Iya deh iya.
Judul postingan kali ini agak lebay. Tapi, kali ini aku mau sharing tentang
gimana ide-ide cerita itu bemunculan di pikiranku. Aku mau membongkar ide-ide
cerita dari beberapa cerpen atau cerbung yang aku buat.
Mengenai postingan
cerita seri Yogyakarta yang berhasil aku post di blogku, sebenarnya ceritanya
itu punya sekitar 10 seri. Aku hanya baru memosting beberapa kalau kalian cek
pada label cerbung. Jadi, konsep kesepuluh cerita itu sudah ada semua.
Sayangnya, aku pernah kepenuhan memori dan menitipkan filenya di laptop
temanku. Tapi, aku lupa aku simpan di folder mana dan dengan nama apa. Itu
kesalahan fatal yang aku sesali sampai sekarang. Aku masih berusaha mencari,
sih. Untungnya, aku selalu menuliskan pokok konsepnya di buku tulis, pokok
konsepnya masih ada, cuma konsep matangnya ya di folder yang terselip itu.
Then, aku bakal
kasih tahu isi otakku. Eh, maksudnya tips-tips
menulis untuk kalian yang mau belajar dan pengen membuat cerita. Semua
berawal dari membiasakan menulis diary sejak kecil. Sayangnya, beberapa diary
menuliskan hal-hal yang aku sesali. Nggak tanggung-tanggung buku diaryku aku
bakar, abunya aku rendam di air cucian kaos kaki. Mungkin di sisi lain aku
senang merawat kenangan, tetapi di sisi lain aku membenci kenangan. Sebab, aku
ingin seseorang yang hadir di masa yang akan datang tahu bahwa aku sepenuhnya
mencintainya dan telah menghapus segala hal di masa laluku, sehingga ia tak
perlu mengkhawatirkan hal-hal kecil itu.
Oke, mulai dari first point. Untuk mengembangkan sebuah
cerita, kamu hanya perlu menemukan satu
kejadian. Cukup satu kejadian. Seperti dalam film Negeri Van Orange, hehe.
Kamu hanya perlu mengembangkan satu kejadian. Contoh cerita dalam point ini ada
pada cerbungku yang masih hangat, “Melalui Cara Tuhan”. Sumpah, judulnya kurang
kreatif banget. Sudah mentok. Satu kejadian yang aku kembangkan menjadi 3
cerita bersambung itu adalah terinspirasi ketika aku berjalan-jalan layaknya
wisatawan di sepanjang jalan Malioboro. Beberapa wisatawan yang lain yang tengah
naik becak sembari merekam suasana. Dengan sengaja aku melambaikan tangan ke arah
kamera mereka. Hanya itu. Itu satu kejadiannya. Kemudian, untuk latar belakang
tokohnya yang merupakan anak teknik mesin perkapalan, aku terinspirasi dari
salah seorang temanku. Aku mengoreksi informasi darinya, dan lagi-lagi aku
dapat pengetahuan. Yeah, menulis membuat ilmu pengetahuanmu bertambah, it’s of course.
Point berikutnya adalah banyak membaca buku dan menonton film.
Aku sarankan film yang berbau sejarah. Inilah yang menghasilkan terbitnya
postingan cerpen “Jakarta Mengembalikanmu”. Begitu dahsyatnya konflik yang
terjadi pada Mei 1998. Namun, dengar-dengar aksi damai 212 kemaren mengalahkan
massa konflik 1998. Aku merasa turut terlibat dengan sejarah panjang bangsa
pada tahun 1998. Meski umurku masih 1,5 tahun kala itu, keluargaku batal pindah
rumah karena terjadi penjarahan besar-besaran di Jakarta. Padahal semua barang
sudah di truk, kami siap menuju Bogor. Tetapi, bukan main khawatirnya orangtuaku,
sebab penjarahan itu membuat semua orang terlihat gila di jalanan. Selain itu,
aku ingin sekali menjadi seorang freelance.
Aku ingin merasakan bagaimana meliput berita di tengah-tengah massa, maka aku
lukiskan keinginan terpendamku itu pada cerita yang kubuat.
Point ketiga, sering-seringlah keluar dari
rumah. Meski itu hanya ke warung, bisa saja kau menangkap suatu ide.
Postingan berseri Yogyakarta itu yang berjumlah sekitar sepuluh biji, aku
menangkap ide dalam satu kali dan setelah kutuliskan ternyata ada hampir sepuluh.
Semua terinspirasi saat aku nge-kost di belakang padmanaba alias SMAN 3
Yogyakarta. Tiap malam aku keluar kost mencari makan. Posisinya yang
benar-benar di tengah kota, tiap malam ada saja sesuatu yang terjadi, meski
kejadian kecil seperti pemulung yang memakan nasi bungkus di pinggir jalan. Ia makan
dengan lahap seperti sudah seminggu tak makan. Selain itu, tiap cerita punya
nama jalan tersendiri. Nama jalan-jalan itu ya kuambil dari sekitar situ.
Point keempat, kita perlu mengetahui
masalah-masalah yang menjagkit remaja pada saat ini. Oke, ambil perkara
mainstream. Tentang hamil di luar nikah, teliti sumber masalahnya apa. Oke,
ambil sederhananya, semua berawal dengan menjalin kasih. Maka kau menulis untuk membagi solusi dari
masalah itu, lahirlah postinganku yang berjudul “Halalkan Aku Atau Tinggalkanku!”
Point kelima, membayangkan hal-hal yang tak
biasa. Artinya, biarkan imajinasimu berkembang. Tentang yang satu ini
kuberi contoh pada cerpenku yang berjudul “Takdir Viona”. Di dalam cerpen ini aku
membayangkan kejadian-kejadian seperti apa kiranya yang terjadi saat kita
menutup mata untuk selamanya. Seperti apakah perasaan orang-orang di dalam
hidup kita ketika mereka tahu kita pergi meninggalkan mereka untuk selamanya?
Point keenam kamu juga bisa membayangkan
hal-hal biasa. Ringkasnya ini seperti pada ceritaku yang berjudul
“Comeback”. Ini juga terjadi pada cerpen “Diary of Crazy”. Pada saat menulis
cerpen yang satu ini aku memikirkan hal-hal yang menyenangkan, agak sedikit
komedi juga jadinya. Sementara itu, “Pria di Ujung Lorong” itu hanya inspirasi
kecil yang datang dari sekitar rumah. Ya, tetanggamu bisa menjadi inspirasimu.
Point ketujuh, kamu bisa jadikan curhatan
teman kamu menjadi sebuah cerita, pastikan kau mengganti nama tokohnya, hehe.
Contoh ceritaku dari ide yang satu ini adalah “Mungkin Rayuannya Kurang
Mematikan”. Atau, pengalamanmu sendiri,
seperti pada cerpenku “Kemana Hijabmu?”
Point kedelapan, kamu juga bisa menulis
cerita horor dengan menggunakan tempat yang sering kau datangi sehari-hari.
Misalnya, kelas, sekolah, gedung kampus, lorong-lorong kampus. Kembangkan saja
khayalanmu, seperti yang kulakukan pada cerpen “Gelang Kenangan”
Point kesembilan, kamu bisa ambil ide dari kegiatan yang kamu ikuti
atau pengalaman dalam hidup kamu. Ini seperti yang dikisahkan dalam
cerpenku “Aku, Adit, dan LDK” semua pada tahu bukan LDK itu apa? Hehe. Jadi,
dulu di SMA-ku kalau mau menjadi anggota OSIS harus melewati beberapa ujian
gitu, deh. Dan hasilnya aku nggak lolos, HAHAHAHA. Sedih tahu. Selain itu, ada
cerbungku dengan judul “El dan Keberandalannya” itu pengalamanku sendiri, hehe.
Kalau yang “3 Hati” sebenarnya konsepnya sudah berchapter-chapter. Sudah ada
endingnya juga. Entah, kenapa aku tak juga melanjutkannya. Sudah terlalu lama.
Usang. Hilang. Untuk yang “Panggil Gue Bayu!” itu juga tak terselesaikan.
Genrenya emang thriller dan terinspirasi dari rumah-rumah susun, wkwk. Makanya
latar tempatnya di rumah susun.
Last point nih, it’s about the power of
waiting. Please, jangan menyepelekan yang namanya menunggu. Ini menunggu
dalam arti sebenar-benarnya, ya. Kayak kamu nunggu bus datang, nahhhh. Meski
sebenarnya aku enggak suka, benar-benar enggak suka menunggu. Tetapi, di
sanalah terkadang kau temukan ide-ide itu. Seperti pada prosa “Kisah Gerimis”.
Aku sedang menunggu temanku yang datang dari luar kota di sebuah kafe. Saat itu
tengah gerimis, hehe. Sampai temanku datang, postingan itu sudah selesai aku
terbitkan di blog.
So,
keep writing, keep your dreams! <3
haha nice, maybe Padmanaba for SMAN 3 Yogyakarta
BalasHapusoh iyaaa :D thankyou for your correction.
Hapus