Tempo hari, saya
melihat tukang gejrot mangkal di belakang kampus bersama dengan tukang-tukang
lainnya. Tukangnya itu Mas-Mas. Saya tidak tahu mengapa ia berjualan dan saya
tidak ingin tahu.
Ketika
melihatnya, timbul beragam asumsi di pikiran saya. Ketika ia duduk menunggu
pembeli. Apa yang kira-kira tengah dipikirkannya?
Saya hanya
berusaha menyelami pikiran orang-orang di sekitar saya. Meski begitu, saya
tidak menilainya dari satu sisi.
Pertama,
mungkinkah ia hanya lulusan SMA? Mungkin berjualan untuk membantu kedua
orangtuanya? Bila benar, bagaimana perasaannya ketika melihat mahasiwa-mahasiwi
yang berlalu-lalang di hadapannya, mahasiswa-mahasiswi yang sok sibuk membawa
setumpuk tugas, menampilkan wajah kelelahan, atau berpura-pura melihat jam
tangan dan segera terburu-buru? Apa ia menginginkan kehidupan seperti
orang-orang yang berlalu-lalang di hadapannya?
Kedua,
mungkinkah ia lulusan sarjana yang tengah bekerja sambilan hanya untuk
memanfaatkan waktunya? Bila benar, hal ini membuat kita berhenti memikirkan
seseorang dari satu sisi.
Lantas, apa yang
membuat saya memilih tukang tahu gejrot dalam tulisan saya? Karena saya doyan
tahu gejrot, HEHEHE.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar