05/08/17

[All About Life] : Hal - Hal dan Obrolan Sepanjang Liburan



Saya tidak tahu mengapa Bandung memiliki pria-pria yang ah sudahlah. Mulai dari pria yang saya temui di suatu bus jurusan Garut. Bus ketika itu cukup penuh, si pria mengangkat tas di sampingnya yang memenuhi bangku dan gerakannya mempersilahkan saya duduk. Tetapi, waktu saya lihat wajahnya bikin saya istigfar saking ah sudahlah. Saya menolak bangku di sampingnya dan mencari bangku lain. Well, kalau mau dimirip-miripin, dia mirip sama Lutfi Aulia.

Suatu hari saya pergi ke supermarket, lagi-lagi di tempat ini si pengantar rotinya. Lalu, aa'-aa' yang di bagian alat makannya. Saya cuma bisa pura-pura duduk di kursi yang disediakan supermarket sambil makan roti Maryam yang saya beli di stasiun tadi. Oh iya, penjual tiket di stasiunnya juga ah sudahlah.

Di hari lainnya, saya menemani tante saya ke toko perabot untuk beli pengejus. Then, saya hanya diam pura-pura ngeliatin tukang rujak di depan tokonya. Jadi, yang punya toko perabot itu agak mirip gitu sama Verrel Bramasta, tapi versi om-om. Pulang-pulang saya nonton infotaiment beritanya tentang Verrel, pindah channel, eh di channel tetangga yang jadi presenternya si Verrel. Ah sudahlah.

Namun, dari semua perjalanan liburan saya yang penuh visi dan misi ini mulai dari Yogyakarta, saya membatalkan tiket ke Bandung dan memilih lebaran di Magelang untuk kesekian kalinya karena kakek saya sakit, tumben sekali loh beliau sakit, lalu menghadiri acara pernikahan tante saya yang berlangsung di Magelang, tapi ini lebih seperti reuni keluarga besar dan ditutup dengan mengantarkan adik kecil saya yang badannya seberat 70kg itu untuk masuk ke pondok pesantren. Jadi, kalau saya rindu saya bisa langsung lari ke Gunung Kidul Yogyakarta hanya untuk meluk dia. Sedih, sekarang dia sudah mulai mengerti, sudah mulai besar pikirannya. Dia sudah tidak mau dipeluk di depan umum, tapi untungnya masih mau dipeluk meski waktu tidak ada siapa-siapa. Padahal dulu yang nyebokin juga saya. Tidurnya bareng saya. Jajan ke warung sama saya. Malah kalau ke mall juga suka berdua sama saya, waktu di mall ketemu sama teman saya yang lagi ngedate, tapi saya lebih bangga karena jalan bareng adik saya meskipun dia banyak maunya. Ibu dapurnya juga sudah dititip pesan bahwa jangan sampai adik saya makannya banyak apa lagi nambah karena berat badannya sudah di atas normal anak seusianya. Tapi, waktu minggu lalu ditelpon dia malang ngomong “Aku boleh nambah nasi tapi nggak boleh nambah lauk.” Yaa ampun! Dari Magelang, saya menuju Jakarta. Lewat doang, sih. Lalu turun di Bogor. Di Bogor, saya ziarah ke makam kakek saya, ngecek rumah soalnya mau direnovasi, terus main-main sebentar sama kawan lama. Dari Bogor, baru meluncur ke Bandung. Ke Bandung judulnya adalah menengok nenek di sana, tapi lebih banyak belanjanya. Kalau ke Bandung, tidak bisa kalau tidak beli sepatu. Kenapa ya? Karena sepatu-sepatu di Bandung mudah sekali membuat saya jatuh hati. 

03/08/17

My Different Producer #1



Sepak terjangku di dunia lain dari perfilman alias sebagai orang di belakang layar sudah cukup lama. Sejak aku masih duduk di bangku SMA dulu. Awalnya hanya iseng untuk sekedar cari pekerjaan sampingan agar tidak mengandalkan uang mama dan papa terus. Maklum, modal untuk bergaya pada zaman SMA cukup menguras dompet. Zaman SMA adalah zaman sekolah yang paling indah sekaligus rumit. Waktu zaman SMA dulu kita punya gaya selangit tapi dompet kita menjerit. Berbeda ketika sudah duduk di bangku kuliah. Gaya menjadi nomor dua atau nomor tiga atau malah paling belakang. Harus kuakui bahwa bangku kuliah bukanlah bangku yang main-main.

Meski begitu, aku ketagihan dengan pekerjaanku sebagai penata artistik dalam suatu perfilman. Selain itu, hal lain yang membuat aku bertahan karena mereka, yakni orang-orang di belakang layar yang menyukseskan suatu film, mereka memuji pekerjaanku. Katanya aku cekatan. Mereka memintaku untuk bergabung dengan project-project mereka. Panggilan pekerjaanku tiada berhenti.

Ketika aku memasuki bangku perkuliahan, tidak terasa, waktuku semakin padat. Jam istirahat dan jalan-jalanku tersita habis-habisan. Awalnya aku ingin memutuskan untuk fokus pada kuliahku. Tetapi, setelah aku mencoba untuk mengatur dan merapikan antara jadwal pekerjaanku dengan kuliahku, semuanya bisa tertata dengan baik. Hal yang menyenangkan lainnya juga sebagai mahasiswa baru, ATM-ku tidak pernah kosong. Saldonya selalu tinggi. Ada kebanggaan tersendiri setiap kali melihat nominal yang tertera di layar mesin ATM.

Karena aku sudah cukup lama menapaki karir di bidang ini, aku cukup mengenal banyak orang-orang besar di belakang suksesnya suatu film. Aku lebih tertarik bertukar pikiran alias ngobrol dengan orang-orang itu ketimbang dengan aktor dan aktris yang memerankan film tersebut.

Teman-temanku banyak yang iri denganku, katanya mereka ingin juga punya pekerjaan sampingan sepertiku karena aku bisa seringkali bertemu dengan artis-artis papan atas maupun papan bawah. Aku agak sedih mendengar bahwa ini pekerjaan sampingan. Ya, memang, pekerjaan utamaku tetaplah mahasiswa. Tetapi, aku berharap suatu saat nanti karirku bukan hanya di bidang artistik terus menerus, tetapi bisa juga menjadi penulis naskah, sutradara, bahkan produser. Untuk sekarang, aku memang tengah menyusun sebuah naskah dan berencana suatu saat nanti mendiskusikannya dengan orang yang tepat, maksudku dengan produser yang tepat.

Mungkin di cerita yang berikut-berikutnya aku akan bercerita tentang bagaimana keseharianku saat di tempat produksi film, bertemu dengan orang-orang hebat itu maupun dengan para pemain. Tak semua artis enak diajak berdiskusi dan bekerjasama. Terkadang, moodku bisa hancur karena mereka. Biasanya karena keterlalumanjaan mereka. Tetapi, banyak juga artis-artis yang cukup enak untuk diajak bekerjasama, karena membuat suatu film adalah hal yang menyenangkan sekaligus melelahkan. Banyak menguras pikiran, tenaga, bahkan emosi. Salah satunya adalah Teh Bella, iya, Laudya Chintya Bella. Teteh yang satu ini baik dan enak sekali diajak kerjasama.

Layang - Layang



Saya suka sekali melihat langit

Tentu langit yang teduh

Yang mengiringi benda ringan itu menari

Sejenak saya menyadari

Masih ada anak-anak yang menerbangkannya dengan sudi

Menerbangkan benda itu

Layang-layang, yang membuat bahagia hati

Karena mainan tak melulu harus mahal seperti gadget barangkali


Jakarta, Juli 2017
Dalam perjalanan menuju Bandung

31/07/17

#3 A Story From Jogja: Perempuan di Tenggara Tugu Yogyakarta



Iyus

Siapapun mungkin akan mengira bahwa kami anak-anak muda yang duduk-duduk di utara tugu Yogyakarta bukanlah asli warga Yogyakarta. Ya, kami sering menghabiskan malam di luar kamar kost kami yang mungkin pengap dan membosankan. Kami menghabiskan banyak waktu kami di luar tembok-tembok kost, menikmati suasana Yogyakarta dalam segala kondisi menurutku adalah pilihan terbaik.

Malam ini aku menjadwalkan diri untuk mampir ke suatu perpustakaan jalanan yang rutin diadakan oleh sebuah komunitas buku yang dilakukan oleh mahasiswa dari beragam universitas yang ada di Yogyakarta. Buku memang menjadi alasan kehadiranku, tetapi perempuan itu menjadi alasan lebih utama mengapa aku memilih malam ini untuk bertandang ke sini.

Dia, perempuan yang selalu mampu untuk kuajak berdiskusi tentang apapun, tentang alam, dunia, buku, pendidikan, politik, pariwisata, apapun itu. Perempuan yang tentu sulit kutemukan di lingkungan lain.

Aku melirik jam tanganku, ia belum juga tiba. Mungkin masih dalam perjalanan. Aku menyibukkan diri dengan melihat-lihat buku yang ditawarkan di perputakaan jalanan itu. Diam-diam kuperhatikan orang-orang di sana. Beberapa dari mereka membuka diskusi, beberapa lainnya tak tertarik dan memilih untuk mengobrol sendiri.

Sesaat lampu-lampu yang terpancar dari kendaraan yang lewat menyilaukan pandangan. Dari balik cahaya-cahaya itu aku menemukannya. Ia datang dengan senyuman di wajahnya. Ah, selalu begitu. Setiap kali kulihat kedatangannya. Tetapi, matanya tak menyorotiku. Ia menegur seseorang, seseorang yang lain, seorang pria berkulit terang dengan kacamata di wajahnya. Sesaat aku menyadari mungkin ia tak melihatku karena aku memakai jaket dan topi yang cukup menenggelamkan diriku.

Sebenarnya jarak dudukku dengannya cukup dekat tetapi ia terlihat tenggelam dalam obrolan bersama pria berkacamata itu. Mereka sepertinya sudah akrab sejak lama. Sesekali tawa menyelingi obrolan keduanya. Aku masih saja tenggelam ditikam pekatnya malam dan kebisingan jalan raya.

Segerombolan pengamen tambah meriuhkan suasana, aku masih berpura-pura sibuk dengan buku yang kubaca, sedang mungkin yang lain menolehkan pandangan pada gerombolan pengamen yang cukup menyita suasana. Oh, rupanya perempuan itu menoleh juga tepat saat kulayangkan pandanganku ke arahnya. Terimakasih dalam hati kuhaturkan pada gerombolan pengamen tadi, kedatangan mereka membuat perempuan itu menoleh ke sini.

“Hai! Apa kabar?” matanya berbinar. Pada akhirnya perempuan itu menemukanku, seorang mahasiswa yang senang mendaki gunung namun seringkali tersesat di hutan buku kemudian mengikhlaskan diri untuk terus tersesat demi selalu bertemu dengan perempuan yang memilih tenggelam diantara beribu buku.

13/07/17

[Catatan Untuk Diri Sendiri] : Mereka yang Memiliki Banyak Pilihan




Banyak orang mengatakan enak sekali seseorang yang memiliki banyak pilihan. Dibalik itu, mereka tak tahu betapa seseoramg yang memiliki banyak pilihan seringkali sibuk membanding-bandingkan pilihan yang satu dengan yang lainnya. Tak jarang pula ia tersesat sendiri dalam pilihannya.

Terkadang, hanya memiliki satu pilihan adalah yang terbaik, sebab berarti bisa jadi satu-satunya pilihan itu adalah yang terbaik yang sudah Allah takdirkan.