Kehilangan
adalah pelajaran paling dasar bagi manusia, menurut saya. Turut pula manusia
wajib mengerti tentang hal berikut ini, bahwa ingatlah setiap orang yang kamu
temui, mereka mencintai sesuatu, takut kepada sesuatu dan pernah kehilangan
sesuatu. Paling penting lagi bahwa Allah adalah penguasa tiap-tiap hati
manusia, Dia bisa membolak-balikan hati ciptaannya-Nya, siapapun yang ia
kehendaki. Oleh karena itu, kini saya coba berpasrah jika ada seseorang yang
berhenti mencintai saya, membenci saya, merendahkan saya, kecewa dengan saya.
Mereka boleh melakukan itu semua kepada saya. Saya tidak ingin begitu rapi
untuk menjaga image diri saya, mereka perlu tahu bahwa saya begitu buruk, jauh
dari ekspetasi mereka, jauh dari apa yang mereka pikirkan tentang saya. Toh
kata seseorang dalam tulisannya, bahwa ditunggu atau tidak ditunggu yang ingin
datang akan tetap datang. Allah, jangankan hanya mengubah perasaan seseorang
terhadap yang lain, mengubah perasaanmu dalam sekejap saja Ia mampu, menjadikanmu
yang awalnya begitu berbahagia, lalu sedetik kemudian risau, sedih, galau, dan
beruraikan air mata, Ia mampu, sangat mampu.
Hari itu saya
sangat bersyukur, mengganti pelajaran stylistica dengan creative writing.
Hari-hari matkul creative writing benar-benar diisi dengan berlatih menulis,
tentunya dengan berbahasa inggris. Hari itu ditugaskan mengisi beberapa
question, yang rupanya itu akan menjadi kerangka bagi kami untuk menulis sebuah
puisi dari data tersebut. Salah satu question adalah sebutkan tiga hal yang
kamu takuti, mungkin orang lain menjawab, kecoak, musang, dan semacamnya. Hari
itu saya menjawab bahwa tiga hal yang saya takuti adalah, someone angry to me,
someone want to leave me, and someone who has obsession about me.
Di sisi lain,
ada pula pertanyaan-pertanyaan tentang karakter dan perasaan yang kamu rasakan.
Saya bingung menjawabanya, hanya bisa menulis sekedarnya jika mungkin saya
neutral, cool, curious, ad maybe simple? I don’t know. I just try to aswer it. And
how about my feeling? I answer that I feel calm, enjoy and so grateful for
everything that happen in my life.
On that time, my
feeling so neutral just calm, enjoy, and very grateful of course. Then, all of
my best friends want to come in my event where Kemiri Yori book will be launch.
You know? I’m very excited and so grateful. on that day, someone give me
chocolates with pink ribbon and there is also a little letter, a congratulation
expression for me! Thank you so much, love! it doesn’t always have to be from
men, is that true?
Setelah
berproses selama setahun, akhirnya cita-cita divisi kami untuk membuat buku
series Kemiri Yori tercapai. Hari itu kami melangsungkan launching buku, berkesempatan
di Waluku Festival yang diadakan oleh salah satu fakultas di Universitas Gadjah
Mada. Proses ini melibatkan banyak orang di dalamnya, oleh karena itu turut
berbahagia dan berterima kasih banyak untuk semua yang telah membantu selama
proses, launching, hingga sekarang kami tengah membuka pre-order. Sistem yang
kami lakukan adalah buy one donate one. Kalian bisa membeli sekaligus berdonasi
untuk mengirim buku ke perpustakaan-perpustakaan di seluruh Indonesia. Dari Sabang
sampai Merauke, kami memiliki datanya dan tengah berusaha untuk membuat fix
list tersebut. Untuk informasi lebih lanjut bisa cek di akun Instagram @BookForMountain.
Malam itu, usai
shalat Maghrib, sebuah berita dari line today muncul di notifikasi, saya
terkejut dan dalam kebisuan saya panik. Donggala dan sekitarnya diguncang gempa
berkekuatan 7,7 sr. kemudian disusul dengan video-video tsunami yang menerjang
jalan di sepanjang pantai yang pernah saya lewati. Terbayang wajah ibu saya
yang tengah seorang diri di rumah pada saat itu. Namun, saya khawatir siapa
tahu ibu saya sedang jalan-jalan di sekitar pantai seperti yang beliau sering
ceritakan dengan riang melalui telepon, bahwa minggu pagi beliau sedang
berenang di pinggir pantai, atau sedang senam di sana, atau tengah jalan gerak
santai, pawai, menggelar aksi dan lain sebagainya. Semenjak kami semua
merantau, sepertinya beliau menyengaja menyibukkan diri karena tidak ada lagi
yang merepotkannya di rumah.
Usai makan
kwetiau seafood dan kami semua hendak berpisah di parkiran, saya tidak tahan
lagi dan menangis di pelukan mereka. Kami berpisah, pulang masing-masing dan
saya menangis sejadi-jadinya di sepanjang jalan, tidak peduli ada yang
mendengar atau tidak.
Sampai larut,
saya pusing melihat ponsel saya. WhatsApp mulai dipenuhi pesan-pesan. Ada pula
yang mengirim voice note. Ada yang menelepon mengatakan akan mengirim go-car
untuk menjemput saya agar pulang ke rumahnya, agar saya tidak menangis seorang
diri di dalam kost. Ada yang menawarkan diri untuk mengajak saya mengobrol
apabila saya butuh teman untuk ngobrol, saya bilang bahwa apakah kita akan
membicarakan linguistik? Ia jengkel, karena saya sempat-sempatnya bercanda.
Lalu saya bilang lagi bahwa saya tidak sanggup untuk mengobrol karena yang
keluar dari bibir saya hanya tangisan yang memusingkan. Saya bilang bahwa
lemah-lemah begini saya jarang menangis. Dia bilang kalau saya itu kuat kok,
menangis bukan pertanda kelemahan katanya. Untuk terakhir kalinya, maka ia
suruh saya untuk ambil wudhu, shalat, baca Al-Qur’an, berdzikir, dan mengobrol
dengan Rabb.
Malam itu saya
baru sadar bahwa saya bisa menangis. Ada tiga hal yang membuat saya sangat
mudah untuk menangis; film, pengemis, dan rasa rindu. Tidak mengapa jika saya
disakiti, saya lebih merasa bersalah jika saya yang menyakiti. Terlalu lelah
menangis hingga saya ketiduran dan lupa mematikan lampu. Setelah sekian lama,
saya jarang menggalaukan suatu hal, mendadak malam itu seolah menjadi puncak bertumpuknya
segala kegalauan karena terimplikasi pada kehilangan dan segala kekhawatiran.
Di awal paginya
seseorang menawarkan untuk membawakan sarapan, saya bilang saya akan keluar
mencari sarapan sendiri, sebab beberapa saat sebelumnya saya hendak refreshing,
re: nyuci baju, ternyata sabun cucinya habis, maka sekalian saja saya cari
sarapan pada pukul sebelas siang lalu membeli sabun cuci.
Saat itu sengaja
tidak membawa ponsel, saya makan sendirian di warung semacam bebakaran. Duduk
lesu di sofa, iya kursinya ada yang bentuk sofa, saya memejamkan mata. Penjualnya
malah membawakan ayam bakar, padahal yang saya pesan ikan nila bakar. Malas
beradu mulut, ya sudah saya makan saja ayam bakar itu.
Saya makan
seorang diri. Teringat sehari sebelumnya saat hendak sarapan sendirian usai
matkul pukul tujuh pagi, seseorang menawarkan untuk menemani sarapan, saya
bilang saya sarapan sendiri saja, saya tidak ingin membuat kenangan bersama seseorang
yang mungkin kelak harus saya lupakan, tetapi bukan berarti saya ingin
melupakan kamu. Saya baru sadar, sepertinya kalimat itu terlalu kejam. Mau
bagaimana lagi, ya. Saya sulit menolak, tetapi sekali menolak ternyata terlalu
kejam.
Mungkin karena
butuh teman, hari itu saya membayangkan ada seseorang yang menemani saya makan.
Ia duduk di hadapan saya, saya berusaha makan sambil tersenyum karena ada dia
di depan saya. Meski saya tidak tahu wajahnya, di pikiran saya dia begitu blur.
Dia masih berupa kotak kejutan dari Tuhan yang tidak ingin saya buru-buru untuk
membukanya.
Semua berita
mengawali kalimat mereka dengan innanillahi dan berarti pula setiap membuka ponsel
saya shock. Syukur-syukur jika hanya tulisan, tetapi beberapa orang membagikan
video dan semacamnya, itu sangat annoying buat saya dan mungkin juga untuk
keluarga dan kerabat korban lainnya. Saya baru tahu rasanya jika salah satu
anggota keluarga kita ada di sana lalu kita mendapati banyak berita tersebut di
sosmed, selama ini jika ada bencana, hati tidak sebegitu galaunya. Turut iba,
namun kali ini rupanya berbeda. Membuat saya takut untuk membuka ponsel, di sisi
lain saya lebih galau lagi jika tidak membuka ponsel karena tidak bisa mengetahui
kondisi terbaru yang terjadi di sana.
Biasanya, saya
sangat antusias mengikuti perkembangan kasus kecelakaan dan musibah lainnya.
Seperti tragedi pesawat yang jatuh dan hilang di perairan hingga kini masih
misterius keberadaannya, hingga tragedi kapal tenggelam di perairan danau Toba
akibat kelebihan muatan dan cuaca yang tidak mendukung, para korban tenggelam
dinyatakan hilang dan sulit untuk dievakuasi. Dan semua pemberitaan yang lalu-lalu
terbayang-bayang dan terjadilan pembauran dengan tragedi yang sekarang ini
terjadi.
Jum’at, 28
September 2018, Donggala dan sekitarnya diguncang gempa berkekuatan 7,7 sr
sempat ditanyakan berpotensi tsunami namun kini telah dicabut peringatannya.
Pray for Palu dan seluruh penjuru negeri dengan segala musibahnya. Hal-hal lain
yang bermunculan di pikiran saya adalah tentang kiamat, yang mungkin tidak akan
lama lagi, berbagai video tentang yang terjadi pada sepuluh tahun kedepan
membuat saya merinding dan ingin menghentikan segala cinta yang berlebihan
terhadap dunia ini. Teman-teman, mari kita sama-sama intropeksi, sama-sama
menjaga diri dari fitnah dan dosa, mohon maaf bila perkataan saya terkadang
tidak sejalan dengan diri dan kelakuan saya.
Masing-masing
diri tahu apa yang mereka usahakan, bersedih hatilah saya melihat dunia dari
kacamata sosmed Instagram yang begitu banyak racun di dalamnya, mampu
menggelaplan mata dan hati terhadap segala hal yang dibagi oleh manusia di luar
pengetahuan tentang masing-masing niat di dalam hati. Yaa Rabb, ampuni kami,
yang mungkin hanya pandai berbicara, bantu kami agar kami bisa lebih baik dari
apa yang kami bicarakan. Aamiin.
Potret pantai yang saya ambil di
sepanjang jalan pinggir Donggala. (Januari, 2016)

Pukpukpuk
BalasHapus