Bulan
Februari adalah bulan yang dihiasi musim penghujan. Tanpa berpikir panjang,
hujan turun dengan derasnya begitu saja. Hujan tak peduli siapa yang akan basah
karenanya.
Di
bawah langit yang sudah dihiasi rintik air hujan aku memandangi gadis itu lagi.
Bukan hanya lagi, akan tetapi selalu. Gadis yang kuat, aku selalu berpikir
seperti itu. Tak pernah kulihat gadis itu menangis di depan teman-temannya,
sekalipun ia mendapat pengabaian terang-terangan dari orang yang ia sayangi.
Aku berusaha lebih banyak belajar dari arti senyuman yang selalu terlukis dalam
raut bibir dan wajahnya.
Siang
ini langit kembali memulai kebiasaannya seperti hari kemarin. Lagi-lagi hujan.
Derasnya hujan dan angin kencang yang menyerbu membuatku lupa pada gadis itu.
Semua orang berlari mencari tempat berteduh, tempat untuk melindungi diri
mereka dari dinginnya angin kencang dan hujan deras.
Aku
mendapati seorang gadis tengah menunduk dalam dingin dan gemuruh suara air
hujan. Bangku panjang itu hanya diisi oleh gadis itu, tidak ada salahnya jika
aku menempati ruang di sampingnya, bukan ?
Begitu
tubuhku merapat pada bangku itu, gadis itu sadar akan kehadiranku dan terkejut.
Aku juga terkejut melihatnya, gadis itu dia. Gadis yang selalu aku banggakan,
meski hanya dalam hati saja.
“Sendirian,
Nin?” tanyaku sok basa-basi di sampingnya.
“Seperti
yang kamu lihat.” Jawabnya tanpa berusaha melihat wajahku, matanya asyik
menatap tetesan-tetesan air hujan yang meluncur dengan cepat dari langit.
“Sekarang
hujan, apa tidak ada yang membawakanmu payung?” tanyaku lagi.
“Lagi-lagi
seperti yang kau lihat. Tak ada yang membawakanku payung. Lagi pula, aku sudah
terbiasa menunggu hujan berhenti.” Jujurnya.
“Dan
sendirian.” Tambahku.
“Kau
benar.” Dia membenarkan perkataanku. “Tapi sekarang tidak, karena sekarang aku
berdua denganmu.” Ucapnya lagi sambil menunjukkan raut wajah tersenyum.
Lagi-lagi aku tak bisa mengartikan arti dari senyumnya, apa dia bahagia karena
menunggu hujan bersamaku ? Entahlah, aku tak pandai membaca pikirannya.
“Mengapa
kau masih mempertahankan seseorang yang selalu mengabaikanmu?” aku tak bisa
menahan mulutku, sungguh aku tak ingin bertanya hal itu padanya. Namun, sedari
tadi aku berusaha mencari jawabannya sendiri di pikiranku, tetapi aku tak
berhasil menemukannya.
“Aku
tidak tahu.” Perasaanku sedikit kecewa begitu mendengar jawabannya yang hanya
terdiri dari tiga kata itu, aku-tidak-tahu, begitu katanya.
“Bahkan
kau sendiri tak bisa menemukan alasannya. Di dunia ini tidak ada hal yang tidak
beralasan.”
“Tetapi
tidak mutlak dalam mencintai seseorang kau membutuhkan sebuah alasan, bukan?”
dia mencoba membuat salah pernyataanku. “Aku bertahan mencintainya bukan
karena, tetapi walaupun.” Tambahnya lagi, aku semakin tertegun.
“Maksudmu?”
Dengan bodohnya aku menjawab seperti itu.
“Entahlah.”
Lagi-lagi aku mendapati jawaban singkat darinya.
Gadis
itu tak kunjung peka, bahwa di sampingnya kini telah duduk seseorang yang lebih
mampu membahagiakannya tanpa harus membuatnya terluka dan merasakan yang
namanya pengabaian.
Hari
ini, di bawah derasnya air hujan, gadis itu mengajariku bahwa bertahan dalam
mencintai seseorang bukan ‘karena’ tetapi ‘walaupun’. Bukan karena dia sempurna
di mataku lantas aku mencintainya tetapi walaupun ia milik orang lain, aku tetap
bertahan untuk mencintainya. Meski perih. Sama seperti dirinya yang memilih
bertahan dalam mencintai seseorang yang selalu mengabaikannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar