18/02/13

Pria di Ujung Lorong

Gerimis turun tanpa kuduga, aku mempercepat langkah kakiku menuju ke arah rumahnya yang berada di ujung lorong. Rumah pria yang berbeda satu tahun lebih muda dariku. Pria yang kukenal baik hati.


Begitu aku sampai di depan rumahnya, gerimis di langit berubah menjadi butiran-butiran yang meluncur dengan deras dan cepat, hujan. Aku mengetuk berulang kali pintu rumahnya. Suara ketukanku di pintu rumahnya tenggelam karena riuhnya suara air hujan. Namun tak berapa lama aku lega, dia sudah membukakan pintunya.
“Oh, ada mbak Sandra..” belum sempat aku membalas ucapannya, dia menatap langit di luar, “Hujannya deras..” dan ia kembali masuk ke dalam rumahnya, membiarkan aku keheranan di depan pintu rumahnya. Tak lama ia kembali dengan sebuah payung di tangannya.
“Pake payung ini, mbak. Nanti kembalikan, ya.” Mungkin dia berpikir aku ke sini untuk meminjam payungnya, padahal bukan itu.
“Eh, anu Roni, mbak mau minta daun kunyitnya, bisa ? Tanamannya di sebelah mana ?” tanyaku dengan suara agak dikeraskan sebab langit masih bergemuruh bersama hujan.
“Oh, itu mbak. Yang di depan itu tanaman kunyit semuanya. Tunggu, aku ambilkan.” Katanya sambil membuka payungnya dan menerobos hujan. Ia memetik beberapa daun kunyit untukku.
“Ini.” Serahnya.
“Lagi ya, yang kecil di sana.” Pintaku, dan dia mengambilkannya lagi.
“Ini, mbak.” Serahnya lagi dengan senyuman di bibirnya. Aku suka melihat wajahnya, wajah yang ramah dan penuh senyuman.
“Ya sudah, mbak pulang dulu, ya. Makasih banyak.”
“Sama-sama.” Aku mencoba menerobos hujan dengan payung pinjamannya. Tetapi pria itu memanggilku.
“Ada apa ?” tanyaku.
“Hati-hati, ya.” Katanya. Ah, pria yang perhatian. Rasanya sudah lama tak ada yang memperhatikanku seperti ini.
“Oke. Jangan sok perhatian seperti itu.” Kataku dengan tawa, diikuti tawanya juga.
Aku dengannya tak terlalu akrab, kami hanya berteman, dan hanya sesekali bertemu meskipun rumah kami tak berjauhan. Mengapa ia begitu perhatian ? Ya, dia memang sosok yang perhatian. Mirip dengan ibunya. Gadis yang mendapatkannya sangat beruntung.
Pernah suatu ketika aku ketakutan, aku tak tahu bagaimana caraku pulang, sementara malam semakin larut. Lampu-lampu jalanan padam dan anjing liar berkeliaran. Lalu tiba-tiba pria itu muncul dan menemaniku sampai di rumah. Mengapa kau begitu luarbiasa ? hadir tanpa diminta.
Suatu malam ketika semua orang beramai-ramai makan, aku tak ingat malam itu kami makan apa, yang jelas di dalam menu itu ada udang. Aku sangat suka udang, tetapi aku kehabisan udang. Pria itu melihatku, dan berkata, “Mbak suka udang ? ambil aja udangku, enggak apa-apa kok.” Begitu katanya. Aku terkejut dan tanpa menjawab, ia langsung memindahkan udang di piringnya ke piringku.
Yang paling tak pernah bisa kulupa adalah ketika aku, Rania, Sonya, Joshua, dan Roni pergi ke sebuah restoran. Kami membuat party kecil-kecilan karena Rania ultah. Di restoran itu kami semua sama-sama memesan nasi goreng seafood, dan beraneka macam jus. Aku, Rania, dan Sonya benar-benar kekenyangan, sementara makanan kami belum habis. Piring Joshua dan Roni sudah bersih sejak tadi. Mereka berdua melirikku.
“Mbak, itu enggak dihabisin nasinya ?” Tanya Joshua. Aku mengangguk.
“Kalau gitu, sini mbak, aku habisin aja.” Kata si Roni.
“Aku duluan tadi yang ngomong.” Ujar Joshua.
“Ya udah, barengan aja.” Sahut Roni.
Aku kira mereka bercanda, tidak mungkin mereka mau makan sisa makanannya orang lain. Tetapi, keduanya langsung meraih sendok dan garpu maing-masing, dan mereka melahap habis sisa nasi di piringku. Dua bocah yang konyol.
Terimakasih Tuhan, aku benar-benar bahagia bisa bertemu dan berteman dengan pria sebaik dirinya. Kelak aku butuh pria seperti itu untuk mendampingi hidupku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar