Alkisah ada seorang
anak laki-laki yang rajin ke masjid. Saking rajinnya ke masjid, setiap ada anak
perempuan yang menyukainya dan main ke rumahnya, ia selalu kabur ke masjid
dengan mengatakan pamit untuk shalat ke masjid, ia tak ingin menemui anak perempuan
yang main ke rumahnya.
Maka sampai
dewasa, tak seorang teman perempuannya yang pernah dibawanya ke rumah. Hingga
alkisah lagi di suatu hari ia mengatakan pada orangtuanya bahwa akan menikah.
Orangtuanya heran, “Kamu mau nikah sama siapa? Wong bawa perempuan ke rumah saja ndak pernah.”
“Ya, pokoknya
adalah.” Jawabanya percaya diri.
Hingga alkisah
lagi, ia membawa foto si calon istri ke rumah. Bapaknya heran dan bertanya,
“Kok cuma fotonya? Orangnya ndak dibawa
ke sini?”
“Ndak usahlah dibawa-bawa.” (belum muhrim
soalnya)
Hingga alkisah
lagi, mereka menikah. Esok paginya setelah hari pernikahan mereka, sang istri
membuat segelas susu untuk suaminya. Sayangnya karena mati lampu, sang istri
lupa memberi gula. Sang suami meminum, “Kok nggak manis, ya? Ya, enggak
apa-apalah, sekali-sekali minum susu enggak pakai gula.”
Begitulah
sepotong perjalanan kisah suami-istri yang karena keduanya, saya ada dan
menuliskan kisah keduanya.
//Yogyakarta, 17
Juli 2018//
Tidak ada komentar:
Posting Komentar