Senja selalu
mengiringi kepulanganku, membersihkan diri menyambut malam yang sunyi lagi,
manakala aku kembali sendiri, usai melatih diri dari sandiwara-sandiwara yang
katanya harus kuhayati. Senjapun mengiringi sapuan demi sapuan dari gadis
berparas cantik yang tempat tinggalnya tepat di dekat tikungan jalan yang selalu
kulewati. Senja mengiringinya meluangkan sedikit waktu untuk mencipta jalan
yang bersih, tak peduli berapa banyak sepeda motor yang melintas, membawa
material debu yang menggunung, suara sapuannya tak berhenti, seolah mengiba pada
setiap dedaunan dan debu yang memohon dibersihkan.
Namun, ia
sendiri pun seolah meminta iba padaku. Aku mengiba pada setiap inci pakaian
yang begitu minim dikenakannya. Mungkin begitu hinanya manusia seperti diriku,
sok suci lantas terburu berpendapat mencemoh. Aku mengiba pula pada setiap
detik mata pengendara yang melintas lantas terpukau dengan tiap inci lekuk
tubuhnya, mungkin begitu hinanya manusia seperti diriku hingga lupa berkaca
dengan hari-hari yang mengiba juga terjadi pada diriku sendiri atas segala hal
yang kusesali namun kuulang kembali, berkali-kali.
Oh, manusia.
Manusia yang ada di dalam diriku, tolong berhentilah mengiba. Ah, tapi kata
orang biar belum jadi orang alim asal sudah membenci dosa itu. Bencilah
dosanya, bukan manusianya, kata orang lain juga jangan megurusi dosa yang ada
pada diri orang lain, kalau begitu ini sudah menjadi kebiasaanku di sisa
hidupku bahwa aku selalu membenci dosaku sendiri.
Ya, mungkin
gadis itu sama sepertiku, telah membenci dosanya sendiri, namun terus saja
mengulangi dosa yang sama, berkali-kali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar