21/07/18

Welcome Back on Instagram!


Tepat satu bulan saya berusaha menghentikan kecanduan saya terhadap sosial media bernama instagram. Kini kembali saya aktifkan dengan maksud tetap belajar berusaha menghentikan kecanduan saya dengan kondisi yang lebih menantang, yakni posisi akun terlog in pada ponsel di tangan. Ini menarik untuk dicoba ketimbang saat saya menutup akun saya.

Pada hari pertama akun saya hilang, empat orang mengirim pesan via WhatsApp tentang kemana perginya akun saya. Banyak yang merasa aneh dan berharap saya kembali. Terpikir, apakah story yang saya buat berguna? Berpengaruh untuk hidupnya? Atau apa, ya?

Dibandingkan twitter, instagram lebih banyak terbawa dalam pikiran karena suatu gambar bisa menimbulkan beribu macam asumsi dan prasangka. Sebuah teori buatan sendiri yang dikemukakan oleh teman saya ketika saya mengatakan bahwa ketika bermain instagram, pikiran jadi lebih penuh karena terpikir oleh apa-apa yang sudah dilihat sepanjang timeline dan story, esensi dari sosal media ya itu, memberi kita banyak informasi sampai akhirnya bikin jadi kepikiran, begitu teorinya teman saya. Saran dia untuk saya adalah cukup membatasi saja, itulah di sana sulitnya bagi saya. Teman yang lain mengatakan bahwa tidak apa-apa kecanduan selama kecanduan konten-konten yang baik kenapa harus meninggalkan instagram?

Dan lihat, apa yang saya peroleh ketika selama satu bulan pergi dari dunia perinstagraman? Saya berhasil menyelesaikan satu setengah buku, hal yang jarang yang saya bisa lakukan dengan waktu satu bulan ditambah rutinitas yang padat setiap harinya. Faktor lainnya juga karena bukunya menarik. Sebab di sini ada kebiasaan yang berubah, yakni setiap sebelum tidur mengganti kebiasaan berhp-ria dengan berbuku-ria hingga ngantuk.

Kalau ditanya soal kuota? Tidak main-main, terhitung selama tiga minggu, saya hanya menghabiskan kuota sekitar 700 MB. Saya bukan tipe orang yang senang nonton youtube channelnya orang-orang, atau yang memakan kuota lainnya. Kuota saya hanya habis untuk WhatsApp, sedikit line, sedikit twitter, dan tentu google. Saya hobi googling karena banyak sekali hal yang saya tidak ketahui, HAHAHA. Dan tentunya untuk tetring ke laptop agar bisa blogging.

Sejujurnya, saya tidak benar-benar meninggalkan dunia instagram selama sebulan itu. Saya punya akun lain yang dimana khusus untuk follow akun-akun tertentu dan untuk beli sesuatu di online shop yang notabene katalognya lebih mudah di lihat di instagram, intinya buat hal-hal penting semacam itu saja. Dan satu hal lagi, karena ada orang-orang tertentu yang harus saya hubungi tetapi saya tidak tahu kontak mereka, dan saya berhasil menemukan akun instagramnya. Kadang saya heran juga dengan kemampuan yang satu ini, maksudnya betapa semudah itu mencari seseorang di instagram. Sebenarnya tidak mudah juga sih, butuh stalking sana-sini. Setelah hampir sebulan, cara saya membuahkan hasil karena orang tersebut akhirnya membalas pesan saya. Masih ada orang lainnya yang harus segera saya temukan, semoga berhasil juga.

Jadi, teman-teman tetap berusaha ya jika masih punya urusan, misal hutang atau apapun itu, semoga Allah memudahkan kalian untuk menemukan orang-orang yang lost contact dalam hidup kalian sementara ada urusan-urusan yang kalian pikir tidak penting dan tak perlu dicari sejauh itu, justru kelak nanti di akhirat teman-teman diminta pertanggungjawabannya untuk urusan sekecil apapun, bahkan ayat terpanjang daam Al-Qur’an adalah tentang hutang piutang. Barangkali saya masih punya hutang, tolong datang dan tanyakan saya, ya. Barakallah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar