17/09/18

Mengiba


Senja selalu mengiringi kepulanganku, membersihkan diri menyambut malam yang sunyi lagi, manakala aku kembali sendiri, usai melatih diri dari sandiwara-sandiwara yang katanya harus kuhayati. Senjapun mengiringi sapuan demi sapuan dari gadis berparas cantik yang tempat tinggalnya tepat di dekat tikungan jalan yang selalu kulewati. Senja mengiringinya meluangkan sedikit waktu untuk mencipta jalan yang bersih, tak peduli berapa banyak sepeda motor yang melintas, membawa material debu yang menggunung, suara sapuannya tak berhenti, seolah mengiba pada setiap dedaunan dan debu yang memohon dibersihkan.

Namun, ia sendiri pun seolah meminta iba padaku. Aku mengiba pada setiap inci pakaian yang begitu minim dikenakannya. Mungkin begitu hinanya manusia seperti diriku, sok suci lantas terburu berpendapat mencemoh. Aku mengiba pula pada setiap detik mata pengendara yang melintas lantas terpukau dengan tiap inci lekuk tubuhnya, mungkin begitu hinanya manusia seperti diriku hingga lupa berkaca dengan hari-hari yang mengiba juga terjadi pada diriku sendiri atas segala hal yang kusesali namun kuulang kembali, berkali-kali.

Oh, manusia. Manusia yang ada di dalam diriku, tolong berhentilah mengiba. Ah, tapi kata orang biar belum jadi orang alim asal sudah membenci dosa itu. Bencilah dosanya, bukan manusianya, kata orang lain juga jangan megurusi dosa yang ada pada diri orang lain, kalau begitu ini sudah menjadi kebiasaanku di sisa hidupku bahwa aku selalu membenci dosaku sendiri.

Ya, mungkin gadis itu sama sepertiku, telah membenci dosanya sendiri, namun terus saja mengulangi dosa yang sama, berkali-kali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar