20/08/18

Mind of Us


“Who is your favorite person to do absolutely nothing? Your sibling, best friend, partner, or your ex-lover? What are you thoughts when you got to bed at night? Nothingness, your fear or disappointment, good things that happened that day or the love of your life who left you. How do you react towards bad dreams? Write them down in your journals that you carefully keep on your bedside table or you simply do not remember them. What are you thankful for? Your routines, your work, your best friend, your achievement, your time on your life.” – Lala Bohang

Apa yang ada dalam pikiran kita saat kita baru saja pulang, kembali di kamar kita, seorang diri, menuju tempat tidur lalu setelah itu hal-hal seperti apakah yang terpikir dalam benak kita?

Dalam benak saya, hari ini telah usai, saya telah pulang, kembali ke kamar, mngingat-ingat apa saja yang telah saya lakukan hari ini? Kadang, saya merasa tidak banyak melakukan hal bermanfaat, namun juga tetap bersyukur dengan setidaknya menemukan satu dua hal kecil yang bisa dikatakan bermanfaat untuk hari kedepannya.

Kembali saya dihentak pikiran sendiri bahwa begitu banyaknya rencana saya yang berantakan, jauh dari ekspetasi, berbagai prinsip yang seringnya tidak konsiten saya jalankan, banyak sekali yang jauh dari apa yang saya harapkan untuk diri saya. Sebab, seringkali di persimpangan jalan bertemu ini-itu, ditabrak oleh rencananya orang lain yang kemudian prinsip tenggelam karenanya. Pernah ingin menghentikan sesuatu bahkan menjauh, namun entah mengapa takdir membawa kembali, bahkan menarik-narik. Pernah ingin menghilang, tetapi ditakdirkan ada yang datang mencari. Pernah ingin sembunyi, tetapi selalu berhasil ditemukan. Pernah ingin lari, tetapi selalu berhasil terkejar. Pernah diam saja, namun diam-diam pula ada yang hadir. Pernah banyak sekali rencana tertata, tetapi satu langkah orang lain mengacaukan segalanya. Pernah ini, pernah itu, pernah ingin begini, pernah ingin begitu, lalu selalu disentak bahwa sebagai manusia, sejatinya hanya selalu bisa berencana, sedetik kemudianpun manusia tak punya kuasa mengetahui apa yang akan terjadi, termasuk segala prinsip dan keputusan yang kadang mengacaukan pikiran manusia itu sendiri, membuatnya tidak stabil, membuatnya kadang putus asa bahkan menyesali. Tetapi, bukankah takdir tuhan adalah sebaik-baik takdir? Tetapi, sebagai manusia pula seringnya saya bertanya mengapa ditakdirkan pada diri saya?


Bahkan di saat saya mengharapkan segala yang baik terhadap diri saya termasuk jati diri, budi pekerti, dan hal-hal yang tak bisa dilihat dengan mata manusia. Dan pikiran di hari ini tidak pernah lepas dari apa yang pernah berlalu pada lalu-lalu. Dan pikiran di hari ini selalu ditutup dengan kekalutan dan usaha menguatkan diri dengan kesadaran bahwa segala kuasa adalah milik-Nya. Dan pikiran di hari ini selalu ada sisi yang tak terelakkan bahwa terkadang kecewa pada diri sendiri yang membuat keputusan-keputusan dengan keenakan diri sendiri. Dan pikiran di hari ini membawa tangis dalam hati, yang mata pun tak sanggup menggapai. Hanya hambusan nafas kecil, tatapan penuh perenungan, pikiran kalut yang puncaknya akan hilang begitu pagi tiba.

Usai membersihkan diri, berwudhu, kemudian menatap diri sendiri di dalam cermin, saya bertanya dengan penuh kecewa pada bayang di cermin itu, “mengapa kau pernah melakukan itu?” sesuatu yang hatimu tak inginkan. Bayang itu dengan tatapan tak kalah kecewa hanya menggeleng, “aku tidak tahu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar