02/04/19

Review Buku: Seni Bersikap Bodo Amat Karya Mark Manson #2


 Sumber gambar: http://news.unair.ac.id

Mulai masuk pada bab Berhati-hatilah Dengan Apa yang Anda Percayai, buku ini semakin menarik. Dengan maraknya berbagai fenomena yang disuguhkan melalui media informasi dimana siapapun dapat mengakses dan membaca berita tersebut, sayangnya sebagai masyarakat awam kita seringkali dibingungkan oleh kebenaran berita-berita tersebut.

“Pada 1988, ketika menjalani terapi, seorang jurnalis dan pengarang berhaluan feminis Meredith Maran mendapati sebuah pengalaman yang mengagetkan: ayahnya pernah melakukan kekerasan seksusal terhadapnya ketika ia masih kecil. Ini sangat mengempas, suatu ingatan yang berusaha ia lupakan sejak beranjak dewasa. Namun, di usia 37 tahun, dia memutuskan untuk menghadapi ayahnya, dan juga mengatakan kepada keluarganya apa yang telah terjadi.

Kabar ini membuat seluruh keluarganya ketakutan. Ayahnya langsung menyangkal. Beberapa anggota keluarga memihak Meredith. Yang lain memihak ayahnya. Pohon keluarganya terbelah menjadi dua. Dan luka yang mengempas hubungan Meredith dengan ayahnya telah berlangsung lama sebelum pengakuan tersebut, kini telah menyebar seperti jamur yag menyerang cabang-cabang pohon itu. Kabar itu telah menyayat hati semua orang.

Lalu pada 1996, Meredith menyadari sesuatu yang tidak kalah mengagetkan: ayahnya tidak pernah melecehkannya secara seksual! Dia, dengan bantuan seorang terapis, sebenarnya menciptakan sendiri memori tersebut. Dipenuhi dengan rasa bersalah, dia menghabiskan sisa waktu selagi ayahnya hidup untuk mencoba berdamai dengannya dan anggota keluarga lain lewat permintaan maaf dan penjelasan yang disampaikan berulang-ulang. Namun, itu semua terlambat. Ayahnya meninggal dunia dan keluarganya tidak akan pernah menjadi sama lagi.”

Kisah ini sangat menyedihkan bagi saya. Hal ini kemudian mengait pada persoalan kepercayaan saya terhadap berita pelecehan seksual yang sering mencuat beberapa bulan terakhir ini. Pada awalnya, semua artikel menyoal perempuan yang dilecehkan oleh atasannya, temannya, kekasihnya dan lain sebagainya sampai pada suatu kali menemukan sebuah akun anonim yang menceritakan kisah pilunya. Ia mengaku sabagai seorang pria yang keperjakaannya hilang direnggut sekelompok wanita yang lebih tua darinya, ia ingin menegaskan bahwa pelecehan seksual bukan hanya bisa terjadi pada perempuan, tetapi laki-laki juga bisa terkena pelecehan seksual. Sayangnya, menurutnya, bila hal itu dilaporkannya, hal ini hanya akan menjadi bahan cemoohan.

Kembali ke soal wanita yang merasa dilecehkan lalu melaporkan kasus mereka, semisal si pria tidak bersalah, bagaimana perasaan istri dan anak-anaknya di rumah saat melihat isu dan fitnah menghampiri suami dan bapak mereka? Toh jika terbukti akan menjadi luka tersendiri dalam perasaan keluarga tersebut, bagaimana kasus tersebut mampu merusak psikologis keluarga tersebut. Perempuan dilibatkan dalam “peran” dalam cara-cara untuk menjatuhkan seseorang dari jabatannya merupakan “lagu lama” yang dimana keberadaannya dalam kasus dikaitkan sebagai teman perempuan, simpanan, selingkuhan dan menjadi bahan untuk membangun fitnah di sana-sini. Media dan publik mungkin bisa menilai semaunya, tetapi orang-orang terdekat tersangka tidak akan percaya hal itu. Di mata keluarga dan kerabat, bapak dan suami mereka adalah korban dari keserakahan pihak lain, dari hukum yang berjalan tak memihak mereka, dari orang-orang yang menghalalkan segala cara untuk membalas dendam atau memberi peringatan pada yang ingin bertindak adil dan ingin membuktikan kebenaran. Jangan dikira mereka yang dijebloskan ke penjara adalah orang yang bersalah, bahkan mereka juga sudah mengetahui siapa dalang-dalang yang membuat mereka jatuh ke penjara pada jauh-jauh hari sebelum mereka dijebloskan. Untuk kasus yang satu ini pernah saya tulis tetapi batal saya publikasikan karena satu dan lain hal, sebab menulis rupanya butuh keberanian yang tidak setengah-setengah.

Kisah Meredith sebelumnya, membuat saya menutup mata untuk percaya begitu saja pada pemberitaan. Bukannya saya tidak membela kaum saya sendiri, tetapi selalu saja ada perasaan muak tersendiri yang saya rasakan, terlebih lagi saya sebagai masyarakat awam yang tidak pandai menilai apakah suatu berita benar atau tidak inilah yang membuat saya akhirnya memilih berada di jalur netral setelah lelah membaca berita dan mendengar seluruh klarifikasi atas berita yang telah saya percayai sebelumnya.

Review Buku: Seni Bersikap Bodo Amat Karya Mark Manson #1

 Sumber gambar: http://news.unair.ac.id


Ingin berkata-kata amarah ke mas-mas penjual martabak yang mendahulukan pesanan orang lain karena ketika saya memesan saya bilang, “saya tinggal dulu bentar ya, Mas.” Pasalnya bukan karena didahulukan pesanan orang lain, tetapi karena dialog setelah itu.

“Mas, pesanan saya mana?”
“Bentar, ya, hampir jadi.”

Saya heran, hampir setengah jam saya tinggal, kok belum jadi? Rupanya dia mendahulukan pesanan orang lain. Jadilah saya menunggu sambil berdiri, diam saja karena memang sendirian, untung bawa ponsel, pura-pura chattingan padahal tidak ada yang nge-chat. Akhirnya serah terima martabak pun terjadi, tiba-tiba masnya bilang,

“Mbak ngambek, ya?”
“Enggak, Mas.”
“Kok dari tadi diam saja?”
“Saya emang pendiam mas.” kataku dengan kalem. Lagian saya datang cuma sendirian, Ya kali saya ngomong sendiri.
“Mbaknya yang dulu pernah beli ke sini juga terus bilang kuah martabaknya kurang, kan?”
Sial, Masnya ingat saja. Yang awalnya saya pasang muka datar, jadi senyum-senyum.
“Kok, masih ingat sih, Mas? Saya saja sudah lupa.”
“Coba sini, mana nomor WA-nya.”

Saat itulah perasaan ilfeel berkecamuk dan muka saya kembali datar. Kenapa ya saya sensitif banget dengan laki-laki yang dengan begitu mudahnya minta nomor WA seorang perempuan yang sebenarnya ia tidak punya urusan apapun dengan perempuan itu? Jengkel juga waktu dia nanya Mbak ngambek, ya? Pertanyaannya itu menurut saya terlalu pribadi, dan saya pikir dia tidak perlu tahu suasana hati saya saat itu sedang seperti apa, toh kalau saya sedang galau juga apa urusannya dengan anda, hei!

Cepat-cepat saya bayar martabak saya dan pura-pura budek waktu dia menanyakan nomor WA. Gelinya lagi matanya tetap tertuju pada saya, mulai dari saya pakai helm, naik di motor, mungkin juga sampai saya hilang di belokan gang. Sungguh, tidak semudah itu Ferguso!

Saya tidak bisa membayangkan dengan hari-harinya sahabat saya yang dikaruniai wajah cantik luarbiasa. Jangankan antre beli martabak, cuma lagi antre untuk ambil uang di ATM saja, ada saja yang ngajak kenalan dan minta nomornya. Saya cuma geleng-geleng kepala saja melihat semua itu dari kejauhan, si pria itu kira tidak ada yang memperhatikan tingkahnya itu apa, hah! Si pria itu jingkrak-jingkrak kesenangan, beberapa kali meninju bahu sobatnya karena berhasil mengajak teman saya kenalan. Dari atas motor, saya cuma membatin ‘Oh gitu toh reaksinya cowok kalau kesenangan nemu cewek cantik di jalan.’

Mungkin orang lain boleh berbeda pandangan dengan saya, cuma menurut saya agak aneh dan kurang elegant saja cara orang-orang yang jatuh cinta di jalan. Namanya juga jatuh cinta, emang kadang aneh! Pernah juga baca suatu kisah sepasang suami istri yang menikah, berawal dari sang suami yang jatuh cinta saat melihat wajah sang istri di spion motor sewaktu mereka lewat jalan yang sama, lalu pria itu mengikuti si wanita sampai rumahnya dan bertekad suatu hari akan datang ke rumah itu lagi untuk melamar. Sebatas itu saja sih kisahnya. Pesan dari saya, jatuh cintalah dengan cara yang terhormat! Bagaimana caranya? Dengan kamu menghargai dan menghormati orang yang kamu cintai itu! Jangan membuatnya tidak nyaman apa lagi sampai ia merasa harga dirinya tidak dihormati dengan perbuatanmu yang tidak baik kepadanya.

Beda cerita lagi waktu saya menahan emosi ketika lewat di pertigaan di daerah dekat Stadion Maguwoharjo. Kala itu di pertigaan ada sepetak tanah yang hendak dibangun, di sana ada tiga orang bapak-bapak dan seorang mas-mas, mereka dengan penuh semangat menata bebatuan besar di sana, begitulah saya melihat mereka dari kejauhan. Lalu, tepat saat mas-mas ini didukung oleh ketiga bapak-bapak ini, ia melempar batu besar ke arah selokan dekat sepetak tanah itu, tepat saat itu saya lewat, dan byur!! Saya kecipratan air dari selokan itu karena lemparan batu yang besar dari mas-mas itu. Keempat pria itu speechless, tiba-tiba suasana mendadak freezing, mata saya yang memang garang ini mendadak terlihat sangat garang. Waktu itu saya pakai masker jadi mereka hanya bisa melihat mimik wajah saya dari tatapan mata saya. Sejenak seperti ingin memaki dalam hati, tetapi kemudian memutuskan untuk diam saja dan melupakan kejadian tersebut. Firasat saya mengatakan orang-orang tadi sepertinya merasa bersalah, tetapi mau dikata apa lagi saya tidak mempermasalahkan dan melanjutkan perjalanan saya. Toh tidak ada gunanya memaki dalam hati pada mereka, dan lagi pula hanya air selokan yang cipratannya tidak seberapa meskipun memang kotor.

Esok harinya, saya kembali melewati jalan tersebut. Dan mas-mas itu kembali melihat ke arah saya, sepertinya dia masih ingat soal ‘masalah’ kemaren, sepertinya dia hafal motor dan helm yang saya gunakan. Asli deh, waktu itu kasihan lihat tatapan matanya yang seperti sangat merasa bersalah. Padahal dalam hati saya mengatakan tidak apa-apa kok, Mas, kan tidak sengaja.

08/03/19

"Nggak Nyambung"


Ndy: “Gua pernah deket sama seorang cewek.”
Me: “Oh, ya? Terus terus?”
Ndy: “Teman SD sih, sekarang dia cantik banget, kuliah di IKJ, dia sekarang jadi model, anaknya baik banget, ramah, sering ngasih-ngasih, datang ke rumah bawain puding buatan dia sendiri, bawain kado, apalah segala macam. Tapi gua nggak bisa sama dia.”
Me: “Why?”
Ndy: “Diajak ngobrol nggak nyambung, diajak disuksi dia gak paham sama apa yang gua tanyain. Kebanyakan jawab itu apa? Itu apa? Jadi males diskusinya. Yang ada malah kudu jelasin ke dia itu apa.”
Me: “Misalnya?”
Ndy: “Iya, dia suka takjub gitu gara-gara gua tahu banyak hal, ya udah gua jawab kalau yang kayak gitu-gitu baca aja di line today.”
Me: “Terus?”
Ndy: “Dia jawab ha? line today? Itu apaan? Wah, nih anak gua kira bercanda. Jadi, gua jawab kamu jangan bercanda ah, masa nggak tahu, dan ternyata emang beneran nggak tau.”
Me: *Ngakak dulu abis itu jawab obrolan dengan sok bijak* “Ih, ya mungkin tiap masing-masing orang di dunia ini pasti juga ada lah satu-dua hal yang dia nggak tau, tapi ya emang parah sih kalau line today aja masa nggak tahu.” *Ngakak bareng*
Ndy: “Iya dan parahnya yang ngerasa ngobrol sama dia nggak nyambung bukan cuma gua, mama juga.”
Me: “Emang kata mama apa?”
Ndy: “Iya, mama nanya apa jawabnya lemot lemot gitu, mama nanya itu dia jawabnya ini, mama cuma nanya apa gitu dia jawabnya kemana-mana.”
Me: “Jadi? Yang sekarang gimana?”
Ndy: “Iya, mungkin wajahnya sederhana. Tapi kalau diajak ngobrol atau diskusi, wanita ini cerdas banget dan dewasa tanpa ada keangkuhan padahal usianya lebih muda dari kita. Apa lagi waktu ngobrol sama mamanya, mamanya nggak nuntut materi, nggak seperti orangtua lainnya yang pernah gua temui sempat aja gitu bahas materi.”

Jadi, emang bener sih, ketika orang nanya kita “apa menariknya dari pasangan lo?”

Ya, karena mereka tidak melihat apa yang yang kita lihat dalam diri pasangan kita itu (bentar-bentar, ini yang nulis kayak punya pasangan aja!) Dan saya lihat bagaimana cara Ndy melihat wanitanya itu sudah terlihat ketika dia membicarakan wanitanya, dia selalu menggunakan kalimat “wanita ini” entah perasaan saya saja atau gimana, tetapi terlihat betapa dia kagum sama wanitanya ini, dia tidak menggunakan kalimat “cewek ini”, tidak seperti dia yang biasanya.

“Masa cuma cantik fisik doang tapi kalau diajak ngobrol nggak nyambung. Nggak mungkin kan cuma kita jadikan pajangan, cuma diliatin, gak diajak ngobrol. Jadi ya ngapain kalau gitu.”
 -  Ndy, 21 Thn.


Bukan Perihal Kapan Kita Mati, Tetapi Bagaimana Kita Mati

Satu lagi, sebuah kisah hijrah, yang menjawab rasa penasaran saya, yang sempat saya tuangkan pada tulisan yang lalu.

Bagaimana bisa begitu cepat ia dibawa menuju kebaikan? Dari berbagai kisah yang datang inilah membuat saya sadar bahwa mungkin saja proses setiap orang berbeda-beda, begitu pula takdir dan hidup yang berubah yang mungkin dikarenakan oleh kekuataan doa atau berbagai aspek lingkungan dan latar belakang kehidupannya.

Sebentar, tangan saya cukup bergetar untuk mengetik kisah ini. Cukup panjang dan dalam.

Sedih rasanya bila mengingat penilaian orang tentang diriku yang dulu. Ya, yang orang-orang tahu tentangku dahulu adalah seorang model, tukang endorse, hijaber, suka gaya gonta-ganti warna soflens, pacaran dan katanya aku anak gaul.

Orang-orang mungkin terkejut dengan proses berubahku yang teramat cepat ini.

Orang-orang tahu bagaimana premannya aku di kampus. Aku sadar sikapku yang seperti itu, sangat tidak pantas untuk dijadikan contoh karena amat miris buat diriku sendiri. Waktu itu, selalu celanaan ketat, selalu dandan tiap ngampus, baju juga ketat, jilbab super pendek, aku seperti berpakaian tetapi telanjang. Mirisnya lagi, bila mengingat bahwa aku adalah lulusan pondok pesantren dan kini di perkuliahan pun aku mengambil jurusan bahasa dan sastra Arab. Dimana adabku? Tidak ada sama sekali.

Aku sangat sadar diri, meski begitu parahnya lagi aku juga berpacaran. Semua orang juga mungkin tahu tentang hubunganku ini karena aku mempublikasikannya di sosmed-ku. Orang-orang tahu, aku sering diantar-jemput ke kampus oleh pacarku itu, kami beda universitas. Iya seperti itu, seperti tidak ada niat untuk kuliah karena aku lebih fokus pada pacaran, jalan-jalan, ngurus endorse-an, foto-foto, kebetulan yang menjadi fotograferku itu adalah pacarku sendiri, jadi kami sering pergi berdua. Yang kulakukan itu sangat tidak berfaedah. Ya, seperti itu-itu saja rutinitasku.

Di samping itu, keluargaku juga bermasalah, ayahku nikah siri lagi dengan perempuan lain dan berubah begitu saja. Sedangkan, aku masih punya dua adik yang masih kecil-kecil dan perempuan semua. Sementara adikku yang laki-laki sudah besar. Posisiku sebagai anak perempuan yang paling besar membuatku sadar akan tugasku menjaga adik-adikku itu. Lalu, pikiranku menjadi kemana-mana, tak karuan, seperti stress sendiri. Kedua orangtuaku hubungannya seperti itu, ayahku tidak pernah tidur di rumah, sementara mamaku juga tidur di rumah orangtuanya alias di rumahnya simbahku. Meski rumah simbah juga di kota yang sama dengan rumahku, tetapi posisi rumah kami tetap terpisah-pisah, hal itu yang membuat adik-adikku jadi terombang-ambing dibawa ke sana ke mari, sampai-sampai aku pusing sebab akulah yang menjaga dan mengasuh adik-adikku sambil kuliah karena aku tidak ikhlas kalau adikku dibawa ke rumah ayahku dan istri barunya yang janda itu, gimana aku tidak pusing?

Posesif


Boss: “Kamu sama siapa?”
Me: “Sendirian.”
Boss: ”Tadi ada yang ngantar, ya?”
Me: “Nggak, tadi aku naik grab.”
Boss: “Oh, jadi yang suka sama kamu itu sekarang ngegrab?”
Me: *Menghela nafas*