Seminggu sekali,
ritual wajib sore hari adalah belanja ke pasar untuk makan malam. Saya
menikmati saat-saat seperti ini. Menggas motor saya, menuju tugu garuda lantas
belok kiri melewati satu lampu merah, belok kanan, bertemu perempatan, ambil
kiri, parkir motor, kunci stang, simpan helm. Dengan percaya diri memilah-milih
sayuran. Hari itu mau masak yang gampang saja, sayur sup. Mengandung air,
bumbu, bawang goreng, kol, wortel, dan kentang. Seharian tadi rapat, jadi saya
goreng naget saja buat lauknya, bentar lagi magrib nanti takut tidak keburu. Oh
iya, cabe rawit dan cabe merah juga sudah lama turun harganya. Ah, senangnya.
Hanya Rp 4.000,- per ons nya. Lalu untuk menu besok pagi saya beli lele, Rp 16.000,-
sudah bisa dapat 6 ekor. Pengennya beli ikan Nila, ternyata satu ekornya Rp
8000,-. Jadi, ke pasar tuh juga beban pikiran. Pokoknya sebisa mungkin
belanjaan itu tidak melebihi uang jatah belanja. Gimanapun caranya pikiran
diputar. Menunya di bolak-balik.
Dalam perjalanan
pulang di pikiran saya mendadak terbersit, oh mungkin merdeka ya seperti ini
ketika seorang anak perempuan dipercaya untuk pergi ke pasar membeli sayuran
seorang diri dengan sepeda motornya bahkan setelah ia berkali – kali jatuh dari
sepeda motornya. Bukan hanya itu saja, dalam perjalanannnya menuju pasar, mata
saya juga dimerdekakan dengan perjalanan yang dipenuhi sawah-sawah dan para
penjual tanaman yang tanaman-tanamannya sungguh menyenangkan mata.
Ketika saya
tinggal di Sulawesi dulu, seorang teman saya pernah berbagi cerita, zaman dulu
di kampungnya di suatu daerah di Sulawesi, katanya seorang perempuan tidak bisa
sembarangan keluar dari rumahnya, hampir semua pekerjaan di luar rumah
dikerjakan oleh laki-laki, bahkan yang belanja ke pasar adalah bapaknya, karena
ke pasar berarti sudah keluar dari rumah.
Tetapi,
terkadang kemerdekaan itu sering kita salahgunakan. Jikalau di masa lalu
seorang perempuan tidak bisa sembarangan keluar rumah artinya ia dijaga betul
harga diri dan kehormatannya, dirasa betul betapa berharga dirinya. Kebanyakan
dari banyaknya kasus kekerasan yang dialami perempuan adalah kita ia keluar
dari rumahnya. Hal ini yang terkadang menyebabkan pertengkaran di dalam hati
saya bahwa waktu-waktu di malam hari adalah waktu paling rawan akan bahaya
terutamanya untuk perempuan, tetapi di sisi lain jalan-jalan di malam hari juga
enak, gimana yah menjelaskannya. Gitu deh.
Meskipun telat,
saya ucapkan selamat untuk panjang umurnya Indonesia.
Saya cinta
Indonesia.
Bagaimanapun
bobroknya saya rasa di semakin hari.
Tapi itulah
Indonesia.
Tetap dicintai.
Saya tak ingin
menambahkan kata meski.
Tapi itulah
Indonesia.
Selalu punya
banyak cerita,
Yang diingat di
memori dan hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar