Ada saatnya aku
menghela nafas,
Ketika aku
melihatmu berbahagia,
Semestinya ada
bahagia juga yang menderaku.
Tetapi,
bagaimana mungkin aku bahagia,
Ketika kau
bahagia akan sesuatu yang salah?
Kau gelisah
melihat jam di pergelangan tanganmu,
Piring dan
sendokku masih beradu,
Makananmu masih
tersisa,
Namun, kau
bilang kau sudah kenyang.
Aku memberanikan
diri memulai percakapan,
“Ada apa?”
tanyaku.
“Dia sakit.” Jawabmu.
“Oh, jadi hari
ini kalian tidak bertemu?”
“Paling nanti
malam, makan malam bareng.”
Aku menghela
nafas.
Kali ini, aku
tak akan berpura-pura bahagia lagi atas itu.
Aku menghela
nafas.
“Balik, yuk!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar