17/11/18

[The End]: Sebuah Tanya


Namanya Pram, dulu ia rapi, taat shalat 5 waktu ke masjid, rajin mengaji, sering ikut kajian-kajian keagamaan dan hidupnya tenang. Dulu, sebelum ia kehilangan panutannya. Pram yang sekarang adalah bocah yang kebingungan dalam hidupnya sendiri karena dua orang sahabatnya yang menjadi panutannya selama ini memutuskan untuk pindah dari kota yang menjadi awal mula persahabatan mereka. Keduanya memutuskan untuk bermimpi lebih jauh lagi, lebih tinggi lagi.

Pram yang taat mulai berubah sejak masuk sanggar seni itu. Ia bercerita bahwa pernah selama satu minggu memutuskan untuk tidak berkunjung ke sanggar dan ia bisa mendapati dirinya yang begitu rapi. Selama satu minggu itu ia mampu melaksanakan shalat lima waktu, tetapi begitu ia datang kembali ke sanggar seninya, penampilannya berantakan. Aku cukup terkejut saat melihat foto dirinya pada sekitar dua tahun yang lalu, ia terlihat bagai selebgram dengan kulit bening, mata dengan pandangan optimis, kerapihan begitu melekat di dirinya yang dulu. Aku memandangi ia yang ada pada hari ini, ia yang tak ingin ia ingini. Pram, ia pasti sangat merindukan dirinya yang dulu. Apa yang bisa kulakukan?

Ia juga bercerita pernah suatu kali ke sanggar membawa sarung, berniat jika azan tiba dia hendak pergi shalat, tetapi – sekali lagi dengan tatapan sedih, begitu ia ada di sana, atmosfernya berbeda, tiba-tiba saja ia tidak jadi menunaikan shalat. Di sanggar itu, tidak pernah disinggung soal tuhan, tidak ada pembicaraan tentang agama apalagi Tuhan.  Bagi mereka, hubungan antara Tuhan dengan manusia adalah urusan pribadi masing-masing manusia, sudah menjadi sangat individual sehingga tak ada yang peduli satu sama lain soal menaati perintah Tuhan. Miris, kata Pram.

Namanya Pram, dan ia adalah anak yang beruntung karena sangat disayangi oleh ibunya. Kata Pram, ibunya mengatakan bahwa beliau rela menyekolahkannya dimanapun, berapapun biaya yang harus dikeluarkannya, asalkan Pram bersekolah tinggi dan pulang ke rumah bisa mengaji, itu saja cukup bagi ibunya. Mungkin inilah hal-hal yang begitu lama amat mengganggu pikiran Pram dan ia renungi berpuluh-puluh kali hingga sampai datang padaku di kemudian hari. Pertanyaan yang mengganggu pikirannya dan entah mengapa sulit sekali ia temukan jawabannya; untuk apa ia hidup? mau apa? mau kemana? Ia kebingungan berpikir, sementara orangtuanya rela mengeluarkan harta sebanyak apapun untuk hidupnya.

Pram bercerita bahwa tempo hari, ibunya pernah datang ke kos tempat dimana ia tinggal selama di Yogyakarta ini. Kos Pram bukanlah kos kumuh atau bahkan jelek. Kos nya adalah kos standar yang masih sangat layak untuk ditempati manusia. Akan tetapi, ibunya mengatakan bahwa lebih baik ia cari kos yang mahal saja tetapi bagus daripada kosnya yang sekarang yang menurut ibunya bangunannya seperti mau roboh, padahal kami semua tahu kosnya masih sangat layak dan bagus-bagus saja tetapi lucunya ibunya sangat khawatir, katanya “takut roboh”.

Ada cerita lucu saat ia mengajak seorang temannya yang berasal dari Madura untuk berlibur ke Kalimantan, ke rumahnya. Saat di rumahnya itu, ibunya bertanya pada temannya, “Kamu kalau tidur dimana, Mas?” tanya ibunya pada temannya. “Di kampus.” Jawabnya.

Dalam benak ibunya, tidur di kampus lebih nyaman dan lebih baik, sebab ibunya mengira kampus yang di maksud adalah seperti di dalam ruang kelas yang megah dengan pendingin ruangan, lampu yang terang, dan gedung yang luas serta nyaman. Padahal kampus yang dimaksud oleh temannya adalah sebuah bangunan kosong yang terbengkalai yang berada di salah satu sisi gedung kampus, yang kemudian mereka sulap menjadi basement nongkrong mereka, jauh dari kata nyaman dan bersih untuk ditinggali apa lagi untuk tidur. Sehingga ibunya berkata, “lebih baik kamu tidur di kampus saja juga, kos hanya untuk simpan barang saja.” Beliau berkata seperti itu karena khawatir kos anaknya roboh.

Kucoba menjawab pikirannya dengan hal-hal sederhana saja dahulu. Untuk hidupnya yang monoton, membosankan, begitu menurutnya, mungkin ia perlu membahagiakan orang-orang karena dari cara itu pun aku mendapati hidupku lebih berwarna dan bahagia. Tetapi, ia menjawab bahwa ia rasa ia tak perlu membahagiakan orang lain dengan hal yang tidak disukainya. Aku tanya kenapa ia lebih banyak diam daripada orang kebanyakan, ia jawab bahwa ia tidak suka banyak bicara, lagi pula orang-orang hanya berbicara dengan gadget mereka. Dan aku hanya tertawa pasrah.

Sudah berminggu-minggu aku tak bertemu dengannya. Kami memang sangat jarang janjian untuk bertemu, hanya bertemu begitu saja atau tidak sengaja bertemu atau ia memang mengepaskan waktu ia datang ke kafe dengan waktu dimana biasa aku sudah tiba di kafe. Entahlah. Aku tidak tahu kabarnya juga, semoga kebingungannya telah surut dan ia bisa menata hidupnya dengan lebih baik. Keresahan terakhir yang diceritakannya padaku adalah soal ia yang sangat boros dalam menggunakan uangnya. Ia bilang ia bingung mengapa ia sangat mudah menghabiskan uang yang banyak dalam waktu yang begitu singkat. Padahal yang dibelinya hanya itu-itu saja, untuk makan, ngopi, rokok, hal-hal seperti itu saja, bukan seperti perempuan yang kebutuhannya banyak. Oleh sebab itu ia bingung sekali. Aku hanya menanggapinya dengan tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalaku kala itu.

Mataku masih terfokus pada proyek terjemahan yang kugarap di hadapanku. Kafe ini sangat tenang, orang-orang di sini tidak berisik, pun alunan musik yang diputar di sini selalu musik-musik bernada menenangkan. Aku jarang memperhatikan mereka yang keluar-masuk, datang-pergi dari kafe ini, kuhabiskan waktuku hanya untuk berkencan dengan pekerjaanku. Hari itu kafe lebih sepi dari biasanya, atau mungkin hanya perasaanku saja. Aku berhenti sejenak, mengatur nafasku perlahan, berfokus seperti ini selama berjam-jam sangat melelahkan. Kulepaskan kacamataku. Tepat saat itu seseorang datang dan membuat suara kecil pada pintu yang dibukanya. Mataku menatap pengunjung itu dari kejauhan. Aku belum memakai kacamataku kembali, rasanya sulit untuk mengenali pengunjung yang perlahan langkahnya menuju ke arahku itu. Cepat-cepat kupasang kembali kacamataku. Aku terpaku melihat siapa yang kini duduk di hadapanku tanpa kupersilahkan lebih dulu.

Ia tersenyum. Aku terkejut melihat perubahannya. Ia terlihat begitu bersih dan rapi, aroma wewangian yang digunakannya juga menusuk di hidungku. Yang lebih membuatku heran, ada kacamata terpasang di wajahnya itu.

Aku tertawa kecil.

“Kamu pakai kacamata juga?”

“Iya, sebenarnya sudah lama. Aku tidak percaya diri untuk memakainya, sampai aku bertemu denganmu dan kamu saja pakai kacamata bisa secantik ini. Mungkin aku juga tak ada masalah bila memakainya.”

Aku tertawa lagi, lebih lebar kali ini.

Tawaku terhenti saat ia mengeluarkan sebuket bunga yang sejak tadi disembunyikannya di belakang tangannya.

“Ivana, aku membutuhkan seorang wanita untuk mengamankan kartu-kartu ATM-ku.” katanya sambil menyuguhkan buket bunga itu padaku.

“Karena uangmu sangat banyak dan terlalu cepat untuk kamu habiskan?” tanyaku menyambung kalimatnya barusan.

Ia mengangguk dengan mata penuh harapan di sana.

Aku terdiam selama beberapa saat. Aku tak bisa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.  Tetapi tiba-tiba ia terbatuk, dan bersuara lebih dulu,

“Maaf Ivana, aku tidak tahu sudah berapa lama dan sejak kapan ada sebuah cincin yang menghiasi jari manismu?” Ia terdengar putus asa, lalu diletakannya buket itu di atas meja kami. “Kalau begitu, anggap saja aku tadi hanya bercanda, anggap saja bunga ini sebagai tanda pertemanan kita serta rasa terima kasihku karena kedua telingamu selalu mau direpotkan untuk mendengar kisahku.”

Selama belasan menit tak ada suara, kami hanya terdiam satu sama lain. Aku tak melanjutkan pekerjaanku dan ia juga tak segera memesan minuman apa yang ingin diminumnya. Sampai aku mengangkat pergelangan tanganku untuk mencari tahu sudah pukul berapa sekarang. Masih dalam keheningan di antara kami, kubereskan peralatan kerjaku. Terakhir, dengan ragu-ragu kusentuh juga buket yang dipenuhi bunga-bunga itu. Ia menatapku, tersenyum lemah.

“Terima kasih bunganya, kuanggap ini sebagai hadiah untuk pernikahanku minggu depan.” kataku dengan tega. Tetapi, diam-diam rasa sakit menjalariku. Bagaimanapun juga, bagaimana bisa kita tidak terluka saat kita harus terpaksa melukai perasaan orang lain?

“Kamu juga, berbahagialah.” ucapku pelan seraya bangkit dari bangku lalu menuju keluar kafe. Seorang pria masih lengkap dengan jas dan dasi yang dipakainya berdiri melambaikan tangannya padaku, saat itu aku percaya bahwa kelak Pram juga akan merasakan kebahagiaan sebagaimana yang dirasakan olehku. Benar kata orang-orang, semua hanya soal waktu dan semoga saja Pram mengerti.


The End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar