Sore
itu, aku pulang paling lama di kelas. Selain karena piket, aku juga
membersihkan loker dan laci mejaku terlebih dahulu sebelum aku pulang. Kelasku
berada di lantai tiga paling ujung.
Begitu
aku selesai membersihkan, aku segera keluar dari kelas. Aku mendapati dua orang
cleaning service sedang membersihkan lantai tiga. Dengan biasa, aku melewati
mereka dan menuju ke arah tangga. Di tengah tangga, salah satu dari cleaning
service itu memanggilku. Cleaning service yang sudah tua itu menghampiriku.
“Dek,
kenapa temannya ditinggalkan?”
“Hah
? Teman yang mana, pak?” aku heran, karena setahuku di lantai tiga tadi hanya
ada aku dan kedua cleaning service itu.
“Itu
yang nangis di tangga.”
“Apa?”
langkahku mundur. “Maaf, pak. Itu mungkin bukan teman saya.”
Aku
tak melihat ada seorangpun di atas tangga. Aku mempercepat langkahku. Tiba di
lantai dua langkahku terhenti ketika kudengar seseorang memanggilku.
“Yuni..”
Deg! Entah siapa yang memanggilku. Bulu kudukku berdiri. Sepanjang lantai dua
ini sangat sepi, angin sore yang menyerbu serasa mencekam bangunan sekolah yang
sudah kosong. Dengan hati-hati aku menolehkan kepalaku.
“Lola
? Sedang apa di sini?” aku sedikit terperangah melihat Lola ada di lantai dua.
“Kenapa
pucat wajahmu?” tanyanya.
“Ah,
tidak ada apa-apa.”
“Kau
terkejut melihatku?”
“I..Iya.”
begitu mendengar jawabanku, ia tertawa kecil. “Sedang apa kau di sini, Lola?”
tanyaku.
“Kau
sendiri sedang apa?” dia bertanya balik.
“Aku
mau pulang.” Jawabku.
“Oh,
mau turun ? kalau begitu turun sama-sama saja.” Aku dan Lola menuruni tangga
bersamaan. Bersama-sama melewati satu persatu anak tangga di bangunan yang
sudah kosong melompong.
“Yun,
aku ke toilet dulu, ya. Kamu duluan aja pulang.” Lola berlari meninggalkanku,
dan gelang di tangannya terjatuh tanpa ia sadari.
“Lolaaa..”
aku mencoba memanggilnya sambil memungut gelang yang jatuh itu. Seketika Lola
sudah lenyap dari pandanganku. ‘Apa sebaiknya
aku mencarinya saja di toilet, ya?’ pikirku.
Sudah
lima menit aku menunggunya di toilet. Lagi-lagi buku kudukku merinding. Tak
terdengar suara apapun dari dalam kamar mandi. Hening.
Apa
Lola sudah keluar dari tadi ? Tidak mungkin secepat itu. Atau dia kenapa-kenapa
di dalam kamar mandi ?
“La
? Lolaaa?” tidak terdengar sahutan dari dalam. Tiba-tiba seorang cleaning
service menghampiriku.
“Cari
siapa, dek?” tanyanya.
“Mencari
teman.”
“Di
kamar mandi?” tanyanya lagi. Aku hanya mengangguk.
“Dari
tadi tidak ada yang ke kamar mandi, dek.” Katanya memberitahuku. Lagi-lagi bulu
kudukku merinding.
Aku
melangkah dengan cepat meninggalkan area sekolah. Langkahku terhenti saat
mataku menemukan sosok Lola sedang tertawa bersama teman-temannya di sebuah
restoran di samping sekolah. Aku melangkah masuk ke dalam restoran itu.
“Lola..”
panggilku. Ia berhenti tertawa dan menoleh.
“Ada
apa?”
“Ini
gelang milikmu.” Kataku seraya menyerahkannya. “Tadi kau berlari meninggalkanku
dan gelangmu terjatuh.”
“Kapan
? Aku tidak bersamamu. Sejak bel pulang aku bersama mereka ke sini untuk makan.”
Kata Lola sambil melihat ke arah teman-temannya.
“Oh,
entahlah. Tapi ini milikmu, bukan?” Lola memperhatikan gelang itu. Matanya berkaca-kaca.
“Iya,
ini milikku. Sebenarnya gelang ini hilang sejak sekitar sebulan yang lalu.”
“Apa?”
aku terkejut.
“Gelang
ini hilang. Aku sudah mencarinya kemana-mana.” Ujarnya lagi.
Lalu
Lola menceritakan masa lalunya. Ia menceritakan bahwa gelang itu pemberian dari
seseorang bernama Deni. Mereka menjalin cinta. dan Deni pernah memberi gelang
itu kepada Lola. Namun siapa yang bisa menduga, dua hari setelah pemberian
gelang itu, Deni mengalami kecelakaan motor. Motornya ditabrak dari belakang,
dan masuk ke dalam jurang yang cukup dalam. Duapuluh jam kemudian mayat Deni
baru berhasil ditemukan diantara semak belukar di tepi sungai.
Sebulan
yang lalu Lola menyesal telah menghilangkan gelang itu. Sekarang, lewat aku,
Deni mengembalikan gelang itu, berharap Lola akan menjaganya dengan lebih baik.
Aku
pulang dengan perasaan lega, tak pernah kupikirkan hal seperti ini bisa
terjadi. Matahari sore mengantarku pulang ke rumah. Jalanan mulai terlihat
sepi. Gonggongan anjing terdengar di sana-sini. Tiba-tiba sebuah motor berhenti
tepat di sampingku. Si pengendara itu lalu membuka kaca helmnya.
“Terimakasih
banyak.” Ucapnya sambil tersenyum. Aku benar-benar terkejut, belum sempat aku
menanyakan apa maksud dari ucapannya, dia sudah pergi bersama motornya. Aku kembali
terkejut, dari arah belakang, baju pria tersebut bersimbah darah dengan kaki
yang hampir putus!
Kemudian
semuanya gelap, dan aku tak ingat apa-apa lagi.
Esok
paginya suhu tubuhku sangat tinggi. Aku jatuh sakit setelah kejadian kemarin,
kejadian gelang kenangan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar