Malam itu saya bercakap-cakap dengan seorang teman perempuan yang datang ke pernikahan saya.
“Nin, pasti di luar sana banyak laki-laki yang sedang bersiap menuju kamu, sedang mempersiapkan diri untuk melamarmu. Lalu, mereka terkejut karena tiba-tiba kamu menikah. Mereka gagal hanya karena mereka kurang sat-set-sat-set.”
Ia juga banyak mendengar obrolan
para laki-laki yang hadir di pernikahan saya waktu itu.
“Nggak dapat kakaknya, adiknya juga boleh.” Mereka bercanda dan tertawa di sela-sela alunan yang mengalir memenuhi ruang pernikahan.
Saya tiba-tiba teringat apa yang Kak Satriya katakan pada saya tempo hari, “Lebih baik sudah mencoba meskipun jika pada akhirnya harus gagal. Mungkin aku akan menyesal seumur hidup jika aku tidak mencobanya. Kalau saja saat itu aku tidak berani, mungkin kita tidak akan pernah berada di tahap sejauh ini.”
Saya juga membuka topik obrolan
ini dengan Kak Satriya yang kini telah sah menjadi suami saya.
“Kak, mungkin di luar sana banyak laki-laki yang menyukaiku, tapi mereka tidak kunjung datang. Kalau kata temanku, kebanyakan dari laki-laki tersebut merasa nggak pantas bersamaku, mereka takut nggak bisa mengimbangiku. Jadi, kebanyakan dari mereka hanya ingin sekedar mengekspresikan perasaannya tanpa berharap terlalu jauh. Lalu kamu, setelah kuceritakan banyak hal tentangku padamu yang sebenarnya aku hendak membuat nyalimu ciut dan barangkali memutuskan mundur karena aku tidak membutuhkan laki-laki yang minder, tapi kenapa kamu tidak demikian seperti laki-laki yang lain?” tanya saya padanya, waktu itu di tengah sarapan soto kudus sebelum pemotretan buku tahunan sekolah.
“Laki-laki yang lain mungkin berpikir seperti itu, tapi aku justru
kebalikannya. Aku minta maaf sebelumnya, tapi aku berpikiran bahwa kalau aku
hidup sama kamu, justru aku bisa menjadi orang yang benar, yang lebih baik.
Karena aku mau dengerin kamu. Aku suka kamu larang-larang aku.” Jawabnya.
“Oh, jadi kamu memanfaatkanku?”
“Iya. Makanya tadi aku minta maaf terlebih dahulu. Hahahaha..”
Rasa-rasanya ingin kusentil ususnya. Lalu, kami tertawa bersama-sama.
Ada hal-hal yang saya pahami
tentang sebuah pernikahan, bahwa pernikahan bukanlah sarana rehabilitasi. Juga,
jangan berubah hanya karena demi seseorang atau berkeyakinan mampu merubah seseorang. Namun, dalam konteks jawaban darinya, saya
memaknai bahwa ketika ia berjalan bersama saya, ia merasa bisa menjadi
seseorang yang lebih baik. Oleh karena itu, ia mencintai saya, ia membutuhkan
seseorang seperti saya untuk ada dalam hidupnya.
Kata Ustadz Salim, mungkin kita hendak menolak seseorang karena khawatir pada akhlak dan agamanya yang belum baik, akan tetapi lihat apakah dia punya potensi, punya keinginan untuk menjadi orang yang lebih baik, punya komitmen dan mau berusaha untuk belajar sama-sama, silahkan diterima.
Sebagaimana ia yang menyukai
sikap saya yang senang melarang-larangnya, saya justru menyukai sikapnya yang tidak
pernah menentang pendapat saya, tidak pernah mengekang keinginan saya. Pada
awal-awal pernikahan ini, ia hampir tidak pernah menentang saya dalam perkara
apapun. Bahkan perkara saya hendak izin menggunakan pewarna kuku.
"Kak, Kakak suka atau nggak
kalau aku pakai pewarna kuku?"
"Mana?"
"Aku belum beli, takut kamu
nggak suka. Aku nanya dulu."
"Kamu suka, nggak? Kalau
kamu suka, aku juga suka."
"Hehehehehe.."
Walau terkadang memang ada
hal-hal yang sedikit menyebalkan.
“Kak, kakak suka aku pakai
make-up, nggak?”
“Suka-suka aja.”
“Oke, nanti aku mau beli make-up
yang ini, ya. Sama yang ini. Yang ini juga. Harganya segini.”
“Eh, kayaknya kamu lebih cantik
kalau natural, deh.”
“Ih, kamu mah..”
Kesal. Tapi habis itu dibikin
ketawa lagi. Saya akan selalu kalah dalam lomba tahan tawa kalau ada dia di
samping saya. Terima kasih lagi dan lagi,
Kak!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar