Pekerjaanku
sebagai seorang editor terjemahan lepas membuat hari-hariku terpaksa menjadikan
kafe sebagai rumah kedua. Aku yang awalnya sangat bosanan, seringkali berpindah
dari satu kafe ke kafe yang lain. Namun, barangkali pikirku benar bahwa suatu
saat akan ada satu kafe yang cocok. Aku akhirnya menemukannya, sebuah kafe ala
rumahan di jalan Srikandi. Kafe ini tidak terlalu terlihat karena jalan
Srikandi bukan jalan umum yang sering dilalui kendaraan, namun sangat mencolok
karena di daerah sini ia berada di antara rumah-rumah besar dan berpagar tinggi.
Tampaknya sang pemilik rumah tak mau ketinggalan memanfaatkan rumahnya yang
terletak di Yogyakarta untuk membuka usaha. Jadilah ia bangun sebuah kafe
sederhana dimana pengunjung dapat memilih untuk duduk di dalam atau di luar. Di
dalam, pengunjung kafe akan duduk-duduk anggun dengan pemandangan dekorasi
ruang yang menyamankan mata. Pun di luar, pengunjung akan ditawarkan
pemandangan yang sejuk dengan berbagai jenis tanaman dan pepohonan di
sekitarnya, ditambah lagi kafe ini menyediakan jajanan di angkringan yang terletak
di taman kafe bersama dengan deretan bangku-bangku yang bisa pengunjung
tempati.
Kafe The House
bukanlah awal mula cerita ini terkisah, tetapi bolehlah aku memulainya dari
sini, tempat yang rupanya kami selalu bertemu satu sama lain, tetapi awalnya tidak
saling mengenal, sampai pada suatu hari aku menjadi salah seorang panitia untuk
event di Jogja National Museum dan
melakukan survey lukisan di sanggar tempat ia biasa berkarya.
Di sanggarnya
kami berkenalan satu sama lain. Aku bersama dengan seorang temanku, sedangkan
ia di sana dengan beberapa anak sanggar lainnya. Rasanya tak heran saja saat
pertama kali melihat kelusuhannya, kumaklumi karena mereka anak sanggar, tetapi
entah juga berawal darimana pemakluman terhadap semua kelusuhan itu. Aku yakin
karpet yang tergelar di sana hampir tidak pernah dicuci, apa lagi keset-keset
itu yang terlihat hanya dipakai lalu dijemur, basah terguyur hujan, kering
kembali terkena terik matahari. Sanggar itu bentuknya cukup unik menurutku.
Beberapa bagian beratap, sebagian lainnya bangku-bangku dan meja beratap langit
dengan sebuah pohon rimbun di salah satu sisinya.
Sesuai
kesepakatan pada komunikasi kami sebelumnya via sosmed, hari itu mereka akan
menunjukkan koleksi lukisan mereka pada kami yang sekiranya jika ada yang
sesuai dengan tema akan kami ikutsertakan di pameran lukisan di Jogja National
Museum pada acara yang akan kami adakan sebulan mendatang. Mereka mempercayai
kami dan dengan senang menceritakan lukisan-lukisan itu.
Kulihat ia tak
banyak bicara sebagaimana temannya yang lain. Sesekali melirik ke arahku, juga
ke arah temanku, tidak ada yang spesial. Aku menatapnya dengan tatapan wanita
dewasa agar ia tahu barangkali memang aku lebih tua darinya, sementara ia hanya
masih terlihat seperti bocah yang tenggelam dalam dunianya sendiri.
Berawal dari
sanggar yang kemudian beberapa kali bertemu di kafe The House, kami seringkali
bertukar pikiran. Anehnya aku tak pernah berbicara soal identitas diriku
padanya tetapi ia banyak bercerita tentang dirinya padaku. Mengenang perkenalan
pertama kami, sosok hitam manis itu tak banyak bicara, hingga Sekarang
tiba-tiba saja aku tahu banyak hal tentangnya, ini sangat aneh, ia sendiri yang
datang dan bercerita padaku tanpa kupinta.
Namanya
Pramudya, entah Pramudya apa, tetapi orang-orang memanggilnya Pram saja. Aku
tertawa saat ia meyakinkanku bahwa pekerjaan kami sama, sama-sama seorang
editor. Apanya sama, gerutuku. Ia editor
untuk video, sedangkan aku editor terjemahan. Menurutku, kami sangat berbeda.
Tetapi, ia memaksa bahwa kami sama, sama-sama senang mengedit sesuatu. Baiklah, kataku, aku mengalah.
Ia sering
bertanya seputar buku padaku. Ia bercerita dengan tatapan merenungi hal yang
telah berlalu. Suatu hari pada masa dulu, ia pernah ke toko buku bersama kakak
perempuannya. Kakaknya melarangnya untuk membeli novel, disuruhnya untuk
membeli buku non-fiksi saja. Usai ia pilih dan beli, sang kakak malah
menghardiknya, “Buku macam apa itu yang kamu beli? Sok tahu, sok paham kamu
dengan isinya!” Begitu kata kakaknya.
Saat itu, jujur
saja aku ingin tertawa karena aku sering melakukannya pada adikku dan kami
berdua sama-sama tahu bahwa itu hanya candaan, jadi kukatakan padanya bahwa
mungkin saja kakaknya itu tengah bercanda, tetapi dengan sorot mata yang sedih
ia bilang bahwa aku tak paham keadaannya saat itu. Akhirnya aku menyadari,
mungkin bagi sebagian orang, apalagi mereka yang baru mulai untuk jatuh cinta
pada buku rasanya sakit, melihat orang-orang di sekitarnya saja menolaknya
terhadap buku. Aku bilang padanya bahwa kapan-kapan kita bisa ke toko buku
sama-sama, dan aku tak akan menghinanya untuk buku apapun yang dipilih dan
ingin dibacanya, aku akan menemaninya untuk jatuh cinta bersama buku-buku
pilihannya, tidak akan membuatnya sedih dan putus asa seperti yang dilakukan
kakaknya hingga sampai sekarang membuatnya takut untuk mulai menyukai buku-buku
lagi.
Namanya
Pramudya, dan aku memanggilnya Pram. Dia adalah anak bungsu dan satu-satunya
anak laki-laki dari pengusaha batu bara di Kalimantan sana. Kedua orang kakak
perempuannya sangat akademis, yang satunya adalah lulusan UGM jurusan
kedokteran, yang satunya lagi lulusan UB jurusan akuntansi. Sementara Pram yang
hanyalah tukang edit video dan ngechat kanvas –begitu cara Pram menyebut
pekerjaannya, membuat kakak-kakaknya merasa apa yang dikerjakan oleh Pram tidak
pernah dirasa cukup oleh mereka. Mereka menginginkan Pram bisa lebih dari itu,
mereka menaruh harapan yang teramat besar pada Pram, tanpa mereka tahu itu
menjadi tumpukan beban tersendiri dalam hidup Pram.
Namanya Pram,
dan tentu saja uangnya banyak, kendaraan dan merek ponsel yang digunakannya selalu
gonta-ganti. Aku tanya mengapa? apa tak capek gonta-ganti? Jawabannya adalah
kebaikan yang kurang ajar, katanya temannya tak punya ponsel dan butuh ponsel,
maka ia bermaksud menjual ponsel mahalnya kepada temannya itu dengan harga
teramat murah lalu ia akan membeli ponsel baru lagi. Meskipun penampilannya
terkesan lusuh, Pram selalu memakai pakaian-pakaian bermerek terkenal dan
mahal. Lucunya, suatu kali aku pernah pergi ke sanggarnya lagi untuk suatu
urusan dan aku melihat kaos bermerek yang pernah digunakannya pada bulan lalu,
kini telah berubah fungsi menjadi keset yang diinjak-injak oleh setiap yang
datang. Jika ada orang yang menilai bahwa harta adalah segalanya berarti ia
telah memiliki segalanya, apa yang diagung-agungkan oleh banyak orang yang tak
paham bahwa harta hanyalah titipan, dunia hanyalah persinggahan.
Saat masa
liburan tiba, bisa dikatakan bahwa uangnya semakin banyak karena selama masa
liburan ia akan bekerja di perusahaan batu bara kepunyaan bapaknya itu. Ia
digaji dan tetap memperoleh uang jajan.
Suatu hari ia
datang ke kafe yang biasa kukunjungi untuk menghabiskan waktu berjam-jam
mengedit tulisan. Lalu dengan wajah lusuhnya itu dan penuh perenungan, ia
tiba-tiba saja berkata,
“Aku bingung.”
“Kenapa?”
“Bingung mau
ngapain dan kemana?”
Aku menatapnya,
kuhentikan aktivitas jari-jariku di atas keyboard laptop.
“Apa ideologi
hidup kamu?” tanyaku sungguh-sungguh.
Hari itu
percakapan panjang terjadi menyoal tentang ideologi. Hanya ideologi sederhana
saja, ideologi dalam hidup seorang Pramudya yang tak pernah kesulitan untuk
makan, tidur, dan bersenang-senang. Tiba-tiba aku berpikir, apakah sebab dari
kebingungannya itu karena kekayaan yang telah ia peroleh sejak lahir? Tidak
seperti beberapa orang teman yang kukenal, mereka harus bekerja keras untuk menghidupi
diri mereka sendiri, mereka bekerja setiap malam hingga bila zaman-zaman kuliah
dulu, mereka selalu termasuk golongan orang-orang yang sering ketiduran di
kelas karena kelelahan bekerja.
Waktu ia
bercerita tentang kebingungannya, aku tak berani menyinggung soal Tuhan. Tetapi
beberapa waktu kemudian aku baru mengetahui jika sebelumnya ia adalah alumni
sebuah pesantren, rajin shalat dan juga mengaji. Pram, apa yang terjadi
dengannya?
Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar