“Who is your favorite person to do
absolutely nothing? Your sibling, best friend, partner, or your ex-lover? What
are you thoughts when you got to bed at night? Nothingness, your fear or
disappointment, good things that happened that day or the love of your life who
left you. How do you react towards bad dreams? Write them down in your journals
that you carefully keep on your bedside table or you simply do not remember
them. What are you thankful for? Your routines, your work, your best friend,
your achievement, your time on your life.” – Lala Bohang
Apa yang ada
dalam pikiran kita saat kita baru saja pulang, kembali di kamar kita, seorang
diri, menuju tempat tidur lalu setelah itu hal-hal seperti apakah yang terpikir
dalam benak kita?
Dalam benak
saya, hari ini telah usai, saya telah pulang, kembali ke kamar, mngingat-ingat
apa saja yang telah saya lakukan hari ini? Kadang, saya merasa tidak banyak
melakukan hal bermanfaat, namun juga tetap bersyukur dengan setidaknya menemukan
satu dua hal kecil yang bisa dikatakan bermanfaat untuk hari kedepannya.
Kembali saya dihentak
pikiran sendiri bahwa begitu banyaknya rencana saya yang berantakan, jauh dari
ekspetasi, berbagai prinsip yang seringnya tidak konsiten saya jalankan, banyak
sekali yang jauh dari apa yang saya harapkan untuk diri saya. Sebab, seringkali
di persimpangan jalan bertemu ini-itu, ditabrak oleh rencananya orang lain yang
kemudian prinsip tenggelam karenanya. Pernah ingin menghentikan sesuatu bahkan
menjauh, namun entah mengapa takdir membawa kembali, bahkan menarik-narik.
Pernah ingin menghilang, tetapi ditakdirkan ada yang datang mencari. Pernah
ingin sembunyi, tetapi selalu berhasil ditemukan. Pernah ingin lari, tetapi
selalu berhasil terkejar. Pernah diam saja, namun diam-diam pula ada yang
hadir. Pernah banyak sekali rencana tertata, tetapi satu langkah orang lain
mengacaukan segalanya. Pernah ini, pernah itu, pernah ingin begini, pernah
ingin begitu, lalu selalu disentak bahwa sebagai manusia, sejatinya hanya
selalu bisa berencana, sedetik kemudianpun manusia tak punya kuasa mengetahui
apa yang akan terjadi, termasuk segala prinsip dan keputusan yang kadang
mengacaukan pikiran manusia itu sendiri, membuatnya tidak stabil, membuatnya
kadang putus asa bahkan menyesali. Tetapi, bukankah takdir tuhan adalah
sebaik-baik takdir? Tetapi, sebagai manusia pula seringnya saya bertanya
mengapa ditakdirkan pada diri saya?
Bahkan di saat
saya mengharapkan segala yang baik terhadap diri saya termasuk jati diri, budi
pekerti, dan hal-hal yang tak bisa dilihat dengan mata manusia. Dan pikiran di
hari ini tidak pernah lepas dari apa yang pernah berlalu pada lalu-lalu. Dan
pikiran di hari ini selalu ditutup dengan kekalutan dan usaha menguatkan diri dengan
kesadaran bahwa segala kuasa adalah milik-Nya. Dan pikiran di hari ini selalu
ada sisi yang tak terelakkan bahwa terkadang kecewa pada diri sendiri yang
membuat keputusan-keputusan dengan keenakan diri sendiri. Dan pikiran di hari
ini membawa tangis dalam hati, yang mata pun tak sanggup menggapai. Hanya
hambusan nafas kecil, tatapan penuh perenungan, pikiran kalut yang puncaknya akan
hilang begitu pagi tiba.
Usai
membersihkan diri, berwudhu, kemudian menatap diri sendiri di dalam cermin,
saya bertanya dengan penuh kecewa pada bayang di cermin itu, “mengapa kau
pernah melakukan itu?” sesuatu yang hatimu tak inginkan. Bayang itu dengan
tatapan tak kalah kecewa hanya menggeleng, “aku tidak tahu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar