11/12/16

Pembongkaran Ide Cerita Seorang Nina



Iya deh iya. Judul postingan kali ini agak lebay. Tapi, kali ini aku mau sharing tentang gimana ide-ide cerita itu bemunculan di pikiranku. Aku mau membongkar ide-ide cerita dari beberapa cerpen atau cerbung yang aku buat.
Mengenai postingan cerita seri Yogyakarta yang berhasil aku post di blogku, sebenarnya ceritanya itu punya sekitar 10 seri. Aku hanya baru memosting beberapa kalau kalian cek pada label cerbung. Jadi, konsep kesepuluh cerita itu sudah ada semua. Sayangnya, aku pernah kepenuhan memori dan menitipkan filenya di laptop temanku. Tapi, aku lupa aku simpan di folder mana dan dengan nama apa. Itu kesalahan fatal yang aku sesali sampai sekarang. Aku masih berusaha mencari, sih. Untungnya, aku selalu menuliskan pokok konsepnya di buku tulis, pokok konsepnya masih ada, cuma konsep matangnya ya di folder yang terselip itu.

Then, aku bakal kasih tahu isi otakku. Eh, maksudnya tips-tips menulis untuk kalian yang mau belajar dan pengen membuat cerita. Semua berawal dari membiasakan menulis diary sejak kecil. Sayangnya, beberapa diary menuliskan hal-hal yang aku sesali. Nggak tanggung-tanggung buku diaryku aku bakar, abunya aku rendam di air cucian kaos kaki. Mungkin di sisi lain aku senang merawat kenangan, tetapi di sisi lain aku membenci kenangan. Sebab, aku ingin seseorang yang hadir di masa yang akan datang tahu bahwa aku sepenuhnya mencintainya dan telah menghapus segala hal di masa laluku, sehingga ia tak perlu mengkhawatirkan hal-hal kecil itu.

Oke, mulai dari first point. Untuk mengembangkan sebuah cerita, kamu hanya perlu menemukan satu kejadian. Cukup satu kejadian. Seperti dalam film Negeri Van Orange, hehe. Kamu hanya perlu mengembangkan satu kejadian. Contoh cerita dalam point ini ada pada cerbungku yang masih hangat, “Melalui Cara Tuhan”. Sumpah, judulnya kurang kreatif banget. Sudah mentok. Satu kejadian yang aku kembangkan menjadi 3 cerita bersambung itu adalah terinspirasi ketika aku berjalan-jalan layaknya wisatawan di sepanjang jalan Malioboro. Beberapa wisatawan yang lain yang tengah naik becak sembari merekam suasana. Dengan sengaja aku melambaikan tangan ke arah kamera mereka. Hanya itu. Itu satu kejadiannya. Kemudian, untuk latar belakang tokohnya yang merupakan anak teknik mesin perkapalan, aku terinspirasi dari salah seorang temanku. Aku mengoreksi informasi darinya, dan lagi-lagi aku dapat pengetahuan. Yeah, menulis membuat ilmu pengetahuanmu bertambah, it’s of course.

Point berikutnya adalah banyak membaca buku dan menonton film. Aku sarankan film yang berbau sejarah. Inilah yang menghasilkan terbitnya postingan cerpen “Jakarta Mengembalikanmu”. Begitu dahsyatnya konflik yang terjadi pada Mei 1998. Namun, dengar-dengar aksi damai 212 kemaren mengalahkan massa konflik 1998. Aku merasa turut terlibat dengan sejarah panjang bangsa pada tahun 1998. Meski umurku masih 1,5 tahun kala itu, keluargaku batal pindah rumah karena terjadi penjarahan besar-besaran di Jakarta. Padahal semua barang sudah di truk, kami siap menuju Bogor. Tetapi, bukan main khawatirnya orangtuaku, sebab penjarahan itu membuat semua orang terlihat gila di jalanan. Selain itu, aku ingin sekali menjadi seorang freelance. Aku ingin merasakan bagaimana meliput berita di tengah-tengah massa, maka aku lukiskan keinginan terpendamku itu pada cerita yang kubuat.
Point ketiga, sering-seringlah keluar dari rumah. Meski itu hanya ke warung, bisa saja kau menangkap suatu ide. Postingan berseri Yogyakarta itu yang berjumlah sekitar sepuluh biji, aku menangkap ide dalam satu kali dan setelah kutuliskan ternyata ada hampir sepuluh. Semua terinspirasi saat aku nge-kost di belakang padmanaba alias SMAN 3 Yogyakarta. Tiap malam aku keluar kost mencari makan. Posisinya yang benar-benar di tengah kota, tiap malam ada saja sesuatu yang terjadi, meski kejadian kecil seperti pemulung yang memakan nasi bungkus di pinggir jalan. Ia makan dengan lahap seperti sudah seminggu tak makan. Selain itu, tiap cerita punya nama jalan tersendiri. Nama jalan-jalan itu ya kuambil dari sekitar situ.

Point keempat, kita perlu mengetahui masalah-masalah yang menjagkit remaja pada saat ini. Oke, ambil perkara mainstream. Tentang hamil di luar nikah, teliti sumber masalahnya apa. Oke, ambil sederhananya, semua berawal dengan menjalin kasih. Maka kau menulis untuk membagi solusi dari masalah itu, lahirlah postinganku yang berjudul “Halalkan Aku Atau Tinggalkanku!”

Point kelima, membayangkan hal-hal yang tak biasa. Artinya, biarkan imajinasimu berkembang. Tentang yang satu ini kuberi contoh pada cerpenku yang berjudul “Takdir Viona”. Di dalam cerpen ini aku membayangkan kejadian-kejadian seperti apa kiranya yang terjadi saat kita menutup mata untuk selamanya. Seperti apakah perasaan orang-orang di dalam hidup kita ketika mereka tahu kita pergi meninggalkan mereka untuk selamanya?

Point keenam kamu juga bisa membayangkan hal-hal biasa. Ringkasnya ini seperti pada ceritaku yang berjudul “Comeback”. Ini juga terjadi pada cerpen “Diary of Crazy”. Pada saat menulis cerpen yang satu ini aku memikirkan hal-hal yang menyenangkan, agak sedikit komedi juga jadinya. Sementara itu, “Pria di Ujung Lorong” itu hanya inspirasi kecil yang datang dari sekitar rumah. Ya, tetanggamu bisa menjadi inspirasimu.

Point ketujuh, kamu bisa jadikan curhatan teman kamu menjadi sebuah cerita, pastikan kau mengganti nama tokohnya, hehe. Contoh ceritaku dari ide yang satu ini adalah “Mungkin Rayuannya Kurang Mematikan”. Atau, pengalamanmu sendiri, seperti pada cerpenku “Kemana Hijabmu?”

Point kedelapan, kamu juga bisa menulis cerita horor dengan menggunakan tempat yang sering kau datangi sehari-hari. Misalnya, kelas, sekolah, gedung kampus, lorong-lorong kampus. Kembangkan saja khayalanmu, seperti yang kulakukan pada cerpen “Gelang Kenangan”

Point kesembilan, kamu bisa ambil ide dari kegiatan yang kamu ikuti atau pengalaman dalam hidup kamu. Ini seperti yang dikisahkan dalam cerpenku “Aku, Adit, dan LDK” semua pada tahu bukan LDK itu apa? Hehe. Jadi, dulu di SMA-ku kalau mau menjadi anggota OSIS harus melewati beberapa ujian gitu, deh. Dan hasilnya aku nggak lolos, HAHAHAHA. Sedih tahu. Selain itu, ada cerbungku dengan judul “El dan Keberandalannya” itu pengalamanku sendiri, hehe. Kalau yang “3 Hati” sebenarnya konsepnya sudah berchapter-chapter. Sudah ada endingnya juga. Entah, kenapa aku tak juga melanjutkannya. Sudah terlalu lama. Usang. Hilang. Untuk yang “Panggil Gue Bayu!” itu juga tak terselesaikan. Genrenya emang thriller dan terinspirasi dari rumah-rumah susun, wkwk. Makanya latar tempatnya di rumah susun.

Last point nih, it’s about the power of waiting. Please, jangan menyepelekan yang namanya menunggu. Ini menunggu dalam arti sebenar-benarnya, ya. Kayak kamu nunggu bus datang, nahhhh. Meski sebenarnya aku enggak suka, benar-benar enggak suka menunggu. Tetapi, di sanalah terkadang kau temukan ide-ide itu. Seperti pada prosa “Kisah Gerimis”. Aku sedang menunggu temanku yang datang dari luar kota di sebuah kafe. Saat itu tengah gerimis, hehe. Sampai temanku datang, postingan itu sudah selesai aku terbitkan di blog.

So, keep writing, keep your dreams! <3

2 komentar: