Pagi tadi kuis
di kelas fiksi, dosen kami memberi sebuah pertanyaan.
“Siapa yang
sudah nonton film Pengabdi Setan? Yang sudah nonton film Pengabdi Setan, bisa
tolong jelaskan kepada saya, hal apa yang ingin disampaikan oleh film tersebut?”
Oke, sayangnya
pertanyaan itu tidak dilempar ke saya, jadi jatah kuis saya masih ada minggu
depan. Kalau boleh, saya awalnya mau menjawa bahwa film Pengabdi Setan ini film
keluarga. Dalam beberapa percakapan di film ini bahwa setan tidak akan
mengambil anak terakhir jika mereka tetap bersatu dan saling menyayangi, tetapi
ternyata di adegan selanjutnya hal itu adalah salah dan diperbaharui dengan
berita bahwa anak terakhir dalam keluarga mereka adalah bukan bagian dari
keluarga mereka. Saya agak kecewa di sini, saya pikir si anak terakhir akan
dilindungi mati-matian oleh kakak-kakaknya sampai akhir.
Film ini memang
lebih bercerita tentang kekeluargaan. Dimana anak-anaknya sangat baik kepada
kedua orangtuanya, kakak-kakaknya mengayomi, adik-adiknya punya tingkah yang
lucu. Kadang, film ini juga menyisipkan percakapan-percakapan lucu di antara
kaka-beradik itu.
Saya adalah tipe
penonton horor bioskop yang kalau teriak bukan hanya 3 detik, tetapi sampai 10
detik, mungkin sebioskop saya yang teriak paling lama. Well, saya teriak bukan
ketakutan, tapi karena kaget, dan saya memang mencari sensasinya di situ,
dimana ketika saya berteriak selama 10 detik, saya benar-benar merasa plong,
seperti melepaskan beban tanpa harus berteriak dengan sengaja. Saya mending
teriak karena nonton horor dibandingkan naik hysteria, atau naik apa tuh yang
di Trans Studio yang wahana warna hijau dan kuning, sangat memalukan naik yang
seperti itu, bibir dan muka saya sudah tidak terkontrol, padahal banyak yang
nontonin dari bawah. Sedih.
Selain itu, film
ini berlatar waktu tahun 80-an. Jalan ceritanya ternyata bukan sembarang jalan
cerita. Dosen saya yang kelahiran 70-an itu menjelaskan bahwa pada era 80-an,
sekte sesat seperti itu memang merajalela, ada banyak sekali. Wanita-wanita
yang tidak bisa punya anak mereka masuk ke sekte itu untuk mendapatkan anak,
caranya adalah dengan (maaf) bersetub*h dengan pria-pria yang ditemui dalam
sekte itu.
Saya juga mau
menjelaskan bahwa film ini mengajak kita untuk selalu ingat Allah, dalam film
ini terjadi sebuah percakapan antara pak Ustadz dan ayah dalam keluarga ini.
“Maaf, saya
jarang lihat Bapak di masjid.”
“Iya, saya tidak
shalat, Pak Ustadz.” Begitupun dengan anak-anaknya.
Menurut dosen
saya, pada era 80-an, orang Islam saat itu banyak tetapi mereka tidak berjilbab
dan tidak shalat, dan itu dianggap biasa saja. Malah, pengajian bagi mereka,
itu sudah seperti shalat. Mereka itu kemungkinan besar menganut Islam Abangan.
Film Pengadi
Setan adalah film horor Indonesia kedua yang saya suka setelah Danur. Jika
awalnya benci film horor Indoensia karena banyak menampilkan adegan tak
senonoh, kini makin cerdas dengan memberi pelajaran kepada penontonnya untuk
selalu mengingat Allah dan menyayangi serta bersyukur dengan keluarga yang
dimiliki.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar