Hidupnya dipenuhi perenungan panjang yang tak
pernah usai. Malam-malamnya dipenuhi kegetiran yang sulit ditaklukan oleh diri
sendiri. Begitu banyak kegelisahan batin yang ia sembunyikan entah dari siapa
dan mengapa.
Waktu-waktu sendirinya dihabiskan untuk
memikirkan percakapan dengan Tuhan. Berbicara sendiri dalam pikirannya,
sebenarnya mengajak Tuhan untuk turut berdiskusi, kadang pula membenci apa kata
hati tentang menjadi apa gerangan dirinya pada hari ini.
Tak pernah ingin menyesali apa yang sudah dan
telah usai, karenanya ia mengira dengan pasti skenario Tuhan selalu terjadi
untuk membawa hamba-Nya ke tempat yang lebih baik, itu juga bila si Hamba punya
keinginan dan mencari jalan melalui berbagai diskusi yang diciptakannya bersama
sang Tuhan.
Akhir-akhir ini ia selalu bercerita pada Tuhan
soal pengharapan. Apakah benar bahwa ia telah sungguh-sungguh menjadikan Tuhan
sebagai satu-satunya tempat ia berharap? Seringkali dipertanyakannya hal itu
pada dirinya sendiri. Sudah basi benar cerita tentang pedihnya berharap pada
sesama manusia. Insan yang satu ini meminta belas kasih Tuhannya untuk melepaskannya
dari segala pengharapan yang seringnya dipenuhi
nestapa pada makhluk-Nya.
Selamat bertemu kembali dengan tanggal lahirmu,
Mentari. Tak ada perayaan, katamu. Aku ingin merenung lebih lama lagi, lebih panjang
lagi, tentang usiaku, tentang hidupku, katamu.
Aku
tak mau lagi ada banyak pengharapan, biar sisanya hanya doa-doa yang tak
kuketahui, biar sisanya di dengar langit saja, biar Dia saja yang tahu tentang
air matamu karena begitu mencintaiku karena-Nya, begitu katamu.
Aku
tak mau lagi ada bahagia yang terlalu berlebihan, karena aku seringkali bahagia
karena hal-hal sederhana yang mengejutkan, begitu katamu.
Aku
tak mau lagi umur panjang menjadi sebuah kesombongan karena sudah terlalu
banyak waktu yang kusia-siakan,
begitu katamu.
Kali
ini, biarkan aku sunyi bersama Tuhan. Melakukan diskusi, biarkan air mata saja
yang berbicara, tentang rasa sedihku bila bagaimana kelak jika nanti aku tak
bisa melihat wajah-Nya? Begitu
katamu.
Aku tak berbohong perihal malam-malamnya yang
penuh isak tangis. Ia tertidur dengan memeluk dirinya sendiri, dengan basah air
mata yang masih menghias pipi, dengan nafas yang memburu di tengah malam sunyi
dan lampu yang sudah meredup menutup diri.
Rindu ucapnya lirih pada acapkali. Tak pernah
jujur pula ia padaku, tentang siapa yang dirindukannya itu. Tetapi, sebab
kutahu selalu soal Tuhan yang dibicarakannya, barangkali pula Tuhanlah yang
dirindukannya.
Kutengok kau kemudian, menangis di sudut ruang.
Kutinggalkan kau sendirian, aku tak akan membuatkanmu suatu perayaan, selamat
bercengkrama dengan Tuhan lewat pikiran. Ingat,
kau adalah yang selamanya kucinta, kuperjuangkan. Ingat, kau adalah yang
selamanya kudekap, hanya aku yang mampu mendekapmu, bahkan bila suatu hari tak
kau temukan siapa-siapa, hanya aku yang akan mendekap,
Karena
aku adalah kau.
Karena
aku adalah Sang Mentari,
Kataku padamu.
//Yogyakarta, 24 Januari 2019//
Selamat membakari usiamu mentari. Lekas sajikan coretan terbarumu, aku rindu membacanya.
BalasHapusSiapapun kamu, terima kasih untuk seluruh waktumu yang dihabiskan di ruangan ini, ya. Semoga bermanfaat! :')
Hapus