03/02/13

Gadis Senja



  Gadis cantik itu memandangi langit senja. Matanya terlihat sembab karena air mata. Tatapannya menerawang jauh ke udara. Terlihat sebersit kesedihan pada dirinya, kesakitan pada hatinya, dan rapuh dalam pandangannya.
Bayangannya memang tidak tertatih tetapi sangat lemah. Nampaknya ia sedang fokus memperhatikan seekor kupu-kupu yang terbang bebas mengitarinya.
Sempat kudengar ucapannya, "aku ingin menjadi seperti seekor kupu-kupu yag terbang bebas di langit, tanpa peduli kemana angin membawa mereka terbang. Apa bisa, Tuhan ?”
 Oh, gadis itu sedang meratap pada Tuhan. Telingaku kembali mendengar ucapannya. Ia melanjutkan perkataannya.
"Atau.. menjadi senja yang selalu indah. Meski akan menghilang, tetapi esok dia akan muncul kembali, dan membuat semua orang yang melihatnya bergumam memujinya."
Perlahan kudekati dia. "Senja memang indah, tetapi tak seindah apa yang telah tuhan berikan kepada kita. " kataku dengan hati-hati. Ia melirikku.
"Senja itu sungguh indah. Apa pernah kau mendengar seseorang mengejek senja ?" tanyanya.
"Tentu tidak." jawabku singkat. Sepertinya ia ingin menunjukkan padaku bahwa ia tetap bersikeras menjadi sebuah 'senja'.
"Lalu kau sendiri ingin menjadi apa ?" apa dia gila ? aku tidak pernah berpikir ingin menjadi sebuah senja seperti yang dia pikirkan.
"Aku ?"
"Ya, kamu."
"Aku tidak ingin menjadi apa-apa. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri. "
Lama kami saling terdiam. Gadis itu terus saja memandangi senja yang mulai memudar. Burung-burung beterbangan kembali ke sarangnya. Namun gadis itu belum mau beranjak. Ia memandangi senja, sementara aku masih memperhatikan sorot matanya. Namira, sebuah nama tertera pada kalung yang dia gunakan. Mungkin itu namanya, nama yang cantik.
Angin sore berhembus membuat rambutnya yang indah itu bergoyang. Tak lama, terdengar suara langkah kaki, bayangannya menjauh dariku, dan kemudian ia hilang di balik senja itu.
Sore keesokan harinya, sepertinya aku merindukan tempat itu. Tempat dimana senja tinggal. Langkah kakiku terhenti tepat di tempat kemarin. Tempat dimana aku bertemu Namira, gadis yang ingin menjadi seekor kupu-kupu atau sebuah 'senja'.
Kupikir aku akan kembali berjumpa dengannya. Tetapi di sini sepi. Hanya ada aku dan seorang pria.  Tak ada senyuman kulihat dari wajahnya. Tak seperti gadis kemarin. Meski ada air mata yang terbendung di sudut matanya, namun bibirnya mengulas senyum saat melihat senja. Pria yang berdiri di sampingku sama sekali tidak tersenyum. Apakah dia membenci senja ?
"Apa anda tak menyukai senja ? " tanyaku dengan berani. Dia tak menjawabku. "Maaf." ucapku.
"Tidak apa-apa. Mengapa kamu bertanya seperti itu ? " tanyanya.
"Tatapan anda pada senja itu.."
"Tempat ini yang akan selalu mengingatkan saya pada adik saya, Namira. Dia sangat menyukai senja, dan selalu bermimpi ingin menjadi sebuah senja. " aku berpikir, apakah Namira yang dia maksud adalah gadis yang kemarin bersama denganku melihat senja ? 
"Lalu mengapa anda tidak membawanya ke sini bersama anda untuk melihat senja ? "
"Dia tidak akan pernah lagi melihat senja. " aku memandangi pria itu. Ada air mata di ujung matanya yang masih terus menatap ke arah senja.
"Mengapa ?" tanyaku.
"Dia tidak tinggal bersamaku lagi. Dia tinggal bersama Tuhan. " aku tak mengerti maksud ucapannya. Ada setitik air mata di sudut mata pria itu. Kami sama-sama terdiam lama.
“Dia meninggal tadi pagi..” ujar pria itu memberitahuku. Aku sedikit tersentak.
“Namira ? Meninggal?” tanyaku.
“Iya, Namira adikku. Namira yang selalu ingin menjadi sebuah senja. Tadi pagi dia meninggal akibat tumor ganas di otaknya.”
Aku membisu seribu bahasa. Mataku memandang senja. Senja itu seperti tersenyum kepadaku. Ada bayang-bayang wajah Namira di sana. Perlahan wajahnya menghilang seiring memudarnya senja. Namira menghilang bersama senja. Bukan, senja itu adalah Namira!
    


         


Tidak ada komentar:

Posting Komentar