Beberapa minggu
yang lalu, saya datang ke kajian rutin pekanan. Ya, tumben saya datang, hehe.
Biasanya agak ogah-ogahan karena capek habis seharian nimba ilmu dilanjut sore
harinya masak sehingga sehabis maghrib rasanya langsung tepar. Tetapi, kadang
semangat nimba ilmunya muncul lagi dan memutuskan ikut kajian ba’da maghrib
hari itu.
Malam itu yang
dibahas tentang hukum talak dan pembagiannya. Ada dua macam hukum talak; talak
sunni dan talak bid’i. Talak sunni adalah talak yang dijatuhkan sesuai aturan
syariat, yakni menalak satu kali (yang sudah digauli) saat keadaan suci. Adapun
talak bid’i adalah talak yang menyimpang dari aturan syariat yakni langsung
mengatakan talak sebanyak tiga kali dan dalam keadaan berhadas pula.
Adapun masa
iddah bagi perempuan terbagi-bagi lagi. Perempuan harus mengerti tentang hal
ini. Bahkan ketika si perempuan dalam masa iddah, kemudian si suaminya
meninggal, ia tetap dapat hak waris, tetapi jika sudah melewati masa iddah, ia
tidak mendapatkan waris. Masa iddah adalah masa menunggu seorang perempuan
setelah diceraikan. Jika ingin rujuk kembali perlu dilakukan akad ulang. Seorang
perempuan tidak boleh ditalak ketika sedang dalam keadaan nifas atau berhadas.
Adanya aturan
agar orang-orang tidak hidup seenak jidat. Bayangkan kalau tidak ada aturan,
pria bisa comot sana-sini, seenaknya bilang talak dan lain sebagainya. Ada dua
hal yang tidak bisa dijadikan candaan; menikah dan talak. Orang yang paham
agama tidak akan mempermainkan sesuatu yang berimplikasi kepada hukum.
Hikmah dari
seorang laki-laki adalah memang diciptakan dengan karakter “sedikit berbicara”
dibandingkan perempuan, karena omongannya bisa menjadi hukum. Maka dari itu
pandailah menahan emosi, jangan mudah marah, patuhi rambu-rambu, jangan sampai
kehilangan akal tanpa sadar langsung meneriakkan talak sebanyak tiga kali. Jangan
pernah seperti itu, ya. Semua bisa dibicarakan baik-baik, kok. Ya ampun, saya
terlalu mendalami tulisan ini.
Tentang
pasangan, jika seorang istri pintar, maka suaminya akan menyesuaikan. Bukankah
ia akan malu dengan istrinya? Saya bukan menyarankan untuk mencari pasangan
yang lebih bodoh dari kamu. Saya menyarankan agar kamu bisa menyesuaikan diri
kamu dengan pasanganmu. Entahlah, kenapa saya membicarakan ini, mungkin saya
sudah dewasa. CIELAH.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar