10/07/18

Kesederhanaan Mendominasi


Saya pikir numpang hidup di era kini, sulit menemukan kesederhanaan yang jujur, berdiri di tengah-tengah kemewahan yang seperti tanpa batas, begitu yang banyak orang lihat dan saksikan.

Sore itu, saya baru saja hendak pulang dari bersilaturrahmi ke rumah seorang pengusaha, sayup-sayup suara adzan Maghrib terdengar, di antara genting-genting rumah, melesat cepat ke langit, melewati ladang-ladang sawah, sesekali bertabrakan dengan suara deru motor yang lewat dan juga, ah ini! Suara anak tetangga yang datang memanggil-manggil anak si pemilik rumah.

Dengan percaya diri sembari berteriak mengajak untuk pergi shalat Maghrib berjamaah di masjid dengan celana pendek dan sarung yang terikat melingkar di pinggangnya, dikayuh pula sepeda yang telah menjadi temannya sehari-hari itu.

Anak kecil yang bapaknya seorang pengusaha besar itu keluar dari rumahnya yang bak istana. Ia keluar dengan penampilan anak kecil sejujur-jujurnya. Juga sama dengan anak tetangga tadi, ia keluar dengan sepedanya dan sarung melingkar di pinggangnya. Saya pikir, sekarang ini sang bocah masih dalam kesederhanaannya karena usianya yang belum pantas mengendarai sepeda bermesin itu. Tetapi, teringat saya kemudian pada suatu kali dulu sekali, sebuah percakapan yang tak bisa saya lupa hingga kini.

Suatu kali karena suatu kondisi, saya duduk-duduk di sebuah pendopo. Kala itu seorang anak kecil – yang saya ketahui salah satu keturunan Sultan, berusia sekitar tujuh tahun, tetapi nampak pandai dan lincah memainkan laptop di pendopo, kala itu bersama saya.

Di sekitar pendopo itu, halamannya masih luas, di sekelilingnya dipagari, tempat itu lebih pantas disebut sebuah markas dengan pintu masuk yang tidak terlalu mencolok dari luar. Tanah itu benar luas di tengah-tengah kota dan barangkali memang membuat saya percaya bahwa si empunyanya adalah keluarga Sultan. Meski bangunan itu begitu sepi, namun mobil-mobil mewah dan classic berjejer memenuhi halaman dan teras-teras besar rumah itu. Kebanyakan dari kendaraan-kendaraan yang ada adalah kendaraan tempoe doeole, meski begitu terlihat masih berfungsi dan mengkilap pertanda rajin dirawat dengan baik.

Tibalah malam hari, saya masih ada di sana. Sesosok pemuda dalam balutan seragam SMA – yang saya ketahui juga masih keturunannya Sultan itu, baru saja pulang. Mungkin jika di dalam drama, ia adalah si pangeran. Tetapi, sepertinya juga bukan. Saya tidak tahu tepatnya status apa yang di sandangnya di dalam sana. Hanya saja beberapa orang di sana – yang lagi-lagi saya tidak ketahui statusnya apa di sana, entah penjaga keamaan, asisten rumah tangga, atau tukang kebunnya, terlihat melayani dia dan terlihat hormat.

Tampan dan tinggi, jelas. Itu yang terlihat di bawah remang-remang lampu di teras pendopo. Ia masuk tanpa memedulikan orang-orang yang ada di sana. Jelas, melihat ke arah saya juga tidak. Tidak berapa lama setelah masuk, ia keluar lagi dengan seragam basketnya.
“Ikut yok!” serunya pada bocah cilik yang sedari tadi menemani saya bercakap-cakap.
“Kemana, Mas?” Tanya bocah itu.
“Basket.” Jawabnya.
Sang adik menolak.
“Mau pakai mobil yang mana, Mas?” Tanya bapak yang melayaninya tadi, yang tak kutahu statusnya apa. Mungkin ia seperti seorang Darsam seperti dalam novel-novel sejarah, orang yang menjadi orang kepercayaan tuannya.

Pemuda itu nampak tidak peduli dan hendak berlalu sembari berkata, “Naik sepeda saja.”
Disambarnya sepedanya, tanpa banyak bicara ia sudah menjauh, lalu menghilang dalam pekatnya malam.


Entah mengapa malam itu saya merasakan ada kesederhanaan yang menyelinap di tengah-tengah kemegahan yang nampak di mata, lantas kesederhanaan itu mendominasi hingga terus saja teringat dalam memori.

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar