Para manusia
berlomba-lomba mengejar masa depan mereka, masa depan yang belum pasti terjadi
dan tiada satupun yang mengerti kelak akan menjadi apa dan seperti apa diri
ini. Mereka melakukan investasi besar-besaran untuk dunia, berlomba-lomba
menyaingi manusia lainnya, tidak pernah puas dengan segala hal yang telah
diperoleh, dunia terus berhasil membuat mereka penasaran, bertahan hidup dan
mengejar mimpi menjadi motivasi yang besar bagi mereka, namun tiadakah mereka
sadar? Ada masa depan yang sudah jelas dan pasti akan terjadi, sering kali pula
sudah dipertontonkan di depan mata mereka, namun terus saja mereka berpaling,
padahal mereka tidak bisa mengelak bahkan jika masa depan itu sudah menghampiri
mereka, masa depan yang namanya semua orang juga sudah mengetahui, masa depan
yang mari kita sebut “kematian”.
“Dan kami tidak
menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia sebelum engkau (Muhammad), maka
jika engkau wafat, apakah mereka akan kekal? Setiap yang bernyawa akan
merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai
cobaan. Dan kamu hanya dikembalikan kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya : 34-35)
Kematian adalah suatu
kebahagiaan bagi orang yang beriman karena orang yang beriman akan mengharapkan
pertemuan dengan Tuhannya, sedangkan kematian adalah azab bagi orang yang tidak
beriman.
“Katakanlah:
Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku:
"Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa".
Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan
amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat
kepada Tuhannya". (QS. Al-Kahfi: 110)
Orang beriman
bukanlah semata-mata yang Islam KTP-nya, tetapi seperti yang didefinisikan
dalam Al-Quran tentang pengertian orang beriman adalah sebagai berikut.
“Bukanlah
menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi
sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian,
malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya
kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang
memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan)
hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang
menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam
kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang
benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah:
177)
Haruskah
kematian kita takuti, padahal dalam kematian kita akan mendapati rahasia
keindahan Cahaya Ilahi. Begitu yang tertulis pada cover buku 40 Hari Menuju Kematian. Biarkan dulu
saya selesai membacanya, semoga kelak ada waktu untuk mengulasnya. Mengulas
kematian; hal yang pasti terjadi pada setiap masing-masing dari kita.
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus