“Sudah
sadar?”
Aku
membuka mata, apa yang terjadi denganku? Aku dimana?
Aku
terlonjak, gadis itu berada di hadapanku. Aku mencubit pipiku, tetapi aku
kesakitan. Apakah ini nyata? Aku masih belum tahu apa yang baru saja terjadi.
Kuperhatikan
sekitarku. Aku berada di sebuah kamar yang kuperkirakan dari bangunannya ini
adalah sebuah rumah tua.
“Mungkin
Mas kebingungan, ya? Tadi saat Mas mau menyeberang, sebuah motor menyerempet.
Kepala Mas sempat terbentur aspal saat jatuh. Tetapi, Mas masih ingat nama
sendiri, kan?”
Aku
diam seribu bahasa. Hatiku bergetar. Gadis di hadapanku ini, apa ia tak
mengenaliku?
Ia
ikut terdiam menunggu responku.
“Mas?”
tegurnya. Aku tersadar dari lamunanku.
“Ya.
Namaku Faras. ” Balasku.
Dia
terdiam sejenak. Kupikir ia sedang mencoba mengingatku, tetapi ternyata tidak.
“Oh,
Faras. Nama kita mirip, ya. Aku Fasya.”
Aku
hendak menyalaminya, kupikir ia mengajakku berkenalan. Tetapi, ia menarik diri.
Tak ingin menjabat tanganku. Ia sedikit salah tingkah, tetapi kemudian suasana
kembali terkendali saat seorang kakek tua datang. Itu pasti kakeknya.
“Anak
muda sudah sadar rupanya.” Kakek yang sudah terlihat rapuh itu masih mampu
untuk tersenyum padaku. Aku balas tersenyum sambil menyalaminya.
“Iya,
saya sudah sadar. Terimakasih sudah menolong saya.”
Kakek
itu tertawa kecil.
“Bukankah
sudah seharusnya?” Ia masih tertawa.
Keadaanku
segera pulih, hari itu aku mengobrol banyak dengan kakek gadis itu, gadis yang
selama ini kucari. Ia masih belum juga menyadari siapa aku.
Jam
menunjukkan pukul sembilan malam. Suara jatuhnya hujan di luar membuat alasan
si kakek menyuruhku bermalam di rumahnya semakin kuat, dan aku tak bisa
menolaknya.
“Jadi,
kamu mencari seseorang di sini? Kupikir sedang berlibur.”
Aku
hanya mengangguk-angguk. Sejak tadi aku tak melihat Fasya, entah dimana dia. Setelah
ba’da Maghrib tadi ia mengantarkan minuman untuk kami, ia tak terlihat lagi.
“Fasya
sudah tidur ya, Kek?”
“Hmm,
belum. Dia kalau tidur biasanya kalau sudah larut.”
Aku
memikirkan kesibukan apa kiranya yang dikerjakannya hingga larut. Bodohnya aku,
tak tahu apa-apa tentang gadis yang kusukai.
“Dia
punya pekerjaan?” tanyaku hati-hati.
“Iya,
kamu bisa melihat pekerjaannya.”
Aku
tak mengerti. Tetapi, si kakek seperti memberiku sebuah kesempatan untuk
mengenal cucunya. Ia menunjuk ke belakang rumah.
“Di
belakang rumah?”
Kakek
hanya mengangguk. Aku sempat berpikir, mungkin gadis itu tengah mencuci baju
atau memasak sesuatu, atau apa?
Begitu
aku sampai di belakang rumah, aku tak melihat siapapun. Awalnya sepi, hanya
terdengar sisa rintihan hujan yang menetes di ujung-ujung atap. Aku memasang
telingaku. Rumah tua ini letaknya di gang-gang kecil, di sela-sela kota yang
dipenuhi dengan gedung pencakar langit. Di belakang rumahnya, terdapat
rumah-rumah lainnya. Aku bahkan tak mengerti yang mana saja bagian rumah kakek
ini karena bangunannya nampak terpisah-pisah, namun jaraknya sangat berdekatan.
Aku
menelusuri satu-persatu bangunan-bangunan kecil itu. Aku berhenti di samping
jendela yang sedikit terbuka. Telingaku mendengar suaranya. Aku mencoba
mengintip ke dalam. Gadis itu berada di sana, di antara anak-anak kecil yang
tengah menguap dan terkantuk-kantuk. Di tangan gadis itu ada sebuah buku, anak-anak
di sekelilingnya nampak bersiap tidur, meski gadis itu masih dengan sinar mata
yang tak letih dan bibir yang tersenyum terus membacakan kisah dalam buku yang
digenggamnya. Gadis itu mungkin belum sadar bahwa beberapa anak sudah tertidur
dengan nyenyaknya setelah mendengar dongeng yang dibacakannya.
Aku
memberanikan diri berdiri di depan pintu kamar yang terbuka itu. Ia berhenti
membaca saat menyadari kehadiranku. Aku menyimpan jari telunjukku di bibir,
berharap ia mengerti maksudku. Ia memandangiku sedikit heran kemudian
memperhatikan anak-anak itu lalu kembali menatapku dengan tersenyum geli.
Rupanya kini anak-anak itu sudah tertidur semuanya. Hanya tinggal si pendongeng
yang masih membawa semangat 45 nya untuk terus membaca. Perlahan ia menarik
diri dari anak-anak itu dengan hati-hati. Kemudian, ia memperbaiki posisi tidur
anak-anak itu. Aku dengan sigap mengambil selimut dan menyelimuti anak-anak
yang manis itu.
“Terimakasih.”
Ucap Fasya.
Selama
beberapa menit Fasya memandangi anak-anak itu, lalu ia menatapku dan memberi
kode agar kami meninggalkan kamar itu. Aku cukup terkesan dengan susunan
bangunan rumah tua ini. Begitu unik menurutku. Aku mengatakan hal itu pada
Fasya saat kami hendak kembali ke ruang tamu.
“Iya,
aku juga merasa seperti itu.” Ujarnya sambil tersenyum. Lalu ia melanjutkan,
“kata Kakek, Mas Faras datang ke kota ini karena mencari seseorang, ya?”
Aku
tak menyangka ia akan menanyakan hal itu.
“Iya.
Tetapi…”
Langkah
kaki kami sama-sama terhenti. Ia menunggu lanjutan kalimatku.
“Tetapi
apa Mas?”
“Aku
sudah tidak mencarinya lagi.”
Ekspresinya
sedikit terkejut bercampur keheranan.
“Kenapa?
Apa ia tak ingin ditemui Mas Faras? Atau Mas Faras sudah menyerah?”
Aku
menggelengkan kepala sambil tersenyum. Mataku lurus menatap matanya. Ia
menunduk dipandangi seperti itu olehku.
“Aku
tak mencarinya lagi karena aku sudah menemukannya.”
Ia
mengangkat kepalanya. Ia masih menatap heran.
“Haruskah
aku terus mencari, sementara ia ada di depan mataku?” lanjutku.
Kurasakan
kami sama-sama berhenti bernapas. Sedetik dua detik tak ada reaksi. Tetapi,
kemudian alisnya mengkerut, bibirnya mendatar, tiba-tiba saja ia berjalan cepat
meninggalkanku.
“Fasya!”
teriakku. Ia tak mengindahkan hingga ia menghilang di balik pintu kamarnya. Ia
pasti kebingungan atau bahkan ketakutan, sebab orang yang menurutnya baru
dikenalnya ini begitu lancang mengatakan sesuatu yang tak masuk akal.
Aku
ingin menjelaskan padanya, tetapi ketukanku tak diindahkan olehnya. Aku kembali
ke ruang tamu, meneguk minuman yang berjam-jam lalu dihidangkan olehnya.
“Jadi,
kamu sudah melihat pekerjaan cucuku?”
“Iya.”
Meski
sebenarnya aku belum mendapat jawaban, siapa anak-anak itu? Dari mana mereka
datang? Mengapa Fasya melakukan itu? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang
tersangkut di benakku.
“Jadi,
aku hanya tinggal berdua dengan Fasya, cucuku itu. Rumah tua ini terlalu besar
untuk kami tinggali berdua. Fasya memintaku untuk merelakan beberapa bangunan
di belakang sana untuk ia pakai menampung anak-anak yatim-piatu ataupun
anak-anak jalanan yang tak punya tempat untuk tinggal.” Ia memberi jeda pada
kalimatnya.
“Akhirnya
aku mengijinkannya untuk membangun sebuah rumah asuh dengan menggunakan
bangunan-bangunan di belakang sana. Setiap hari ia akan membuat makanan untuk
anak-anak itu, mengajari mereka membaca dan menulis, mengajari mereka membuat
mainan sendiri, mengajari mereka disiplin dan lain sebagainya.” Aku hanya bisa
mengangguk-angguk.
“Oh
iya, tadi di belakang, saya sempat melihat ada banyak sekali buah-buahan. Itu
habis panen ya, kek?”
Kakek
tersenyum.
“Iya,
tetapi bukan dari kebun sendiri. Kakek pekerjannya memang seperti itu, menjual
buah-buahan sehari-harinya. Kalau panennya banjir, keuntungannya bisa lebih
banyak lagi karena yang dijual bisa lebih banyak, he he he.” Ujarnya tertawa
sambil memamerkan deretan gigi-giginya yang sudah ompong.
“Kalau
boleh tahu, apa Fasya punya pekerjaan yang benar-benar pekerjaan?” tanyaku.
“Maksud
kamu pekerjaan yang menghasilkan uang?” ia balas bertanya. Aku mengangguk.
“Iya, cucu perempuanku itu hobi sekali membuat kue sejak masih sekolah dulu. Ia
merintis sebuah usaha toko kue.
Alhamdulillah, sekarang tokonya sudah lumayan besar. Ia sudah punya karyawan,
sehingga ia bisa lebih banyak tinggal di rumah menemani kakek dan anak-anak.”
Malam
itu perasaanku pada gadis itu terus saja menumpuk, aku tak bisa berhenti
terkesan padanya. Ia membuat aku terjatuh berkali-kali. Bagaimana caranya aku
menyampaikan ini? Sedangkan, ia sudah tak mengenaliku lagi.
BERSAMBUNG
Sumber gambar: www.tumblr.com

1 12 12 ��
BalasHapus