Tubuh rehat
sejenak, mata menatap langit-langit kamar yang mungil. Dari celah fentilasi,
sedikit-sedikit ada kilau yang mengerling, rupanya cahaya bintang yang timbul
tenggelam, keberadaannya jauh tetapi seolah-olah memaksa untuk tetap disadari.
Melayang pulalah
pikir ini pada segenap orang-orang yang baik yang lalu-lalang dalam hidup yang
singkat ini. Mereka adalah orang-orang yang datang dengan aneka ragam
kebaikannya. Orang-orang baik yang rela membawakan orderan untuk saya saat
badai sekalipun, yang tidak pernah menyerah mengajak saya hunting di
tempat-tempat menarik, yang selalu mau menjadi kurir buku bagi saya, yang
senantiasa bahagia saat meminjamkan buku-bukunya untuk saya, yang panik dan
langsung datang begitu tahu saya jatuh sakit, yang membanggakan saya di depan
teman-temannnya, yang mau membantu saya dalam hal seremeh apapun sampai yang
sangat sulit, dan masih banyak orang-orang baik di luar sana yang saya tidak
tahu jikalau mereka repot-repot memikirkan saya, medoakan saya, berpikir yang
baik-baik tentang saya, atau bahkan merencanakan hal-hal baik untuk saya.
Mereka adalah
yang tertawa melihat saya tersenyum, mendengar dengan antusias saat saya
bercerita, menunggu begitu tahu bahwa saya butuh untuk ditunggu, berhenti
dengan maksud menghargai batas, memanggil tanpa membentak, menoleh dengan
lembut, berbicara hal-hal yang menyenangkan dan seringnya membangkitkan rasa
ingin tahu dan bertambahlah ilmu saya begitu ia berkata-kata. Orang-orang yang
tak pernah jenuh menasehati dan memotivasi, orang-orang yang tak pernah pergi.
Mereka
orang-orang baik yang senang memanggil saya, mengajak saya, menghargai
kehadiran saya serta menjaga saya dengan memahami segala batas dan prinsip
dalam hidup saya.
“Jangan lupa
bahwa punya teman yang baik adalah juga rezeki kamu.” Kata salah satu dari
mereka dan rasanya batin saya meleleh mendengarnya. Jadi teringat pula pada
kata-kata bos saya tempo hari, “punya customer yang baik juga termasuk rezeki.”
Alhamdulillah, MasyaaAllah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar