29/12/16

Lee Dalam Catatan Harian Suzy





I might never be the hands you put your heart in
Or the arms that hold you any time you want them
But that don’t mean that we can’t live here in the moment
 ‘Cause I can be the one you love from time to time

And if you like midnight driving with the windows down
And if you like going places we can’t even pronounce
If you like to do whatever you've been dreaming about
Then baby, you're perfect
Baby, you're perfect
So let's start right now
[ One Direction - Perfect ]
Aku seorang penulis. Ya, penulis dalam diary-ku sendiri. Begitu yang Lee katakan padaku. Aku selalu ingin menjadi penulis. Kata dia, meski aku hanya menulis diary, aku sudah menjadi seorang penulis. Penulis yang menuliskan tentang dia dalam diary-nya. Lihat, betapa percaya dirinya dia. Tetapi, aku suka.

Aku senang mengingat-ingat kembali saat-saat bersamanya. Lee, dia tak suka ketinggian, tetapi hari itu di depanku dia mengiyakan pintaku untuk naik kora-kora di suatu pasar malam bersamaku. Aku menyesal tak merekam ekspresinya kala itu. Dalam hati, pasti ia jengkel setengah mati padaku. Di atas kora-kora yang melambung tinggi itu, aku cekikikan melihat kelakuannya. Wajahnya sudah tak karuan. Keringat dingin memenuhi dahinya. Tetapi, ia tetap bertahan mengiyakan pintaku naik kora-kora untuk kedua kalinya.

Lee adalah tipe orang yang sulit menghapal arah jalan. Berbeda denganku. Katanya dia mau terus bersamaku agar ia selalu berada di jalan yang benar. Kata dia aku adalah petanya. Peta petunjuk jalannya. Menurutku itu perkatan yang cukup romantis.

Aku pernah bercerita padanya. Aku iri pada teman-temanku, mereka bisa merasakan jatuh cinta, mereka bisa bercerita tentang orang-orang yang mereka suka. Tetapi, aku kacau dengan diriku. Aku sangat mudah jatuh kagum tetapi sulit untuk benar-benar mencintai. Kata dia saat itu, mengapa tak kucintai dia saja? Katanya aku boleh mencintainya agar aku punya bahan cerita di depan teman-temanku.

Aku bertanya padanya, lalu bagaimana dengan gadismu? Yang kau puja sebelum pertemuan kita kala itu? Kala dia memakai kaos bertuliskan sebuah nama teater. Katanya teater itu teater favoritnya, padahal itu juga teater favoritku. Akhirnya, teater-teater itu menciptakan pertemuan-pertemuan kami untuk yang kedua kalinya, ketiga kalinya, dan seterusnya.

Aku pernah berdiskusi dengan Lee. Aku tanya mengapa banyak lelaki yang tak juga menyerah dengan sikapku? Padahal aku sudah bersikap setengah mati tak memedulikan mereka agar mereka menyerah saja padaku, tetapi mereka tak kunjung menyerah. Aku bertanya pada Lee, apakah Tuhan memang menciptakan sosok lelaki seperti itu? Lee hanya tersenyum, manis sekali kala itu.

Aku bertanya lagi, tetapi mengapa setelah mereka mendapatkan yang  mereka iginkan seringkali mereka pergi dan menyia-nyiakan yang selama ini mereka perjuangkan? Aku mengambil contoh kecil dari kisah kedua orangtuaku. Jika saja kalian tahu, bahwa di kota-kota besar hal seperti itu seringkali terjadi. Saat aku duduk di bangku sekolah dulu, bisa dikatakan setengah dari jumlah siswa di kelas adalah anak-anak berlatar belakang broken home. Maka itulah aku bertanya pada Lee, mengapa pria-pria itu meninggalkan wanita mereka?

***

Aku terbangun dari mimpi panjangku. Kupikir aku bisa selamanya bersamanya. Tetapi, aku kecewa pada diriku sendiri. Aku yang berusaha untuk tak akan mungkin menyakiti perasaan Mama, tetapi takdir yang hadir dalam hidupku melukai mama, melukai dia, melukai diriku sendiri.

Dia masih saja terus hadir di sampingku, membicarakan mimpi-mimpiku, mimpi-mimpi kita. Tetapi, tiap kali dia bercerita, aku hanya membisu. Menatap kosong ke depan. Kemudian, dia menyadari hal itu dan berhenti berbicara. Sesaat, ia ijin ingin ke kamar mandi. Tetapi, aku tahu ia tengah menyembunyikan kegelisahannya.

Aku menderita kanker paru-paru, stadium 3. Penampilanku mulai berubah. Aku mulai tak ingin bertemu dengan Lee. Aku benci Lee seketika. Aku benci diriku, aku benci hidupku.

Setiap hari Lee datang dan itu membuat aku semakin membencinya. Tetapi, anehnya, tiap kali Lee pamit pulang, airmataku meleleh. Rasanya seperti Lee akan meninggalkanku. Selalu seperti itu setiap kali ia pamit pulang. Padahal, meskipun ia datang, tak sekatapun juga aku mengajaknya bicara. Lee dengan sabar memandangiku, memberiku minum, menyuapiku makan, mendorong kursi rodaku, menghadapkanku pada pemandangan taman yang dipenuhi bunga-bunga, serta menyelimutiku. Tetapi, tetap hening. Di sana tidak ada kata-kata. Dari bibirku, pun bibirnya.

Sampai pada suatu hari, semangatku tiba-tiba kembali setelah Mama mengabari bahwa tulisanku akan segera diterbitkan menjadi buku. Seketika aku melupakan segala kebencianku pada Lee. Aku ingin memberitahunya bahwa salah satu mimpiku menjadi kenyataan. Tetapi hari itu, napas Lee tak membiarkan kedua telinganya mendengar kabar itu. Aku kehilangan dia. Ia dan motornya dihantam sebuah truk besar. Aku menangis semalaman di pelukan mama.

Lee, tiba-tiba saja hari ini seseorang datang ke sini. Lee, aku takut jika ia datang untuk menggantikanmu. Lee, dia baik sekali padaku. Lee, bahkan meski ia tahu umurku tak lagi panjang, ia tetap di sini. Lee, aku harus bagaimana? Lee, haruskah kuusir saja dia?

Lee, tetapi dia baik sekali padaku. Entah kebetulan atau tidak, ia juga pernah datang ke sini menggunakan kaos teater yang sama dengan yang kita gunakan. Lee, mengapa perasaanku tiba-tiba berbeda? Lee, kau sendiri tahu bahwa dulu sulit sekali untuk menyimpan hatiku pada seseorang, tetapi kini, bolehkah aku mencintai dua orang dalam waktu yang sama?

Lee, dia mungkin tak serupawan dirimu. Sungguh, wajahnya biasa saja. Tetapi, aku tak main-main. Dia baik sekali padaku, dia membuatku bahagia setiap hari di sisa-sisa waktuku. Lee, bolehkah aku menjadikannya alasanku untuk tetap bernapas? Karena kau tak ada lagi di sini, Lee. Aku takut, aku kesepian.

Lee, akhir-akhir ini banyak sekali yang memosting tentang pernikahan. Banyak sekali pula yang menikah muda. Iya, atau memang perasaanku saja?

Tidak. Aku hanya senang membicarakan ini. Bukan berarti aku terburu-buru menginginkan hal itu. Mungkin aku tak sabar menceritakanmu pada orang-orang, pada teman-temanku, terutama memperkenalkanmu pada orangtuaku. Itu hal yang ingin kuutarakan padamu jikalau kau masih ada, masih ada di sini, di sisiku.

Tidak. Aku hanya senang membicarakan masa depan setelah lelah membicarakan masa lalu. Aku senang membicarakan masa depan karena ada kamu sebagai topiknya. Lee, sungguh ini yang ingin kukatakan padamu jikalau kau masih tetap tinggal, jikalau takdir tak memilihmu pergi.

Tidak. Aku hanya senang menuliskan hal-hal sederhana yang maknanya luar biasa. Hanya saja masih banyak mimpi yang ingin kubuat menjadi kenyataan. Hanya saja masih banyak egoku yang ingin kuhabiskan. Lee, itu alasanku dahulu mengapa tak segera kuterima kau saja. Meski aku tahu umurku juga tak panjang tuk kuraih semua impianku.

Tidak. Bukan berarti tak ingin kubagi hidupku denganmu. Tetapi, cukup aku dan kesendirian. Karena kelak aku harus mengenalmu lebih dalam, sebelum itu aku harus mendalami diriku sendiri. Lee, itu aalasanku mengapa tak kunjung kugapai rangkulanmu.

Katamu benar, kita hanya sebatas saling tahu, kita tak saling mengenal. Lee, sungguh aku tak ingin merepotkan dengan segala keterbatasanku. Meskipun aku tahu kau mencintai segalanya tentang aku dan keterbatasanku.

Terimakasih sudah menyadarkanku, bahwa memang ada seseorang itu. Yang awalnya hanya perasaanku saja, tetapi aku dikejutkan takdir hari itu.

Katamu, kau jengkel karena aku hanya diam saja. Kau tahu tidak bahwa aku tergagap waktu itu? Di antara berisik suara dedaunan yang disenggol angin, di antara cahaya bulan yang menerangi wajah kita.

Dan sekali lagi. Aku terkejut. Kau datang di hari-hariku. Lalu, sekejap saja kau pergi dan tak kembali.

Aku ingin mengatakan bahwa perasaan kita biarlah sebatas itu saja. Sebatas itu saja dahulu. Biar aku tak terluka oleh duniaku yang kini tanpamu. Biar aku tak terluka lebih dalam saat napasku masih panjang. Biar perasaanku mengalir hingga menemuimu di surga-Nya.


Sumber gambar: Tumblr.com



Tidak ada komentar:

Posting Komentar