Waktu aku tiba di kamarnya,
“Niki sinten?”
Masih hening.
Beberapa waktu kemudian, kami masih
menunggunya untuk mengingat-ingat aku.
“Nina.” Jawabnya.
Aku lega, namaku masih mampu
diucapnya.
Tiba waktu pulang.
“Nina pamit dulu, ya. Mau berangkat
kuliah.”
Tatapannya seperti kosong. Begitu lama
untuk mencerna apa yang kubilang.
Tidak, bukan tatapannya kosong,
barangkali bukan karena sulit dicerna kalimatku.
Barangkali ia sendiri sudah kesulitan
merespon,
Barangkali air mataku bisa terjatuh
jika masih dalam ruang itu,
Barangkali akan benar terjatuh
beningku bila ingat kemarin kudapati wajahnya ambruk di meja kamarnya sendiri.
Hampir saja, gelas dan piring di meja itu terjatuh. Ia bahkan tak bisa menolong
dirinya sendiri untuk meminta bantuan pada kami.
Barangkali kami sangat kurang ajar,
sibuk bekerja dan sekolah, hingga lupa sudah berapa lama tubuhnya ambruk.
Barangkali kepanikanku palsu, karena
setelahnya aku masih bisa pergi dan tertawa, meski dunia tidak tahu betapa
pilunya aku karena meninggalkannya.
Barangkali jika masih ada waktu,
giliranku yang mendongeng untuknya, bukan dongeng cerita rakyat seperti yang
sering diceritakannya untukku sebelum tidur, tetapi akan kuceritakan untuknya
waktu-waktu bahagia yang aku miliki kala kami melewati waktu bersama; aku
mengingatinya bila waktu shalat telah tiba, kami bergantian mengambil air
wudhu, ia mengimamiku, kusiapkan makan malam untuknya, kami makan bersama, di
meja itu hanya ada kami berdua. Bila kupinta makan mie ayam, ia setuju, aku
akan membelikan dua porsi jika begitu. Bila sore datang, kami duduk di muka
rumah, orang-orang lewat dan menyapa, aku memutar beberapa lagu, mengalirlah
pembicaraan soal selera lagu yang berubah dari zaman ke zaman, pembicaraan yang
tak lagi dapat kunikmati di tahun-tahun berikutnya.
Barangkali aku baru menangis sekarang,
saat menuliskan ini seorang diri di kamar tidurku.
//Yogyakarta, 22 November 2018//
Tidak ada komentar:
Posting Komentar