13/11/19

Menjadi Dewasa #2


Menjadi orang dewasa ternyata sedikit merepotkan, sewaktu kecil bisa dikatakan bebas berteman dengan lawan jenis. Ketika dewasa, berteman dengan lawan jenis sedikit-dikit ditanya, “itu siapa yang nelpon? Tadi sama siapa? Diantar sama siapa? Dibawain obat sama siapa? Kemarin yang ke rumah siapa?”

Saya menyadari semakin kita dewasa, pertemanan antar lawan jenis memang harus dijaga. Sebagai orang dewasa yang berakal harusnya sudah tahu batas-batasnya yang diperbolehkan dan tidak. Kita sudah sama-sama tahu kok, tinggal kembali ke diri kita sendiri untuk melakukan hal yang menurut kita baik untuk diri kita. Kita barangkali sudah dewasa, sudah tidak suka diatur-atur maka dari itu harus bisa sadar sendiri, kalau tidak, nanti Allah melalui caraNya yang tidak disangka baru menyadarkan kita.

Kangen jadi anak kecil, yang kalau berteman dengan lawan jenis dianggap biasa saja, tanpa embel-embel perasaan, setidaknya pada zaman saya kecil ya seperti itu. Sekarang menjadi orang dewasa apa-apa cukup sulit. Banyak persahabatan antar lawan jenis yang justru berakhir membawa perasaan. Makanya ada quote yang mengatakan bahwa tidak ada persahabatan murni antara laki-laki dan perempuan. Meski quote itu tidak sepenuhnya benar, sih. Ada juga kok yang memang cuma bersahabat. Maksud saya gini lho, kalau terlalu dekat berteman dengan lawan jenis kadang suka menimbulkan fitnah atau tanda tanya, “Itu siapa kamu? Tadi kamu pergi sama siapa?” Atau apalah.

Kalau jadi anak kecil, mana mungkin ditanya seperti itu, tidak akan disangka apa-apa, murni berteman.  Apakah ini bertanda bahwa kita sudah jadi orang dewasa? Mulai membatasi pertemanan dan memilih pergaulan?

Ya setidaknya jika memang kita berteman, bisakah saya tahu kabarmu? Bukankah kita berteman?

Setiap Manusia Terlahir Bersama Rejekinya


Pada ceramah yang tempo hari saya tonton, dikatakan oleh Syekh Sya’rawi bahwa Allah Swt. Berfirman: “Wahai anak Adam! Sungguh janganlah kalian takut kepada orang yang memiliki kekuasaan, selama kekuasaan-Ku masih ada dan berlangsung. Dan sungguh kekuasaan-Ku tidak akan pernah berakhir selamanya. Wahai anak Adam!! Jangan kalian khawatir dengan kesulitan rezeki, sedangkan ruang penyimpananku masih terisi penuh dan ruang penyimpanan-Ku tidak akan pernah habis selamanya. Wahai anak adam, Aku menciptakanmu untuk beribadah (menyembah-Ku), maka janganlah bermain-main dan aku telah menjamin rezekimu, maka janganlah bersusah-susahan.”

“Kalian terbiasa menyusahkan badan dan hati kalian dan kalian menyibukkan diri dengan hal itu, biarlah badan lelah namun hati kalian berpasrahlah, badan lelah namun hati pasrah bertawakal. Demi kekuasaan dan kemuliaan-Ku, jika kau ridho terhadap ketentuan-Ku atasmu, maka akan Aku bahagiakan jiwa dan ragamu. Dan engkau di sisi-Ku termasuk orang-orang yang baik lagi terpuji. Dan jika kalian tidak ridho dengan apa yang telah Aku berikan, demi kemuliaan dan keagungan-Ku, sungguh Aku akan menjadikan dunia menguasai kalian. Kalian akan memperebutkannya seperti binatang buas mencari mangsa di padang gurun yang tandus dan tidak akan ada apapun lagi bagi kalian kecuali yang telah Aku berikan kepada kalian.”

Kadang, suka mikir biaya bangun rumah mahal banget, belum untuk beli tanahnya dulu, urus sertifikat, dan lain sebagainya. Biaya sekolah TK swasta juga mahal banget karena pernah lihat datanya. Kadang suka mikir, kok ya orangtua suka belikan mainan anaknya banyak-banyak banget, mahal-mahal banget, padahal uangnya bisa untuk yang lebih penting dari sekedar mainan, ya mungkin nanti kalau saya sudah punya anak juga begitu kali ya, bawaannya pengen membahagiakan anak, pengen belikan beraneka macam mainan.

Oh iya, di antara jarak antara kampus dan kosan itu ada sekolah swasta elit meskipun tempatnya di jalanan sempit. Tiap lewat suka ngebatin, anak-anak SD ini kok ya jajan terus sampai pulang sekolah, jajannya sama kayak yang anak kuliahan beli sehari-hari. Saya menduga jajan mereka perhari bisa sampai lima puluh ribu lebih sendiri, ya wajar sih soanya ini SD mahal, terkenal dan bagus. Rata-rata berasal dari keluarga berada juga dan lulusannya memang tidak main-main. Beberapa kenalan saya yang juga alumni SD tersebut adalah orang-orang yang berkualitas dengan kinerja kerja yang bagus.


Suatu hari, di suatu perjalanan, saya iseng bertanya pada orangtua saya,

“Nanti kalau Nina sudah menikah nggak boleh minta uang ke orangtua lagi, ya?”

“Minta ke suami kamulah!”

“…”

“Jangan khawatir, setiap anak yang terlahir ke dunia sudah terlahir juga dengan rejekinya, begitu juga kamu.”


Ayah saya lalu menceritakan tentang kekhawatirannya yang sama dengan yang saya rasakan pada zaman beliau muda dulu. Beliau punya seorang teman yang mengalami disabilitas, yaitu tidak mampu melihat. Awalnya, ayah saya berpikir bagaimana kedepannya temannya ini akan hidup? Bagaimana nanti dia mencari nafkah? Bagaimana nanti hidup anak-anaknya? Tetapi, seiring berjalannya waktu, kuasa Allah menunjukkan itu semua. Temannya ini tetap bisa hidup, sebagaimana manusia lainnya yang memiliki keluarga. Karena rezeki dari Allah ada-ada saja caranya, bahkan lewat cara yang tidak kita sangka-sangka.

She is Crying


Saya punya teman-teman dekat, yang semuanya itu cantik-cantik, karena semuanya perempuan. Waktu itu saya khawatir dan bergegas menuju kosan si A, sampai di sana saya menunggunya dulu untuk shalat Zuhur. Usai shalat, masih dengan mukenanya, ia menangis karena laki-laki yang dicintainya itu keras kepala. Saya coba peluk dia. Ada hal-hal yang tidak dimengerti oleh laki-lakinya itu. Di lain waktu, saya memanggil sahabat saya si B melalui video call WhatsApp, rupanya masih pagi dan matanya sembab karena sedang menangis. Sejak semalam, ada kesalahpahaman yang dibuat oleh laki-laki yang katanya mencintainya itu. Di lain tempat lagi, hari itu, si C datang ke kosan saya, ia menceritakan laki-laki yang disukainya. Tanpa sadar, ia mulai menangis. Saya tahu, ini pertama kalinya dia sesuka ini pada seorang laki-laki. Dia yang biasanya menyimpan raapat ceritanya, tiba-tiba untuk kisah yang satu ini ia ceritakan terus menerus, hampir setiap hari, setiap ada waktu, dan dia memang sudah terlanjur sesuka itu pada laki-laki yang tidak bisa memberinya kepastian. Dia meminta maaf pada saya karena sudah menangis, saya bilang bahwa it’s okay, tidak apa-apa jika dia menangis.
               
Okay. Di sini saya akan menyisipkan kicauan-kicauan dari twitter teman saya yang bernama Dean. Sebab saya juga tidak tahu apa yang harus saya lakukan pada teman-teman saya yang dibuat menangis oleh orang yang katanya mencintai mereka. Semoga apa yang dikicaukan oleh Dean melalui akun twitternya dapat mencerahkan para pembaca. Meskipun di sini ada sedikit perbedaan, jika teman-teman saya berada dalam situasi bertahan dengan orang yang menurut mereka, mereka saling mecintai, tetapi di kicauan Dean merujuk kepada mereka yang memilih bertahan pada orang yang tidak mencintai mereka. Persamaannya adalah seseorang ini sama-sama saja berhasil membuat tangis.

“Kamu sayang nggak sama diri kamu sendiri?”

“Maksudnya?”

“You choose to stay there with someone who doesn’t love you while you wishing a supportive partner to share your whole life, yet he’s not changing at all. He’s not going to change if he doesn’t want to. You can’t change people, you only support people to change.”

“…”

“Let’s give yourself a better home. She deserves a better home.”

Menurut mereka, yang mereka jadikan pikiran ketika melepaskan adalah mereka sulit merelakan perubahan keseharian yang terjadi, alias sudah nyaman dengan “kebiasaan” yang sudah terjalin. Menurut saya, disitulah tantangan “melupakan”. Bagaimana kamu belajar untuk survive dengan diri kamu sendiri dibanding sewaktu kamu masih bersamanya, masih bisa pergi ditemani dengannya dan meminta tolong padanya.

Maaf, jika saya cuma bisa datang untuk mendengarkan dan memeluk, karena mungkin patah hati yang kita rasakan beda sebab dan beda arah. Untuk sebab yang sama, saya lupa kapan terakhir kali merasakannya, mungkin saat masih berbalut seragam putih abu-abu.