22/04/22

#7 Salah Sangka

 Sedang antri bayar makan di warung soto betawi.

“Mba, bayarnya sendiri-sendiri?”

“Gimana, Mas? Oh nggak, sekalian aja semuanya.” Jawab saya sambil menahan tawa dalam hati.

Setelah itu, saya dan Kak Satriya menuju parkiran sambil kubisiki ia, “Kak, bahkan orang tidak berpikir bahwa kita pacaran. Masa dikiranya kita bayarnya sendiri-sendiri.”

‘Karena kita memang temenan ya, Kak? Teman hidup..’ batin saya sambil tersenyum.

Lalu kami tertawa bersama. Kudekap erat tubuhnya di atas motor.

#6 Emang Dibolehin?

 Percakapan seorang teman dengan ibunya lewat telepon.

“Aku mau mandi, nih.”

“Cie mandi, mau kemana? Ketemu sama siapa?”

“Mau main sama Rili dan Nina.”

“Nina? Emang Nina dibolehin main sama suaminya?”

“Ya bolehlah, emangnya Mama, suka nggak dibolehin sama suaminya Mama..”

Hahahahaha kalau kata Kak Satriya, “Aja-aja ada..”

25/03/22

#5 Perkara Membangunkan


Hari itu Kak Satriya ada pemotretan untuk buku tahunan sekolah. Awalnya mengira akan pulang siang, ternyata sore hari baru pulang.

“Kamu udah makan siang, belum? Sabar ya, nanti aku pulang bawa makanan.” Ujarnya lewat pesan WhatsApp. Siang itu saya menunggunya sambil nyemil, tetapi ternyata sore hari ia baru tiba dengan sekotak makanan berisi ayam bakar. Lezat.

Malam harinya tentu saja saya masih kenyang karena baru selesai makan sore tadi. Rencananya juga malam ini ia akan meeting sehingga kemungkinan besar ia akan makan di luar bersama rekannya. Saya ngantuk, sementara ia masih menunggu kabar dari rekannya.

Esok paginya saya baru menyadari bahwa semalam ia tidak jadi meeting yang artinya kemungkinan ia tidak makan malam. Saya mulai dihinggapi perasaan bersalah. Duh Nina, kenapa sih kamu nggak nunggu sampai Kak Satriya beneran berangkat meeting? Kenapa malah tidur..

“Kak, maaf ya semalam aku ngantuk banget, kenapa kamu nggak bangunin aku? Kamu lapar, ya?”

“Mendingan aku bangunin polisi tidur, Nin..”

“Hah? Hehehe.. Emang sesusah itu ya bangunin aku?!”

Atau di lain waktu, kalau mata saya sudah tidak kuat, ia akan menyuruh saya untuk tidur duluan. Padahal waktu itu saya sedang membantunya mengetik, tapi bahkan kepala saya sudah tidak bisa tegak lagi. Dengan berbekal yakin, saya berkata, “Aku tidur bentar, nanti aku bantuin lagi. Tolong bangunin, ya!”

#4 Rezeki Pertama


Pagi di hari ketiga kami di hotel, Kak Satriya mendapat kabar dari seorang teman yang menawarkan pekerjaan dokumentasi liputan. Tentu saja langsung diiyakan. Berbeda dari job-job sebelumnya, dimana biasanya Kak Satriya mengambil job sebagai fotografer dalam acara wedding, kali ini ia hendak dipekerjakan untuk peliputan suatu acara yang dilaksanakan oleh kementerian kehutanan dalam upaya edukasi kopi terhadap para petani di daerah Ciwidey, Jawa Barat.

Sementara saya menulis tulisan ini, Kak Satriya tengah berada di Ciwidey bersama tim yang diutus dari Yogyakarta. Tidak tanggung-tanggung, dalam tim ini ikutserta ahli kopi, pengusaha coffe shop, professor, juga orang-orang hebat lainnya. Beberapa kali sepulang dari meeting, diceritakan olehnya tentang hal-hal menarik seputaran kopi ini.

Dan tentu saja, saya tidak sabar menantinya pulang. Tidak sabar menunggu oleh-oleh segudang cerita dan ilmu baru dari sana. Juga, sekeranjang buah stroberi kesukaan saya yang semoga sempat ia belikan.

Teringat pesannya di teras coffe shop tempat saya mengantarnya sebelum ia pamit pergi, “Jaga diri, ya. Kamu nulis aja biar nggak bosan, biar produktif.”

Dan lihat, aku sungguh-sungguh berbakti, kan? Kembali ke ruang ini dan menulis lagi. Kamu, cepat pulang.. cepat kembali..

*backsound lagu Firasat punya Marcell

#3 Beda Pemikiran


Malam itu saya bercakap-cakap dengan seorang teman perempuan yang datang ke pernikahan saya.

“Nin, pasti di luar sana banyak laki-laki yang sedang bersiap menuju kamu, sedang mempersiapkan diri untuk melamarmu. Lalu, mereka terkejut karena tiba-tiba kamu menikah. Mereka gagal hanya karena mereka kurang sat-set-sat-set.”

Ia juga banyak mendengar obrolan para laki-laki yang hadir di pernikahan saya waktu itu.

“Nggak dapat kakaknya, adiknya juga boleh.” Mereka bercanda dan tertawa di sela-sela alunan yang mengalir memenuhi ruang pernikahan.

Saya tiba-tiba teringat apa yang Kak Satriya katakan pada saya tempo hari, “Lebih baik sudah mencoba meskipun jika pada akhirnya harus gagal. Mungkin aku akan menyesal seumur hidup jika aku tidak mencobanya. Kalau saja saat itu aku tidak berani, mungkin kita tidak akan pernah berada di tahap sejauh ini.”

Saya juga membuka topik obrolan ini dengan Kak Satriya yang kini telah sah menjadi suami saya. 

“Kak, mungkin di luar sana banyak laki-laki yang menyukaiku, tapi mereka tidak kunjung datang. Kalau kata temanku, kebanyakan dari laki-laki tersebut merasa nggak pantas bersamaku, mereka takut nggak bisa mengimbangiku. Jadi, kebanyakan dari mereka hanya ingin sekedar mengekspresikan perasaannya tanpa berharap terlalu jauh. Lalu kamu, setelah kuceritakan banyak hal tentangku padamu yang sebenarnya aku hendak membuat nyalimu ciut dan barangkali memutuskan mundur karena aku tidak membutuhkan laki-laki yang minder, tapi kenapa kamu tidak demikian seperti laki-laki yang lain?” tanya saya padanya, waktu itu di tengah sarapan soto kudus sebelum pemotretan buku tahunan sekolah.