03/10/17

[All About Life] : Titipan-Nya



Ini adalah sepotong cerita di akhir bulan September kemarin. Begitu sibuk, menjalani dua pilihan. Menghadapi pergi dan datangnya yang tercinta. Menyambut pula musim hujan yang penuh sukacita.

Sudah beberapa hari menghabiskan waktu sebagai panitia sebuah acara di Jalan Kaliurang sekitar KM 25. Malam itu mengurusi laundry peserta yang mencapai satu mobil Avanza full. Hampir-hampir sopirnya memangku kresek juga kalau sampai tidak muat. Membawa laundry peserta hingga pukul sembilan malam. Baru bisa tertidur menjelang pukul sebelas malam. Kepala juga sakit. Padahal cuma kena hujan sedikit saja. Waktu di parkiran, bisa pas begitu langsung hujan deras. Lalu, pukul 12 malam dibangunkan. Saya sudah berjaga malam kemarin. Tetapi, ternyata jatahnya adalah dua malam. Dua malam adalah kemarin malam dan tadi malam.

Saya kudu membangunkan peserta karena agendanya jam 12 malam semua peserta harus bangun. Saya tidak tega ketuk-ketuk pintu kamarnya. Sekitar 20 pintu saya ketuk. Tetapi, pelan-pelan. Dan itu membuat saya jadi lama menunggu mereka bangun. Tidak tega membangunkan orang yang tengah tertidur. Malam itu dingin sekali, jaket saya ketinggalan di jok motor. Saya pakai cardigan seadanya sambil megang kepala karena sakit dari semalam. Harusnya saya menunggu sampai semua peserta keluar dari kamarnya, tetapi karena tidak tahan dan sangat kurang tidur maka saya putuskan untuk kembali ke kamar saya bersama seorang teman yang juga bertugas.

“Nin, kamu meninggalkan barang berharga ndak di asrama?”
“Iya. Laptop. Emang kenapa?”
“Enggak apa-apa.”
“Ih, Mbak. Ayo kenapa. Jangan bikin takut.”

Jadi cerita nya kami satu asrama sedang mengadakan acara selama satu minggu. Dan posisi asrama kosong. Saya curiga melihat raut wajahnya. Saya paksa dia bercerita. Rupanya asrama kami dibobol. Mungkin karena mengantuk dan sakit kepala, maka ekspresi saya biasa saja.

Awalnya sangat mengantuk, setelah mendengar kabar itu, saya cukup gelisah. Akhirnya pergi mengambil air wudhu. Masih menggunakan mukena, saya melihat ketua panitia, Mbak Dona, belum tidur. Ya, selama ini saya juga kurang tidur, sih. Mulai pukul 12 malam saya terbangun sampai pagi hari. Pagi-pagi saya mesti ke kampus, meluncur dari daerah Merapi menuju kota. Terkadang kabut masih tebal. Namun, saya perhatikan, Mbak Dona ini sepertinya tidak pernah tidur.

Lalu saya dekati ia,
“Mbak, celengan yang dibobol kayak gimana? Warnanya apa?” tanya saya dengan hati-hati.
“Loh, kamu sudah tahu? Sebenarnya, Mbak bingung cara menyampaikan pada kalian satu-satu.”
Lalu ia memperlihatkanku semua foto yang diambil oleh salah satu teman kami yang sudah mengecek ke sana.
“Oh, itu bukan celengan Nina, Mbak.”
“Laptop kamu dibawa, kan?”
“Enggak, Mbak. Aku simpan di asrama.”
“Terus simpan apa lagi?”
“Di asrama, aku simpan uang ratusan ribu, perhiasan anting dan kalung emas, dan celenganku juga berbobot, Mbak.”
“Yang sabar, ya.” Kata Mbak Dona.
“Kemungkinan diambil ya, Mbak?”
“Kayaknya iya, semua pintu kamar terbuka, hampir semua lemari juga dibuka paksa. Lemarimu pakai kunci?”
“Enggak, Mbak.”

Malam itu galau, ingin rasanya cepat-cepat pagi. Ingin segera meluncur ke asrama, mengecek apa saja yang hilang. Atau melihat seberapa berantakannya kamar saya. Saya pasang banyak alarm dan tidak ingin melepas mukena.

Mungkin saya adalah golongan pertama yang tahu kejadian ini. Gembok asrama kami dirusak. Tetapi, dipasang kembali. Ketika Mbak Vina berniat ambil motor di asrama, kuncinya tidak bisa diputar, meski gemboknya masih ada. Siangnya, Mbak Fitri urgent mengambil sesuatu di asrama, akhirnya ia meminta bantuan Pak Tukang untuk memecah gemboknya yang kemudian didapatinya asrama kami sudah amburadul.

Mulai saat itu, kami memanggil bapak kepanduan untuk berjaga 24 jam di asrama kami. Mungkin saking gabutnya, bapak Kepanduan sampai berhasil menangkap banyak penghuni gelap di asrama kami alias tikus dan tokek.

Kembali pada pagi harinya, saya bersiap-siap turun dari atas Kaliurang. Sebelumnya, saya menyempatkan untuk sarapan. Tak sengaja bertemu Mbak Ratu.

“Feeling aku sih hilang, Nin. Soalnya pencurinya juga teliti. Laptop dan hp yang rusak pada enggak diambil.”
“It’s Okay, Mbak Ratu. Aku enggak kenapa-kenapa kalaupun hilang, pagi ini aku cuma mau ngecek sekalian aku bereskan kamar sebelum ke kampus.”

See, semua orang meruntuhkan harapan saya. Tetapi, saya bukan orang yang mudah begitu saja kehilangan harapan. Di dunia ini, banyak sekali masalah, artinya banyak juga solusinya.

Di saat semua merobohkan harapan saya, saya dengan beribu bibit harapan kembali menanam dalam pikiran saya, ada tiga hal yang membuat saya bertahan dengan harapan saya bahwa barang-barang saya selamat dari keberingasan sang pencuri.

Pertama, saya membantah argumen Mbak Ratu, bahwa bisa saja pencurinya itu tidak detail. Bisa saja ia hanya asal memilih lemari. Kalaupun benar si pencuri meninggalkan laptop dan hp yang rusak setelah ia mengutak-atik tak bisa menyala, saya punya harapan bahwa pencuri tidak bisa menyalakan laptop saya, karena hampir semua orang yang meminjam laptop saya kebanyakan bertanya di sebelah manakah tombol on nya? Sebenarnya tak perlu menyalakan untuk tahu bahwa masih benar atau rusak, karena laptop saya mulus sekali sampai-sampai selalu di tanya ini laptop baru atau bukan, padahal tidak baru-baru amat.

Kedua, lemari saya gambarnya Tom and Jerry, sehingga saya berharap si pencuri mengira bahwa itu hanya lemari anak-anak yang isinya tak berharga, padahal sekali saja ia buka, laptop saya akan sangat mudah ditemukan karena isi lemarinya juga hampir kosong karena saya sudah packing untuk acara seminggu.  Saya tidak tahu kenapa waktu itu membeli yang gambarnya Tom and Jerry, sprei saya juga Hello Kitty, piyama saya ada Hello Kitty, ada juga yang Mickey Mouse. Saya juga tidak tahu kenapa barang-barang saya kekanak-kanakan sekali.

Ketiga, saya berharap si pencuri tidak sempat mengobrak-abrik karena takut dicurigai warga sekitar. Ternyata daerah saya rawan sekali. Asrama saya samping kirinya kuburan, samping kanannya tadinya kebon sekarang sedang ada pembangunan, depannya kebun tebu, belakangnya banyak pohon bambunya. Sunyi sekali. Kalau habis hujan bisa berkabut.

Saya sedang dalam perjalanan turun ke kota. Terus istighfar, apa yang salah, apa yang kurang. Manusia tidak pernah siap dengan kehilangan, tetapi sejatinya manusia diciptakan untuk selalu siap dengan kehilangan karena apa-apa milik kita hanya titipan-Nya.

Kalau dipikir-pikir hidup saya dari dulu enak-enak saja, tidak susah-susah seperti orang lain, tidak terluka secara fisik maupun materil, meski sempat mengalami beberapa kecelakaan dan terserang berbagai penyakit serius, tetapi saya bisa melewati itu semua. Mungkin sekarang giliran saya diuji. Semua manusia punya waktu masing-masing untuk diuji, kok. Semua manusia menunggu giliran untuk diuji.

Saya itu menangis karena ingat ayah saya. Laptop ini dibeli pakai uang ayah saya. Ayah saya capek-capek kerja beli laptop ini tapi saya malah gagal menjaganya dengan baik.

Saya punya kenangan kecil tentang laptop ini dan juga ayah saya. Siang itu ayah saya menelpon, beliau tipe orangtua yang sangat jarang menelpon. Chat aja balasnya singkat. Satu kata. Jadi, kalau beliau telepon saya deg-degan bahkan menarik nafas dulu.

“Nin, warna laptopnya mau apa? Putih, hitam atau merah?” Yaa Allah, ternyata cuma mau tanya warna laptop yang saya inginkan, betapa carenya karena beliau tahu bahwa saya orangnya suka pilih-pilih kalau soal barang.

Duh, Ayah saya weekend ini bakal datang. Saya bingung menyampaikannya. Beberapa tahun belakang ini, saya sering menghilangkan barang-barang penting. Saya tahu, beliau bakal santai. Tetapi, saya orangnya enggak enak. Minta uang saja enggak enak banget.

“Kasih uang enggak, nih?” tanya Ayah saya kalau beliau sudah mau pamit buru-buru ke bandara.
Saya senyum-senyum saja.
“Kasihan, ah. Nih.” Dikasih uang lagi. Padahal mah udah ditransfer. Dikasih mah, ya diterima saja.

Saya berusaha mengikhlaskan. Sepanjang jalan saya memikirkan rencana kedepannya. Saya bakal blogging di perpustakaan kota untuk sementara karena menjadi seorang blogger yang produktif merupakan salah satu goals saya di tahun ini, setelah tahun kemarin yang penuh tragedi dan membuat inspirasi saya semuanya tertahan lalu menguap. Saya bakal menabung untuk beli laptop baru, saya sangat merasa bersalah pada orangtua saya. Melihat kilas balik, saya pernah dihipnotis dan menghilangkan ponsel keluaran terbaru yang baru saja dibelikan selama dua bulan, membuat saya rela pakai ponsel senter-senter yang hanya bisa menelpon dan SMS selama setahun. Bahkan saya berpikir bahwa lain kali saya bakal pasang wallpaper laptop tentang mengingat Allah supaya kalau dimaling lagi, malingnya taubat. Saya akan banyak belajar dari kejadian ini, saya bakal memback-up data-data saya.

Apa Allah tidak suka dengan tulisan-tulisan saya? Apa tulisan-tulisan saya tidak cukup baik untuk dishare? Apa Allah tidak suka jika Nina mencari hiburan dengan nonton drama-drama atau film-film sendirian di kamar? Apa Allah tidak suka dengan lagu-lagu yang Nina putar? Padahal, saya nonton film sekalian menambah vocab. Nonton film barat tanpa terjemahan. Nonton drama Korea untuk mengambil pelajaran hidupnya. Menurut saya, drama Korea punya mutu pelajaran hidup yang tinggi. Saya juga membuat sebuah vocab khusus bahasa Korea. Siapa tahu berguna, jika kapan-kapan diijinkan pergi ke Korea.

Laptop adalah senjata saya sebagai seseorang yang senang menulis. Menulis bagai berperang. Laptop adalah sarana bagi seseorang yang senang menulis, utamanya untuk kids jaman now.

Saya tidak peduli dengan tugas saya, dengan foto-foto pribadi saya. Bagi saya, dua bulan yang lalu sudah cukup dengan mengeluarkan uang ratusan ribu demi mencetak foto-foto perjalanan hidup saya. Saya sangat suka mengabadikannya dalam bentuk album foto yang dapat saya genggam, saya buka halaman demi halamannya. Tetapi, yang terpenting adalah inspirasi atau konsep tulisan saya. Inspirasi tidak datang dua kali. Kalau pun datang lagi, tidak akan pernah sama dengan sebelumnya. Seperti hati yang terlanjur dilukai, tak akan bisa kau kenali seperti awal pertama kali. Beruntunglah jika inspirasi ditangkap oleh orang yang mampu mengolahnya, karena jika sebuah inspirasi ditangkap oleh mereka yang tak bisa mengolahnya, inspirasi itu akan tetap terperangkap dalam pikiran orang itu. Setelah kejadian ini, saya akhirnya memutuskan menggunakan sebuah buku catatan untuk menangkap inspirasi.

Saya sudah tiba di depan asrama, dan hal yang tak saya pikirkan, terjadi.

“Ini cuma dunia. Dunia milik Allah,
 jadi terserah Allah mau bikin takdir apa terhadap diri saya.” – Nina

Tidak ada komentar:

Posting Komentar