Terpikir oleh
saya bahwa semakin kita dewasa semakin banyak tempat-tempat yang sebelumnya
kita tak pernah datangi tiba-tiba menjadi kita datangi.
Dan di
tempat-tempat baru itu biasanya terjadi obrolan singkat saat kita tengah
menunggu hal yang kita sedang urus tersebut.
Seperti pagi
itu, di kantor polisi yang terletak di seberang Hartono Mall Yogyakarta.
Ada hal-hal yang
akrab saya jumpai saat melakukan obrolan singkat.
Pertama,
orang-orang baru yang saya temui mengatakan bahwa nama saya sulit. Mungkin,
benar. Buktinya hampir setiap mendapatkan sertifikat nama saya mengalami typo.
Ijazah sudah pasti benar karena yang menuliskan ijazah memang harus teliti dan
hati-hati. Begitu pula KTP. Tapi, coba deh, kalau sertifikat, biasanya tidak
diperhatikan benar-benar.
Pernah ada suatu
masa dimana saya terharu oleh sebab nama saya dalam sertifikat olimpiade nasional
ditulis tanpa ada typo. Padahal hampir di semua sertifikat lomba yang saya
ikuti mengalami typo pada nama saya. Sesusah itukah nama saya? Mending kalau
typonya kurang satu huruf, tapi coba bayangkan ada satu huruf di nama saya yang
terubah dalam sertifikatnya. Dibacanya sudah berubah, artinya apa lagi.
Paling
menyakitkan adalah ketika seseorang suka sama saya, lalu dia menulis surat atau
apalah semacamnya, tapi nama saya ditulis dengan salah. Duh, perasaan kamu
dipertanyakan. Saya jadi berpikir, bagaimana ya nanti suatu hari kalau saya
akad nikah, harus latihan berapa kali si mempelai laki-laki untuk secara benar
menyebutkan nama saya?
Hal kedua, saat
ditanya aslinya mana?
“Aslinya mana?”
“Nenek saya di Magelang.”
“Yang saya tanya aslinya kamu, bukan nenek
kamu.”
“Saya lahir di Jakarta, Pak.”
“Dimananya?”
“Di Jakarta Selatan.”
“Iya, dimananya?”
“Di daerah Kebon Nanas kayaknya.”
“Itu Jakarta timur.”
“Oh, maaf Pak, saya cuma numpang lahir, tidak
tahu seluk beluk Jakarta.”
Hal ketiga, orangtua kerja dimana?
Saya sebenarnya
agak risih ya ditanya pekerjaan orangtua. Ini hal yang sensitif buat kebanyakan
orang. Mungkin alhamdulillah saya punya jawaban untuk pertanyaan itu.
“Bapak saya PNS, Pak.”
“PNS dimana?”
“Di Badan Pengawasan Keuangan.”
“Oh, yang lulusan STAN itu ya?”
Saya mengangguk.
Saya membayangkan
bila di posisi orang lain, misalnya dia mendapatkan pertanyaan seperti itu,
akan tetapi ia tak punya jawaban, bagaimana perasaannya?
Bagaimana jika
bapaknya sudah meninggal dunia?
Atau bapaknya
pergi dari rumah?
Atau bapaknya
mengalami stres dan sedang menjalani perawatan di rumah sakit jiwa?
Atau ia terlahir
tanpa bapak?
Banyak
pertanyaan yang kita tidak sadari bahwa mungkin tanpa kita ketahui telah
melukai batin seseorang.
Lalu.
“Berapa nomor hp, sayang?” tanya Pak
Polisi.
“0822#######”
“Kamu mendekat sini.”
“Iya, Pak.”
“Tolong bacakan ini, Sayang.”
Saya membaca
sambil berdiri.
“Duduk saja.” Pintanya.
Setelah itu ia
beranjak.
“Tolong ambilkan itu, Sayang.”
Ah, ternyata
polisi bisa sekasih sayang ini. Ayah saya saja tidak pernah memanggil saya
pakai sayang-sayang kayak gitu, tidak tahu deh kalo waktu saya masih kecil,
tidak ingat.
Eh, pernah sih,
satu kali. Waktu saya kecelakaan, kepala saya sakit sekali, terbentur.
“Iya, Sayang. Sabar,
Sayang.” Kata ayah saya.
Aih, beliau
memang romantis di waktu yang tepat dan cuek di waktu lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar