10/10/18

Cleopatra Jawa


Akhir-akhir ini rasanya kurang semangat, jenuh, lelah, ingin menghentikan segala aktifitas, ingin berkumpul dengan orang-orang tersayang saja, ingin berkumpul bersama keluarga saja, menemani orang-orang yang katanya selalu merindukan saya.

Tetapi bila melihat alasan-alasan mengapa saya harus tetap melakukan ini dan itu dengan perjuangan yang dimana setiap perjuangan berbeda dijalani oleh tiap manusia, rasanya tidak ada alasan untuk berhenti. Padahal perjuangan saya mungkin teramat kecil dibandingkan banyak orang di luar sana yang bila ingin mencapai sesuatu ia harus berkorban lebih banyak dari berbagai hal yang ia punya. Apalah pengorbanan saya yang teramat kecil ini, bagaimana bisa saya mudah mengatakan saya lelah, sementara kasur yang empuk menanti saya pulang, kamar yang nyaman sedia menampung saya, uang yang tersedia cukup untuk membeli makanan dan masih banyak hal lainnya.

Seorang perempuan di luar sana yang tempo hari datang ke tempat saya, ia begitu semangat menjalani hari-harinya. Tidak banyak teman-teman yang tahu bagaimana jalan hidupnya yang berliku, apa yang dia jalani saat ini, hal-hal yang ditembus olehnya, banyak hal yang bertentangan dalam hidupnya, dan lain halnya, tetapi ia tetap seperti itu. Dengan wajah cantik luar biasa – anugerah dari Yang Maha Kuasa, ia menjalani hari-harinya, tetapi bukan itu yang menjadi fokus saya, meski memang dia sangat cantik, cantik yang sangat alami bahkan saat malam itu ia datang tanpa riasan wajah bahkan dengan pakaian santai hendak tidur, ia tetap terlihat seperti Ratu Cleopatra versi Jawa.

Kemudian ketika ia tersenyum lalu tertawa di hadapan saya, megertilah saya tentang satu kekuatan apa yang dia miliki dalam dirinya dan membuat semua orang jatuh cinta padanya. Keceriaan yang terpancar, membuka kebeningan hatinya, ia sangat jujur namun dewasa juga. Ia sederhana melebihi dari apa yang orang kira di balik wajahnya yang sangat mempesona, hidungnya yang mancung, kulitnya yang putih mulus.

Pantas saja dalam hadits Nabi dikatakan bahwa menampakkan wajah ceria dan berseri-seri ketika bertemu dengan seorang muslim akan mendapatkan ganjaran pahala seperti pahala bersedekah. Sebab rupanya itu akan membuat siapapun yang memandang dia akan merasa bahagia, dia punya satu kekuatan itu, kekuatan yang orang lain sulit untuk memilikinya dengan segala mood yang kerap kali berubah sebagai seorang manusia.

Saya beruntung menjadi salah satu orang yang tahu tentang dia dan berbagai perjuangan dalam hidupnya, tentang dia yang sederhana namun dibalut anugerah kecantikan yang luar biasa.

Terima kasih karena telah hadir, terima kasih karena telah banyak memberi pelajaran.

“Kamu sama siapa tadi ke sini?” tanya saya.
“Sama temanku.” Jawabnya.
“Oh, Masmu itu, ya.” Saya memperjelas.
“Iya, hehe.” Jawabnya lagi.

Saya tahu bahwa ia sangat enggan menyebut kekasihnya itu sebagai kekasih, ia lebih sering menyebutnya sebagai teman. Ia paham jika berkekasih itu tak baik. Semoga lekaslah kamu dilamar olehnya, oleh seorang kekasih yang selalu mampu memahamimu dan dijaganya kau layaknya adiknya sendiri.

“Titip salam buat Masmu, ya! Terima kasih sudah antar kamu ke sini!” seru saya.

Ah, kekasih, saya juga rindu. Tetapi, jelmamu saja tak terbaca di kalbu.  Tak apa, sementara saya akan berteduh dahulu, daripada memberanikan diri bermandi hujan, kau di sana pasti akan khawatir. Sementara saya berteduh, pilihlah payung terbaik untuk datang menjemput, setelah itu hanya kita di bawah hujan, tersenyum bahagia, dalam bingkai abadi yang tak pernah kita duga.

Sementara teduhlah hatiku, tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh, sementara ingat lagi mimpi
Juga janji janji, jangan kau ingkari lagi

Percayalah hati lebih dari ini..

(Sementara – Float)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar