Jenuh, suatu
perasaan yang sudah saya alami sejak lama. Jenuh dalam bermain sosial media
terutamanya. Terlalu rentan megalami penyakit hati, itu salah satu ketakutan
yang terpendam dalam batin saya. takut menimbulkan berbagai prasangka dari
orang lain juga. Bukan, bukan takut dikomentari. Tetapi, takut membuat orang
lain berdosa karena berprasangka yang tidak-tidak.
Saya
berkali-kali berniat ingin menutup beberapa akun sosial media yang saya punya.
Rasanya kehidupan lebih tenang bila tanpa itu. Jika dahulu, kita pernah
baik-baik saja tanpa gadget mengapa pada saat ini begitu sulit tanpa gadget?
Saya bukan orang
yang rajin bermain gadget. Saya sering ketinggalan berbagai informasi tentang
perkuliahan, bahkan saya memberi password akun mahasiswa saya pada teman saya
kalau-kalau ada hal dadakan dari perkuliahan yang memiliki batas waktu dan saya
sedang tidak online.
Kebutuhan
menjadi penyebab utama saya harus selalu online. Selain soal takut ketinggalan
informasi kuliah, orangtua saya berada jauh di sana dan saya perlu tahu kabar
mereka dan merekapun perlu tahu kabar saya sebagai anak mereka. Lalu ada hal
pekerjaan pula yang sangat membutuhkan bantuan social media.
Mungkin
kapan-kapan saya akan menghilang dari social media, khususnya Instagram yang
semakin banyak dosa mata di dalamnya, terutama dalam menu explore. Instagram
semakin membludak penggunanya dan semakin banyak pencitraan di dalamya,
termasuk saya sendiri. Saya yakin, jika orangtua kita tahu apa yang kita lihat
di social media tersebut mungkin mereka akan sedih dan kecewa, bahkan tak akan
membolehkan kita menggunakan ponsel lagi. (Ini sebenarnya saya membayangkan
jika saya menjadi orangtua, sih. Tidak bakal saya belikan ponsel! Tapi kalau ayahnya
yang belikan, sama aja bohong -_-)
Tetapi, blog
akan selalu menjadi tempat naungan untuk lahirnya tulisan-tulisan saya. sebab,
saya tidak tahu siapa yang membaca blog saya, siapa yang selalu berkunjung dan
tak pernah pergi #loh, siapa yang diam-diam senang dengan tulisan saya, siapa
yang suka mengkritik tulisan saya di dalam hatinya, saya tidak akan tahu itu
semua dan tidak perlu peduli juga. Tetapi, di Instagram banyak orang yang saya
kenal dan orang yang mengenal saya. Banyak diantara mereka tidak menyukai saya,
sebagian yang lainnya mungkin suka.
Terkadang, saya tidak bisa mengendalikan diri saya terkait apa yang saya
ingin bagi, apa yang ada di dalam pikiran saya, apa yang orang-orang mesti
pahami. Nyatanya, tidak semua orang menyukai, dan itulah social media,
menimbulkan ilfeel ataupun justru cinta.
Saya pernah
melihat dua video, video tersebut semakin mendorong saya untuk menghapuskan
jejak di social media.
Video pertama
bercerita tentang seorang pemuda yang tidak selalu memainkan ponselnya. Ia
hanya memainkannya di saat-saat tertentu. Dengan kata lain, ia tidak gila
bermain ponsel. Di sudut lain, ada seorang gadis cantik yang tengah berjalan
kaki. Lalu, keduanya tak sengaja bersenggolan di pinggir jalan saat keduanya
tengah berjalan kaki menuju ke tujuan masing-masing. Mereka sama-sama mengucapkan
maaf dan saling melempar senyum. Mereka memutuskan untuk berkenalan, dari perkenalan
tersebut berlanjut ke hubungan yang serius hingga mereka menikah, memiliki
keluarga, menua bersama, dan tutup usia.
Momen ini lalu diputar ulang ke masa-masa saat
mereka berpapasan, seandainya kala itu si pemuda berjalan kaki sambil memainkan
ponsel, mungkin matanya tak akan menemukan gadis cantik itu. Mungkin ia tidak
akan memiliki keluarga yang sebahagia bila ia bertemu dengan gadis cantik di
kala itu. Seandainya ia berjalan sambil memainkan ponselnya mungkin ia sudah
kehilangan momen terbaik yang membuat hidupnya menjadi bahagia.
Video kedua
bercerita tentang pencitraan yang dilakukan orang-orang di Instagram. Saya lupa
isi detail video tersebut, beberapa hal yang saya masih ingat adalah di dalam
video tersebut diperlihatkan bagaimana seorang pria tengah menonton artis
wanita yang diidolakannya, begitu istrinya masuk, ia mengganti channel, sang
istri megambil ponselnya dan berfoto dengan pose sambil mencium suaminya, lalu
diunggahnya foto tersebut ke Instagram dengan kata lain untuk memperlihatkan
kemesraan mereka. Pada kenyataannya mereka tidak seromantis itu, karena setelah
itu si suami menyuruh istrinya keluar kamar karena mengganggunya yang tengah
asyik nonton. Ada pula sekelompok anak muda yang tengah hendak makan di
restoran. Tetapi, semuanya sibuk memainkan ponsel mereka. Benar-benar sibuk.
Lalu, datang seorang pelayan, pelayan tersebut diminta megambil foto mereka
berempat untuk nantinya mereka share dengan caption quality time padahal
setelah gambar diambil, mereka kembali sibuk dengan gadget mereka lagi. Sama
sekali tak ada satupun dari mereka yang bertukar cerita. Selain itu, ada pula
seorang pria yang tengah ingin self-mirror atau mengambil foto dengan
bercermin, tetapi karena ia merasa kemejanya kurang oke maka ia mengganti
kemejanya berkali-kali mungkin juga berjam-jam hanya untuk mendapatkan hasil
foto yang terbaik. Ada pula seorang wanita yang ingin memamerkan deretan
giginya, sebelum berfoto ia sempatkan dulu untuk sikat gigi.
Di dalam video
terlihat juga seorang pria yang ingin mendapatkan komentar “hot”. Malam itu ia
tengah ada di rumahnya, duduk di sofa, lalu tiba-tiba berganti busana, merias
wajahnya, memakai bulu mata palsu, dan memasang wig di kepalanya. Ia berdandan
ala wanita, tetapi wanita dengan ekspresi hot. Lalu ia selfie dan dibagikannya
ke instagram. Mendapat banyak like dan komentar membuatnya terpingkal-pingkal
sendiri di sofa, lalu ia membuka riasan dan wignya. Hal yang terakhir yang saya
ingat, ada seorang pegawai wanita yang memiliki meja kerja yang berantakan,
tetapi karena ia ingin memoto mejanya, maka disusunnya dengan sangat rapi.
Saya banyak
belajar dari video yang pelajarannya cukup tersirat ini. Sayangnya, pengendalian
diri kita terhadap social media rasanya masih sangat kurang. Khususnya seperti
saya yang menurut saya pribadi ini sudah menjadi candu, dengan tekad suatu saat
bisa berhenti dari ketergantungan ini. Tetapi, untuk menulis di blog tidak bisa
saya tinggalkan. Ini menjadi salah satu sarana untuk menyalurkan hati dan
pikiran saya.
Saya pernah
membaca postingan seseorang bahwa skill dasar wanita adalah menulis, karena
emosi yang dipendam dan tidak disalurkan akan rentan membuat kita menjadi kasar
dan emosional. Jadi, selamat menulis! Selamat menyalurkan isi hati dan pikiran!
:)
well, i feel the same way. kehidupan online mau gimanapun semuanya fana. it's fake, sometimes. dan, ya. kita ga bisa menghindar dari itu karena orang2 ga berkeinginan sama kaya lo. kalo gua boleh pilih, jujur gw lebih milih pake hape biasa yang bisa nelepon sama sms. i tried it sooo many times, kayak nyobain copot kartu internet dari hape dan ga berkutat dengan internet dan sosial media. and yeah. susah. atau udah berkali kali temporary deleted my instagram account, tapi akhirnya gw aktifin lagi karena yaaa entah mengapa. kaya suatu ketergantungan gitu.
BalasHapusdan lo tau, gw delete tumblr gua hari ini:') because, damn! it's all just about my fuckin bad feeling. such a negativity thoughts. and yeah. i deleted it. muak gua liatnya:')
dan yeah, kehidupan online seems kinda like interesting to me before, tapi sekarang gatau kenapa udah muak, gasuka. tapi ya tadi udah ketergantungan:') so yeah just let's see what will happen next:)
nice post, btw.
aku juga punya hp senter2 gitu wkwk, tapi malah jadi sama sekali gak terpakai. aku make itu untuk menjaga nomorku agar tetap aktif untuk nomor WA dan privasi berbagai akun, problemnya adalah karena nomor internet harus gonta ganti karena smartphoneku hanya bisa diisi satu sim. hp senter2nya malah jarang dipakai, kasihan.*malah curhat*
Hapussulit sekali melepaskan diri dari social media, karena di sisi lain di sosmed juga banyak hal-hal positif yang dishare oleh orang-orang baik. hampir setiap pelajaran yang didapakan karena dari hasil membaca pesan status atau caption orang lain. kembali ke diri kitanya, mau mengonsumsi hal baik atau buruk dari social media. :) intinya, kita sendiripun berbagilah tentang hal-hal yang baik saja, hehe.