02/02/13

Mengalah, Bukan Kalah. ( END )




“Ma, bang Ardan kemana?”
“Pergi sama Mentari.”
“Loh, mama kenal sama Mentari?”
“Iya, dong. Mentari itu kekasihnya abang kamu waktu di SMA dulu.”
“Sekarang mereka pergi kemana?”
“Main basket di lapangan ujung kompleks.”
Aku merasa ada emosi yang tertahan dalam diriku begitu mendengar Mentari pergi dengan Bang Ardan. Jadi, selama ini tentang cewek yang selalu Bang Ardan ceritakan di masa SMA nya tak lain adalah Mentari. Apa memang benar Mentari? Orang yang membuatku luluh mati-matian.
Kutahan emosi yang semakin berjgejolak ini, dengan langkah cepat kutuju lapangan basket di ujung kompleks. Selama ini, Mentari begitu baik, begitu perhatian, dan mau menemani hari-hariku karena dia tahu bahwa aku adalah adiknya Bang Ardan, orang yang dicintainya. Apa benar ia masih mencintai Bang Ardan?
Samar-samar dari kejauhan aku melihat keduanya tertawa lepas sambil memainkan bola basket. Mereka saling menatap dengan hangat satu sama lain. Tatapan Mentari begitu berbeda saat ia menatap Bang Ardan, begitupun tingkahnya.
Aku mungkin harus memilih pergi, aku mungkin yang harus mengalah. Aku juga mungkin yang salah, hampir merebut orang yang dicintai abangku sendiri. Tuhan menyadarkanku dengan segera. Aku harus rela. (;Angga)
END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar