12/10/17

Review "Pengabdi Setan"



Pagi tadi kuis di kelas fiksi, dosen kami memberi sebuah pertanyaan.
“Siapa yang sudah nonton film Pengabdi Setan? Yang sudah nonton film Pengabdi Setan, bisa tolong jelaskan kepada saya, hal apa yang ingin disampaikan oleh film tersebut?”

Oke, sayangnya pertanyaan itu tidak dilempar ke saya, jadi jatah kuis saya masih ada minggu depan. Kalau boleh, saya awalnya mau menjawa bahwa film Pengabdi Setan ini film keluarga. Dalam beberapa percakapan di film ini bahwa setan tidak akan mengambil anak terakhir jika mereka tetap bersatu dan saling menyayangi, tetapi ternyata di adegan selanjutnya hal itu adalah salah dan diperbaharui dengan berita bahwa anak terakhir dalam keluarga mereka adalah bukan bagian dari keluarga mereka. Saya agak kecewa di sini, saya pikir si anak terakhir akan dilindungi mati-matian oleh kakak-kakaknya sampai akhir.

Film ini memang lebih bercerita tentang kekeluargaan. Dimana anak-anaknya sangat baik kepada kedua orangtuanya, kakak-kakaknya mengayomi, adik-adiknya punya tingkah yang lucu. Kadang, film ini juga menyisipkan percakapan-percakapan lucu di antara kaka-beradik itu.

Saya adalah tipe penonton horor bioskop yang kalau teriak bukan hanya 3 detik, tetapi sampai 10 detik, mungkin sebioskop saya yang teriak paling lama. Well, saya teriak bukan ketakutan, tapi karena kaget, dan saya memang mencari sensasinya di situ, dimana ketika saya berteriak selama 10 detik, saya benar-benar merasa plong, seperti melepaskan beban tanpa harus berteriak dengan sengaja. Saya mending teriak karena nonton horor dibandingkan naik hysteria, atau naik apa tuh yang di Trans Studio yang wahana warna hijau dan kuning, sangat memalukan naik yang seperti itu, bibir dan muka saya sudah tidak terkontrol, padahal banyak yang nontonin dari bawah. Sedih.

Selain itu, film ini berlatar waktu tahun 80-an. Jalan ceritanya ternyata bukan sembarang jalan cerita. Dosen saya yang kelahiran 70-an itu menjelaskan bahwa pada era 80-an, sekte sesat seperti itu memang merajalela, ada banyak sekali. Wanita-wanita yang tidak bisa punya anak mereka masuk ke sekte itu untuk mendapatkan anak, caranya adalah dengan (maaf) bersetub*h dengan pria-pria yang ditemui dalam sekte itu.

Saya juga mau menjelaskan bahwa film ini mengajak kita untuk selalu ingat Allah, dalam film ini terjadi sebuah percakapan antara pak Ustadz dan ayah dalam keluarga ini.
“Maaf, saya jarang lihat Bapak di masjid.”
“Iya, saya tidak shalat, Pak Ustadz.” Begitupun dengan anak-anaknya.

Menurut dosen saya, pada era 80-an, orang Islam saat itu banyak tetapi mereka tidak berjilbab dan tidak shalat, dan itu dianggap biasa saja. Malah, pengajian bagi mereka, itu sudah seperti shalat. Mereka itu kemungkinan besar menganut Islam Abangan.

Film Pengadi Setan adalah film horor Indonesia kedua yang saya suka setelah Danur. Jika awalnya benci film horor Indoensia karena banyak menampilkan adegan tak senonoh, kini makin cerdas dengan memberi pelajaran kepada penontonnya untuk selalu mengingat Allah dan menyayangi serta bersyukur dengan keluarga yang dimiliki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar