Gadis cantik itu memandangi
langit senja. Matanya terlihat sembab karena air mata. Tatapannya menerawang jauh
ke udara. Terlihat sebersit kesedihan pada dirinya, kesakitan pada hatinya, dan
rapuh dalam pandangannya.
Bayangannya memang tidak tertatih tetapi
sangat lemah. Nampaknya ia sedang fokus memperhatikan seekor kupu-kupu yang
terbang bebas mengitarinya.
Sempat kudengar ucapannya, "aku
ingin menjadi seperti seekor kupu-kupu yag terbang bebas di langit, tanpa
peduli kemana angin membawa mereka terbang. Apa bisa, Tuhan ?”
Oh, gadis itu sedang meratap pada Tuhan.
Telingaku kembali mendengar ucapannya. Ia melanjutkan perkataannya.
"Atau.. menjadi senja yang
selalu indah. Meski akan menghilang, tetapi esok
dia akan muncul kembali, dan membuat semua orang yang melihatnya bergumam
memujinya."
Perlahan kudekati dia. "Senja
memang indah, tetapi tak seindah apa yang telah tuhan berikan kepada kita.
" kataku dengan hati-hati. Ia melirikku.
"Senja itu sungguh indah. Apa
pernah kau mendengar seseorang mengejek senja ?" tanyanya.
"Tentu tidak." jawabku
singkat. Sepertinya ia ingin menunjukkan padaku bahwa ia tetap bersikeras
menjadi sebuah 'senja'.
"Lalu kau sendiri ingin menjadi
apa ?" apa dia gila ? aku tidak pernah berpikir
ingin menjadi sebuah senja seperti yang dia pikirkan.
"Aku ?"
"Ya, kamu."
"Aku tidak ingin menjadi
apa-apa. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri. "
Lama kami saling terdiam. Gadis itu
terus saja memandangi senja yang mulai memudar. Burung-burung beterbangan
kembali ke sarangnya. Namun gadis itu belum mau beranjak. Ia memandangi senja,
sementara aku masih memperhatikan sorot matanya. Namira, sebuah nama tertera pada kalung yang dia gunakan. Mungkin
itu namanya, nama yang cantik.
Angin sore berhembus membuat
rambutnya yang indah itu bergoyang. Tak lama, terdengar suara langkah kaki,
bayangannya menjauh dariku, dan kemudian ia hilang di balik senja itu.
Sore keesokan harinya, sepertinya aku
merindukan tempat itu. Tempat dimana senja tinggal. Langkah kakiku terhenti
tepat di tempat kemarin. Tempat dimana aku bertemu Namira, gadis yang ingin
menjadi seekor kupu-kupu atau sebuah 'senja'.
Kupikir aku akan kembali berjumpa
dengannya. Tetapi di sini sepi. Hanya ada aku dan seorang pria. Tak ada
senyuman kulihat dari wajahnya. Tak seperti gadis kemarin. Meski ada air mata
yang terbendung di sudut matanya, namun bibirnya mengulas senyum saat melihat
senja. Pria yang berdiri di sampingku sama sekali tidak tersenyum. Apakah dia
membenci senja ?
"Apa anda tak menyukai senja ?
" tanyaku dengan berani. Dia tak menjawabku. "Maaf." ucapku.
"Tidak apa-apa. Mengapa kamu
bertanya seperti itu ? " tanyanya.
"Tatapan anda pada senja itu.."
"Tempat ini yang akan selalu
mengingatkan saya pada adik saya, Namira. Dia sangat menyukai senja, dan selalu
bermimpi ingin menjadi sebuah senja. " aku berpikir, apakah Namira yang
dia maksud adalah gadis yang kemarin bersama denganku melihat senja ?
"Lalu mengapa anda tidak
membawanya ke sini bersama anda untuk melihat senja ? "
"Dia tidak akan pernah lagi
melihat senja. " aku memandangi pria itu. Ada air mata di ujung matanya
yang masih terus menatap ke arah senja.
"Mengapa ?" tanyaku.
"Dia tidak tinggal bersamaku
lagi. Dia tinggal bersama Tuhan. " aku tak mengerti maksud ucapannya. Ada
setitik air mata di sudut mata pria itu. Kami sama-sama terdiam lama.
“Dia meninggal tadi pagi..” ujar pria
itu memberitahuku. Aku sedikit tersentak.
“Namira ? Meninggal?” tanyaku.
“Iya, Namira adikku. Namira yang
selalu ingin menjadi sebuah senja. Tadi pagi dia meninggal akibat tumor ganas
di otaknya.”
Aku membisu seribu bahasa. Mataku
memandang senja. Senja itu seperti tersenyum kepadaku. Ada bayang-bayang wajah
Namira di sana. Perlahan wajahnya menghilang seiring memudarnya senja. Namira
menghilang bersama senja. Bukan, senja itu adalah Namira!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar