Tepat satu bulan
saya berusaha menghentikan kecanduan saya terhadap sosial media bernama
instagram. Kini kembali saya aktifkan dengan maksud tetap belajar berusaha
menghentikan kecanduan saya dengan kondisi yang lebih menantang, yakni posisi
akun terlog in pada ponsel di tangan. Ini menarik untuk dicoba ketimbang saat
saya menutup akun saya.
Pada hari
pertama akun saya hilang, empat orang mengirim pesan via WhatsApp tentang
kemana perginya akun saya. Banyak yang merasa aneh dan berharap saya kembali. Terpikir,
apakah story yang saya buat berguna? Berpengaruh untuk hidupnya? Atau apa, ya?
Dibandingkan twitter,
instagram lebih banyak terbawa dalam pikiran karena suatu gambar bisa menimbulkan
beribu macam asumsi dan prasangka. Sebuah teori buatan sendiri yang dikemukakan
oleh teman saya ketika saya mengatakan bahwa ketika bermain instagram, pikiran
jadi lebih penuh karena terpikir oleh apa-apa yang sudah dilihat sepanjang timeline
dan story, esensi dari sosal media ya
itu, memberi kita banyak informasi sampai akhirnya bikin jadi kepikiran,
begitu teorinya teman saya. Saran dia untuk saya adalah cukup membatasi saja,
itulah di sana sulitnya bagi saya. Teman yang lain mengatakan bahwa tidak apa-apa
kecanduan selama kecanduan konten-konten yang baik kenapa harus meninggalkan
instagram?
Dan lihat, apa yang
saya peroleh ketika selama satu bulan pergi dari dunia perinstagraman? Saya berhasil
menyelesaikan satu setengah buku, hal yang jarang yang saya bisa lakukan dengan
waktu satu bulan ditambah rutinitas yang padat setiap harinya. Faktor lainnya
juga karena bukunya menarik. Sebab di sini ada kebiasaan yang berubah, yakni
setiap sebelum tidur mengganti kebiasaan berhp-ria dengan berbuku-ria hingga
ngantuk.
Kalau ditanya
soal kuota? Tidak main-main, terhitung selama tiga minggu, saya hanya menghabiskan
kuota sekitar 700 MB. Saya bukan tipe orang yang senang nonton youtube
channelnya orang-orang, atau yang memakan kuota lainnya. Kuota saya hanya habis
untuk WhatsApp, sedikit line, sedikit twitter, dan tentu google. Saya hobi
googling karena banyak sekali hal yang saya tidak ketahui, HAHAHA. Dan tentunya
untuk tetring ke laptop agar bisa blogging.
Sejujurnya, saya
tidak benar-benar meninggalkan dunia instagram selama sebulan itu. Saya punya
akun lain yang dimana khusus untuk follow akun-akun tertentu dan untuk beli
sesuatu di online shop yang notabene katalognya lebih mudah di lihat di
instagram, intinya buat hal-hal penting semacam itu saja. Dan satu hal lagi,
karena ada orang-orang tertentu yang harus saya hubungi tetapi saya tidak tahu
kontak mereka, dan saya berhasil menemukan akun instagramnya. Kadang saya heran
juga dengan kemampuan yang satu ini, maksudnya betapa semudah itu mencari
seseorang di instagram. Sebenarnya tidak mudah juga sih, butuh stalking
sana-sini. Setelah hampir sebulan, cara saya membuahkan hasil karena orang
tersebut akhirnya membalas pesan saya. Masih ada orang lainnya yang harus
segera saya temukan, semoga berhasil juga.
Jadi, teman-teman
tetap berusaha ya jika masih punya urusan, misal hutang atau apapun itu, semoga
Allah memudahkan kalian untuk menemukan orang-orang yang lost contact dalam hidup
kalian sementara ada urusan-urusan yang kalian pikir tidak penting dan tak
perlu dicari sejauh itu, justru kelak nanti di akhirat teman-teman diminta
pertanggungjawabannya untuk urusan sekecil apapun, bahkan ayat terpanjang daam
Al-Qur’an adalah tentang hutang piutang. Barangkali saya masih punya hutang, tolong
datang dan tanyakan saya, ya. Barakallah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar