Siang itu
sehabis makan lotek bu Bagyo, kami berencana shalat Zuhur di mall sekalian
menemani Aul beli kado untuk someone-nya. Ya, dampak kampus tetanggaan sama
mall. Sekalian juga godain Dipo untuk flashback semalam ketika dia jalan sama
someone-nya di mall ini.
“Dip, kamu
semalam makan di mana?” kami bertanya sambil cekikikan begitu masuk ke mall.
“Terus kalian
nonton apa semalam?” masih dengan cekikikan. Berujung pada Fati ikut membahas
someone-nya. Diakhiri dengan tawa atas percakapan saya dan Rieli yang memang
kebetulan tidak punya someone. Hehe.
Jadi, tingkah
saya dan Rieli langsung mengalihkan wajah ketika pembahasan itu dimulai. Lalu tiba-tiba
kami saling lirik. Dan dia ketawa.
“Kenapa kamu,
Riel?” kata saya, juga dengan tawa.
“Kamu sih, Nin,
ngelirik akunya kayak gitu.” Kata dia, masih tertawa.
“Lah, aku
kenapa, Riel?” saya masih tertawa juga.
Sebenarnya, kami
berdua menertawai diri kami sendiri. Yang lain sibuk bahas doi nya masing –
masing, kami malah salah tingkah karena tidak tahu mau cerita apa.
Kadang, kalau
yang lain cerita begitu, suka terbayang – bayang juga tentang hari – hari di
masa depan nanti. Saya agak membimbangkan hal ini, bagaimana rasanya ketika ada
orang lain di kamar kamu? Ada orang lain yang kamu lihat tiap bangun dan mau
tidur? Ada orang lain yang makan di meja yang sama dengan kamu? Duduk di sofa
menonton televisi bersama kamu?
Saya membimbangkan
ketika ada seseorang yang menolak kamu untuk mandiri. Maksudnya, ia hadir, dan
kehadirannya membuat kita merasa terbantu, merasa ditemani, padahal selama ini
kita bisa melakukan apa – apa sendiri, tanpa perlu ditemani, sudah bahagia bisa
menikmati hidup sendiri. Lalu dia datang, apa – apanya mesti berbagi dengan
dia. Ya, kadang ada kekhawatiran – kekhawatiran timbul perasaan ganjil. Tetapi,
sebenarnya ia telah menggenapkan.
Bagaimana perasaan
campur aduk itu?
Di tengah
membayangkan seperti itu, saya disentak keras oleh sebuah tulisan dari blog
salah seorang teman saya.
Isi blognya dengan
judul “Tentang Akhwat Sang Pembela Hati” berbunyi..
Sudah dari
sananya memang jika akhwat
--perempuan-- diciptakan dengan perasaan
lembut penuh cinta. Tentu ada baiknya jika yang dicinta merasa, halal yang kau
terima?
Pemikiran
seperti ini 'banyak sekali' terlintas oleh mereka yang sisi kanan, mereka yang
membatasi diri (bahkan terkekang mungkin tepatnya?) sampai keridhoan
menjemputnya namun, ke-kebelet-an
yang mungkin mereka hasratkan --sekali lagi,
karena mereka butuh cinta--. Mungkin sebagian setuju bahwa mereka yang
membatasi diri harus terus mengekspresikan bahwa mereka ini butuh apa yang
disebut cinta, jadi segala hal yang berbau itu mereka tanggapi penuh dengan
rasa tanya. Antusias, bukan kah itu yang terlihat? Opini yang mereka buat pun
rasanya terlalu sensitif untuk hal ini. Rasa-rasanya kehidupannya hanya untuk
membela akan datangnya sang penambat hati.
Ukhti;
hidupmu bukan hanya untuk memanjakan hati, bukan juga untuk terus mengabari
bagaimana kabar hati, bahkan bukan pula untuk mengeluh akan kekosongan hati.
Mengais minta diisi, bermunajat seorang diri dengan embel-embel cinta sang
ilahi. Katamu, menjauhkan zina lebih terhormat dari yang melakukannya, tapi apa
tidak lebih terhormat lagi jika kalian tidak menyinggungnya secara
terus-menerus berharap sang pemuja datang silih berganti, menatap pandangmu
penuh ketakjuban akan keridhoanmu? Bukankah ini yang sebenarnya kau pikirkan,
akhwat shalihah penuh dengan batasan. Kadang heran bagaimana keintensitasan
antusias kalian pada hal di luar ini kau begitu minim, kalian hiraukan, tapi
bagaimana pun juga harus hati yang kalian prioritaskan. Seakan-akan mereka yang
sudah dijemput surga akhiratnya menjadi panutan untuk terus dipuja-puja
sedangkan, pembela negara sedikit pun tidak kalian toleh bukan?
Padamu,
berkembang otak yang perlu diisi dan raga yang perlu ditegakkan, bukan hati
yang perlu kalian prioritaskan. (Oleh Sumayyah, ditulis di Jakarta pada Jum’at,
2 Juni 2017)
Ya Allah.
Jika memang
mungkin jatuh cinta bisa direncanakan,
Saya ingin
merencanakan.
Tetapi,
sebaik-baik rencana, adalah selalu rencana milik-Mu.
Saya, hanya bisa
menyimpannya sendiri.
Terima Kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar