“Banyak orang yang telah lewat
Mereka hanya melewatiku di tempat ini
Dimana aku?” – Ost. Goblin
Awalnya saya
hanya menonton Goblin saja sampai di suatu titik, apa-apanya tentang Goblin
mengingat saya tentang sebuah perjalanan hidup seorang wanita yang memiliki
firasat tentang kehadiran seorang kekasih. Pria itu menjadikannya sebagai cinta
pertama, hal itu yang membuatnya menatap tak percaya, bahkan setelah puluhan
tahun, wanita itu selalu menjadi yang terindah untuk pria itu. Bagaimana
mungkin, cinta pria itu selalu sama bahkan waktu sudah berlalu begitu banyak.
“Siapa kau?
Suka cita yang tak bisa kusembunyikan.” – Ost. Goblin
Pria itu selalu
berada di sana, menjaga jarak berdirinya dari wanita itu. Pria itu tak
melambai, hanya menatap. Wanita itu dengan segala tanya di benaknya berdiri di
sana memunggungi pria itu. Di dunia ini ada orang-orang yang sudah cukup berbahagia
meski hanya bisa memandangi punggung orang yang mereka cinta. Wanita itu
tenggelam dalam firasatnya, dan pria itu dalam hati suatu hari akan
menyelamatkan wanita itu dari segala firasat yang terlajur merisaukan hatinya.
“Bahkan di dalam mimpiku
Aku mencari ke seluruh dunia
Dimana kau dicengkeram
Kau di mana?” – Ost. Goblin
Pria itu pernah
hadir, seperti angin yang berhembus di petang hari melewati pematang ladang sawah,
seperti rembulan yang menjaga jarak dari bumi, seperti langit malam yang tak
membiarkan kau menyentuh bintang-bintangnya. Dan wanita itu, cukuplah merasakan
angin yang berhembus itu saja, cukuplah berpura-pura mampu memeluk rembulan
itu, cukuplah tersita matanya sebab memandangi bintang-bintang di langit
sepanjang malam.
“Aku akan menemukanmu
Aku akan mengenalimu
Dimanapun kamu berada
Seperti apapun kamu
Akan aku kenali.” – Ost. Goblin
Tetapi, wanita
itu tak ingin membenarkan firasatnya tentang suatu hari itu. Menurutnya, suatu
hari itu tak perlulah ia bayangkan sekarang dengan pengharapan yang nantinya
terasa begitu panjang, karena jika firasatnya benar, maka akan dibenarkan saat
hari itu juga, bahkan bukan sedetik sebelumnya. Sebab apa? Semua akan benar
bila ucapan janji itu terucap di hadapan Tuhan. Bukan janji bisu diantara
keduanya.
Maka dari itu
heranlah ia dengan mereka yang sering membayangkan, dengan mereka yang
membangga-banggakan, dengan mereka yang melawan takdir Tuhan dalam arti yang
tidak sebenarnnya.
Jika firasatnya
benar tentang suatu hari itu, maka wanita itu akan bungkam bibirnya, menangis
kedua matanya, bahkan jauh sebelum hari itu, hatinya sudah gemetar. Lalu,
ditengoknya kembali sebuah catatan di buku hariannya.
“Aku sudah mencintaimu sejak kemarin, hari ini, bahkan esok. Untukmu, yang bahkan belum kuketahui namanya.”
Seperti halnya
Goblin, Goblin sudah mencintai Ji Eun Tak, jauh sebelum ia bertemu dengan gadis
itu, jauh sebelum ia menemukan gadis itu. Tetapi, ia sudah mencintai gadis itu,
siapapun gadis itu, dimanapun gadis itu.
“Aku akan mengingatmu
Aku akan melihatmu
Walau kau tak berada di sana
Walau setelah bertahun-tahun
Aku tak akan lupa
Bahkan untuk semua kata-kata dan ekspresi wajahmu.” – Ost. Goblin
Firasat itulah
yang membuatnya mengabaikan yang lain. Firasat itu seolah-olah menuntunnya
untuk menuju pada satu jalan. Maka, bukan ia tak peduli, bukan ia bersifat
abai, tetapi sekali lagi, firasatnya yang membuatnya terlihat abai. Membuatnya
tak bisa terkesima pada hal lainnya. Karena kebaikan pria itu, menyilaukan
hatinya. Maukah kuberitahu apa kebaikan pria itu? Cara dia mencintai tanpa
menjatuhkan, cara dia mengagumi tanpa menodai, cara dia datang tanpa banyak
kata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar