Hari ini,
Ketika diberi nafas
untuk bisa menikmati kampung halaman,
Mendengar suara takbir
yang menggema,
Bersiap-siap menunggu
bagian daging yang sebentar lagi tiba,
Dengan berseri-seri
memikirkan kiranya akan dimasak apa,
Sembari menunggu, televisi
menyala,
Puluhan film dalam
laptop bisa dinikmati kapanpun,
Pun novel, terserah
kapan saja ingin dibuka lembar demi lembarnya,
Memilah – milih playlist
hendak memutar lagu apa,
Sesekali tersenyum dan
tertawa, bercanda dengan para saudara,
Rasanya tak ada apa-apa,
Tak ada yang genting
yang terjadi.
Sementara itu,
Di waktu yang sama,
Namun di belahan bumi
lain,
Ketentraman yang
dirasakan di sini hanyalah imajinasi di sana,
Rumah – rumah dibakar
tanpa belas kasihan,
Wanita diperkosa, pria
dan anak-anak dibantai tanpa perasaan,
Kelaparan, kepanikan,
memikirkan bagaimana cara mempertahankan,
Katanya tak ada harapan,
Satu – satunya jalan,
Hanyalah menuju ke
perbatasan,
Pun itu bila diterima
warga negara lainnya.
Muslim Rohingya,
Tolong maafkan kami,
Yang masih sibuk
dengan diri sendiri,
Lebih lama di depan televisi,
Ketimbang menengadahkan
tangan mendoakan.
Tolong Maafkan kami,
Hanya mampu
menyaksikan kepedihan ini diantara gadget-gadget kami,
Namun larut juga dalam
iklan-iklan yang tak kalah menghebohkan,
Atau hal-hal viral
yang sebenarnya tak perlu diviralkan.
Tolong maafkan kami,
Sebab kami hanya
manusia yang seolah-olah berbeda bumi dengan kalian,
Seolah-olah otak kami
tak sampai memikirkan cara menjangkau kalian,
Bahkan luka-luka di
tubuh itu hanya sesaat menyayat di dada kami, selepas itu pergi entah kemana.
Tolong maafkan kami,
Semoga Allah mengganti
kepedihanmu dengan Surga-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar