Akhir-akhir ini
rasanya kurang semangat, jenuh, lelah, ingin menghentikan segala aktifitas,
ingin berkumpul dengan orang-orang tersayang saja, ingin berkumpul bersama
keluarga saja, menemani orang-orang yang katanya selalu merindukan saya.
Tetapi bila melihat
alasan-alasan mengapa saya harus tetap melakukan ini dan itu dengan perjuangan
yang dimana setiap perjuangan berbeda dijalani oleh tiap manusia, rasanya tidak
ada alasan untuk berhenti. Padahal perjuangan saya mungkin teramat kecil
dibandingkan banyak orang di luar sana yang bila ingin mencapai sesuatu ia
harus berkorban lebih banyak dari berbagai hal yang ia punya. Apalah
pengorbanan saya yang teramat kecil ini, bagaimana bisa saya mudah mengatakan
saya lelah, sementara kasur yang empuk menanti saya pulang, kamar yang nyaman
sedia menampung saya, uang yang tersedia cukup untuk membeli makanan dan masih
banyak hal lainnya.
Seorang
perempuan di luar sana yang tempo hari datang ke tempat saya, ia begitu
semangat menjalani hari-harinya. Tidak banyak teman-teman yang tahu bagaimana
jalan hidupnya yang berliku, apa yang dia jalani saat ini, hal-hal yang
ditembus olehnya, banyak hal yang bertentangan dalam hidupnya, dan lain halnya,
tetapi ia tetap seperti itu. Dengan wajah cantik luar biasa – anugerah dari Yang
Maha Kuasa, ia menjalani hari-harinya, tetapi bukan itu yang menjadi fokus
saya, meski memang dia sangat cantik, cantik yang sangat alami bahkan saat
malam itu ia datang tanpa riasan wajah bahkan dengan pakaian santai hendak
tidur, ia tetap terlihat seperti Ratu Cleopatra versi Jawa.
Kemudian ketika
ia tersenyum lalu tertawa di hadapan saya, megertilah saya tentang satu
kekuatan apa yang dia miliki dalam dirinya dan membuat semua orang jatuh cinta
padanya. Keceriaan yang terpancar, membuka kebeningan hatinya, ia sangat jujur
namun dewasa juga. Ia sederhana melebihi dari apa yang orang kira di balik
wajahnya yang sangat mempesona, hidungnya yang mancung, kulitnya yang putih
mulus.
Pantas saja dalam hadits Nabi dikatakan bahwa menampakkan
wajah ceria dan berseri-seri ketika bertemu dengan seorang muslim akan
mendapatkan ganjaran pahala seperti pahala bersedekah.
Sebab rupanya itu akan membuat siapapun yang memandang dia akan merasa
bahagia, dia punya satu kekuatan itu, kekuatan yang orang lain sulit untuk
memilikinya dengan segala mood yang kerap kali berubah sebagai seorang manusia.
Saya beruntung menjadi salah satu orang yang tahu
tentang dia dan berbagai perjuangan dalam hidupnya, tentang dia yang sederhana
namun dibalut anugerah kecantikan yang luar biasa.
Terima kasih
karena telah hadir, terima kasih karena telah banyak memberi pelajaran.
“Kamu sama siapa
tadi ke sini?” tanya saya.
“Sama temanku.”
Jawabnya.
“Oh, Masmu itu,
ya.” Saya memperjelas.
“Iya, hehe.”
Jawabnya lagi.
Saya tahu bahwa
ia sangat enggan menyebut kekasihnya itu sebagai kekasih, ia lebih sering menyebutnya
sebagai teman. Ia paham jika berkekasih itu tak baik. Semoga lekaslah kamu
dilamar olehnya, oleh seorang kekasih yang selalu mampu memahamimu dan
dijaganya kau layaknya adiknya sendiri.
“Titip salam
buat Masmu, ya! Terima kasih sudah antar kamu ke sini!” seru saya.
Ah, kekasih,
saya juga rindu. Tetapi, jelmamu saja tak terbaca di kalbu. Tak apa, sementara saya akan berteduh dahulu,
daripada memberanikan diri bermandi hujan, kau di sana pasti akan khawatir.
Sementara saya berteduh, pilihlah payung terbaik untuk datang menjemput,
setelah itu hanya kita di bawah hujan, tersenyum bahagia, dalam bingkai abadi
yang tak pernah kita duga.
Sementara teduhlah hatiku,
tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh, sementara
ingat lagi mimpi
Juga janji janji, jangan
kau ingkari lagi
Percayalah hati lebih dari ini..
(Sementara – Float)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar