Akhirnya
langkahku kembali lagi di sini, sebuah tempat yang munafik bila kukatakan tak
kurindukan. Ah, tidak ingin berlama-lama dalam prolog yang bisa jadi membosankan
soal kampung halaman, tanah kelahiran, dan semacam itulah apa kata orang saja. Kembali
pulang berarti juga kembali pada ingatan-ingatan yang sempat berhasil
terlupakan.
Usai pamit pada
Ibu, sore itu kuputuskan untuk berjalan-jalan ke sekitar pemukiman yang mulai
terasa asing dalam pandanganku usai perantauanku beberapa tahun belakang ini di
negeri orang.
Cukup terkejut
saat mataku menemukan sebuah bangunan sederhana bertuliskan perpustakaan pada
plang di depannya. Sejak kapan ada perpustakaan di sini? Tempat tinggalku ini
memang termasuk pedalaman, luar biasalah bila ada perpustakaan dibangun di
sini. Terkejut dan ikut senang untuk keasingan yang satu ini. Segeralah aku
melangkah mendekati bangunan itu. Sore itu beberapa anak terlihat bernafsu
dengan buku di hadapan mereka.
“Mas, masuk saja.”
Kata seorang bapak yang berusia sekitar baru kepala tiga. Terlihat ia
menimang-nimang anaknya dan mungkin sama sepertiku, sedang sekedar
berjalan-jalan di sore hari. Kalau sudah menemui pemandangan semacam ini,
tiba-tiba teringat pertanyaan ibu tiap kali kami tersambung dalam telepon,
hanya saja hari ini belum terlontar perkataan itu saat aku baru saja tiba di
rumah, mungkin nanti malam. Aku bertanya-tanya dalam hati kiranya kapan aku
seperti bapak yang tadi, membawa anaknya berjalan-jalan dengan perasaan
bahagia. Dan kembali terbayang wajah gadis itu.
“Mas, Mas, sini
masuk!” lamunanku buyar, seorang anak menarik tanganku masuk ke dalam bangunan
perpustakaan yang sungguh sederhana itu. Buku-buku yang tersedia di dalamnya
tak kusangka-sangka, begitu bagus dan tak kalah jauh dengan buku-buku di kota,
ya mungkin saja buku-buku ini memang kiriman dari kota.
Tentu saja
mataku lebih tertarik menelanjangi buku-buku yang sering dibaca mereka yang
seumuran denganku. Pandanganku berhenti pada sebuah buku dengan judul yang tak asing
di benakku. Buku apa itu? Apa aku pernah membacanya? Mengapa seperti pernah
melihatnya? Dimana? Kenapa bisa? Ah, pikiran ini terlau berisik. Tahu apa aku
tentang buku-buku, tetapi setidaknya kini jauh lebih baik perkenalanku dengan
buku dibanding jauh sebelum aku mengenal gadis itu, ia yang mengenalkanku pada
buku yang baik dan bagus, lebih tepatnya aku memaksanya melakukan itu,
setidaknya aku jadi punya alasan untuk berada di dekatnya, terserah bila aku
dikatai modus atau apapun itu.
Aku membuka
perlahan buku yang terlihat usang itu, kali-kali ada ingatan yang hinggap
kembali. Tiba-tiba selembar kertas terjatuh, selembar kertas yang mungkin tak
sengaja diselipkan sang pemilik buku dahulu sebelum buku itu menepi di
perpustakaan ini.
Aku memungut
lembaran kertas tersebut, sebuah tulisan tangan yang tidak asing untukku berada
di sana, aku membaca isinya dan tanpa sadar aku terdiam lama, lama sekali,
begitu lama, sangat lama.
***
“Cepat, cepat!
Jam berapa ini! Malam ini kita gladi kotor!” seru sang stage manager diiringi
teriakan-teriakan lainnya dari sutradara dan para asistennya. Kupejamkan mata sejenak,
lelah tentu saja. Mataku terbuka kembali dan pria itu masih saja
berlalu-lalang, entah apa maksudnya, mencari perhatian mungkin saja. Ah,
mengapa aku jadi sebal. Tentu saja dia mondar-mandir, dia lah yang berperan
besar dalam lighting untuk pentas kami minggu depan. Pria mungil itu menyita
perhatianku sejak pertama kalinya ia mengirim pesan tidak jelas padaku. Pria
mungil yang biasa saja, hampir-hampir sama dengan pria lainnya yang senang
memberikan semangat dalam pesan-pesannya. Barangkali aku menyukai pesan-pesan
semacam itu hingga selalu menunggu pesan darinya.
Pria mungil
begitu aku menyebutnya, dengan sotoy menggondrongkan rambutnya hingga sebahu,
sesekali matanya tertutup poninya yang berantakan itu, selalu setiap hari ia
bersembunyi di balik jaket sweater bertudungnya, sesekali memakai kacamata
karena memang dia minus. Ia bilang padaku bahwa ia tidak percaya diri untuk
menggunakan kacamata, aku bilang dia bagus-bagus saja pakai kacamata, maka
itulah barangkali akhirnya ia selalu menggunakan kacamatanya. Pria mungil itu tak
begitu rupawan barangkali bagiku, tetapi ia terlihat imut di dalam sweaternya
yang bertudung.
Awal perkenalan
singkat untuk sebuah kisah yang cukup panjang dan rumit menurutku. Kami tidak
pernah sekalipun bertegur sapa selama aku berlatih untuk pentas teater, katanya
dia malu, harusnya aku yang malu karena aku perempuan. Ah, mungkin kalimatku
barusan salah. Siapapun boleh dan memang perlu memiliki rasa malu, karena rasa
malu itulah yang membuat manusia berusaha untuk tidak keluar dari batasan-batasan
yang telah hidup tetapkan.
Pria mungil itu
sungguh lincah, mondar-mandir, selalu dengan rokok di tangannya dan aku selalu
membenci asapnya, tetapi ia tidak peduli. Pria mungil itu begitu lincah
memanjat satu persatu anak tangga yang menjulang tinggi, ia tata kabel dan
segala macamnya demi memberikan pengaturan lighting yang terbaik untuk pentas
kami. Malam-malam sebelumnya ia juga berada di sana, menonton kami melakukan
gladi kotor, sementara kami bermain peran, ia mulai menggoreskan penanya pada
selembar kertas yang kuduga ia sedang menyusun setting tata letak lampu sorot
untuk kami di atas panggung nanti.
Sampai pada hari
pementasan, ia masih saja mondar-mandir dan masih saja pula dengan sweater-nya
yang bertudung itu, seolah sengaja menyembunyikan wajahnya dariku. Tetap saja ia
tidak bisa mengelabuiku untuk keberadaannya yang selalu menggunakan sweater
yang sama.
“Sonia, semangat
ya pentasnya, awas kalau jelek.” Ucapnya dalam pesan yang dikirimkannya padaku.
Sebal tentu saja, sok peduli padahal tak pernah sekalipun menyapaku bila kami
berpapasan.
Usai pementasan
yang latihannya memakan waktu berbulan-bulan dengan total persiapan melewati
tiga semester itu, aku ingin sekali menemuinya dan mengucapkan terima kasih
secara pribadi untuk permainan lighting yang luarbiasa yang telah disusunnya.
Menurutku dia juga berjuang keras untuk membantu kami, dengan keahliannya
memainkan lighting, memanjat anak tangga yang menjulang tinggi, menyesuaikan
letak lampu, menggulung kabel lampu kesana kemari dan lain sebagainya meski
dibalasnya itu hal biasa saja buatnya.
Namun, kulihat
ia terlalu asyik dengan teman-temannya dan seperti anak-anak teater senior
lainnya, kulihat mereka begitu antusias menggoda para aktor perempuan yang
cantik-cantik yang tengah berlalu-lalang yang kupikir para senior itu sengaja
duduk-duduk di sana. Mustahil bila kukatakan aku cemburu, lihat saja bahkan
tanpa kulihat sekalipun aku mencium aroma hidung belang di sana, maaf, bukan
menilai buruk, semua itu kutanam di hati dan pikiran semata-mata untuk
melindungiku dari rasa hati yang dipatahkan dan bisa terluka sewaktu-waktu bila
kuanggap segala hal yang dikatakannya adalah kesungguhan.
Tiba-tiba hari
itu ia mengajakku bertemu, ini menjadi pertemuan kedua setelah pada pertemuan
pertama ia meminjam sebuah buku dariku, katanya ia ingin sekali memiliki hobi
membaca. Aku tidak peduli bila ia berbohong, aku senang jika kedepannya ia akan
benar-benar senang membaca, maka tanpa segan kupinjami ia sebuah buku yang
kusuka.
Ia bilang ia
akan mengembalikan buku tersebut, tidak ada cara untuk menolak pertemuan kedua
kami yang tak pernah kuduga sekaligus menjadi pertemuan terakhir. Kami bertemu
di salah satu kedai. Ia tidak banyak bicara, pun aku.
“Mari kita
akhiri pertemuan kita. Aku sudah cukup kuat untuk membaca surat yang kau
selipkan di buku itu, entah sengaja atau tidak sengaja, entah dari siapa untuk
siapa. Tetapi aku tidak bisa lagi jika
harus bertemu denganmu. Terima kasih untuk buku yang kau pinjamkan.” Ujar pria
itu.
Aku menatapnya.
Aku menelan ludah. Aku belum paham dan dengan tidak peduli ia meninggalkanku
sendirian bersama secangkir teh yang belum kusentuh sama sekali. Untuk kesekian
kalinya, aku cukup tabah untuk ditinggalkan, aku selalu menjadi yang
ditinggalkan, tanpa mereka bertanya bagaimana perasaanku, bagaimana keadaanku,
bagaimana hancurnya aku.
Lalu, setelah
kupastikan bayangannya meghilang, aku membuka perlahan buku itu dan kutemui
sebuah surat yang begitu usang kurasa. Aku membukanya dan membacanya. Aku benci
harus membaca tulisan itu lagi, tulisan tanganku sendiri, aku tahu jika aku
membacanya sampai habis maka aku akan menangis sejadi-jadinya di tempat itu,
seorang diri, seperti waktu aku menuliskannya.
“Aku tidak tahu pesan apa yang semesta
percayakan padaku, tetapi kali ini semesta membuatku yakin bahwa kita mampu
untuk diam-diam saling jatuh hati, saling merindukan, saling mendoakan. Aku
tidak tahu apa yang direncanakan semesta untukku, meski kita tidak pernah
membuat temu, bahkan pesan singkat sekalipun tak pernah ada, semesta selalu
membuatku yakin bahwa kita tidak mesti bertemu, tak mesti saling mengucap
rindu, aku hanya perlu yakin bahwa kelak kau akan pulang dan membicarakan
segala hal yang baik-baik yang kita rencanakan di masa mendatang.
Teringat apa yang pernah dikatakan Emha
Ainun Najib bahwa cinta tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, begitu
diungkapkan dia menjadi dangkal, terasa hambar. Cinta itu untuk dilakukan,
untuk dipraktekan, untuk dibuktikan, jika dikatakan dia akan menjadi hambar.
Oleh karena itu kau perlu tahu bahwa
menunggu adalah berjuang. Semoga kau tahu, sebab surat ini tidak akan pernah
kukirimkan untukmu. Sekedar kutulis saja, sebagai pengingat diriku, bahwa aku
juga sedang berjuang meski kau tidak pernah tahu.” (Yogyakarta, 2 Juni 2014)
Dan kutemukan
selembar kertas lainnya, masih baru dan hangat, tak sedingin isinya.
“Tak usah resah, waktuku untuk mendekap
tubuhmu sudah habis. Selebihnya aku hanya menggodamu. Jika kau tak suka katakan
saja. Ada kemungkinan aku akan menghilang.” (Yogyakarta, 2 September 2015, Dari
lelaki biasa yang menyukai perempuan yang katanya biasa.)
Bersambung
Kaka apakah karyanya terinspirasi dari pengalaman? Ataukah murni hasil imajinatif, ataukah analisis?. Trims
BalasHapusBisa jadi gabungan antara ketiganya.
HapusPengen juga menggoda, apalah daya jika diri ini hanyalah penikmat rindu yang tak pernah tersampaikan
BalasHapus