“Halo?” aku
menghela nafas setelah beberapa menit menyimak suara di ujung sana. “Jadi benar
malam ini ia akan pergi ke kafe itu lagi?” tanyaku untuk meyakinkan diriku
sendiri. Sejenak aku memijit-mijit dahiku dengan tangan yang masih menggenggam
karcis. Kemudian kututup ponselku setelah pembicaraan kami selesai. Sekian
detik kuperhatikan karcis dalam genggamanku dengan gelengan kepala. Tadi itu aku genggam atau aku remas, sih?
Bentuk karcis tiba-tiba saja tak karuan begini, mengikuti hatiku yang tiba-tiba
saja juga sulit kukendalikan. Detak jantungku makin cepat bersamaan dengan
suara kereta yang melesat di hadapanku.
Aku kembali
duduk menunggu. Kuperhatikan lagi karcis keretaku itu. Sudah lama rasanya tidak
naik kereta. Ya, semenjak hari itu. Semenjak aku merasa kereta bukan
satu-satunya transportasi di dunia ini. Semenjak aku merasa bahwa aku perlu
menghindari kenangan yang mungkin akan mengendalikan diriku lagi bila aku
kembali pada detik itu.
Aku sudah duduk
di kereta dan mulai mengeluarkan seluruh perbekalanku. Mataku akan tetap
mengawasi pemandangan di luar jendela sana, tetapi kubiarkan tanganku
menggenggam buku, sementara telingaku pun mengerjakan perannya sendiri,
mendengarkan alunan lagu dari earphone yang
baru saja kupasang. Aku ingin berpura-pura sibuk sendiri.
Tetapi,
ternyata peran hati dan memoriku lebih kuat dibanding usahaku yang lain untuk
menyibukkan diriku.
“Mbak, suka baca bukunya Leila S. Chudori
juga?”
Aku menoleh.
Seorang pria dengan wajah ramah di hadapanku tiba-tiba saja bertanya tentang
buku yang tengah kubaca.
Aku hanya
mengangguk pelan sambil tersenyum. Tak ada niat untuk mengobrol lebih jauh.
Namun, ia bersuara lagi.
“Sudah baca
semua bukunya Leila, Mbak?”
Aku diam
memperhatikannya sekilas. Apa tadi dia
bilang? Semua bukunya Leila? Apa mukaku ini muka kutu buku banget?
Kugelengkan kepalaku sambil tersenyum untuk membalas pertanyaannya.
“Boleh pinjam
sebentar nggak, Mbak? Saya belum baca
bukunya Leila yang itu.” katanya sambil melirik buku yang tengah kubaca ini.
“Oh iya, nama saya Seno.” Dia mengulurkan tangannya. Kusambut ulurannya dengan
agak ragu, “Kinan.” Balasku dengen menyebut namaku.
Obrolan kami
mendadak bukan lagi hanya tentang buku, tetapi juga tentang diri kami
masing-masing. Ia bercerita tentang komunitasnya, pun aku. Ia bercerita tentang
hobinya, pun aku. Kami memutuskan untuk bertukar kontak, berharap bisa bertemu
kembali dan lebih banyak bercerita lagi.
Aku tersentak,
tiba-tiba seseorang menyentuh pundakku.
“Mbak, bisa tolong geser sedikit?”
Seorang ibu-ibu memintaku bergeser sedikit. Ia hendak duduk di sampingku,
tetapi karena tubuhnya yang besar, aku harus meniadakan sedikit space tempat dudukku dengan jendela agar
si ibu bisa duduk.
Di sisi lain,
aku berterimakasih di dalam hati karena ibu ini telah membuyarkan kenangan itu.
Kenangan yang pada akhirnya mengembalikan aku pada detik itu.
Baru setengah
jam berlalu, aku sudah menguap di kursiku. Kututup bukuku lalu melirik jam di
pergelangan tanganku. Masih ada dua setengah jam lagi sebelum tiba. Kusimpan
kembali bukuku di dalam tas. Kubiarkan alunan musik menemani tidurku di dalam
perjalanan kali ini.
Meski dengan
mata yang sudah terpejam, tetap saja bayangnya masih menari-nari di pikiranku.
Aku masih merangkai kata untuk menjadi sebuah kalimat bahkan mungkin paragraf
untuk membentuk sebuah cerita yang akan kuhadirkan malam ini. Dalam hati aku
berdoa dan meyakinkan hatiku bahwa semua ini akan baik-baik saja, semuanya
sudah normal kembali. Kau tak perlu lagi
menyembunyikan luka, luka yang sudah terobati mana yang perlu kau sembunyikan,
Kinanti? Luka itu sudah tidak mengangga lagi, perasaan itu juga telah berganti,
kau siap menyambut bahagia di suatu hari yang telah kau rencanakan bersama
seseorang nanti, Kinanti.
Gerimis sehabis
maghrib itu mengantarkan aku hingga pintu kafe yang bernama The People ini. Kusingkirkan sedikit
tubuhku dari sana. Entah mengapa, ada keraguan menyelimutiku. Aku berpura-pura
sibuk menggulung payungku guna mengulur-ulur waktu agar tak lekas masuk ke dalam
sana.
“Saya tahu
betul, kamu bertemu dengannya di dalam perjalanan juga, kan? Seperti bagaimana
cerita kita pernah dimulai dahulu.”
Dengan mata
yang berkaca-kaca, emosiku meluap seiring dengan asap yang menguap dari dua
buah cangkir kopi di hadapan kami. Ia menghela nafas. Matanya menatap ke arah
yang lain, enggan menatapku rupanya.
“Saya tahu
bagaimana gadis itu ternyata mampu menarik perhatianmu. Dengan rangkaian
kata-kata yang dituliskan, dengan bait-bait puisinya, dengan baris-baris
ceritanya. Saya paham betul bagaimana caramu jatuh hati. Terlepas dari apapun,
saya mengenal hati kamu. Dan kamu tahu persis bagaimana perasaan saya pada
kamu.” Basah mulai terasa di tepi mataku. Aku menghela nafas, dia juga. Ia
masih enggan menatapku dan aku tak bisa mengalihkan pandanganku darinya.
“Tetapi..” aku
masih ingin meneruskan kalimatku. “Kamu tidak bisa seenaknya jatuh hati pada
orang lain hanya karena sastra yang ada di dalam diri gadis itu!” aku mulai
menaikkan nada suaraku, tak peduli para pengunjung kafe The People mulai memperhatikan kami.
“Saya tidak
tahu mau bilang apa lagi. Saya tidak tahu kalau gadis itu dengan mudahnya
menyentuh hati kamu lewat tulisan-tulisannya.” Kali ini suaraku parau, aku
menangis tertunduk, tak ingin menatap matanya lagi. Terdengar suara decitan
kursi. Ia beranjak dari kursinya. Aku masih tertunduk di tempatku. Kembali
terdengar decitan kursi, kali ini lebih dekat, di sampingku. Ia kembali duduk,
hanya berjarak beberapa senti dari sampingku. Aku bisa mendengar nafasnya.
“Kinanti.” Ia
mulai bersuara dengan menyebut namaku. Aku masih diam. “Kinanti yang saya kenal
tidak seperti ini, Kinanti yang saya kenal adalah Kinanti yang berani menatap
mata saya meski harus dengan nyala api atau basah di matanya.” Mendengar ia
berkata begitu, aku sedikit mengangkat kepalaku. Darimana ia belajar kata-kata
itu?
Aku sudah
menegakkan kepalaku, meski lebih berminat memandangi cangkir-cangkir kopi di
hadapan kami.
“Kinanti,
jangan pernah kamu kehilangan diri kamu sendiri, meski saya menghilangkan diri
saya. Jangan pernah kamu lupa bahwa kamu juga seorang penulis, bahwa kamu juga
bisa menyentuh hati siapapun yang kamu ingini.”
Aku tidak
mengerti apa yang dibicarakan olehnya. Entah ini perasaanku saja atau nyatanya
ia memang membicarakan hal lain.
Aku
memberanikan diri menghadapkan dudukku padanya, meski kali ini dengan nyala api
dan basah sekaligus di mataku.
“Katamu
siapapun? Tetapi, nyatanya ada hati yang tak mampu saya sentuh.” Basah makin
tiba di pipiku. “Hati kamu.”
“Kinanti,
tolong maafkan saya. Semoga kamu tidak membenci perjalanan waktu itu,
perjalanan awal kita mulai bertemu. Semoga kamu tidak menyalahkan saya karena
saya yang pertama kali menegurmu di kereta waktu itu.” Kali ini ia mulai
memberanikan diri membicarakan apa yang sebenarnya perlu kami bicarakan.
“Kinanti, saya
tidak ingin menyakiti kamu dengan membohongi dirimu ataupun perasaan saya
sendiri. Maafkan saya karena selama ini saya keliru. Mungkin selama ini saya
jatuh hati pada tulisan-tulisanmu. Bukan pada dirimu. Kamu perlu tahu, bahwa
saya memilih orang lain bukan karena saya melihat sastra di dalam dirinya.
Kinanti, alasan marah macam apa itu yang kamu baru saja ungkapkan?” aku melihat
ada senyum keheranan di tepi bibirnya. Matanya menyapu sekeliling sambil
menggeleng-gelengkan kepala, seolah ungkapannya lebih benar dibandingkan
apa-apa saja yang sudah aku ungkapkan sejak tadi.
“Mungkin lebih
baik jika kita berteman saja, mendiskusikan hal-hal yang menyenangkan tanpa
melibatkan perasaan yang berlebihan ke dalamnya.”
Mendengar pernyataannya
barusan, hatiku seperti tersayat untuk kesekian kalinya. Kembali hadir sungai
di pipiku, kali ini arusnya lebih deras dari sebelumnya. Mengapa ia bisa
mengatakan hal itu dengan santainya? Tanpa berpikir dulu betapa mudahnya ia
membuat sungai di kedua pipiku. Aku tertunduk kembali dengan kedua tangan
menutupi wajahku.
“Kinanti, saya
harap suatu saat nanti kamu akan mengiyakan semua kalimat saya hari ini.”
Setelah berkata seperti itu, ia berpindah kembali ke kursi awalnya, di
hadapanku. Terdengar suara cangkir kopi beradu dengan meja, ia baru saja
meneguk kopinya.
Kuseka kedua
mataku. Meski tak ingin memperlihatkan sembap di wajahku, aku tak bisa
membohonginya yang sejak tadi sudah menyadari tangisanku. Aku benci hal itu.
Benci melihatnya yang mungkin tengah menikmati tangisan sesungguhnya dari
seorang penulis yang biasanya hanya bisa ia nikmati lewat tulisan-tulisan.
“Mbak, kalau mau berteduh sekalian saja
masuk ke dalam.” Kata seseorang sambil menepuk pundakku, yang kemudian kusadari
itu adalah seorang pelayan kafe. Aku memandangi sekelilingku, bahkan hujan yang
bertambah deras pun sejak tadi tak mampu membuyarkan lamunanku. Aku menghela
nafas, bahkan sejak tadi payungku pun sudah tergulung rapi dan masih dalam
genggamanku.
Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar