15/10/18

Feeling Yesterday


Kehilangan adalah pelajaran paling dasar bagi manusia, menurut saya. Turut pula manusia wajib mengerti tentang hal berikut ini, bahwa ingatlah setiap orang yang kamu temui, mereka mencintai sesuatu, takut kepada sesuatu dan pernah kehilangan sesuatu. Paling penting lagi bahwa Allah adalah penguasa tiap-tiap hati manusia, Dia bisa membolak-balikan hati ciptaannya-Nya, siapapun yang ia kehendaki. Oleh karena itu, kini saya coba berpasrah jika ada seseorang yang berhenti mencintai saya, membenci saya, merendahkan saya, kecewa dengan saya. Mereka boleh melakukan itu semua kepada saya. Saya tidak ingin begitu rapi untuk menjaga image diri saya, mereka perlu tahu bahwa saya begitu buruk, jauh dari ekspetasi mereka, jauh dari apa yang mereka pikirkan tentang saya. Toh kata seseorang dalam tulisannya, bahwa ditunggu atau tidak ditunggu yang ingin datang akan tetap datang. Allah, jangankan hanya mengubah perasaan seseorang terhadap yang lain, mengubah perasaanmu dalam sekejap saja Ia mampu, menjadikanmu yang awalnya begitu berbahagia, lalu sedetik kemudian risau, sedih, galau, dan beruraikan air mata, Ia mampu, sangat mampu.

Hari itu saya sangat bersyukur, mengganti pelajaran stylistica dengan creative writing. Hari-hari matkul creative writing benar-benar diisi dengan berlatih menulis, tentunya dengan berbahasa inggris. Hari itu ditugaskan mengisi beberapa question, yang rupanya itu akan menjadi kerangka bagi kami untuk menulis sebuah puisi dari data tersebut. Salah satu question adalah sebutkan tiga hal yang kamu takuti, mungkin orang lain menjawab, kecoak, musang, dan semacamnya. Hari itu saya menjawab bahwa tiga hal yang saya takuti adalah, someone angry to me, someone want to leave me, and someone who has obsession about me.

Di sisi lain, ada pula pertanyaan-pertanyaan tentang karakter dan perasaan yang kamu rasakan. Saya bingung menjawabanya, hanya bisa menulis sekedarnya jika mungkin saya neutral, cool, curious, ad maybe simple? I don’t know. I just try to aswer it. And how about my feeling? I answer that I feel calm, enjoy and so grateful for everything that happen in my life.

On that time, my feeling so neutral just calm, enjoy, and very grateful of course. Then, all of my best friends want to come in my event where Kemiri Yori book will be launch. You know? I’m very excited and so grateful. on that day, someone give me chocolates with pink ribbon and there is also a little letter, a congratulation expression for me! Thank you so much, love! it doesn’t always have to be from men, is that true?

Setelah berproses selama setahun, akhirnya cita-cita divisi kami untuk membuat buku series Kemiri Yori tercapai. Hari itu kami melangsungkan launching buku, berkesempatan di Waluku Festival yang diadakan oleh salah satu fakultas di Universitas Gadjah Mada. Proses ini melibatkan banyak orang di dalamnya, oleh karena itu turut berbahagia dan berterima kasih banyak untuk semua yang telah membantu selama proses, launching, hingga sekarang kami tengah membuka pre-order. Sistem yang kami lakukan adalah buy one donate one. Kalian bisa membeli sekaligus berdonasi untuk mengirim buku ke perpustakaan-perpustakaan di seluruh Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, kami memiliki datanya dan tengah berusaha untuk membuat fix list tersebut. Untuk informasi lebih lanjut bisa cek di akun Instagram @BookForMountain.

Malam itu, usai shalat Maghrib, sebuah berita dari line today muncul di notifikasi, saya terkejut dan dalam kebisuan saya panik. Donggala dan sekitarnya diguncang gempa berkekuatan 7,7 sr. kemudian disusul dengan video-video tsunami yang menerjang jalan di sepanjang pantai yang pernah saya lewati. Terbayang wajah ibu saya yang tengah seorang diri di rumah pada saat itu. Namun, saya khawatir siapa tahu ibu saya sedang jalan-jalan di sekitar pantai seperti yang beliau sering ceritakan dengan riang melalui telepon, bahwa minggu pagi beliau sedang berenang di pinggir pantai, atau sedang senam di sana, atau tengah jalan gerak santai, pawai, menggelar aksi dan lain sebagainya. Semenjak kami semua merantau, sepertinya beliau menyengaja menyibukkan diri karena tidak ada lagi yang merepotkannya di rumah.

Usai makan kwetiau seafood dan kami semua hendak berpisah di parkiran, saya tidak tahan lagi dan menangis di pelukan mereka. Kami berpisah, pulang masing-masing dan saya menangis sejadi-jadinya di sepanjang jalan, tidak peduli ada yang mendengar atau tidak.

Sampai larut, saya pusing melihat ponsel saya. WhatsApp mulai dipenuhi pesan-pesan. Ada pula yang mengirim voice note. Ada yang menelepon mengatakan akan mengirim go-car untuk menjemput saya agar pulang ke rumahnya, agar saya tidak menangis seorang diri di dalam kost. Ada yang menawarkan diri untuk mengajak saya mengobrol apabila saya butuh teman untuk ngobrol, saya bilang bahwa apakah kita akan membicarakan linguistik? Ia jengkel, karena saya sempat-sempatnya bercanda. Lalu saya bilang lagi bahwa saya tidak sanggup untuk mengobrol karena yang keluar dari bibir saya hanya tangisan yang memusingkan. Saya bilang bahwa lemah-lemah begini saya jarang menangis. Dia bilang kalau saya itu kuat kok, menangis bukan pertanda kelemahan katanya. Untuk terakhir kalinya, maka ia suruh saya untuk ambil wudhu, shalat, baca Al-Qur’an, berdzikir, dan mengobrol dengan Rabb.

Malam itu saya baru sadar bahwa saya bisa menangis. Ada tiga hal yang membuat saya sangat mudah untuk menangis; film, pengemis, dan rasa rindu. Tidak mengapa jika saya disakiti, saya lebih merasa bersalah jika saya yang menyakiti. Terlalu lelah menangis hingga saya ketiduran dan lupa mematikan lampu. Setelah sekian lama, saya jarang menggalaukan suatu hal, mendadak malam itu seolah menjadi puncak bertumpuknya segala kegalauan karena terimplikasi pada kehilangan dan segala kekhawatiran.

Di awal paginya seseorang menawarkan untuk membawakan sarapan, saya bilang saya akan keluar mencari sarapan sendiri, sebab beberapa saat sebelumnya saya hendak refreshing, re: nyuci baju, ternyata sabun cucinya habis, maka sekalian saja saya cari sarapan pada pukul sebelas siang lalu membeli sabun cuci.

Saat itu sengaja tidak membawa ponsel, saya makan sendirian di warung semacam bebakaran. Duduk lesu di sofa, iya kursinya ada yang bentuk sofa, saya memejamkan mata. Penjualnya malah membawakan ayam bakar, padahal yang saya pesan ikan nila bakar. Malas beradu mulut, ya sudah saya makan saja ayam bakar itu.

Saya makan seorang diri. Teringat sehari sebelumnya saat hendak sarapan sendirian usai matkul pukul tujuh pagi, seseorang menawarkan untuk menemani sarapan, saya bilang saya sarapan sendiri saja, saya tidak ingin membuat kenangan bersama seseorang yang mungkin kelak harus saya lupakan, tetapi bukan berarti saya ingin melupakan kamu. Saya baru sadar, sepertinya kalimat itu terlalu kejam. Mau bagaimana lagi, ya. Saya sulit menolak, tetapi sekali menolak ternyata terlalu kejam.

Mungkin karena butuh teman, hari itu saya membayangkan ada seseorang yang menemani saya makan. Ia duduk di hadapan saya, saya berusaha makan sambil tersenyum karena ada dia di depan saya. Meski saya tidak tahu wajahnya, di pikiran saya dia begitu blur. Dia masih berupa kotak kejutan dari Tuhan yang tidak ingin saya buru-buru untuk membukanya.

Semua berita mengawali kalimat mereka dengan innanillahi dan berarti pula setiap membuka ponsel saya shock. Syukur-syukur jika hanya tulisan, tetapi beberapa orang membagikan video dan semacamnya, itu sangat annoying buat saya dan mungkin juga untuk keluarga dan kerabat korban lainnya. Saya baru tahu rasanya jika salah satu anggota keluarga kita ada di sana lalu kita mendapati banyak berita tersebut di sosmed, selama ini jika ada bencana, hati tidak sebegitu galaunya. Turut iba, namun kali ini rupanya berbeda. Membuat saya takut untuk membuka ponsel, di sisi lain saya lebih galau lagi jika tidak membuka ponsel karena tidak bisa mengetahui kondisi terbaru yang terjadi di sana.

Biasanya, saya sangat antusias mengikuti perkembangan kasus kecelakaan dan musibah lainnya. Seperti tragedi pesawat yang jatuh dan hilang di perairan hingga kini masih misterius keberadaannya, hingga tragedi kapal tenggelam di perairan danau Toba akibat kelebihan muatan dan cuaca yang tidak mendukung, para korban tenggelam dinyatakan hilang dan sulit untuk dievakuasi. Dan semua pemberitaan yang lalu-lalu terbayang-bayang dan terjadilan pembauran dengan tragedi yang sekarang ini terjadi.

Jum’at, 28 September 2018, Donggala dan sekitarnya diguncang gempa berkekuatan 7,7 sr sempat ditanyakan berpotensi tsunami namun kini telah dicabut peringatannya. Pray for Palu dan seluruh penjuru negeri dengan segala musibahnya. Hal-hal lain yang bermunculan di pikiran saya adalah tentang kiamat, yang mungkin tidak akan lama lagi, berbagai video tentang yang terjadi pada sepuluh tahun kedepan membuat saya merinding dan ingin menghentikan segala cinta yang berlebihan terhadap dunia ini. Teman-teman, mari kita sama-sama intropeksi, sama-sama menjaga diri dari fitnah dan dosa, mohon maaf bila perkataan saya terkadang tidak sejalan dengan diri dan kelakuan saya.

Masing-masing diri tahu apa yang mereka usahakan, bersedih hatilah saya melihat dunia dari kacamata sosmed Instagram yang begitu banyak racun di dalamnya, mampu menggelaplan mata dan hati terhadap segala hal yang dibagi oleh manusia di luar pengetahuan tentang masing-masing niat di dalam hati. Yaa Rabb, ampuni kami, yang mungkin hanya pandai berbicara, bantu kami agar kami bisa lebih baik dari apa yang kami bicarakan. Aamiin.


Potret pantai yang saya ambil di sepanjang jalan pinggir Donggala. (Januari, 2016) 


1 komentar: