17/09/18

Apa Perlu Menghilang?


Saya tidak tahu harus mulai bercerita darimana. Kita sebagai manusia, terkadang sulit menghadapi gejolak-gejolak yang tiba-tiba bermunculan di sekitar kita, betapapun kita sudah melakukan banyak antisipasi untuk itu.

Saya tidak tahu harus memulai cerita darimana, tetapi sungguh rasanya ingin menghilang saja. Kepedulian yang berlebihan yang ditimpakan kadang memang sulit dipercaya bahwa rupanya itu bisa menjadi beban risih dan justru mengacaukan hidup orang lain.

Saya tidak tahu harus memulai cerita darimana, karena tahu-tahu saja sudah banyak yang terjadi. Lucunya saya sulit dikejutkan karena kalian sendiri yang membocorkan, lucunya saya ingin kalian bahagiakan tetapi saya terbebankan.

Saya tidak tahu harus memulai cerita darimana, saya heran bagaimana bisa seseorang begitu ikut campur dalam hidup seseorang, dalam hubungan seseorang dengan seseorang yang lain, betatapun “hanya” berniat untuk membahagiakan, kau tidak pernah tahu bagaimana terlukanya ia dengan caramu yang katanya ingin “membahagiakan.”

Ah, kalau begitu mari sekali-kali redupkan niat untuk membahagiakan, karena sesungguhnya kamu tidak pernah tahu apa yang benar-benar membuat hati seseorang itu bahagia. Kebahagiaan tak selalu tampak dari sinar di matanya, bibirnya yang tak berhenti bercerita, antusias telinganya mendengarkan, gerak-geriknya yang ceria, tidak selalu seperti itu. Ada manusia-manusia yang dengan cara yang paling sederhanalah justru ia terkejut, terpukau, terbawa suasana, dan kebahagiaan itu mengalir dengan sendirinya bahkan tanpa ia sadari.


Dunia ini lucu, seseorang terkekang karena kebahagiaan yang membludak, berlebihan. Mungkin sejatinya ia sesederhana itu, tidak menyukai hal-hal yang berlebihan. Atau, ia jatuh bahagia padahal hal-hal yang kamu tidak pernah duga. Bahkan kamu tidak akan pernah tahu hal apa yang meresahkan hatinya, sekalipun kamu melihat keresahan di wajahnya.

Dunia ini lucu, seseorang tersanjung sekaligus tertampar untuk satu kali waktu. Kumohon, berhentilah membocorkan kejutan yang semesta ciptakan untukku, bahkan tanpa upayamu sendiri pun, aku yakin semesta punya rencananya sendiri untukku. Kumohon, berhentilah membuat aku terkejut di awal, dan hanya keresahan yang tertinggal di ujung waktu bahkan mungkin tak usia-usai, kau tak pernah tahu. Kumohon, berhentilah, aku ingin bahagia dengan sederhana, terkejut karena memang benar-benar terkejut, dan menangis haru karena memang terharu. Berhentilah, kumohon, aku tidak menyukai kepura-puraan bahagia dengan caramu yang berlebihan. Kumohon, berhentilah, karena aku sudah cukup bahagia. Kumohon, berhentilah.

Aku ingin menghilang saja, untuk kali ini.

Bolehkah, sekali-kali aku tidak peduli?
 

//Yogyakarta, 17 September 2018//

Tidak ada komentar:

Posting Komentar