Entah kenapa
akhir-akhir ini di sela-sela deadline
yang menumpuk, kelas kuliah yang seolah tak habis-habis, berbagai seminar yang
sungguh menarik untuk diikuti, terajut suatu tanda besar dalam benakku. Bangku
kuliah, dosen, kosan, deadline,
seminar, tugas, email, dan lain sebagainya seolah-olah tak pernah bosan untuk
terus meyakinkanku bahwa aku sudah ada di tahap ini, di masa ini.
Keinsomniaan
yang melandaku, kumanfaatkan untuk merenungi hari-hari yang kulewati dalam
kehidupanku. Semua pikiran ini tidak boleh bila tidak membawa Tuhan. Tuhan
haruslah selalu disangkutpautkan dalam kehidupan kita, dalam tata aturan dari
hal kecil hingga hal besar, itu yang kudengar dari para ulama. Maka miris
sekali mendengar ungkapan Nietsche yang mengatakan bahwa banyak orang beragama
tetapi tidak menghadirkan agama dalam hidup mereka.
Setiap kali
mengingat Tuhan, ada saja partikel-partikel dalam tubuh yang turut menguatkan
jiwa dan tubuh. Aku percaya bahwa semua hal terjadi atas ijin-Nya, bahkan bila
itu hanyalah sehelai daun yang terhempas dari pohonnya.
Ah, bila aku ada
di dunia dongeng pasti sudah kukatakan bahwa akulah jiwa yang terjebak dalam
tubuh orang dewasa! Dan otakkulah yang paling kukasihani dari semua ini! Ia
yang terus menerus kupaksa untuk mendewasa. Aku kehilangan pikiranku sendiri.
Maka sekarang
mari berhenti membicarakan diri sendiri. Dalam cerita ini, tersebutlah dua
orang laki-laki yang keduanya sama-sama teman sekelasku, sama-sama membuat
bosan karena setiap hari kami bertemu. Dua orang pria yang sungguh menyajikan kepribadian
bertolakbelakang bila benar-benar memahaminya. Tetapi, ada hal yang sama dalam
diri mereka, keduanya sama-sama betul mengenal agama, mengingat Tuhan,
ibadahnya taat, omongannya tidak kasar, dan sama-sama rajin berangkat kuliah
juga!
Yang pertama
namanya Bara, entah kenapa tahu-tahu saja aku tahu banyak tentang dirinya,
tentang hobi naik gunungnya, tentang ia paling tidak suka makan ikan tetapi
anehnya senang sekali pergi memancing, tentang ia menyimpan banyak persediaan
tempe dan tahu juga cabai di kulkas rumahnya yang katanya untuk persediaan
selama satu tahun yang kupikir itu tidak benar, tentang dia yang sering sekali
belanja lewat aplikasi online karena ada promo utamanya pada peralatan mendaki
gunung yang merupakan hobinya itu, tentang dia yang baik sekali rela naik gojek
ke kampus karena motornya ia pinjami ke saudaranya, tetapi yang paling aku tahu
betul tentang hobinya adalah ia senang untuk menyenangkan orang lain, salah
satunya akulah korban dari hobi anehnya itu. Ia senang sekali membawakan aku
jasuke alias jagung-susu-keju karena ia tahu aku suka sekali jasuke, maka dia
sendiri yang pergi ke pasar untuk membeli bahan dan meracik sedemikian rupa
hingga jasuke tersebut berhasil dibuatnya sendiri lalu diantarnya malam-malam
ke tempatku. Kadang-kadang juga ia pada siang terik datang tergopoh-gopoh
membawa sekeranjang macam-macaman; buah, biskuit, obat, vitamin, juga termos,
ketika tahu aku terkena demam. Kupikir dia pandai sekali mencipta kenangan.
Bagaimana bisa seseorang melupakan kebaikan yang pernah orang lain ukir dalam
hidupnya?