08/10/18

[Chapter 1]: Keliru Hati


“Halo?” aku menghela nafas setelah beberapa menit menyimak suara di ujung sana. “Jadi benar malam ini ia akan pergi ke kafe itu lagi?” tanyaku untuk meyakinkan diriku sendiri. Sejenak aku memijit-mijit dahiku dengan tangan yang masih menggenggam karcis. Kemudian kututup ponselku setelah pembicaraan kami selesai. Sekian detik kuperhatikan karcis dalam genggamanku dengan gelengan kepala. Tadi itu aku genggam atau aku remas, sih? Bentuk karcis tiba-tiba saja tak karuan begini, mengikuti hatiku yang tiba-tiba saja juga sulit kukendalikan. Detak jantungku makin cepat bersamaan dengan suara kereta yang melesat di hadapanku.

Aku kembali duduk menunggu. Kuperhatikan lagi karcis keretaku itu. Sudah lama rasanya tidak naik kereta. Ya, semenjak hari itu. Semenjak aku merasa kereta bukan satu-satunya transportasi di dunia ini. Semenjak aku merasa bahwa aku perlu menghindari kenangan yang mungkin akan mengendalikan diriku lagi bila aku kembali pada detik itu.

Aku sudah duduk di kereta dan mulai mengeluarkan seluruh perbekalanku. Mataku akan tetap mengawasi pemandangan di luar jendela sana, tetapi kubiarkan tanganku menggenggam buku, sementara telingaku pun mengerjakan perannya sendiri, mendengarkan alunan lagu dari earphone yang baru saja kupasang. Aku ingin berpura-pura sibuk sendiri.

Tetapi, ternyata peran hati dan memoriku lebih kuat dibanding usahaku yang lain untuk menyibukkan diriku.

Mbak, suka baca bukunya Leila S. Chudori juga?”

Aku menoleh. Seorang pria dengan wajah ramah di hadapanku tiba-tiba saja bertanya tentang buku yang tengah kubaca.

Aku hanya mengangguk pelan sambil tersenyum. Tak ada niat untuk mengobrol lebih jauh. Namun, ia bersuara lagi.

“Sudah baca semua bukunya Leila, Mbak?”

Aku diam memperhatikannya sekilas. Apa tadi dia bilang? Semua bukunya Leila? Apa mukaku ini muka kutu buku banget? Kugelengkan kepalaku sambil tersenyum untuk membalas pertanyaannya.

“Boleh pinjam sebentar nggak, Mbak? Saya belum baca bukunya Leila yang itu.” katanya sambil melirik buku yang tengah kubaca ini. “Oh iya, nama saya Seno.” Dia mengulurkan tangannya. Kusambut ulurannya dengan agak ragu, “Kinan.” Balasku dengen menyebut namaku.

Obrolan kami mendadak bukan lagi hanya tentang buku, tetapi juga tentang diri kami masing-masing. Ia bercerita tentang komunitasnya, pun aku. Ia bercerita tentang hobinya, pun aku. Kami memutuskan untuk bertukar kontak, berharap bisa bertemu kembali dan lebih banyak bercerita lagi.

Aku tersentak, tiba-tiba seseorang menyentuh pundakku.

Mbak, bisa tolong geser sedikit?” Seorang ibu-ibu memintaku bergeser sedikit. Ia hendak duduk di sampingku, tetapi karena tubuhnya yang besar, aku harus meniadakan sedikit space tempat dudukku dengan jendela agar si ibu bisa duduk.

Di sisi lain, aku berterimakasih di dalam hati karena ibu ini telah membuyarkan kenangan itu. Kenangan yang pada akhirnya mengembalikan aku pada detik itu.

Baru setengah jam berlalu, aku sudah menguap di kursiku. Kututup bukuku lalu melirik jam di pergelangan tanganku. Masih ada dua setengah jam lagi sebelum tiba. Kusimpan kembali bukuku di dalam tas. Kubiarkan alunan musik menemani tidurku di dalam perjalanan kali ini.

Meski dengan mata yang sudah terpejam, tetap saja bayangnya masih menari-nari di pikiranku. Aku masih merangkai kata untuk menjadi sebuah kalimat bahkan mungkin paragraf untuk membentuk sebuah cerita yang akan kuhadirkan malam ini. Dalam hati aku berdoa dan meyakinkan hatiku bahwa semua ini akan baik-baik saja, semuanya sudah normal kembali. Kau tak perlu lagi menyembunyikan luka, luka yang sudah terobati mana yang perlu kau sembunyikan, Kinanti? Luka itu sudah tidak mengangga lagi, perasaan itu juga telah berganti, kau siap menyambut bahagia di suatu hari yang telah kau rencanakan bersama seseorang nanti, Kinanti.

Gerimis sehabis maghrib itu mengantarkan aku hingga pintu kafe yang bernama The People ini. Kusingkirkan sedikit tubuhku dari sana. Entah mengapa, ada keraguan menyelimutiku. Aku berpura-pura sibuk menggulung payungku guna mengulur-ulur waktu agar tak lekas masuk ke dalam sana.

“Saya tahu betul, kamu bertemu dengannya di dalam perjalanan juga, kan? Seperti bagaimana cerita kita pernah dimulai dahulu.”

Dengan mata yang berkaca-kaca, emosiku meluap seiring dengan asap yang menguap dari dua buah cangkir kopi di hadapan kami. Ia menghela nafas. Matanya menatap ke arah yang lain, enggan menatapku rupanya.

“Saya tahu bagaimana gadis itu ternyata mampu menarik perhatianmu. Dengan rangkaian kata-kata yang dituliskan, dengan bait-bait puisinya, dengan baris-baris ceritanya. Saya paham betul bagaimana caramu jatuh hati. Terlepas dari apapun, saya mengenal hati kamu. Dan kamu tahu persis bagaimana perasaan saya pada kamu.” Basah mulai terasa di tepi mataku. Aku menghela nafas, dia juga. Ia masih enggan menatapku dan aku tak bisa mengalihkan pandanganku darinya.

“Tetapi..” aku masih ingin meneruskan kalimatku. “Kamu tidak bisa seenaknya jatuh hati pada orang lain hanya karena sastra yang ada di dalam diri gadis itu!” aku mulai menaikkan nada suaraku, tak peduli para pengunjung kafe The People mulai memperhatikan kami.

“Saya tidak tahu mau bilang apa lagi. Saya tidak tahu kalau gadis itu dengan mudahnya menyentuh hati kamu lewat tulisan-tulisannya.” Kali ini suaraku parau, aku menangis tertunduk, tak ingin menatap matanya lagi. Terdengar suara decitan kursi. Ia beranjak dari kursinya. Aku masih tertunduk di tempatku. Kembali terdengar decitan kursi, kali ini lebih dekat, di sampingku. Ia kembali duduk, hanya berjarak beberapa senti dari sampingku. Aku bisa mendengar nafasnya.

“Kinanti.” Ia mulai bersuara dengan menyebut namaku. Aku masih diam. “Kinanti yang saya kenal tidak seperti ini, Kinanti yang saya kenal adalah Kinanti yang berani menatap mata saya meski harus dengan nyala api atau basah di matanya.” Mendengar ia berkata begitu, aku sedikit mengangkat kepalaku. Darimana ia belajar kata-kata itu?

Aku sudah menegakkan kepalaku, meski lebih berminat memandangi cangkir-cangkir kopi di hadapan kami.

“Kinanti, jangan pernah kamu kehilangan diri kamu sendiri, meski saya menghilangkan diri saya. Jangan pernah kamu lupa bahwa kamu juga seorang penulis, bahwa kamu juga bisa menyentuh hati siapapun yang kamu ingini.”

Aku tidak mengerti apa yang dibicarakan olehnya. Entah ini perasaanku saja atau nyatanya ia memang membicarakan hal lain.

Aku memberanikan diri menghadapkan dudukku padanya, meski kali ini dengan nyala api dan basah sekaligus di mataku.

“Katamu siapapun? Tetapi, nyatanya ada hati yang tak mampu saya sentuh.” Basah makin tiba di pipiku. “Hati kamu.”

“Kinanti, tolong maafkan saya. Semoga kamu tidak membenci perjalanan waktu itu, perjalanan awal kita mulai bertemu. Semoga kamu tidak menyalahkan saya karena saya yang pertama kali menegurmu di kereta waktu itu.” Kali ini ia mulai memberanikan diri membicarakan apa yang sebenarnya perlu kami bicarakan.

“Kinanti, saya tidak ingin menyakiti kamu dengan membohongi dirimu ataupun perasaan saya sendiri. Maafkan saya karena selama ini saya keliru. Mungkin selama ini saya jatuh hati pada tulisan-tulisanmu. Bukan pada dirimu. Kamu perlu tahu, bahwa saya memilih orang lain bukan karena saya melihat sastra di dalam dirinya. Kinanti, alasan marah macam apa itu yang kamu baru saja ungkapkan?” aku melihat ada senyum keheranan di tepi bibirnya. Matanya menyapu sekeliling sambil menggeleng-gelengkan kepala, seolah ungkapannya lebih benar dibandingkan apa-apa saja yang sudah aku ungkapkan sejak tadi.

“Mungkin lebih baik jika kita berteman saja, mendiskusikan hal-hal yang menyenangkan tanpa melibatkan perasaan yang berlebihan ke dalamnya.”

Mendengar pernyataannya barusan, hatiku seperti tersayat untuk kesekian kalinya. Kembali hadir sungai di pipiku, kali ini arusnya lebih deras dari sebelumnya. Mengapa ia bisa mengatakan hal itu dengan santainya? Tanpa berpikir dulu betapa mudahnya ia membuat sungai di kedua pipiku. Aku tertunduk kembali dengan kedua tangan menutupi wajahku.

“Kinanti, saya harap suatu saat nanti kamu akan mengiyakan semua kalimat saya hari ini.” Setelah berkata seperti itu, ia berpindah kembali ke kursi awalnya, di hadapanku. Terdengar suara cangkir kopi beradu dengan meja, ia baru saja meneguk kopinya.

Kuseka kedua mataku. Meski tak ingin memperlihatkan sembap di wajahku, aku tak bisa membohonginya yang sejak tadi sudah menyadari tangisanku. Aku benci hal itu. Benci melihatnya yang mungkin tengah menikmati tangisan sesungguhnya dari seorang penulis yang biasanya hanya bisa ia nikmati lewat tulisan-tulisan.

Mbak, kalau mau berteduh sekalian saja masuk ke dalam.” Kata seseorang sambil menepuk pundakku, yang kemudian kusadari itu adalah seorang pelayan kafe. Aku memandangi sekelilingku, bahkan hujan yang bertambah deras pun sejak tadi tak mampu membuyarkan lamunanku. Aku menghela nafas, bahkan sejak tadi payungku pun sudah tergulung rapi dan masih dalam genggamanku.


Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar