Saya tidak tahu
mengapa Bandung memiliki pria-pria yang ah sudahlah. Mulai dari pria yang saya
temui di suatu bus jurusan Garut. Bus ketika itu cukup penuh, si pria
mengangkat tas di sampingnya yang memenuhi bangku dan gerakannya mempersilahkan
saya duduk. Tetapi, waktu saya lihat wajahnya bikin saya istigfar saking ah
sudahlah. Saya menolak bangku di sampingnya dan mencari bangku lain. Well,
kalau mau dimirip-miripin, dia mirip sama Lutfi Aulia.
Suatu hari saya
pergi ke supermarket, lagi-lagi di tempat ini si pengantar rotinya. Lalu, aa'-aa' yang di bagian alat makannya. Saya cuma bisa pura-pura duduk di kursi
yang disediakan supermarket sambil makan roti Maryam yang saya beli di stasiun
tadi. Oh iya, penjual tiket di stasiunnya juga ah sudahlah.
Di hari lainnya,
saya menemani tante saya ke toko perabot untuk beli pengejus. Then, saya hanya
diam pura-pura ngeliatin tukang rujak di depan tokonya. Jadi, yang punya toko
perabot itu agak mirip gitu sama Verrel Bramasta, tapi versi om-om.
Pulang-pulang saya nonton infotaiment beritanya tentang Verrel, pindah channel,
eh di channel tetangga yang jadi presenternya si Verrel. Ah sudahlah.
Namun, dari
semua perjalanan liburan saya yang penuh visi dan misi ini mulai dari
Yogyakarta, saya membatalkan tiket ke Bandung dan memilih lebaran di Magelang
untuk kesekian kalinya karena kakek saya sakit, tumben sekali loh beliau sakit,
lalu menghadiri acara pernikahan tante saya yang berlangsung di Magelang, tapi
ini lebih seperti reuni keluarga besar dan ditutup dengan mengantarkan adik
kecil saya yang badannya seberat 70kg itu untuk masuk ke pondok pesantren.
Jadi, kalau saya rindu saya bisa langsung lari ke Gunung Kidul Yogyakarta hanya
untuk meluk dia. Sedih, sekarang dia sudah mulai mengerti, sudah mulai besar
pikirannya. Dia sudah tidak mau dipeluk di depan umum, tapi untungnya masih mau
dipeluk meski waktu tidak ada siapa-siapa. Padahal dulu yang nyebokin juga
saya. Tidurnya bareng saya. Jajan ke warung sama saya. Malah kalau ke mall juga
suka berdua sama saya, waktu di mall ketemu sama teman saya yang lagi ngedate,
tapi saya lebih bangga karena jalan bareng adik saya meskipun dia banyak
maunya. Ibu dapurnya juga sudah dititip pesan bahwa jangan sampai adik saya
makannya banyak apa lagi nambah karena berat badannya sudah di atas normal anak
seusianya. Tapi, waktu minggu lalu ditelpon dia malang ngomong “Aku boleh
nambah nasi tapi nggak boleh nambah lauk.” Yaa ampun! Dari Magelang, saya
menuju Jakarta. Lewat doang, sih. Lalu turun di Bogor. Di Bogor, saya ziarah ke
makam kakek saya, ngecek rumah soalnya mau direnovasi, terus main-main sebentar
sama kawan lama. Dari Bogor, baru meluncur ke Bandung. Ke Bandung judulnya
adalah menengok nenek di sana, tapi lebih banyak belanjanya. Kalau ke Bandung,
tidak bisa kalau tidak beli sepatu. Kenapa ya? Karena sepatu-sepatu di Bandung
mudah sekali membuat saya jatuh hati.
Cerita di atas
merupakan cerita singkat liburan seorang mahasiswi yang kurang berfaedah. Cie,
mahasiswi. Namun, di Bandung saya mengalami pembicaraan-pembicaraan serius
dengan tante saya. Okay okay, jangan lupa nafas, ya, santai saja. Ini bukan
pembicaraan serius kayak pernikahan gitu, bukan. Tante saya menceritakan
tentang dajal bahwasannya dajal sudah ada di dunia ini. Kelebihan yang Allah
beri pada Dajal adalah umurnya panjang. Dajal sudah lahir 200 tahun sebelum
Nabi Isa lahir. Memang belum ketahuan, siapa Dajal dan dimana ia berada, karena
Dajal pandai bersembunyi. Sejarah dibalik Dajal hanya punya satu mata adalah
karena mata satunya pernah ditusuk. Dajal lahir di dunia ini dari keluarga yang
jelek. Jelek di sini maksudnya adalah keluarga yang melanggar hukum agama,
seperti bapak menikahi anak perempuannya sendiri, pernikahan sesama saudara,
anak laki-laki menikah dengan ibunya.
Mungkin kiamat
sudah dekat. Hayuklah perbaiki shalat lima waktu kita. Hayuklah perbaiki hubungan kita dengan orangtua. Hayuklah kurang-kurangin nyinyirin orang.
Setelah
diceritakan itu saya menonton TV. Di berita disebutkan bahwa diprediksi bahwa
pada tahun 2030 sebanyak 200 pulau di Indonesia akan tenggelam. Pulau apakah
itu?
Saya merinding.
Prediksi tentang
bisnis dan perekonomian juga semakin memukau saja pada 2025 nanti. Padahal saya
pernah mendengar dari Ibu saya bahwa salah satu tanda kiamat ialah banyak
berdirinya gedung-gedung pencakar langit dan rumah-rumah megah. Padahal
cita-cita saya salah satunya adalah menjadi pengusaha hotel. Ini bukan hanya
menunjukkan perekonomian semakin maju, tetapi mungkin juga tanda-tanda kiamat.
Maksudnya ialah bertambah banyaknya orang-orang kaya di muka bumi ini. Di waktu
lain, saya membaca tanda-tanda kiamat adalah sudah tak ada lagi orang yang
melarat, kelak para orang kaya kebingungan harus bersedekah kemana. Kelak,
semua kembali pada masa awal. Kelak, uang dan harta bukanlah yang terpenting.
Kelak, makanan-makanan yang kau makan hanya olahan seadanya dari pertanian dan
perkebunan. Semua kembali ke zaman awal. Bahkan seorang teman pernah membaca
buku bahwa suatu hari di masa depan ATM tak akan berfungsi lagi.
Saya pernah
berbincang-bincang dengan seseorang tentang dunia yang akan semakin maju,
semakin kaya, semakin canggih, semakin menyeramkan. Ketika itu ia mengatakan pada
saya bahwa suatu hari apa-apa akan menjadi mudah, semuanya bisa diantarkan
seperti ketika kamu butuh makan tapi kamu malas keluar, suatu hari dunia akan
secanggih itu. Beberapa tahun kemudian lahirlah aplikasi online yang membuat
apa-apa menjadi mudah. Kami juga berbicara tentang bagaimana kertas tak akan ada
lagi di masa depan, semua akan digital, sebab hutan telah habis dibabat. Maka
kami berdua saat itu setuju bahwa alangkah baiknya menyimpan foto dalam cetakan
kertas yang disimpan dalam buku album dibanding menyimpannya secara digital di
google drive. Lebih berasa mengenangnya.
Saya sebenarnya
tidak ingin membuat postingan seserius ini, tetapi saya merasa tak bisa
menyimpannya sendiri. Saya minta maaf untuk semua pembaca blog saya, mungkin
suatu hari nanti saya akan lebih fokus pada dunia nyata saya. Fokus pada kuliah
saya, pada pekerjaan saya, pada keluarga saya. Semoga saya bisa segera lulus
kuliah dan menjalani tahap berikutnya dari sebuah kehidupan. Ya, entah apa itu.
Entah menikah atau apa itu. Bisa saja ajalmu lebih dulu datang dibandingkan
jodohmu, makanya saya tidak berangan-angan panjang mengenai jodoh saya. Terlalu
rumit. Misterius. Tidak pasti. Saya tidak mampu menyebutkan satu nama pun di
dalam doa saya, seperti prosa karya Mas Gun, “Ya, Allah, hamba tidak tahu berjodoh dengan siapa. Hamba tidak tahu
berdoa untuk siapa. Tidak satu pun nama bisa hamba sebut karena nama itu tidak
pernah hamba tahu. Hamba hanya memohon, jodohkanlah hamba dengan seseorang yang
selalu menyebut nama hamba dalam doanya. Siapapun dia, setidaknya hamba tahu
bahwa ketika mencintaiku, dia tidak melupakan-Mu.”
Dan juga, menurut
saya, bila kamu pinta pada Allah, bukankah berarti permintaanmu itu begitu
serius karena kamu melibatkan Tuhan di dalamnya? Kamu benar-benar serius untuk
menghabiskan sisa hidupmu bersama saya. Buka hanya sebagai pendamping hidup yang
kamu akan pamerkan pada dunia dan seisinya, tetapi lebih dari itu. Bila kamu
menyebut nama saya di hadapan Allah, bukankah berarti kamu serius untuk menjaga
dan menemani saya dalam hidup ini? Mana mungkin kamu serius sementara kamu tak
pernah menyebut nama saya di dalam doamu.
Mungkin kamu tak
berani sebab niatmu hanya sebatas mencintai dan ingin memiliki, padahal bila kamu
meminta pada Allah maknanya akan lebih luas lagi. Lebih luas dari yang kamu
sangka. Bahkan mungkin orang yang kamu cinta itu jauh lebih baik dari yang kamu
duga, dari alasan yang selama ini membuatmu jatuh hati padanya. Itulah anugerah
dari Allah yang terkadang mengejutkan hamba-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar