Ini adalah
sepotong cerita di akhir bulan September kemarin. Begitu sibuk, menjalani dua
pilihan. Menghadapi pergi dan datangnya yang tercinta. Menyambut pula musim
hujan yang penuh sukacita.
Sudah beberapa
hari menghabiskan waktu sebagai panitia sebuah acara di Jalan Kaliurang sekitar
KM 25. Malam itu mengurusi laundry peserta yang mencapai satu mobil Avanza
full. Hampir-hampir sopirnya memangku kresek juga kalau sampai tidak muat.
Membawa laundry peserta hingga pukul sembilan malam. Baru bisa tertidur
menjelang pukul sebelas malam. Kepala juga sakit. Padahal cuma kena hujan
sedikit saja. Waktu di parkiran, bisa pas begitu langsung hujan deras. Lalu,
pukul 12 malam dibangunkan. Saya sudah berjaga malam kemarin. Tetapi, ternyata
jatahnya adalah dua malam. Dua malam adalah kemarin malam dan tadi malam.
Saya kudu
membangunkan peserta karena agendanya jam 12 malam semua peserta harus bangun.
Saya tidak tega ketuk-ketuk pintu kamarnya. Sekitar 20 pintu saya ketuk. Tetapi,
pelan-pelan. Dan itu membuat saya jadi lama menunggu mereka bangun. Tidak tega
membangunkan orang yang tengah tertidur. Malam itu dingin sekali, jaket saya
ketinggalan di jok motor. Saya pakai cardigan seadanya sambil megang kepala
karena sakit dari semalam. Harusnya saya menunggu sampai semua peserta keluar
dari kamarnya, tetapi karena tidak tahan dan sangat kurang tidur maka saya
putuskan untuk kembali ke kamar saya bersama seorang teman yang juga bertugas.
“Nin, kamu
meninggalkan barang berharga ndak di asrama?”
“Iya. Laptop.
Emang kenapa?”
“Enggak
apa-apa.”
“Ih, Mbak. Ayo
kenapa. Jangan bikin takut.”
Jadi cerita nya
kami satu asrama sedang mengadakan acara selama satu minggu. Dan posisi asrama
kosong. Saya curiga melihat raut wajahnya. Saya paksa dia bercerita. Rupanya asrama
kami dibobol. Mungkin karena mengantuk dan sakit kepala, maka ekspresi saya
biasa saja.
Awalnya sangat
mengantuk, setelah mendengar kabar itu, saya cukup gelisah. Akhirnya pergi
mengambil air wudhu. Masih menggunakan mukena, saya melihat ketua panitia, Mbak
Dona, belum tidur. Ya, selama ini saya juga kurang tidur, sih. Mulai pukul 12
malam saya terbangun sampai pagi hari. Pagi-pagi saya mesti ke kampus, meluncur
dari daerah Merapi menuju kota. Terkadang kabut masih tebal. Namun, saya
perhatikan, Mbak Dona ini sepertinya tidak pernah tidur.
Lalu saya dekati
ia,
“Mbak, celengan
yang dibobol kayak gimana? Warnanya apa?” tanya saya dengan hati-hati.
“Loh, kamu sudah
tahu? Sebenarnya, Mbak bingung cara menyampaikan pada kalian satu-satu.”
Lalu ia
memperlihatkanku semua foto yang diambil oleh salah satu teman kami yang sudah
mengecek ke sana.
“Oh, itu bukan
celengan Nina, Mbak.”
“Laptop kamu
dibawa, kan?”
“Enggak, Mbak. Aku
simpan di asrama.”
“Terus simpan
apa lagi?”
“Di asrama, aku
simpan uang ratusan ribu, perhiasan anting dan kalung emas, dan celenganku juga
berbobot, Mbak.”
“Yang sabar, ya.”
Kata Mbak Dona.
“Kemungkinan
diambil ya, Mbak?”
“Kayaknya iya,
semua pintu kamar terbuka, hampir semua lemari juga dibuka paksa. Lemarimu pakai
kunci?”
“Enggak, Mbak.”
Malam itu galau,
ingin rasanya cepat-cepat pagi. Ingin segera meluncur ke asrama, mengecek apa
saja yang hilang. Atau melihat seberapa berantakannya kamar saya. Saya pasang
banyak alarm dan tidak ingin melepas mukena.
Mungkin saya
adalah golongan pertama yang tahu kejadian ini. Gembok asrama kami dirusak. Tetapi,
dipasang kembali. Ketika Mbak Vina berniat ambil motor di asrama, kuncinya
tidak bisa diputar, meski gemboknya masih ada. Siangnya, Mbak Fitri urgent
mengambil sesuatu di asrama, akhirnya ia meminta bantuan Pak Tukang untuk
memecah gemboknya yang kemudian didapatinya asrama kami sudah amburadul.
Mulai saat itu,
kami memanggil bapak kepanduan untuk berjaga 24 jam di asrama kami. Mungkin saking
gabutnya, bapak Kepanduan sampai berhasil menangkap banyak penghuni gelap di
asrama kami alias tikus dan tokek.
Kembali pada
pagi harinya, saya bersiap-siap turun dari atas Kaliurang. Sebelumnya, saya
menyempatkan untuk sarapan. Tak sengaja bertemu Mbak Ratu.
“Feeling aku sih
hilang, Nin. Soalnya pencurinya juga teliti. Laptop dan hp yang rusak pada
enggak diambil.”
“It’s Okay, Mbak
Ratu. Aku enggak kenapa-kenapa kalaupun hilang, pagi ini aku cuma mau ngecek
sekalian aku bereskan kamar sebelum ke kampus.”
See, semua orang
meruntuhkan harapan saya. Tetapi, saya bukan orang yang mudah begitu saja
kehilangan harapan. Di dunia ini, banyak sekali masalah, artinya banyak juga
solusinya.
Di saat semua
merobohkan harapan saya, saya dengan beribu bibit harapan kembali menanam dalam
pikiran saya, ada tiga hal yang membuat saya bertahan dengan harapan saya bahwa
barang-barang saya selamat dari keberingasan sang pencuri.
Pertama, saya membantah argumen Mbak
Ratu, bahwa bisa saja pencurinya itu tidak detail. Bisa saja ia hanya asal
memilih lemari. Kalaupun benar si pencuri meninggalkan laptop dan hp yang rusak
setelah ia mengutak-atik tak bisa menyala, saya punya harapan bahwa pencuri
tidak bisa menyalakan laptop saya, karena hampir semua orang yang meminjam
laptop saya kebanyakan bertanya di sebelah manakah tombol on nya? Sebenarnya tak
perlu menyalakan untuk tahu bahwa masih benar atau rusak, karena laptop saya
mulus sekali sampai-sampai selalu di tanya ini laptop baru atau bukan, padahal tidak
baru-baru amat.
Kedua, lemari saya gambarnya Tom and
Jerry, sehingga saya berharap si pencuri mengira bahwa itu hanya lemari
anak-anak yang isinya tak berharga, padahal sekali saja ia buka, laptop saya
akan sangat mudah ditemukan karena isi lemarinya juga hampir kosong karena saya
sudah packing untuk acara seminggu. Saya
tidak tahu kenapa waktu itu membeli yang gambarnya Tom and Jerry, sprei saya
juga Hello Kitty, piyama saya ada Hello Kitty, ada juga yang Mickey Mouse. Saya
juga tidak tahu kenapa barang-barang saya kekanak-kanakan sekali.
Ketiga, saya berharap si pencuri tidak
sempat mengobrak-abrik karena takut dicurigai warga sekitar. Ternyata daerah
saya rawan sekali. Asrama saya samping kirinya kuburan, samping kanannya
tadinya kebon sekarang sedang ada pembangunan, depannya kebun tebu, belakangnya
banyak pohon bambunya. Sunyi sekali. Kalau habis hujan bisa berkabut.
Saya sedang
dalam perjalanan turun ke kota. Terus istighfar, apa yang salah, apa yang
kurang. Manusia tidak pernah siap dengan kehilangan, tetapi sejatinya manusia
diciptakan untuk selalu siap dengan kehilangan karena apa-apa milik kita hanya
titipan-Nya.
Kalau dipikir-pikir
hidup saya dari dulu enak-enak saja, tidak susah-susah seperti orang lain,
tidak terluka secara fisik maupun materil, meski sempat mengalami beberapa
kecelakaan dan terserang berbagai penyakit serius, tetapi saya bisa melewati
itu semua. Mungkin sekarang giliran saya diuji. Semua manusia punya waktu
masing-masing untuk diuji, kok. Semua manusia menunggu giliran untuk diuji.
Saya itu menangis
karena ingat ayah saya. Laptop ini dibeli pakai uang ayah saya. Ayah saya
capek-capek kerja beli laptop ini tapi saya malah gagal menjaganya dengan baik.
Saya punya
kenangan kecil tentang laptop ini dan juga ayah saya. Siang itu ayah saya
menelpon, beliau tipe orangtua yang sangat jarang menelpon. Chat aja balasnya
singkat. Satu kata. Jadi, kalau beliau telepon saya deg-degan bahkan menarik
nafas dulu.
“Nin, warna
laptopnya mau apa? Putih, hitam atau merah?” Yaa Allah, ternyata cuma mau tanya
warna laptop yang saya inginkan, betapa carenya karena beliau tahu bahwa saya
orangnya suka pilih-pilih kalau soal barang.
Duh, Ayah saya
weekend ini bakal datang. Saya bingung menyampaikannya. Beberapa tahun belakang
ini, saya sering menghilangkan barang-barang penting. Saya tahu, beliau bakal
santai. Tetapi, saya orangnya enggak enak. Minta uang saja enggak enak banget.
“Kasih uang
enggak, nih?” tanya Ayah saya kalau beliau sudah mau pamit buru-buru ke
bandara.
Saya senyum-senyum
saja.
“Kasihan, ah. Nih.”
Dikasih uang lagi. Padahal mah udah ditransfer. Dikasih mah, ya diterima saja.
Saya berusaha
mengikhlaskan. Sepanjang jalan saya memikirkan rencana kedepannya. Saya bakal
blogging di perpustakaan kota untuk sementara karena menjadi seorang blogger
yang produktif merupakan salah satu goals saya di tahun ini, setelah tahun
kemarin yang penuh tragedi dan membuat inspirasi saya semuanya tertahan lalu
menguap. Saya bakal menabung untuk beli laptop baru, saya sangat merasa
bersalah pada orangtua saya. Melihat kilas balik, saya pernah dihipnotis dan
menghilangkan ponsel keluaran terbaru yang baru saja dibelikan selama dua bulan,
membuat saya rela pakai ponsel senter-senter yang hanya bisa menelpon dan SMS
selama setahun. Bahkan saya berpikir bahwa lain kali saya bakal pasang
wallpaper laptop tentang mengingat Allah supaya kalau dimaling lagi, malingnya
taubat. Saya akan banyak belajar dari kejadian ini, saya bakal memback-up
data-data saya.
Apa Allah tidak
suka dengan tulisan-tulisan saya? Apa tulisan-tulisan saya tidak cukup baik
untuk dishare? Apa Allah tidak suka jika Nina mencari hiburan dengan nonton
drama-drama atau film-film sendirian di kamar? Apa Allah tidak suka dengan
lagu-lagu yang Nina putar? Padahal, saya nonton film sekalian menambah vocab. Nonton
film barat tanpa terjemahan. Nonton drama Korea untuk mengambil pelajaran
hidupnya. Menurut saya, drama Korea punya mutu pelajaran hidup yang tinggi. Saya
juga membuat sebuah vocab khusus bahasa Korea. Siapa tahu berguna, jika
kapan-kapan diijinkan pergi ke Korea.
Laptop adalah
senjata saya sebagai seseorang yang senang menulis. Menulis bagai berperang.
Laptop adalah sarana bagi seseorang yang senang menulis, utamanya untuk kids
jaman now.
Saya tidak
peduli dengan tugas saya, dengan foto-foto pribadi saya. Bagi saya, dua bulan
yang lalu sudah cukup dengan mengeluarkan uang ratusan ribu demi mencetak foto-foto
perjalanan hidup saya. Saya sangat suka mengabadikannya dalam bentuk album foto
yang dapat saya genggam, saya buka halaman demi halamannya. Tetapi, yang
terpenting adalah inspirasi atau konsep tulisan saya. Inspirasi tidak datang
dua kali. Kalau pun datang lagi, tidak akan pernah sama dengan sebelumnya. Seperti
hati yang terlanjur dilukai, tak akan bisa kau kenali seperti awal pertama
kali. Beruntunglah jika inspirasi ditangkap oleh orang yang mampu mengolahnya,
karena jika sebuah inspirasi ditangkap oleh mereka yang tak bisa mengolahnya, inspirasi
itu akan tetap terperangkap dalam pikiran orang itu. Setelah kejadian ini, saya
akhirnya memutuskan menggunakan sebuah buku catatan untuk menangkap inspirasi.
Saya sudah tiba
di depan asrama, dan hal yang tak saya pikirkan, terjadi.
“Ini cuma dunia. Dunia milik Allah,
jadi terserah Allah mau bikin takdir apa
terhadap diri saya.” – Nina
Tidak ada komentar:
Posting Komentar