17/11/18

[Chapter 1]: Sebuah Tanya


Pekerjaanku sebagai seorang editor terjemahan lepas membuat hari-hariku terpaksa menjadikan kafe sebagai rumah kedua. Aku yang awalnya sangat bosanan, seringkali berpindah dari satu kafe ke kafe yang lain. Namun, barangkali pikirku benar bahwa suatu saat akan ada satu kafe yang cocok. Aku akhirnya menemukannya, sebuah kafe ala rumahan di jalan Srikandi. Kafe ini tidak terlalu terlihat karena jalan Srikandi bukan jalan umum yang sering dilalui kendaraan, namun sangat mencolok karena di daerah sini ia berada di antara rumah-rumah besar dan berpagar tinggi. Tampaknya sang pemilik rumah tak mau ketinggalan memanfaatkan rumahnya yang terletak di Yogyakarta untuk membuka usaha. Jadilah ia bangun sebuah kafe sederhana dimana pengunjung dapat memilih untuk duduk di dalam atau di luar. Di dalam, pengunjung kafe akan duduk-duduk anggun dengan pemandangan dekorasi ruang yang menyamankan mata. Pun di luar, pengunjung akan ditawarkan pemandangan yang sejuk dengan berbagai jenis tanaman dan pepohonan di sekitarnya, ditambah lagi kafe ini menyediakan jajanan di angkringan yang terletak di taman kafe bersama dengan deretan bangku-bangku yang bisa pengunjung tempati.

Kafe The House bukanlah awal mula cerita ini terkisah, tetapi bolehlah aku memulainya dari sini, tempat yang rupanya kami selalu bertemu satu sama lain, tetapi awalnya tidak saling mengenal, sampai pada suatu hari aku menjadi salah seorang panitia untuk event di Jogja National Museum dan melakukan survey lukisan di sanggar tempat ia biasa berkarya.

Di sanggarnya kami berkenalan satu sama lain. Aku bersama dengan seorang temanku, sedangkan ia di sana dengan beberapa anak sanggar lainnya. Rasanya tak heran saja saat pertama kali melihat kelusuhannya, kumaklumi karena mereka anak sanggar, tetapi entah juga berawal darimana pemakluman terhadap semua kelusuhan itu. Aku yakin karpet yang tergelar di sana hampir tidak pernah dicuci, apa lagi keset-keset itu yang terlihat hanya dipakai lalu dijemur, basah terguyur hujan, kering kembali terkena terik matahari. Sanggar itu bentuknya cukup unik menurutku. Beberapa bagian beratap, sebagian lainnya bangku-bangku dan meja beratap langit dengan sebuah pohon rimbun di salah satu sisinya.

Sesuai kesepakatan pada komunikasi kami sebelumnya via sosmed, hari itu mereka akan menunjukkan koleksi lukisan mereka pada kami yang sekiranya jika ada yang sesuai dengan tema akan kami ikutsertakan di pameran lukisan di Jogja National Museum pada acara yang akan kami adakan sebulan mendatang. Mereka mempercayai kami dan dengan senang menceritakan lukisan-lukisan itu.

Kulihat ia tak banyak bicara sebagaimana temannya yang lain. Sesekali melirik ke arahku, juga ke arah temanku, tidak ada yang spesial. Aku menatapnya dengan tatapan wanita dewasa agar ia tahu barangkali memang aku lebih tua darinya, sementara ia hanya masih terlihat seperti bocah yang tenggelam dalam dunianya sendiri.

Berawal dari sanggar yang kemudian beberapa kali bertemu di kafe The House, kami seringkali bertukar pikiran. Anehnya aku tak pernah berbicara soal identitas diriku padanya tetapi ia banyak bercerita tentang dirinya padaku. Mengenang perkenalan pertama kami, sosok hitam manis itu tak banyak bicara, hingga Sekarang tiba-tiba saja aku tahu banyak hal tentangnya, ini sangat aneh, ia sendiri yang datang dan bercerita padaku tanpa kupinta.

Namanya Pramudya, entah Pramudya apa, tetapi orang-orang memanggilnya Pram saja. Aku tertawa saat ia meyakinkanku bahwa pekerjaan kami sama, sama-sama seorang editor. Apanya sama, gerutuku. Ia editor untuk video, sedangkan aku editor terjemahan. Menurutku, kami sangat berbeda. Tetapi, ia memaksa bahwa kami sama, sama-sama senang mengedit sesuatu. Baiklah, kataku, aku mengalah.

Ia sering bertanya seputar buku padaku. Ia bercerita dengan tatapan merenungi hal yang telah berlalu. Suatu hari pada masa dulu, ia pernah ke toko buku bersama kakak perempuannya. Kakaknya melarangnya untuk membeli novel, disuruhnya untuk membeli buku non-fiksi saja. Usai ia pilih dan beli, sang kakak malah menghardiknya, “Buku macam apa itu yang kamu beli? Sok tahu, sok paham kamu dengan isinya!” Begitu kata kakaknya.

Saat itu, jujur saja aku ingin tertawa karena aku sering melakukannya pada adikku dan kami berdua sama-sama tahu bahwa itu hanya candaan, jadi kukatakan padanya bahwa mungkin saja kakaknya itu tengah bercanda, tetapi dengan sorot mata yang sedih ia bilang bahwa aku tak paham keadaannya saat itu. Akhirnya aku menyadari, mungkin bagi sebagian orang, apalagi mereka yang baru mulai untuk jatuh cinta pada buku rasanya sakit, melihat orang-orang di sekitarnya saja menolaknya terhadap buku. Aku bilang padanya bahwa kapan-kapan kita bisa ke toko buku sama-sama, dan aku tak akan menghinanya untuk buku apapun yang dipilih dan ingin dibacanya, aku akan menemaninya untuk jatuh cinta bersama buku-buku pilihannya, tidak akan membuatnya sedih dan putus asa seperti yang dilakukan kakaknya hingga sampai sekarang membuatnya takut untuk mulai menyukai buku-buku lagi.

Namanya Pramudya, dan aku memanggilnya Pram. Dia adalah anak bungsu dan satu-satunya anak laki-laki dari pengusaha batu bara di Kalimantan sana. Kedua orang kakak perempuannya sangat akademis, yang satunya adalah lulusan UGM jurusan kedokteran, yang satunya lagi lulusan UB jurusan akuntansi. Sementara Pram yang hanyalah tukang edit video dan ngechat kanvas –begitu cara Pram menyebut pekerjaannya, membuat kakak-kakaknya merasa apa yang dikerjakan oleh Pram tidak pernah dirasa cukup oleh mereka. Mereka menginginkan Pram bisa lebih dari itu, mereka menaruh harapan yang teramat besar pada Pram, tanpa mereka tahu itu menjadi tumpukan beban tersendiri dalam hidup Pram.

Namanya Pram, dan tentu saja uangnya banyak, kendaraan dan merek ponsel yang digunakannya selalu gonta-ganti. Aku tanya mengapa? apa tak capek gonta-ganti? Jawabannya adalah kebaikan yang kurang ajar, katanya temannya tak punya ponsel dan butuh ponsel, maka ia bermaksud menjual ponsel mahalnya kepada temannya itu dengan harga teramat murah lalu ia akan membeli ponsel baru lagi. Meskipun penampilannya terkesan lusuh, Pram selalu memakai pakaian-pakaian bermerek terkenal dan mahal. Lucunya, suatu kali aku pernah pergi ke sanggarnya lagi untuk suatu urusan dan aku melihat kaos bermerek yang pernah digunakannya pada bulan lalu, kini telah berubah fungsi menjadi keset yang diinjak-injak oleh setiap yang datang. Jika ada orang yang menilai bahwa harta adalah segalanya berarti ia telah memiliki segalanya, apa yang diagung-agungkan oleh banyak orang yang tak paham bahwa harta hanyalah titipan, dunia hanyalah persinggahan.

Saat masa liburan tiba, bisa dikatakan bahwa uangnya semakin banyak karena selama masa liburan ia akan bekerja di perusahaan batu bara kepunyaan bapaknya itu. Ia digaji dan tetap memperoleh uang jajan.

Suatu hari ia datang ke kafe yang biasa kukunjungi untuk menghabiskan waktu berjam-jam mengedit tulisan. Lalu dengan wajah lusuhnya itu dan penuh perenungan, ia tiba-tiba saja berkata,
“Aku bingung.”
“Kenapa?”
“Bingung mau ngapain dan kemana?”
Aku menatapnya, kuhentikan aktivitas jari-jariku di atas keyboard laptop.
“Apa ideologi hidup kamu?” tanyaku sungguh-sungguh.

Hari itu percakapan panjang terjadi menyoal tentang ideologi. Hanya ideologi sederhana saja, ideologi dalam hidup seorang Pramudya yang tak pernah kesulitan untuk makan, tidur, dan bersenang-senang. Tiba-tiba aku berpikir, apakah sebab dari kebingungannya itu karena kekayaan yang telah ia peroleh sejak lahir? Tidak seperti beberapa orang teman yang kukenal, mereka harus bekerja keras untuk menghidupi diri mereka sendiri, mereka bekerja setiap malam hingga bila zaman-zaman kuliah dulu, mereka selalu termasuk golongan orang-orang yang sering ketiduran di kelas karena kelelahan bekerja.

Waktu ia bercerita tentang kebingungannya, aku tak berani menyinggung soal Tuhan. Tetapi beberapa waktu kemudian aku baru mengetahui jika sebelumnya ia adalah alumni sebuah pesantren, rajin shalat dan juga mengaji. Pram, apa yang terjadi dengannya?

Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar