhir Uti kepadaku yang terus terngiang di benakku.
Rupanya bukan perihal semata karena kehadiran pasangan dalam hidupku, tetapi karena Uti juga akan pergi jauh. Nyatanya aku pulang dari Bandung menyelesaikan liburanku dengan begitu cepat.
"Iya Uti, ini aku sudah pulang tapi Uti juga telah berpulang." Bisikku di samping jenazahnya dengan berlinang air mata.
Uti, minggu ini juga usai Uti tidak ada, Kak Satriya pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan dan Cici—sahabat baikku akan segera pindah ke Makassar hari Selasa besok. Aku sampai bingung harus menangisi yang mana dulu. Semua terjadi dalam satu waktu dan begitu singkat. Apa yang kata Allah terjadi, maka terjadi.
Seperti ketegaran yang selalu Uti ajarkan pada kami, "Eyang Kakung sudah tenang, sudah tidak sakit.." ujar Uti dengan senyuman, pun kini kami akan belajar ikhlas menerima apa yang telah ditakdirkan.
Hanya saja.. ah, tidak ada lagi perempuan tua yang duduk di ruang tengah menantiku pulang ke rumah. 🥀
Ditulis di Yogyakarta, 9 Oktober 2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar