Saya berharap
teman-teman saya memberi pengertian yang lebih teruntuk saya di bulan ini. Mungkin
terlihat sedikit tidak bertanggungjawab. Saya sadar, saya salah di awal, begitu
egois menyanggupi mengambil dua peran. Sebenarnya saya ingin melepas peran yang
satunya, tetapi rupanya di sana sudah terjadi keterikatan. Saya tidak bisa
pergi begitu saja.
Saya berharap
teman-teman tidak berpikir bahwa saya meremehkan hal ini. Sudah banyak sekali
hal yang saya tinggalkan di bulan ini untuk tercapainya satu hal yang sudah
saya kejar sejak tiga tahun silam dan bulan ini adalah bulan terakhir dari itu
semua, meski ke depannya perjuangan saya akan lebih panjang dan berat lagi.
Bahkan pada
bulan ini pekerjaan saya sempat diambil alih oleh ya bisa dikatakan bos saya
karena saya perlu fokus pada satu hal yang menurut saya berdampak jangka
panjang, karena ternyata ada “bekerja untuk keabadian” yang lain selain dari “menulis”.
Saya tidak bisa
merelakan waktu saya yang bisa saya gunakan untuk keabadian, justru malah saya
gunakan untuk hal yang lebih duniawi. Saya tidak melakukan itu, saya berpikir
lebih baik di luar sana orang-orang berpikir buruk tentang saya, daripada saya
harus mengikuti mereka dan meninggalkan tujuan yang lebih abadi, lebih baik
saya merelakan waktu saya lepas dari hal-hal duniawi untuk sementara waktu. Karena
saya tidak tahu seberapa panjang umur saya, seberapa banyak kesempatan saya,
maka saat umur dan kesempatan itu datang saya akan memusatkan perhatiaan saya
untuk hal yang satu itu.
Banyak sekali
tanggungjawab yang saya tinggalkan untuk sementara waktu, banyak sekali waktu
yang yang saya relakan untuk tidak bergabung dengan teman-teman, tidak datang
ke acara-acara seru muda-mudi di kota, dan hal-hal lain yang ingin saya
lakukan. Lantas mengapa saya selalu saja sempat menuliskan seperti ini? Karena ini
sungguh melegakan, menghilangkan ketegangan saya untuk sementara waktu.
Pada akhirnya saya
percaya, ketika saya fokus, saya bisa meraih satu hal itu kemudian setelahnya
saya akan berusaha bertanggungjawab atas semua urusan dan pekerjaan saya.
Saya tidak tahu
apa yang dipikirkan orang-orang di luar sana tentang saya, satu-satunya cara
saya agar tetap fokus adalah berprura-pura tidak peduli dengan semua omongan yang datang.
Saya akan
memberanikan diri merogoh kantong saya sendiri untuk membayar waktu yang hilang
saat saya tidak bersama teman-teman, tidak bisa solid dalam tim, dan lain
halnya. Saya akan mengeluarkan harta-harta yang saya punya untuk membayar waktu
di dunia yang hanya singkat ini. Karena waktu yang saya punya amat berharga dan
dalam waktu ini saya perlu menggunakannya untuk mencapai tujuan keabadian.
Mungkin pembaca
tidak begitu paham, tetapi yang ingin berusaha saya katakan adalah gunakan
waktu dengan sebaik-baik yang diprioritaskan. Jikalau keabadiaan lebih menarik
untuk saya, maka saya memilih untuk membayar dunia, yang penting keabadiaan
bisa saya peroleh. Waktu lebih berharga dari
hal-hal yang kita sering pikir lebih berharga.
Waktu saya juga
terlalu berharga jika hanya untuk mendengarkan omongan-omongan yang tidak ingin
saya dengarkan. Terima kasih untuk tema-teman yang menaruh pengertian teramat
besar terhadap saya, yang benar-benar tahu saya seperti apa, kesibukan saya bagaimana,
yang selalu bersabar dengan kepergian saya, dengan ketidakhadiran saya, yang
selalu menunggu saya datang dan bergabung, terima kasih banyak hingga saya bisa
berada di tahap ini, di tahap tercapainya keinginan saya sejak beberapa tahun
yang lalu. Barakallah.
“Yaa Rabb, berkahi dan sayangilah mereka
yang senantiasa membersamaiku sepanjang perjalanan ukhwah ini, sepanjang
perjalanan cinta ini. Berkahilah mereka yang senantiasa meringankan bebanku,
menasehati kelakuanku, bersabar menungguku, sabar dalam berteman denganku, ikut
berbahagia atas kebahagiaanku, ikut bersedih atas lukaku. Aamiin.”
//Yogyakarta, 21
Juli 2018//
Tidak ada komentar:
Posting Komentar