22/02/13

Gelang Kenangan




Sore itu, aku pulang paling lama di kelas. Selain karena piket, aku juga membersihkan loker dan laci mejaku terlebih dahulu sebelum aku pulang. Kelasku berada di lantai tiga paling ujung.
Begitu aku selesai membersihkan, aku segera keluar dari kelas. Aku mendapati dua orang cleaning service sedang membersihkan lantai tiga. Dengan biasa, aku melewati mereka dan menuju ke arah tangga. Di tengah tangga, salah satu dari cleaning service itu memanggilku. Cleaning service yang sudah tua itu menghampiriku.
“Dek, kenapa temannya ditinggalkan?”
“Hah ? Teman yang mana, pak?” aku heran, karena setahuku di lantai tiga tadi hanya ada aku dan kedua cleaning service itu.
“Itu yang nangis di tangga.”
“Apa?” langkahku mundur. “Maaf, pak. Itu mungkin bukan teman saya.”
Aku tak melihat ada seorangpun di atas tangga. Aku mempercepat langkahku. Tiba di lantai dua langkahku terhenti ketika kudengar seseorang memanggilku.
“Yuni..” Deg! Entah siapa yang memanggilku. Bulu kudukku berdiri. Sepanjang lantai dua ini sangat sepi, angin sore yang menyerbu serasa mencekam bangunan sekolah yang sudah kosong. Dengan hati-hati aku menolehkan kepalaku.
“Lola ? Sedang apa di sini?” aku sedikit terperangah melihat Lola ada di lantai dua.
“Kenapa pucat wajahmu?” tanyanya.
“Ah, tidak ada apa-apa.”
“Kau terkejut melihatku?”
“I..Iya.” begitu mendengar jawabanku, ia tertawa kecil. “Sedang apa kau di sini, Lola?” tanyaku.
“Kau sendiri sedang apa?” dia bertanya balik.
“Aku mau pulang.” Jawabku.
“Oh, mau turun ? kalau begitu turun sama-sama saja.” Aku dan Lola menuruni tangga bersamaan. Bersama-sama melewati satu persatu anak tangga di bangunan yang sudah kosong melompong.
“Yun, aku ke toilet dulu, ya. Kamu duluan aja pulang.” Lola berlari meninggalkanku, dan gelang di tangannya terjatuh tanpa ia sadari.
“Lolaaa..” aku mencoba memanggilnya sambil memungut gelang yang jatuh itu. Seketika Lola sudah lenyap dari pandanganku. ‘Apa sebaiknya aku mencarinya saja di toilet, ya?’ pikirku.
Sudah lima menit aku menunggunya di toilet. Lagi-lagi buku kudukku merinding. Tak terdengar suara apapun dari dalam kamar mandi. Hening.
Apa Lola sudah keluar dari tadi ? Tidak mungkin secepat itu. Atau dia kenapa-kenapa di dalam kamar mandi ?
“La ? Lolaaa?” tidak terdengar sahutan dari dalam. Tiba-tiba seorang cleaning service menghampiriku.
“Cari siapa, dek?” tanyanya.
“Mencari teman.”
“Di kamar mandi?” tanyanya lagi. Aku hanya mengangguk.
“Dari tadi tidak ada yang ke kamar mandi, dek.” Katanya memberitahuku. Lagi-lagi bulu kudukku merinding.
Aku melangkah dengan cepat meninggalkan area sekolah. Langkahku terhenti saat mataku menemukan sosok Lola sedang tertawa bersama teman-temannya di sebuah restoran di samping sekolah. Aku melangkah masuk ke dalam restoran itu.
“Lola..” panggilku. Ia berhenti tertawa dan menoleh.
“Ada apa?”
“Ini gelang milikmu.” Kataku seraya menyerahkannya. “Tadi kau berlari meninggalkanku dan gelangmu terjatuh.”
“Kapan ? Aku tidak bersamamu. Sejak bel pulang aku bersama mereka ke sini untuk makan.” Kata Lola sambil melihat ke arah teman-temannya.
“Oh, entahlah. Tapi ini milikmu, bukan?” Lola memperhatikan gelang itu. Matanya berkaca-kaca.
“Iya, ini milikku. Sebenarnya gelang ini hilang sejak sekitar sebulan yang lalu.”
“Apa?” aku terkejut.
“Gelang ini hilang. Aku sudah mencarinya kemana-mana.” Ujarnya lagi.
Lalu Lola menceritakan masa lalunya. Ia menceritakan bahwa gelang itu pemberian dari seseorang bernama Deni. Mereka menjalin cinta. dan Deni pernah memberi gelang itu kepada Lola. Namun siapa yang bisa menduga, dua hari setelah pemberian gelang itu, Deni mengalami kecelakaan motor. Motornya ditabrak dari belakang, dan masuk ke dalam jurang yang cukup dalam. Duapuluh jam kemudian mayat Deni baru berhasil ditemukan diantara semak belukar di tepi sungai.
Sebulan yang lalu Lola menyesal telah menghilangkan gelang itu. Sekarang, lewat aku, Deni mengembalikan gelang itu, berharap Lola akan menjaganya dengan lebih baik.
Aku pulang dengan perasaan lega, tak pernah kupikirkan hal seperti ini bisa terjadi. Matahari sore mengantarku pulang ke rumah. Jalanan mulai terlihat sepi. Gonggongan anjing terdengar di sana-sini. Tiba-tiba sebuah motor berhenti tepat di sampingku. Si pengendara itu lalu membuka kaca helmnya.
“Terimakasih banyak.” Ucapnya sambil tersenyum. Aku benar-benar terkejut, belum sempat aku menanyakan apa maksud dari ucapannya, dia sudah pergi bersama motornya. Aku kembali terkejut, dari arah belakang, baju pria tersebut bersimbah darah dengan kaki yang hampir putus!
Kemudian semuanya gelap, dan aku tak ingat apa-apa lagi.
Esok paginya suhu tubuhku sangat tinggi. Aku jatuh sakit setelah kejadian kemarin, kejadian gelang kenangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar