08/09/17

Cerita Hati



Siang itu sehabis makan lotek bu Bagyo, kami berencana shalat Zuhur di mall sekalian menemani Aul beli kado untuk someone-nya. Ya, dampak kampus tetanggaan sama mall. Sekalian juga godain Dipo untuk flashback semalam ketika dia jalan sama someone-nya di mall ini.

“Dip, kamu semalam makan di mana?” kami bertanya sambil cekikikan begitu masuk ke mall.
“Terus kalian nonton apa semalam?” masih dengan cekikikan. Berujung pada Fati ikut membahas someone-nya. Diakhiri dengan tawa atas percakapan saya dan Rieli yang memang kebetulan tidak punya someone. Hehe.

Jadi, tingkah saya dan Rieli langsung mengalihkan wajah ketika pembahasan itu dimulai. Lalu tiba-tiba kami saling lirik. Dan dia ketawa.
“Kenapa kamu, Riel?” kata saya, juga dengan tawa.
“Kamu sih, Nin, ngelirik akunya kayak gitu.” Kata dia, masih tertawa.
“Lah, aku kenapa, Riel?” saya masih tertawa juga.

Sebenarnya, kami berdua menertawai diri kami sendiri. Yang lain sibuk bahas doi nya masing – masing, kami malah salah tingkah karena tidak tahu mau cerita apa.

Kadang, kalau yang lain cerita begitu, suka terbayang – bayang juga tentang hari – hari di masa depan nanti. Saya agak membimbangkan hal ini, bagaimana rasanya ketika ada orang lain di kamar kamu? Ada orang lain yang kamu lihat tiap bangun dan mau tidur? Ada orang lain yang makan di meja yang sama dengan kamu? Duduk di sofa menonton televisi bersama kamu?

Saya membimbangkan ketika ada seseorang yang menolak kamu untuk mandiri. Maksudnya, ia hadir, dan kehadirannya membuat kita merasa terbantu, merasa ditemani, padahal selama ini kita bisa melakukan apa – apa sendiri, tanpa perlu ditemani, sudah bahagia bisa menikmati hidup sendiri. Lalu dia datang, apa – apanya mesti berbagi dengan dia. Ya, kadang ada kekhawatiran – kekhawatiran timbul perasaan ganjil. Tetapi, sebenarnya ia telah menggenapkan.

Bagaimana perasaan campur aduk itu?

Di tengah membayangkan seperti itu, saya disentak keras oleh sebuah tulisan dari blog salah seorang teman saya.

Isi blognya dengan judul “Tentang Akhwat Sang Pembela Hati” berbunyi..

Sudah dari sananya memang jika akhwat --perempuan-- diciptakan dengan perasaan lembut penuh cinta. Tentu ada baiknya jika yang dicinta merasa, halal yang kau terima?

Pemikiran seperti ini 'banyak sekali' terlintas oleh mereka yang sisi kanan, mereka yang membatasi diri (bahkan terkekang mungkin tepatnya?) sampai keridhoan menjemputnya namun, ke-kebelet-an yang mungkin mereka hasratkan --sekali lagi, karena mereka butuh cinta--. Mungkin sebagian setuju bahwa mereka yang membatasi diri harus terus mengekspresikan bahwa mereka ini butuh apa yang disebut cinta, jadi segala hal yang berbau itu mereka tanggapi penuh dengan rasa tanya. Antusias, bukan kah itu yang terlihat? Opini yang mereka buat pun rasanya terlalu sensitif untuk hal ini. Rasa-rasanya kehidupannya hanya untuk membela akan datangnya sang penambat hati.

Ukhti; hidupmu bukan hanya untuk memanjakan hati, bukan juga untuk terus mengabari bagaimana kabar hati, bahkan bukan pula untuk mengeluh akan kekosongan hati. Mengais minta diisi, bermunajat seorang diri dengan embel-embel cinta sang ilahi. Katamu, menjauhkan zina lebih terhormat dari yang melakukannya, tapi apa tidak lebih terhormat lagi jika kalian tidak menyinggungnya secara terus-menerus berharap sang pemuja datang silih berganti, menatap pandangmu penuh ketakjuban akan keridhoanmu? Bukankah ini yang sebenarnya kau pikirkan, akhwat shalihah penuh dengan batasan. Kadang heran bagaimana keintensitasan antusias kalian pada hal di luar ini kau begitu minim, kalian hiraukan, tapi bagaimana pun juga harus hati yang kalian prioritaskan. Seakan-akan mereka yang sudah dijemput surga akhiratnya menjadi panutan untuk terus dipuja-puja sedangkan, pembela negara sedikit pun tidak kalian toleh bukan?

Padamu, berkembang otak yang perlu diisi dan raga yang perlu ditegakkan, bukan hati yang perlu kalian prioritaskan. (Oleh Sumayyah, ditulis di Jakarta pada Jum’at, 2 Juni 2017)

Ya Allah.

Jika memang mungkin jatuh cinta bisa direncanakan,

Saya ingin merencanakan.

Tetapi, sebaik-baik rencana, adalah selalu rencana milik-Mu.

Saya, hanya bisa menyimpannya sendiri.

Terima Kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar