19/12/16

Melalui Cara Tuhan [Chapter 4]




“Sudah sadar?”
Aku membuka mata, apa yang terjadi denganku? Aku dimana?
Aku terlonjak, gadis itu berada di hadapanku. Aku mencubit pipiku, tetapi aku kesakitan. Apakah ini nyata? Aku masih belum tahu apa yang baru saja terjadi.
Kuperhatikan sekitarku. Aku berada di sebuah kamar yang kuperkirakan dari bangunannya ini adalah sebuah rumah tua.
“Mungkin Mas kebingungan, ya? Tadi saat Mas mau menyeberang, sebuah motor menyerempet. Kepala Mas sempat terbentur aspal saat jatuh. Tetapi, Mas masih ingat nama sendiri, kan?”
Aku diam seribu bahasa. Hatiku bergetar. Gadis di hadapanku ini, apa ia tak mengenaliku?
Ia ikut terdiam menunggu responku.
“Mas?” tegurnya. Aku tersadar dari lamunanku.
“Ya. Namaku Faras. ” Balasku.
Dia terdiam sejenak. Kupikir ia sedang mencoba mengingatku, tetapi ternyata tidak.
“Oh, Faras. Nama kita mirip, ya. Aku Fasya.”
Aku hendak menyalaminya, kupikir ia mengajakku berkenalan. Tetapi, ia menarik diri. Tak ingin menjabat tanganku. Ia sedikit salah tingkah, tetapi kemudian suasana kembali terkendali saat seorang kakek tua datang. Itu pasti kakeknya.
“Anak muda sudah sadar rupanya.” Kakek yang sudah terlihat rapuh itu masih mampu untuk tersenyum padaku. Aku balas tersenyum sambil menyalaminya.
“Iya, saya sudah sadar. Terimakasih sudah menolong saya.”
Kakek itu tertawa kecil.
“Bukankah sudah seharusnya?” Ia masih tertawa.
Keadaanku segera pulih, hari itu aku mengobrol banyak dengan kakek gadis itu, gadis yang selama ini kucari. Ia masih belum juga menyadari siapa aku.

Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Suara jatuhnya hujan di luar membuat alasan si kakek menyuruhku bermalam di rumahnya semakin kuat, dan aku tak bisa menolaknya.
“Jadi, kamu mencari seseorang di sini? Kupikir sedang berlibur.”
Aku hanya mengangguk-angguk. Sejak tadi aku tak melihat Fasya, entah dimana dia. Setelah ba’da Maghrib tadi ia mengantarkan minuman untuk kami, ia tak terlihat lagi.
“Fasya sudah tidur ya, Kek?”
“Hmm, belum. Dia kalau tidur biasanya kalau sudah larut.”
Aku memikirkan kesibukan apa kiranya yang dikerjakannya hingga larut. Bodohnya aku, tak tahu apa-apa tentang gadis yang kusukai.
“Dia punya pekerjaan?” tanyaku hati-hati.
“Iya, kamu bisa melihat pekerjaannya.”
Aku tak mengerti. Tetapi, si kakek seperti memberiku sebuah kesempatan untuk mengenal cucunya. Ia menunjuk ke belakang rumah.
“Di belakang rumah?”
Kakek hanya mengangguk. Aku sempat berpikir, mungkin gadis itu tengah mencuci baju atau memasak sesuatu, atau apa?

Begitu aku sampai di belakang rumah, aku tak melihat siapapun. Awalnya sepi, hanya terdengar sisa rintihan hujan yang menetes di ujung-ujung atap. Aku memasang telingaku. Rumah tua ini letaknya di gang-gang kecil, di sela-sela kota yang dipenuhi dengan gedung pencakar langit. Di belakang rumahnya, terdapat rumah-rumah lainnya. Aku bahkan tak mengerti yang mana saja bagian rumah kakek ini karena bangunannya nampak terpisah-pisah, namun jaraknya sangat berdekatan.
Aku menelusuri satu-persatu bangunan-bangunan kecil itu. Aku berhenti di samping jendela yang sedikit terbuka. Telingaku mendengar suaranya. Aku mencoba mengintip ke dalam. Gadis itu berada di sana, di antara anak-anak kecil yang tengah menguap dan terkantuk-kantuk. Di tangan gadis itu ada sebuah buku, anak-anak di sekelilingnya nampak bersiap tidur, meski gadis itu masih dengan sinar mata yang tak letih dan bibir yang tersenyum terus membacakan kisah dalam buku yang digenggamnya. Gadis itu mungkin belum sadar bahwa beberapa anak sudah tertidur dengan nyenyaknya setelah mendengar dongeng yang dibacakannya.
Aku memberanikan diri berdiri di depan pintu kamar yang terbuka itu. Ia berhenti membaca saat menyadari kehadiranku. Aku menyimpan jari telunjukku di bibir, berharap ia mengerti maksudku. Ia memandangiku sedikit heran kemudian memperhatikan anak-anak itu lalu kembali menatapku dengan tersenyum geli. Rupanya kini anak-anak itu sudah tertidur semuanya. Hanya tinggal si pendongeng yang masih membawa semangat 45 nya untuk terus membaca. Perlahan ia menarik diri dari anak-anak itu dengan hati-hati. Kemudian, ia memperbaiki posisi tidur anak-anak itu. Aku dengan sigap mengambil selimut dan menyelimuti anak-anak yang manis itu.
“Terimakasih.” Ucap Fasya.
Selama beberapa menit Fasya memandangi anak-anak itu, lalu ia menatapku dan memberi kode agar kami meninggalkan kamar itu. Aku cukup terkesan dengan susunan bangunan rumah tua ini. Begitu unik menurutku. Aku mengatakan hal itu pada Fasya saat kami hendak kembali ke ruang tamu.
“Iya, aku juga merasa seperti itu.” Ujarnya sambil tersenyum. Lalu ia melanjutkan, “kata Kakek, Mas Faras datang ke kota ini karena mencari seseorang, ya?”
Aku tak menyangka ia akan menanyakan hal itu.
“Iya. Tetapi…”
Langkah kaki kami sama-sama terhenti. Ia menunggu lanjutan kalimatku.
“Tetapi apa Mas?”
“Aku sudah tidak mencarinya lagi.”
Ekspresinya sedikit terkejut bercampur keheranan.
“Kenapa? Apa ia tak ingin ditemui Mas Faras? Atau Mas Faras sudah menyerah?”
Aku menggelengkan kepala sambil tersenyum. Mataku lurus menatap matanya. Ia menunduk dipandangi seperti itu olehku.
“Aku tak mencarinya lagi karena aku sudah menemukannya.”
Ia mengangkat kepalanya. Ia masih menatap heran.
“Haruskah aku terus mencari, sementara ia ada di depan mataku?” lanjutku.
Kurasakan kami sama-sama berhenti bernapas. Sedetik dua detik tak ada reaksi. Tetapi, kemudian alisnya mengkerut, bibirnya mendatar, tiba-tiba saja ia berjalan cepat meninggalkanku.
“Fasya!” teriakku. Ia tak mengindahkan hingga ia menghilang di balik pintu kamarnya. Ia pasti kebingungan atau bahkan ketakutan, sebab orang yang menurutnya baru dikenalnya ini begitu lancang mengatakan sesuatu yang tak masuk akal.

Aku ingin menjelaskan padanya, tetapi ketukanku tak diindahkan olehnya. Aku kembali ke ruang tamu, meneguk minuman yang berjam-jam lalu dihidangkan olehnya.
“Jadi, kamu sudah melihat pekerjaan cucuku?”
“Iya.”
Meski sebenarnya aku belum mendapat jawaban, siapa anak-anak itu? Dari mana mereka datang? Mengapa Fasya melakukan itu? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang tersangkut di benakku.
“Jadi, aku hanya tinggal berdua dengan Fasya, cucuku itu. Rumah tua ini terlalu besar untuk kami tinggali berdua. Fasya memintaku untuk merelakan beberapa bangunan di belakang sana untuk ia pakai menampung anak-anak yatim-piatu ataupun anak-anak jalanan yang tak punya tempat untuk tinggal.” Ia memberi jeda pada kalimatnya.
“Akhirnya aku mengijinkannya untuk membangun sebuah rumah asuh dengan menggunakan bangunan-bangunan di belakang sana. Setiap hari ia akan membuat makanan untuk anak-anak itu, mengajari mereka membaca dan menulis, mengajari mereka membuat mainan sendiri, mengajari mereka disiplin dan lain sebagainya.” Aku hanya bisa mengangguk-angguk.
“Oh iya, tadi di belakang, saya sempat melihat ada banyak sekali buah-buahan. Itu habis panen ya, kek?”
Kakek tersenyum.
“Iya, tetapi bukan dari kebun sendiri. Kakek pekerjannya memang seperti itu, menjual buah-buahan sehari-harinya. Kalau panennya banjir, keuntungannya bisa lebih banyak lagi karena yang dijual bisa lebih banyak, he he he.” Ujarnya tertawa sambil memamerkan deretan gigi-giginya yang sudah ompong.
“Kalau boleh tahu, apa Fasya punya pekerjaan yang benar-benar pekerjaan?” tanyaku.
“Maksud kamu pekerjaan yang menghasilkan uang?” ia balas bertanya. Aku mengangguk. “Iya, cucu perempuanku itu hobi sekali membuat kue sejak masih sekolah dulu. Ia merintis sebuah usaha toko  kue. Alhamdulillah, sekarang tokonya sudah lumayan besar. Ia sudah punya karyawan, sehingga ia bisa lebih banyak tinggal di rumah menemani kakek dan anak-anak.”
Malam itu perasaanku pada gadis itu terus saja menumpuk, aku tak bisa berhenti terkesan padanya. Ia membuat aku terjatuh berkali-kali. Bagaimana caranya aku menyampaikan ini? Sedangkan, ia sudah tak mengenaliku lagi.

BERSAMBUNG

Sumber gambar: www.tumblr.com

1 komentar: