08/04/17

[All About Life] : Pembicaraan Dewasa; Talak



Beberapa minggu yang lalu, saya datang ke kajian rutin pekanan. Ya, tumben saya datang, hehe. Biasanya agak ogah-ogahan karena capek habis seharian nimba ilmu dilanjut sore harinya masak sehingga sehabis maghrib rasanya langsung tepar. Tetapi, kadang semangat nimba ilmunya muncul lagi dan memutuskan ikut kajian ba’da maghrib hari itu.

Malam itu yang dibahas tentang hukum talak dan pembagiannya. Ada dua macam hukum talak; talak sunni dan talak bid’i. Talak sunni adalah talak yang dijatuhkan sesuai aturan syariat, yakni menalak satu kali (yang sudah digauli) saat keadaan suci. Adapun talak bid’i adalah talak yang menyimpang dari aturan syariat yakni langsung mengatakan talak sebanyak tiga kali dan dalam keadaan berhadas pula.

Adapun masa iddah bagi perempuan terbagi-bagi lagi. Perempuan harus mengerti tentang hal ini. Bahkan ketika si perempuan dalam masa iddah, kemudian si suaminya meninggal, ia tetap dapat hak waris, tetapi jika sudah melewati masa iddah, ia tidak mendapatkan waris. Masa iddah adalah masa menunggu seorang perempuan setelah diceraikan. Jika ingin rujuk kembali perlu dilakukan akad ulang. Seorang perempuan tidak boleh ditalak ketika sedang dalam keadaan nifas atau berhadas.

Adanya aturan agar orang-orang tidak hidup seenak jidat. Bayangkan kalau tidak ada aturan, pria bisa comot sana-sini, seenaknya bilang talak dan lain sebagainya. Ada dua hal yang tidak bisa dijadikan candaan; menikah dan talak. Orang yang paham agama tidak akan mempermainkan sesuatu yang berimplikasi kepada hukum.

Hikmah dari seorang laki-laki adalah memang diciptakan dengan karakter “sedikit berbicara” dibandingkan perempuan, karena omongannya bisa menjadi hukum. Maka dari itu pandailah menahan emosi, jangan mudah marah, patuhi rambu-rambu, jangan sampai kehilangan akal tanpa sadar langsung meneriakkan talak sebanyak tiga kali. Jangan pernah seperti itu, ya. Semua bisa dibicarakan baik-baik, kok. Ya ampun, saya terlalu mendalami tulisan ini.

Tentang pasangan, jika seorang istri pintar, maka suaminya akan menyesuaikan. Bukankah ia akan malu dengan istrinya? Saya bukan menyarankan untuk mencari pasangan yang lebih bodoh dari kamu. Saya menyarankan agar kamu bisa menyesuaikan diri kamu dengan pasanganmu. Entahlah, kenapa saya membicarakan ini, mungkin saya sudah dewasa. CIELAH.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar