24/09/18

[Chapter 1]: Segenap Kepergian


Akhirnya langkahku kembali lagi di sini, sebuah tempat yang munafik bila kukatakan tak kurindukan. Ah, tidak ingin berlama-lama dalam prolog yang bisa jadi membosankan soal kampung halaman, tanah kelahiran, dan semacam itulah apa kata orang saja. Kembali pulang berarti juga kembali pada ingatan-ingatan yang sempat berhasil terlupakan.

Usai pamit pada Ibu, sore itu kuputuskan untuk berjalan-jalan ke sekitar pemukiman yang mulai terasa asing dalam pandanganku usai perantauanku beberapa tahun belakang ini di negeri orang.

Cukup terkejut saat mataku menemukan sebuah bangunan sederhana bertuliskan perpustakaan pada plang di depannya. Sejak kapan ada perpustakaan di sini? Tempat tinggalku ini memang termasuk pedalaman, luar biasalah bila ada perpustakaan dibangun di sini. Terkejut dan ikut senang untuk keasingan yang satu ini. Segeralah aku melangkah mendekati bangunan itu. Sore itu beberapa anak terlihat bernafsu dengan buku di hadapan mereka.

“Mas, masuk saja.” Kata seorang bapak yang berusia sekitar baru kepala tiga. Terlihat ia menimang-nimang anaknya dan mungkin sama sepertiku, sedang sekedar berjalan-jalan di sore hari. Kalau sudah menemui pemandangan semacam ini, tiba-tiba teringat pertanyaan ibu tiap kali kami tersambung dalam telepon, hanya saja hari ini belum terlontar perkataan itu saat aku baru saja tiba di rumah, mungkin nanti malam. Aku bertanya-tanya dalam hati kiranya kapan aku seperti bapak yang tadi, membawa anaknya berjalan-jalan dengan perasaan bahagia. Dan kembali terbayang wajah gadis itu.

“Mas, Mas, sini masuk!” lamunanku buyar, seorang anak menarik tanganku masuk ke dalam bangunan perpustakaan yang sungguh sederhana itu. Buku-buku yang tersedia di dalamnya tak kusangka-sangka, begitu bagus dan tak kalah jauh dengan buku-buku di kota, ya mungkin saja buku-buku ini memang kiriman dari kota.

Tentu saja mataku lebih tertarik menelanjangi buku-buku yang sering dibaca mereka yang seumuran denganku. Pandanganku berhenti pada sebuah buku dengan judul yang tak asing di benakku. Buku apa itu? Apa aku pernah membacanya? Mengapa seperti pernah melihatnya? Dimana? Kenapa bisa? Ah, pikiran ini terlau berisik. Tahu apa aku tentang buku-buku, tetapi setidaknya kini jauh lebih baik perkenalanku dengan buku dibanding jauh sebelum aku mengenal gadis itu, ia yang mengenalkanku pada buku yang baik dan bagus, lebih tepatnya aku memaksanya melakukan itu, setidaknya aku jadi punya alasan untuk berada di dekatnya, terserah bila aku dikatai modus atau apapun itu.

Aku membuka perlahan buku yang terlihat usang itu, kali-kali ada ingatan yang hinggap kembali. Tiba-tiba selembar kertas terjatuh, selembar kertas yang mungkin tak sengaja diselipkan sang pemilik buku dahulu sebelum buku itu menepi di perpustakaan ini.

Aku memungut lembaran kertas tersebut, sebuah tulisan tangan yang tidak asing untukku berada di sana, aku membaca isinya dan tanpa sadar aku terdiam lama, lama sekali, begitu lama, sangat lama.

***

“Cepat, cepat! Jam berapa ini! Malam ini kita gladi kotor!” seru sang stage manager diiringi teriakan-teriakan lainnya dari sutradara dan para asistennya. Kupejamkan mata sejenak, lelah tentu saja. Mataku terbuka kembali dan pria itu masih saja berlalu-lalang, entah apa maksudnya, mencari perhatian mungkin saja. Ah, mengapa aku jadi sebal. Tentu saja dia mondar-mandir, dia lah yang berperan besar dalam lighting untuk pentas kami minggu depan. Pria mungil itu menyita perhatianku sejak pertama kalinya ia mengirim pesan tidak jelas padaku. Pria mungil yang biasa saja, hampir-hampir sama dengan pria lainnya yang senang memberikan semangat dalam pesan-pesannya. Barangkali aku menyukai pesan-pesan semacam itu hingga selalu menunggu pesan darinya.

Pria mungil begitu aku menyebutnya, dengan sotoy menggondrongkan rambutnya hingga sebahu, sesekali matanya tertutup poninya yang berantakan itu, selalu setiap hari ia bersembunyi di balik jaket sweater bertudungnya, sesekali memakai kacamata karena memang dia minus. Ia bilang padaku bahwa ia tidak percaya diri untuk menggunakan kacamata, aku bilang dia bagus-bagus saja pakai kacamata, maka itulah barangkali akhirnya ia selalu menggunakan kacamatanya. Pria mungil itu tak begitu rupawan barangkali bagiku, tetapi ia terlihat imut di dalam sweaternya yang bertudung.

Awal perkenalan singkat untuk sebuah kisah yang cukup panjang dan rumit menurutku. Kami tidak pernah sekalipun bertegur sapa selama aku berlatih untuk pentas teater, katanya dia malu, harusnya aku yang malu karena aku perempuan. Ah, mungkin kalimatku barusan salah. Siapapun boleh dan memang perlu memiliki rasa malu, karena rasa malu itulah yang membuat manusia berusaha untuk tidak keluar dari batasan-batasan yang telah hidup tetapkan.

Pria mungil itu sungguh lincah, mondar-mandir, selalu dengan rokok di tangannya dan aku selalu membenci asapnya, tetapi ia tidak peduli. Pria mungil itu begitu lincah memanjat satu persatu anak tangga yang menjulang tinggi, ia tata kabel dan segala macamnya demi memberikan pengaturan lighting yang terbaik untuk pentas kami. Malam-malam sebelumnya ia juga berada di sana, menonton kami melakukan gladi kotor, sementara kami bermain peran, ia mulai menggoreskan penanya pada selembar kertas yang kuduga ia sedang menyusun setting tata letak lampu sorot untuk kami di atas panggung nanti.

Sampai pada hari pementasan, ia masih saja mondar-mandir dan masih saja pula dengan sweater-nya yang bertudung itu, seolah sengaja menyembunyikan wajahnya dariku. Tetap saja ia tidak bisa mengelabuiku untuk keberadaannya yang selalu menggunakan sweater yang sama.

“Sonia, semangat ya pentasnya, awas kalau jelek.” Ucapnya dalam pesan yang dikirimkannya padaku. Sebal tentu saja, sok peduli padahal tak pernah sekalipun menyapaku bila kami berpapasan.

Usai pementasan yang latihannya memakan waktu berbulan-bulan dengan total persiapan melewati tiga semester itu, aku ingin sekali menemuinya dan mengucapkan terima kasih secara pribadi untuk permainan lighting yang luarbiasa yang telah disusunnya. Menurutku dia juga berjuang keras untuk membantu kami, dengan keahliannya memainkan lighting, memanjat anak tangga yang menjulang tinggi, menyesuaikan letak lampu, menggulung kabel lampu kesana kemari dan lain sebagainya meski dibalasnya itu hal biasa saja buatnya.

Namun, kulihat ia terlalu asyik dengan teman-temannya dan seperti anak-anak teater senior lainnya, kulihat mereka begitu antusias menggoda para aktor perempuan yang cantik-cantik yang tengah berlalu-lalang yang kupikir para senior itu sengaja duduk-duduk di sana. Mustahil bila kukatakan aku cemburu, lihat saja bahkan tanpa kulihat sekalipun aku mencium aroma hidung belang di sana, maaf, bukan menilai buruk, semua itu kutanam di hati dan pikiran semata-mata untuk melindungiku dari rasa hati yang dipatahkan dan bisa terluka sewaktu-waktu bila kuanggap segala hal yang dikatakannya adalah kesungguhan.

Tiba-tiba hari itu ia mengajakku bertemu, ini menjadi pertemuan kedua setelah pada pertemuan pertama ia meminjam sebuah buku dariku, katanya ia ingin sekali memiliki hobi membaca. Aku tidak peduli bila ia berbohong, aku senang jika kedepannya ia akan benar-benar senang membaca, maka tanpa segan kupinjami ia sebuah buku yang kusuka.

Ia bilang ia akan mengembalikan buku tersebut, tidak ada cara untuk menolak pertemuan kedua kami yang tak pernah kuduga sekaligus menjadi pertemuan terakhir. Kami bertemu di salah satu kedai. Ia tidak banyak bicara, pun aku.

“Mari kita akhiri pertemuan kita. Aku sudah cukup kuat untuk membaca surat yang kau selipkan di buku itu, entah sengaja atau tidak sengaja, entah dari siapa untuk siapa.  Tetapi aku tidak bisa lagi jika harus bertemu denganmu. Terima kasih untuk buku yang kau pinjamkan.” Ujar pria itu.

Aku menatapnya. Aku menelan ludah. Aku belum paham dan dengan tidak peduli ia meninggalkanku sendirian bersama secangkir teh yang belum kusentuh sama sekali. Untuk kesekian kalinya, aku cukup tabah untuk ditinggalkan, aku selalu menjadi yang ditinggalkan, tanpa mereka bertanya bagaimana perasaanku, bagaimana keadaanku, bagaimana hancurnya aku.

Lalu, setelah kupastikan bayangannya meghilang, aku membuka perlahan buku itu dan kutemui sebuah surat yang begitu usang kurasa. Aku membukanya dan membacanya. Aku benci harus membaca tulisan itu lagi, tulisan tanganku sendiri, aku tahu jika aku membacanya sampai habis maka aku akan menangis sejadi-jadinya di tempat itu, seorang diri, seperti waktu aku menuliskannya.

“Aku tidak tahu pesan apa yang semesta percayakan padaku, tetapi kali ini semesta membuatku yakin bahwa kita mampu untuk diam-diam saling jatuh hati, saling merindukan, saling mendoakan. Aku tidak tahu apa yang direncanakan semesta untukku, meski kita tidak pernah membuat temu, bahkan pesan singkat sekalipun tak pernah ada, semesta selalu membuatku yakin bahwa kita tidak mesti bertemu, tak mesti saling mengucap rindu, aku hanya perlu yakin bahwa kelak kau akan pulang dan membicarakan segala hal yang baik-baik yang kita rencanakan di masa mendatang.

Teringat apa yang pernah dikatakan Emha Ainun Najib bahwa cinta tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, begitu diungkapkan dia menjadi dangkal, terasa hambar. Cinta itu untuk dilakukan, untuk dipraktekan, untuk dibuktikan, jika dikatakan dia akan menjadi hambar.

Oleh karena itu kau perlu tahu bahwa menunggu adalah berjuang. Semoga kau tahu, sebab surat ini tidak akan pernah kukirimkan untukmu. Sekedar kutulis saja, sebagai pengingat diriku, bahwa aku juga sedang berjuang meski kau tidak pernah tahu.” (Yogyakarta, 2 Juni 2014)

Dan kutemukan selembar kertas lainnya, masih baru dan hangat, tak sedingin isinya.

“Tak usah resah, waktuku untuk mendekap tubuhmu sudah habis. Selebihnya aku hanya menggodamu. Jika kau tak suka katakan saja. Ada kemungkinan aku akan menghilang.” (Yogyakarta, 2 September 2015, Dari lelaki biasa yang menyukai perempuan yang katanya biasa.)

Bersambung

3 komentar:

  1. Kaka apakah karyanya terinspirasi dari pengalaman? Ataukah murni hasil imajinatif, ataukah analisis?. Trims

    BalasHapus
  2. Pengen juga menggoda, apalah daya jika diri ini hanyalah penikmat rindu yang tak pernah tersampaikan

    BalasHapus