20/08/17

[All About Life]: Sebuah Arti Merdeka



Seminggu sekali, ritual wajib sore hari adalah belanja ke pasar untuk makan malam. Saya menikmati saat-saat seperti ini. Menggas motor saya, menuju tugu garuda lantas belok kiri melewati satu lampu merah, belok kanan, bertemu perempatan, ambil kiri, parkir motor, kunci stang, simpan helm. Dengan percaya diri memilah-milih sayuran. Hari itu mau masak yang gampang saja, sayur sup. Mengandung air, bumbu, bawang goreng, kol, wortel, dan kentang. Seharian tadi rapat, jadi saya goreng naget saja buat lauknya, bentar lagi magrib nanti takut tidak keburu. Oh iya, cabe rawit dan cabe merah juga sudah lama turun harganya. Ah, senangnya. Hanya Rp 4.000,- per ons nya. Lalu untuk menu besok pagi saya beli lele, Rp 16.000,- sudah bisa dapat 6 ekor. Pengennya beli ikan Nila, ternyata satu ekornya Rp 8000,-. Jadi, ke pasar tuh juga beban pikiran. Pokoknya sebisa mungkin belanjaan itu tidak melebihi uang jatah belanja. Gimanapun caranya pikiran diputar. Menunya di bolak-balik.

Dalam perjalanan pulang di pikiran saya mendadak terbersit, oh mungkin merdeka ya seperti ini ketika seorang anak perempuan dipercaya untuk pergi ke pasar membeli sayuran seorang diri dengan sepeda motornya bahkan setelah ia berkali – kali jatuh dari sepeda motornya. Bukan hanya itu saja, dalam perjalanannnya menuju pasar, mata saya juga dimerdekakan dengan perjalanan yang dipenuhi sawah-sawah dan para penjual tanaman yang tanaman-tanamannya sungguh menyenangkan mata.

Ketika saya tinggal di Sulawesi dulu, seorang teman saya pernah berbagi cerita, zaman dulu di kampungnya di suatu daerah di Sulawesi, katanya seorang perempuan tidak bisa sembarangan keluar dari rumahnya, hampir semua pekerjaan di luar rumah dikerjakan oleh laki-laki, bahkan yang belanja ke pasar adalah bapaknya, karena ke pasar berarti sudah keluar dari rumah.

Tetapi, terkadang kemerdekaan itu sering kita salahgunakan. Jikalau di masa lalu seorang perempuan tidak bisa sembarangan keluar rumah artinya ia dijaga betul harga diri dan kehormatannya, dirasa betul betapa berharga dirinya. Kebanyakan dari banyaknya kasus kekerasan yang dialami perempuan adalah kita ia keluar dari rumahnya. Hal ini yang terkadang menyebabkan pertengkaran di dalam hati saya bahwa waktu-waktu di malam hari adalah waktu paling rawan akan bahaya terutamanya untuk perempuan, tetapi di sisi lain jalan-jalan di malam hari juga enak, gimana yah menjelaskannya. Gitu deh.

Meskipun telat, saya ucapkan selamat untuk panjang umurnya Indonesia.
Saya cinta Indonesia.
Bagaimanapun bobroknya saya rasa di semakin hari.

Tapi itulah Indonesia.
Tetap dicintai.
Saya tak ingin menambahkan kata meski.
Tapi itulah Indonesia.
Selalu punya banyak cerita,
Yang diingat di memori dan hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar