“Ma,
bang Ardan kemana?”
“Pergi
sama Mentari.”
“Loh,
mama kenal sama Mentari?”
“Iya,
dong. Mentari itu kekasihnya abang kamu waktu di SMA dulu.”
“Sekarang
mereka pergi kemana?”
“Main
basket di lapangan ujung kompleks.”
Aku
merasa ada emosi yang tertahan dalam diriku begitu mendengar Mentari pergi
dengan Bang Ardan. Jadi, selama ini tentang cewek yang selalu Bang Ardan
ceritakan di masa SMA nya tak lain adalah Mentari. Apa memang benar Mentari?
Orang yang membuatku luluh mati-matian.
Kutahan
emosi yang semakin berjgejolak ini, dengan langkah cepat kutuju lapangan basket
di ujung kompleks. Selama ini, Mentari begitu baik, begitu perhatian, dan mau
menemani hari-hariku karena dia tahu bahwa aku adalah adiknya Bang Ardan, orang
yang dicintainya. Apa benar ia masih mencintai Bang Ardan?
Samar-samar
dari kejauhan aku melihat keduanya tertawa lepas sambil memainkan bola basket.
Mereka saling menatap dengan hangat satu sama lain. Tatapan Mentari begitu
berbeda saat ia menatap Bang Ardan, begitupun tingkahnya.
Aku
mungkin harus memilih pergi, aku mungkin yang harus mengalah. Aku juga mungkin
yang salah, hampir merebut orang yang dicintai abangku sendiri. Tuhan
menyadarkanku dengan segera. Aku harus rela. (;Angga)
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar