18/08/17

[All About Life]: Antara Saya dan Pak Polisi



Terpikir oleh saya bahwa semakin kita dewasa semakin banyak tempat-tempat yang sebelumnya kita tak pernah datangi tiba-tiba menjadi kita datangi.

Dan di tempat-tempat baru itu biasanya terjadi obrolan singkat saat kita tengah menunggu hal yang kita sedang urus tersebut.

Seperti pagi itu, di kantor polisi yang terletak di seberang Hartono Mall Yogyakarta.
Ada hal-hal yang akrab saya jumpai saat melakukan obrolan singkat.

Pertama, orang-orang baru yang saya temui mengatakan bahwa nama saya sulit. Mungkin, benar. Buktinya hampir setiap mendapatkan sertifikat nama saya mengalami typo. Ijazah sudah pasti benar karena yang menuliskan ijazah memang harus teliti dan hati-hati. Begitu pula KTP. Tapi, coba deh, kalau sertifikat, biasanya tidak diperhatikan benar-benar.

Pernah ada suatu masa dimana saya terharu oleh sebab nama saya dalam sertifikat olimpiade nasional ditulis tanpa ada typo. Padahal hampir di semua sertifikat lomba yang saya ikuti mengalami typo pada nama saya. Sesusah itukah nama saya? Mending kalau typonya kurang satu huruf, tapi coba bayangkan ada satu huruf di nama saya yang terubah dalam sertifikatnya. Dibacanya sudah berubah, artinya apa lagi.

Paling menyakitkan adalah ketika seseorang suka sama saya, lalu dia menulis surat atau apalah semacamnya, tapi nama saya ditulis dengan salah. Duh, perasaan kamu dipertanyakan. Saya jadi berpikir, bagaimana ya nanti suatu hari kalau saya akad nikah, harus latihan berapa kali si mempelai laki-laki untuk secara benar menyebutkan nama saya?

Hal kedua, saat ditanya aslinya mana?
“Aslinya mana?”
“Nenek saya di Magelang.”
“Yang saya tanya aslinya kamu, bukan nenek kamu.”
“Saya lahir di Jakarta, Pak.”
“Dimananya?”
“Di Jakarta Selatan.”
“Iya, dimananya?”
“Di daerah Kebon Nanas kayaknya.”
“Itu Jakarta timur.”
“Oh, maaf Pak, saya cuma numpang lahir, tidak tahu seluk beluk Jakarta.”

Hal ketiga, orangtua kerja dimana?
Saya sebenarnya agak risih ya ditanya pekerjaan orangtua. Ini hal yang sensitif buat kebanyakan orang. Mungkin alhamdulillah saya punya jawaban untuk pertanyaan itu.

“Bapak saya PNS, Pak.”
“PNS dimana?”
“Di Badan Pengawasan Keuangan.”
“Oh, yang lulusan STAN itu ya?”
Saya mengangguk.

Saya membayangkan bila di posisi orang lain, misalnya dia mendapatkan pertanyaan seperti itu, akan tetapi ia tak punya jawaban, bagaimana perasaannya?
Bagaimana jika bapaknya sudah meninggal dunia?
Atau bapaknya pergi dari rumah?
Atau bapaknya mengalami stres dan sedang menjalani perawatan di rumah sakit jiwa?
Atau ia terlahir tanpa bapak?

Banyak pertanyaan yang kita tidak sadari bahwa mungkin tanpa kita ketahui telah melukai batin seseorang.

Lalu.

“Berapa nomor hp, sayang?” tanya Pak Polisi.
“0822#######”
“Kamu mendekat sini.”
“Iya, Pak.”
“Tolong bacakan ini, Sayang.”
Saya membaca sambil berdiri.
“Duduk saja.” Pintanya.
Setelah itu ia beranjak.
“Tolong ambilkan itu, Sayang.”

Ah, ternyata polisi bisa sekasih sayang ini. Ayah saya saja tidak pernah memanggil saya pakai sayang-sayang kayak gitu, tidak tahu deh kalo waktu saya masih kecil, tidak ingat.

Eh, pernah sih, satu kali. Waktu saya kecelakaan, kepala saya sakit sekali, terbentur.
“Iya, Sayang. Sabar, Sayang.” Kata ayah saya.

Aih, beliau memang romantis di waktu yang tepat dan cuek di waktu lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar