24/01/19

Catatan Perayaan ke-22


Hidupnya dipenuhi perenungan panjang yang tak pernah usai. Malam-malamnya dipenuhi kegetiran yang sulit ditaklukan oleh diri sendiri. Begitu banyak kegelisahan batin yang ia sembunyikan entah dari siapa dan mengapa.

Waktu-waktu sendirinya dihabiskan untuk memikirkan percakapan dengan Tuhan. Berbicara sendiri dalam pikirannya, sebenarnya mengajak Tuhan untuk turut berdiskusi, kadang pula membenci apa kata hati tentang menjadi apa gerangan dirinya pada hari ini.

Tak pernah ingin menyesali apa yang sudah dan telah usai, karenanya ia mengira dengan pasti skenario Tuhan selalu terjadi untuk membawa hamba-Nya ke tempat yang lebih baik, itu juga bila si Hamba punya keinginan dan mencari jalan melalui berbagai diskusi yang diciptakannya bersama sang Tuhan.

Akhir-akhir ini ia selalu bercerita pada Tuhan soal pengharapan. Apakah benar bahwa ia telah sungguh-sungguh menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya tempat ia berharap? Seringkali dipertanyakannya hal itu pada dirinya sendiri. Sudah basi benar cerita tentang pedihnya berharap pada sesama manusia. Insan yang satu ini meminta belas kasih Tuhannya untuk melepaskannya dari segala pengharapan yang seringnya  dipenuhi nestapa pada makhluk-Nya.

Selamat bertemu kembali dengan tanggal lahirmu, Mentari. Tak ada perayaan, katamu. Aku ingin merenung lebih lama lagi, lebih panjang lagi, tentang usiaku, tentang hidupku, katamu.

Aku tak mau lagi ada banyak pengharapan, biar sisanya hanya doa-doa yang tak kuketahui, biar sisanya di dengar langit saja, biar Dia saja yang tahu tentang air matamu karena begitu mencintaiku karena-Nya, begitu katamu.

Aku tak mau lagi ada bahagia yang terlalu berlebihan, karena aku seringkali bahagia karena hal-hal sederhana yang mengejutkan, begitu katamu.

Aku tak mau lagi umur panjang menjadi sebuah kesombongan karena sudah terlalu banyak waktu yang kusia-siakan, begitu katamu.

Kali ini, biarkan aku sunyi bersama Tuhan. Melakukan diskusi, biarkan air mata saja yang berbicara, tentang rasa sedihku bila bagaimana kelak jika nanti aku tak bisa melihat wajah-Nya? Begitu katamu.

Aku tak berbohong perihal malam-malamnya yang penuh isak tangis. Ia tertidur dengan memeluk dirinya sendiri, dengan basah air mata yang masih menghias pipi, dengan nafas yang memburu di tengah malam sunyi dan lampu yang sudah meredup menutup diri.

Rindu ucapnya lirih pada acapkali. Tak pernah jujur pula ia padaku, tentang siapa yang dirindukannya itu. Tetapi, sebab kutahu selalu soal Tuhan yang dibicarakannya, barangkali pula Tuhanlah yang dirindukannya.

Kutengok kau kemudian, menangis di sudut ruang. Kutinggalkan kau sendirian, aku tak akan membuatkanmu suatu perayaan, selamat bercengkrama dengan Tuhan lewat pikiran. Ingat, kau adalah yang selamanya kucinta, kuperjuangkan. Ingat, kau adalah yang selamanya kudekap, hanya aku yang mampu mendekapmu, bahkan bila suatu hari tak kau temukan siapa-siapa, hanya aku yang akan mendekap,

Karena aku adalah kau.  

Karena aku adalah Sang Mentari,

Kataku padamu.


//Yogyakarta, 24 Januari 2019//

2 komentar:

  1. Selamat membakari usiamu mentari. Lekas sajikan coretan terbarumu, aku rindu membacanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siapapun kamu, terima kasih untuk seluruh waktumu yang dihabiskan di ruangan ini, ya. Semoga bermanfaat! :')

      Hapus