17/11/18

Nervous



The train will depart at 3:26 p.m.
And I'm nervous.

I thought I was nervous because the first time I was riding a train between provinces after the last many years ago. I thought I was nervous because I would attend a community friend's old meeting reunion. I thought I was nervous about leaving college and not taking the psychoanalysis class that I was very curious about.

I thought I didn't want to tell where I was, only one time I felt wan to tell about where I was through my social media. Until the first morning I arrived, my phone ringing, "Where are you? Are you in Bogor? "

The answer to all my nervous that I feel might be;
Because I am so sensitive to Bogor.


//Yogyakarta, November 2018//


14/11/18

Mengapa?



Di saat semakin banyak orang yang berproses,
Kamu menyadari sesuatu dan bertanya pada dirimu sendiri,
Mengapa prosesmu begitu lambat?

Sebenarnya apa yang kamu tunggu?


//Yogyakarta, 13 November 2018//

02/11/18

Jangan Membenci Bara dan Prabu!


Entah kenapa akhir-akhir ini di sela-sela deadline yang menumpuk, kelas kuliah yang seolah tak habis-habis, berbagai seminar yang sungguh menarik untuk diikuti, terajut suatu tanda besar dalam benakku. Bangku kuliah, dosen, kosan, deadline, seminar, tugas, email, dan lain sebagainya seolah-olah tak pernah bosan untuk terus meyakinkanku bahwa aku sudah ada di tahap ini, di masa ini.

Keinsomniaan yang melandaku, kumanfaatkan untuk merenungi hari-hari yang kulewati dalam kehidupanku. Semua pikiran ini tidak boleh bila tidak membawa Tuhan. Tuhan haruslah selalu disangkutpautkan dalam kehidupan kita, dalam tata aturan dari hal kecil hingga hal besar, itu yang kudengar dari para ulama. Maka miris sekali mendengar ungkapan Nietsche yang mengatakan bahwa banyak orang beragama tetapi tidak menghadirkan agama dalam hidup mereka.

Setiap kali mengingat Tuhan, ada saja partikel-partikel dalam tubuh yang turut menguatkan jiwa dan tubuh. Aku percaya bahwa semua hal terjadi atas ijin-Nya, bahkan bila itu hanyalah sehelai daun yang terhempas dari pohonnya.

Ah, bila aku ada di dunia dongeng pasti sudah kukatakan bahwa akulah jiwa yang terjebak dalam tubuh orang dewasa! Dan otakkulah yang paling kukasihani dari semua ini! Ia yang terus menerus kupaksa untuk mendewasa. Aku kehilangan pikiranku sendiri.

Maka sekarang mari berhenti membicarakan diri sendiri. Dalam cerita ini, tersebutlah dua orang laki-laki yang keduanya sama-sama teman sekelasku, sama-sama membuat bosan karena setiap hari kami bertemu. Dua orang pria yang sungguh menyajikan kepribadian bertolakbelakang bila benar-benar memahaminya. Tetapi, ada hal yang sama dalam diri mereka, keduanya sama-sama betul mengenal agama, mengingat Tuhan, ibadahnya taat, omongannya tidak kasar, dan sama-sama rajin berangkat kuliah juga!

Yang pertama namanya Bara, entah kenapa tahu-tahu saja aku tahu banyak tentang dirinya, tentang hobi naik gunungnya, tentang ia paling tidak suka makan ikan tetapi anehnya senang sekali pergi memancing, tentang ia menyimpan banyak persediaan tempe dan tahu juga cabai di kulkas rumahnya yang katanya untuk persediaan selama satu tahun yang kupikir itu tidak benar, tentang dia yang sering sekali belanja lewat aplikasi online karena ada promo utamanya pada peralatan mendaki gunung yang merupakan hobinya itu, tentang dia yang baik sekali rela naik gojek ke kampus karena motornya ia pinjami ke saudaranya, tetapi yang paling aku tahu betul tentang hobinya adalah ia senang untuk menyenangkan orang lain, salah satunya akulah korban dari hobi anehnya itu. Ia senang sekali membawakan aku jasuke alias jagung-susu-keju karena ia tahu aku suka sekali jasuke, maka dia sendiri yang pergi ke pasar untuk membeli bahan dan meracik sedemikian rupa hingga jasuke tersebut berhasil dibuatnya sendiri lalu diantarnya malam-malam ke tempatku. Kadang-kadang juga ia pada siang terik datang tergopoh-gopoh membawa sekeranjang macam-macaman; buah, biskuit, obat, vitamin, juga termos, ketika tahu aku terkena demam. Kupikir dia pandai sekali mencipta kenangan. Bagaimana bisa seseorang melupakan kebaikan yang pernah orang lain ukir dalam hidupnya?