Saya pikir
numpang hidup di era kini, sulit menemukan kesederhanaan yang jujur, berdiri di
tengah-tengah kemewahan yang seperti tanpa batas, begitu yang banyak orang
lihat dan saksikan.
Sore itu, saya
baru saja hendak pulang dari bersilaturrahmi ke rumah seorang pengusaha,
sayup-sayup suara adzan Maghrib terdengar, di antara genting-genting rumah,
melesat cepat ke langit, melewati ladang-ladang sawah, sesekali bertabrakan
dengan suara deru motor yang lewat dan juga, ah ini! Suara anak tetangga yang
datang memanggil-manggil anak si pemilik rumah.
Dengan percaya
diri sembari berteriak mengajak untuk pergi shalat Maghrib berjamaah di masjid
dengan celana pendek dan sarung yang terikat melingkar di pinggangnya, dikayuh
pula sepeda yang telah menjadi temannya sehari-hari itu.
Anak kecil yang
bapaknya seorang pengusaha besar itu keluar dari rumahnya yang bak istana. Ia
keluar dengan penampilan anak kecil sejujur-jujurnya. Juga sama dengan anak
tetangga tadi, ia keluar dengan sepedanya dan sarung melingkar di pinggangnya.
Saya pikir, sekarang ini sang bocah masih dalam kesederhanaannya karena usianya
yang belum pantas mengendarai sepeda bermesin itu. Tetapi, teringat saya
kemudian pada suatu kali dulu sekali, sebuah percakapan yang tak bisa saya lupa
hingga kini.
Suatu kali
karena suatu kondisi, saya duduk-duduk di sebuah pendopo. Kala itu seorang anak
kecil – yang saya ketahui salah satu keturunan Sultan, berusia sekitar tujuh
tahun, tetapi nampak pandai dan lincah memainkan laptop di pendopo, kala itu
bersama saya.
Di sekitar
pendopo itu, halamannya masih luas, di sekelilingnya dipagari, tempat itu lebih
pantas disebut sebuah markas dengan pintu masuk yang tidak terlalu mencolok
dari luar. Tanah itu benar luas di tengah-tengah kota dan barangkali memang
membuat saya percaya bahwa si empunyanya adalah keluarga Sultan. Meski bangunan
itu begitu sepi, namun mobil-mobil mewah dan classic berjejer memenuhi halaman
dan teras-teras besar rumah itu. Kebanyakan dari kendaraan-kendaraan yang ada
adalah kendaraan tempoe doeole, meski begitu terlihat masih berfungsi dan
mengkilap pertanda rajin dirawat dengan baik.
Tibalah malam
hari, saya masih ada di sana. Sesosok pemuda dalam balutan seragam SMA – yang saya
ketahui juga masih keturunannya Sultan itu, baru saja pulang. Mungkin jika di
dalam drama, ia adalah si pangeran. Tetapi, sepertinya juga bukan. Saya tidak
tahu tepatnya status apa yang di sandangnya di dalam sana. Hanya saja beberapa
orang di sana – yang lagi-lagi saya tidak ketahui statusnya apa di sana, entah
penjaga keamaan, asisten rumah tangga, atau tukang kebunnya, terlihat melayani
dia dan terlihat hormat.
Tampan dan
tinggi, jelas. Itu yang terlihat di bawah remang-remang lampu di teras pendopo.
Ia masuk tanpa memedulikan orang-orang yang ada di sana. Jelas, melihat ke arah
saya juga tidak. Tidak berapa lama setelah masuk, ia keluar lagi dengan seragam
basketnya.
“Ikut yok!”
serunya pada bocah cilik yang sedari tadi menemani saya bercakap-cakap.
“Kemana, Mas?”
Tanya bocah itu.
“Basket.”
Jawabnya.
Sang adik
menolak.
“Mau pakai mobil
yang mana, Mas?” Tanya bapak yang melayaninya tadi, yang tak kutahu statusnya
apa. Mungkin ia seperti seorang Darsam seperti dalam novel-novel sejarah, orang
yang menjadi orang kepercayaan tuannya.
Pemuda itu nampak
tidak peduli dan hendak berlalu sembari berkata, “Naik sepeda saja.”
Disambarnya
sepedanya, tanpa banyak bicara ia sudah menjauh, lalu menghilang dalam pekatnya
malam.
Entah mengapa
malam itu saya merasakan ada kesederhanaan yang menyelinap di tengah-tengah
kemegahan yang nampak di mata, lantas kesederhanaan itu mendominasi hingga
terus saja teringat dalam memori.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar